MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Tragedi



"Jangan mendekati aku, atau peluru ini akan melayang!" ancam Lisa. Bagas tetap mendekati Lisa. Perempuan itu kemudian menendang Bagas hingga tersungkur jatuh.


"AKU BILANG JANGAN MENDEKATI AKU!"


"Mas Bagas!" jerit Charlote.


"BAGAS!" aku berteriak melihat Bagas jatuh.


"MATILAH KAMU, EVO!"


DOR!


Bunyi tembakan terdengar keras.


Lisa menembakkan pelurunya.


"TIDAKKKK! EVOO!" Teriak Bagas.


"TIDAAK!" Aku menjerit. Aku menutup mata. Aku pasrah pada Tuhan.


Bruk! Seseorang jatuh. Aku memegang tubuhku. Aku tidak merasakan sakit. Apa Lisa salah menembak? Aku membuka mata.


"BASTIAN!!!" Teriakku. Bastian menghalangi peluru yang harusnya untukku. Aku menghampiri Bastian.


Ada luka tembak di dadanya.


Bagas buru-buru merebut pistol dari tangan Lisa, lalu Bagas berkata, "Akhiri semua ini Lisa. Suruh pergi anak buahmu atau kamu akan menyesal."


Lisa menangis dan menyerah. Dina menelepon polisi. Aku memegang tubuh Bastian. "Bas, aku mohon bertahanlah. Aku mohon."


"Kamu cantik banget, Vo," puji Bastian.


"Bodoh, Bastian bodoh! Kenapa disaat seperti ini malah ngegombal!" aku masih menangis.


"Bastiaaaan!!!!!!" jerit seseorang yang suaranya sangat aku kenal. Dia Mbak Meli.


"Bas, adikku! Bagaimana keadaanmu? Di mana ambulans? Apakah sudah dipanggil ambulans?" teriak Mbak Meli khawatir dengan darah yang terus mengalir.


"Sudah, Mbak. Sudah saya hubungi," Maureen menjawab.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Bagas menghampiriku. Lisa sudah ditangani dengan baik.


"Aku tidak apa-apa, Bagas. Bastian lukanya terus mengalir."


"Sebentar lagi ambulans akan datang," ucap Bagas. Tuhan jaga Bastian untukku.


❣❣❣


Di rumah sakit.


Dokter keluar dari ruangan ICU. Cukup lama kami menunggu Bastian dirawat.


"Bagaimana keadaan, Bastian, Dok?" tanya Mbak Meli.


"Boleh kami melihatnya, Dok?" tanya Mbak Meli lagi.


"Silahkan, silahkan."


"Syukurlah, Vo, Bastian selamat," ucap Dina. Aku masih menggunakan gaun pernikahanku. Hari ini pernikahanku gagal. Lisa menggagalkan semuanya, tapi aku masih bersyukur Bastian selamat.


"Siapa Bastian?" tanya Maureen yang baru bisa bicara.


"Temanku, Ren. Sewaktu aku diculik di Malaysia," jawabku singkat.


"Aku tidak menyangka kalau Bastian adik Mbak Meli," kataku lagi.


Bagas dan Rafael sedang tidak di rumah sakit. Mereka sedang mengurus Lisa dan gedung pernikahan kami. Kami masih menggunakan baju yang sama saat di pesta.


"Ayo kita masuk!" ajak Dina.


"Hai, Bas," sapaku melihat Bastian yang sudah sadarkan diri.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bastian.


"Terbalik. Harusnya aku yang bertanya keadaanmu. Bagaimana keadaanmu?"


"Baik, Evo. Aku senang telah menolongmu."


"Aku yang tidak senang kamu terluka seperti ini," ujarku.


"Mbak Meli, kenalkan ini Evo. Evo kenalkan ini kakakku, Mbak Meli."


"Kami sudah saling kenal, Bastian," jawab Mbak Meli. "Mereka ini tim ku dulu dalam bekerja. Kamu kenal Evo dari mana?"


"Malaysia, Mbak," jawab Bastian masih lemas.


"Ternyata dunia tidak selebar daun kelor ya," ujar Dina. Kami mengangguk setuju. Kebetulan yang aneh. Mbak Meli adalah kakak kandung Bastian.


"Bas, terima kasih ya sudah menolong aku. Kalau tidak ada kamu mungkin aku yang akan berbaring di sana," ucapku tulus.


"Sama-sama. Aku tulus kok, Vo menolong kamu."


"Tapi Lisa nekat juga ya. Dia benar-benar mencintai Bagas sampai melakukan segala cara," komentar Mbak Meli kesal.


"Iya benar, Mbak. Sebenarnya kasihan juga dia, selama lima belas tahun dia dicekoki bahwa dia adalah satu-satunya calon tunggal nyonya Pratama."


Kami berempat prihatin dengan keadaan Lisa. Bukan sepenuhnya kesalahan dia, tapi dia harus mendapatkan akibat dari perbuatannya hari ini.


"Sepertinya kita harus balik, Vo. Apalagi kamu, bajumu masih menggunakan gaun pengantin," ajak Dina.


"Iya, kamu benar. Bas, aku balik ya, besok aku dan Bagas akan datang lagi ke sini."


"Hati-hati, Vo," ucap Bastian. Semoga ini jawaban atas doaku, Vo. Tuhan memberi kesempatan padaku untuk mendapatkanmu.