MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Hanya Kamu



Warning!! Adegan ini agak sedih, kalau boleh saran siapkan tissue ya. Hahaha, jangan marahi aku ya kalau kalian ikutan nangis (pede banget bakalan ada yang nangis). Selamat membaca! 


 


*****


Apartemen Bagas.


 


 


  “Turun!” perintah Bagas.


 


 


  “Tidak!” tegas Evo.


 


 


  “Turun atau aku akan melakukannya di sini!” ancam Bagas.


 


 


  Evo tidak gentar dengan ancaman Bagas. Bagas yang tidak sabaran dengan tingkah Evo, menarik paksa Evo. Evo kalah kuat, dia pun turun dari dalam mobil Bagas.


 


 


  “Lepas, Gas! Kamu tidak boleh begini!”


 


 


  “Kamu yang membuat aku seperti ini! Kamu yang jahat!” Bagas sudah mulai dirasuki pikiran jahat. Dia menyeret Evo hingga ke kamarnya.


 


 


  Tibalah mereka di kamar Bagas, laki – laki itu melemparkan Evo ke ranjangnya.


 


 


  “Apa kamu pikir Bastian akan mau dengan wanita yang sudah tidak suci?” tanya Bagas.


 


 


  Hati Evo teriris mendengar ucapan Bagas. Pria itu berkata benar, mana ada cowok yang mau dengan wanita yang sudah dipakai? Air mata Evo menetes di pipinya.


 


 


  Bagas menindih badan Evo, dia menghapus air mata Evo dengan senyuman mengejek. Bagas membuka bajunya.


 


 


  “Nikmatilah sayang, hanya aku yang bisa membuat kamu bahagia,” ucap Bagas.


 


 


  “Tidak, Gas! Aku tidak mau!” Evo sudah tidak mau berhubungan badan lagi dengan Bagas. Dia sudah jijik dengan tingkah Bagas yang selalu menyakiti hatinya.


 


 


  Bagas mulai merobek baju Evo. Dia mulai bergerilya atas tubuh Evo, dia mencium Evo dengan kasar. Evo berjuang untuk tidak berhubungan lagi dengan Bagas. Dia menendang Bagas hingga terjatuh.


 


 


  Dengan cepat Bagas menangkap Evo lagi, dia menampar Evo hingga terjatuh ke lantai. Bagas tidak rela kalau Evo dimilikki oleh laki – laki lain. Hanya dia yang bisa menyentuh Evo.


 


 


  “Tidak, Gas! Tolong sadar!” pinta Evo memeohon, “Jangan lakukan ini.”


 


 


  Bagas semakin geram, dia merobek kembali baju Evo, Bagas bersumpah akan menikmati Evo malam ini.


 


 


BRAK!


 


 


  Pintu apartemen Bagas terbuka, Bastian terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bagas pada Evo. Dia mengambil Bagas lalu memukul tubuh Bagas hingga terjatuh.


 


 


  “Brengsek!” kata Bastian lalu memukul Bagas lagi. Bastian memberikan pukulan bertubi – tubi pada Bagas. Bastian marah melihat perlakuan Bagas pada Evo.


 


 


  Bastian mengambil selimut, lalu menutupi tubuh Evo dengan selimut tersebut.


 


 


  “Cih, jangan sok jadi pahlawan kamu!” maki Bagas.


 


 


  “Aku tidak menyangka kamu sebejat itu, Gas!” kata Bastian penuh marah. Bastian terluka melihat Evo seperti itu.


 


 


  “Apa kamu pikir Evo mau dengan kamu? Dia hanya mencintai seorang Bagas! Kamu menganggu kami yang sedang bermesraan!”


 


 


  “Tidak! Itu tidak benar, Bas!” ujar Evo sambil menangis.


 


 


  “Munafik! Apa kamu lupa kalau kita sering melakukan itu?” tanya Bagas dengan tertawa, “Dia sudah milikku, Bastian. Tubuhnya sudah menjadi milikku.”


 


 


BUK!


 


 


  Bastian memukul kembali Bagas. Tangis Evo kembali meledak. Bastian sudah mendengar semua dari mulut Bagas. Hati Evo hancur berkeping – keping. Evo sudah tidak punya harga diri lagi di depan Bastian.


 


 


  Bastian mengangkat tubuh Evo, dia mengajak Evo pergi dari apartemen Bagas. Bastian sudah memukul Bagas hingga terluka parah.


 


 


*****


Rumah bastian.


 


 


  Bastian membawa Evo dengan hati – hati. Dia menutupi tubuh Evo dengan selimut yang dia bawa dari apartemen Bagas.


 


 


  “Ada apa dengan Nona, Tuan?” tanya pelayan rumah dengan khawatir.


 


 


 


 


  Bastian membawa Evo ke dalam kamarnya, lalu menaruh Evo di tempat tidur. Wajah Evo terdapat luka. Bastian mengambil kotak P3k yang dia taruh di laci meja. Kotak P3k selalu ada di setiap kamar rumah Bastian.


 


 


  Evo benar – benar hancur sekarang. Harga dirinya sudah tidak ada lagi di depan Bastian. Bagas sangat kejam karena membeberkan semuanya pada Bastian.


 


 


  Bastian membersihkan luka di wajah Evo. Air mata Evo kembali mengalir.


 


 


  “Kenapa? Apa terasa sakit?” tanya Bastian lembut.


 


 


  Evo mengangguk keras, dia menutupi kesakitan yang lebih sakit dari luka di wajah, luka di hatinya.


 


 


  “Maafkan aku telah mengizinkan kamu pergi bersama Bagas, seandainya aku tidak mengizinkanmu kejadian ini pasti tidak akan terjadi,” kata Bastian dengan sedih.


 


 


  Selesai Bastian membersihkan mukanya, Bastian menghapus air mata Evo. Bastian mengutuk dirinya yang telah mengizinkan Evo pergi dengan Bagas.


 


 


  “Jangan menangis lagi, aku mohon,” pinta Bastian.


 


 


  Bastian tidak bisa melihat Evo menangis. Dia memegang wajah Evo. Dan mendekatkan wajah mereka. Bastian mencium bibir Evo dengan lembut.


 


 


  Evo mengingat kembali perkataan Bagas pada Bastian.


 


 


  “Munafik! Apa kamu lupa kalau kita sering melakukan itu?” tanya Bagas dengan tertawa, “Dia sudah milikku, Bastian. Tubuhnya sudah menjadi milikku.”


 


 


Evo mendorong tubuh Bastian, dia tidak pantas dicintai oleh Bastian. Tubuh Evo sudah kotor, dia benar – benar kotor.


 


 


  “Aku ingin sendiri, Bas. Maaf,” pinta Evo.


 


 


  “Aku tidak mau meninggalkan kamu, Vo,” tegas Bastian. “Aku sangat ….”


 


 


  “Tidak!” teriak Evo. Dia segera menutup telinganya. Evo tidak mau mendengar ucapan Bastian. Dia tidak mau mendengar kelanjutannya lagi.


 


 


  “Vo, jangan begini kamu menyakiti aku,” ujar Bastian.


 


 


  Air mata Evo kembali mengalir di pipinya. Lebih baik menyakiti hati Bastian sekarang dari pada di kemudian hari.


 


 


  “Aku sangat….”


 


 


  “Jangan, Bas! Jangan teruskan, aku mohon. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari padaku. Aku sudah kotor, Bas,” kata Evo pada akhirnya. Air mata Evo tidak berhenti mengalir. Dia sudah siap untuk ditinggalkan oleh Bastian.


 


 


  Bastian memeluk Evo dengan erat, “Aku tidak peduli, Vo! Aku tidak peduli dengan masa lalu kamu! Aku hanya mencintai kamu! Aku sangat mencintai kamu, Vo!”


 


 


  Mendengar pernyataan Evo, tangis Evo semakin pecah. Dia tidak menyangka kalau Bastian akan menerima masa lalunya. Evo sangat terharu.


 


 


  “Jangan paksa aku untuk mencari yang lebih baik darimu karena bagiku kamulah yang terbaik, Vo.”


 


 


  Bastian mencium dahi Evo. Betapa cintanya lelaki ini pada Evo. Bastian benar – benar tidak peduli dengan masa lalu, Evo. Bastian tidak bisa meninggalkan Evo, dia tidak mau menikah dengan wanita lain selain Evo.


 


 


  Evo begitu terharu mendengar perkataan Bastian. Penantian Evo selama dua belas tahun terbayar sudah. Bastian membalas cintanya. Dia mau menerima Evo apa adanya, walau Evo sudah rusak dan tidak peduli dengan masa lalu Evo.


 


 


  Dua belas tahun Evo mencari sosok Bastian.  Senyum Bastian sebagai jimat baginya untuk bertahan hidup. Dia membuat Evo mencari rasa yang ada di hatinya selama dua belas tahun ini. Evo menyadari kalau Bastian adalah cinta pertama dalah hidupnya, dan Evo berharap Bastian menjadi cinta terakhirnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤