MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Rafael



"Moy! Moy! Sini! "panggil Karel dari bawah.


Aku menengok dari atas, kemudian berkata, "Sebentar Karel, aku lagi mau mengantar buku ini ke ruang Pak Guru." Dari bawah Karel mengangguk setuju, dengan cepat aku membawa buku itu ke ruang guru. Lalu menghampiri Karel di bawah.


"Ada apa teriak-teriak manggil aku?" Aku cemberut. Malu. Karel menarik tanganku, dan kami pergi ke taman rahasia yang biasanya kami kunjungi.


Karel memasangkan sekuntum bunga matahari di dekat telingaku, kemudian dia berujar, "Perkiraanku benar."


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu berikan ini padaku?" tanyaku. Aku mau mencopot, tapi Karel memegang tanganku.


"Jangan dilepas.Kamu kelihatan cantik pakai bunga itu, Moy," ungkap Karel tulus membuatku semakin malu.


"Gatal, Karel."


"Tapi aku suka, Moy. Kamu kelihatan cantik."


"Dari dulu aku sudah cantik, tidak usah kamu bilang juga aku sudah tahu," ujarku menutupi malu.


Karel tersenyum, lalu dia berkata lagi, "Ya,ya,ya. Moyku memang cantik."


"Namaku Evo, Karel, bukan Moy! Dapat dari mana nama Moy itu?"


"Moy artinya monyong. Kamukan suka cemberut bibirnya. Nama Evolet tidak bagus buat kamu! Cocoknya MOY!"


"Ih, dasar Karel jahat!" Aku memukul Karel. Karel tertawa terbahak-bahak.


"Becanda, Moy, ampun!"


"Ya, udah jawab sekarang! Kenapa namaku, kamu ubah jadi MOY?"


"Karena MOY itu artinya...."


.


.


.


.


"KAREL?!"


Aku terbangun. Hari ini aku bermimpi tentang dia. Karel dimanakah dirimu sekarang? Aku rindu.


Drrtt.


Bunyi pesan masuk.


Rafael : Bisakah hari ini kita lunch bareng?


Bagas : Aku rindu, bisakah kamu datang ke apartemen nanti siang?


Ketika itu juga aku bingung membalas. Aku berpikir sejenak. Sudah lama juga aku tidak ketemu dengan Rafael. Setelah bertemu dengan Rafael, aku akan datang ke tempat Bagas. Aku pun membalas pesan mereka.


.


.


.


Siangnya di restorant.


"Sorry, sorry, aku telat. Tadi kerjaan banyak banget." Aku meminta maaf.


"Tenang, Vo. Mau kamu terlambat satu jam, aku akan menunggumu."


"Mulaikan gombalnya." Aku tersenyum lalu duduk di sebelah Rafael. Hari ini Rafael terlihat begitu tampan. Setelan kemeja warna biru, dipadukan dengan dasi dan celana hitam.


"Kenapa lihat aku begitu? Naksir ya?" canda Rafael.


"Anda terlalu percaya diri, Pak!" sahutku menahan malu. Rafael tersenyum, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Kalau dilihat Rafael dan Bagas jauh berbeda. Rafael begitu tenang, Bagas sebaliknya.


"Mau makan apa?" tanya Rafael, sejak tadi Rafael belum pesan makanan. Dia hanya pesan segelas kopi.


"Apa aja, Fa. Aku ikut."


Rafael memesan makanan untukku.


"Kenapa kamu tahu makanan kesukaanku?" Aku terkejut karena makanan yang dipesan oleh Rafael makanan kesukaanku semua.


"Apapun yang kamu suka, pasti aku akan cari tahu." Senyum Rafael lagi.


"Kenapa begitu?" tanyaku lalu meneguk segelas air putih yang sudah ada dari tadi di depanku. Haus. Udara cukup panas di luar.


"Karena aku suka sama Evolet Rebecca."


Hah?! Aku tersendak, mataku terbelalak. Aku tak percaya Rafael berbicara seperti itu. "Rafa..."


Rafa mengambil tissue lalu mengelap bibirku yang penuh dengan air. Dia berkata padaku,"Ya ampun, Evo. Kamu kaya anak kecil deh."


" Becandamu kelewatan, Rafa," belaku.


" Kata siapa aku bercanda?" Mata Rafael menunjukkan keseriusan.


"Aku mencintaimu sejak awal kita berjumpa, Vo," lanjut Rafael. Aku terdiam, ngga bisa menjawab apa-apa.


Rafael memegang tanganku, "Setiap detik, setiap menit, dan setiap jam pikiran ini hanya untukmu. Hanya untuk Evolet Rebecca."