MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Banyak Penolong



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Perusahaan Pratama.


Bagas baru sampai ke kantor sekitar pukul sembilan. Sebelum ke ruangannya, dia mampir ke ruangan Maureen. Bagas teringat ucapan Mbak Meli bahwa yang menyebarkan berita itu adalah dia dan Maureen.


Tok, tok, tok.


Bagas mengetuk pintu ruangan Maureen.


"Silahkan masuk," sahut dari dalam.


Bagas membuka pintu. Melihat Bagas yang datang, Maureen langsung berdiri.


"Maaf, Pak Bagas saya tidak tahu kalau Pak Bagas yang datang," ucap Maureen. Ketika di kantor Maureen tetap memanggil Bagas dengan sebutan Pak.


Bagas menghampiri Maureen, kemudian berkata,"Sudahlah, Maureen jangan kaku begitu sama aku,"


"Jangan, Pak. Di sini kita bos dan bawahan," Maureen mengingatkan. Bagas tersenyum. Sahabat Evo memang sangat sopan dan baik.


"Aku datang ke sini mau ucapkan terima kasih padamu. Terima kasih telah menyebarkan berita baik tentang aku dan Evo. Berkat kalian, ada beberapa orang tidak jadi membatalkan kerja sama," ucap Bagas.


"Saya senang mendengar berita baik ini, Pak. Saya dan Mbak Meli dengan senang membantu Bapak. Jangan lupa kami akan selalu membantu dari belakang," ujar Maureen.


"Aku akan mengingatnya," ucap Bagas. "Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya."


"Maaf, Pak Bagas, Apa Evo ikut dengan Bapak?" tanya Maureen.


"Nanti siang dia akan ke sini. Ada hal yang harus dia kerjakan katanya," jelas Bagas kemudian pergi dari ruangan Maureen.


"Oke, Pak."


*****


Rumah Kontrakan Evolet


Aku membuka pintu rumah kontrakan yang sudah lama aku tinggalkan. Aku tidak menyangka akan datang kemari dan tinggal di sini lagi. Aku tidak berpikir pula kalau Bagaspun akan tinggal bersama dirinya di sini. Sebenarnya uang tabunganku cukup untuk menyewa rumah yang lebih layak untuk tinggalkan kami berdua, tapi rasanya sayang sekali.


"Baiklah Evolet Rebecca, mari kita bereskan rumah ini!" ucapku. Aku mengambil sapu dan kain lap yang aku tinggalkan di sini. Menyapu setiap sudut ruangan, dan melap setiap perabotan rumah.


"Semoga Bagas betah tinggal di sini," doaku dalam hati.


Beberapa jam kemudian, acara bersih - bersihku selesai juga.


Drt, Drt, Drt.


Bunyi panggilan masuk dari ponselku. Aku melihat panggilan dari Maureen.


"Ya, ampun. Akhirnya kamu bisa aku hubungi!" kesal Maureen padaku.


"Maafkan aku Maureen, aku benar - benar sibuk hari ini," kataku.


"Di mana kamu sekarang? Tidak bisakah kita bertemu? Kami berdua rindu padamu." ucap Maureen.


"Aku, aku lagi di rumah, maksudku apartemen," ucapku.


"Kita akan jemput kamu di apartemen!" perintah Maureen.


"Jangan, jangan! Kita ketemu di kafe saja ya. Kafe tempat yang biasa kita kunjungi."


"Baiklah. Aku dan Dina akan segera berangkat. Kami menunggumu di sana!" ucap Maureen.


"Oke," kataku kemudian menutup telepon. Apa Dina sudah tidak marah padaku ya? Semenjak dia di rumah sakit, aku sama sekali tidak pernah menghubungi Dina.


Aku segera merapikan sapu dan kain pel. Untung saja aku membawa baju ganti untuk dipakai bertemu dengan Maureen dan Dina. Kalau memakai baju yang sekarang, sudah bau dan kotor akibat debu.


*****


Rumah Keluarga Pratama


"Kamu lagi di mana sayang?" tanya Bu Lina mengecek keberadaan anak perempuannya.


"Charlotte ada di rumah, Mam. Sebentar lagi akan di jemput oleh Evan untuk mengantak Char ke kampus buat bimbingan skripsi. Ada apa, Mam?"


"Hari ini Papa kamu sudah boleh pulang ke rumah. Nanti suruh Pak Udin menjemput kami ya," pinta Bu Lina.


"Baik, Mam." ucap Charlotte.


"Hati - hati dan semoga hari kamu menyenangkan," ucap Bu Lina lalu mematikan telepon.


"Sebaiknya aku menelepon Mas Bagas. Biar Mas Bagas yang menjemput Papa dan Mama," ide Charlotte. Diapun segera menelepon kakaknya itu.


"Halo," jawab Bagas dari seberang.


"Halo, Mas Bagas. Mas Bagas ada di mana?" tanya Charlotte.


"Ada apa, Char? Mas ada di kantor," jawab Mas Bagas lagi.


"Hari ini Pak Udin cuti. Apa Mas Bagas bisa jemput Papa dan Mama dari rumah sakit? Mama barusan meneleponku katanya Papa sudah boleh pulang dari rumah sakit." Charlotte memberi kabar baik pada Bagas.


"Syukurlah, Mas Bagas senang mendengarnya. Baik, nanti Mas Bagas yang akan menjemput," janji Bagas.


"Oke, Mas Bagas. Aku tutup ya teleponnya. Evan baru datang menjemput. Aku mau bimbingan skripsi. Doakan aku ya, Mas biar lancar," pinta Charlotte.


"Iya, Char. Semoga lancar," ucap Bagas. Setelah berkata seperti itu Charlotte menutup teleponnya.


*****


Siangnya di kafe.


"Maaf, Evo, kami datang terlambat. Tadi ada pekerjaanku yang tidak aku tinggal," ucap Maureen,


"Tidak masalah, Maureen. Aku baru datang," ucapku lalu memeluk Maureen, setelah itu melepaskan pelukan mereka.


"Hai, Vo," sapa Dina lalu memeluk Evo.


"Maafkan aku, Din. Kita baru ketemu sekarang setelah kejadian di rumah sakit itu," kataku meminta maaf pada Dina.


"Aku yang minta maaf karena marah padamu tanpa sebab," ucap Dina.


"Sudah, sudah ya acara maaf - maafnya. Mari sekarang kita makan," ajak Maureen. Kemudian kami memesan makanan untuk makan siang.


*****


Perusahaan Pratama, Ruangan Bagas.


Ceklek.


"Hai, Bagas!" sapa Dea membuka pintu tanpa mengetoknya terlebih dahulu.


"Hai, Dea! Sama siapa kamu ke sini?" tanya Bagas.


"Seperti biasa, sama bayanganku. Apa kabarmu hari ini?" tanya Dea menghampiri Bagas.


"Sangat baik. Aku senang sekali karena pemberitaan baikku kemarin malam di berita. Beberapa perusahaan tidak jadi membatalkan kerja samanya, tapi kami masih butuh dana untuk pemasukan kami," jelas Bagas.


"Maafkan ucapan Mamaku ya, Bagas. Seharusnya Mama tidak menjodohkan kita seperti ini. Walau aku sebenarnya juga mencintaimu,"jujur Dea pada Bagas.


"Apa kamu sedang bercanda?" tanya Bagas tidak percaya.


Dea mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bagas, lalu berkata,"Kenapa kamu selalu tidak percaya padaku? Aku serius."


"Sejak kapan?" tanya Bagas lagi terkejut.


"Sejak kamu meninggalkan aku," jelas Dea kemudian mencium bibir Bagas.


****


Hai, kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca karyaku. Semoga kamu masih meneruskan membaca ya.