
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Episode sebelumnya:
Kehadiran Mbak Meli sebagai pemegang saham terbesar kedua membuat semua orang terkaget, apalagi keluarga Bagas.
"Meli, aku tidak percaya kamu pemegang saham terbesar kedua setelah Papa. Kenapa kamu tidak cerita padaku?" tanya Bagas.
Mbak Meli tersenyum," Buat apa? Aku tidak suka pamer pada siapapun termasuk bosku."
Bagas tertawa mendengar jawaban Mbak Meli. Bagas memang tidak salah memilih rekan kerja seperti Mbak Meli, selain pekerja keras dia juga rendah hati.
"Jadi apakah kalian sudah percaya bahwa aku pemegang saham terbesar kedua setelah Pak Freddy?" tanya Mbak Meli lagi dengan sinis.
Pak Freddy dan Bu Lina terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa salah satu karyawannya merupakan pemegang saham terbesar kedua setelah mereka.
"Wuih, sepertinya drama ini makin seru. Seharusnya Evo dan Rafael menyaksikan ini semua!" ucap Dina dengan tangannya yang bergetar.
"Ya, Tuhan semoga Bagas tetap menjadi pemimpin di perusahaan ini," doa Maureen.
Episode selanjutnya.
"Baik, kami percaya dengan kamu. Sudah saat saya memberikan hasil pemilihan suara ini," ujar Pak Freddy. Semua memandang ke arah layar.
Hasil dari pemilihan adalah 17 memilih Bagas tetap menjadi pemimpin dan 18 memilih ingin Bagas di pecat dari perusahaan.
Melihat hasilnya Dina dan Maureen lemas. Bagas terpaksa di pecat dari perusahaan.
"Dari hasil yang dapat kita lihat Bagas akan dipecat dari Perusahaan Pratama!" ucap Pak Freddy senang. Bu Lina merasa puas telah menghukum anaknya. Bagas yang sudah tahu akan kalah, tidak banyak komentar.
"Maaf, saya tidak setuju dengan hasil pemilihan suara ini," tegas Mbak Meli. Semua orang yang berada di dalam ruangan melihat ke arah Mbak Meli.
"Permintaan ketidak setujuan di tolak," ucap Bu Lina.
"Maaf, Bu Lina kamu tidak bisa menolak. Dalam aturan sebuah perusahaan setiap pemegang saham berhak memberikan suara. Saya baru tiba dan belum memilih. Itu tidak sah dan tidak adil bagi saya," kecam Mbak Meli.
"Benar yang dikatakan oleh Bu Meli. Dia berhak untuk memilih!" bela Maureen. Mbak Meli menengok ke arah Maureen sambil tersenyum
"Betul, itu. Betul sekali!" ujar yang lain yang membela Bagas.
Ruangan kembali ribut.
"Tenang, tenang. Semua tenang dan kembali fokus!" perintah Pak Freddy.
"Jadi apakah saya diizinkan untuk memilih?" tanya Mbak Meli lagi.
"Silahkan kamu memilih," geram Pak Freddy. Dia tahu kalau Mbak Meli akan memilih Bagas sehingga hasil menjadi seimbang.
Mbak Meli menekan tombol yang ada di depannya. Maureen dan Dina tersenyum senang, karena dia yakin sekali kalau Mbak Meli akan mempertahankan Bagas.
Hasilpun diberitahu kembali oleh operator.
Hasil dari pemilihan adalah 18 memilih Bagas tetap menjadi pemimpin dan 18 memilih ingin Bagas di pecat dari perusahaan.
Hasil pemilihan suara pun menjadi seimbang. Maureen dan Dina tersenyum karena Bagas masih punya kesempatan untuk menjadi pemimpin Perusahaan Pratama.
Melihat hasil pemilihan suara hati Pak Freddy dan Bu Lina menjadi panas.
"Rapat ditunda selama dua jam Kita akan hadir lagi dua jam di tempat ini," ucap Pak Freddy. Pak Freddy memerlukan waktu untuk membuat rencana dengan Bu Lina untuk mendepak Bagas dari Perusahaan Pratama.
Mall
Charlotte dan Evan masih berjalan - jalan di Mall. Mereka berhenti di salah satu acara yang diselenggarakan pihak Mall tersebut. Acara tersebut adalah "BERANI CINTA."
"Ayo kita ke sana," ajak Charlotte.
"Tidak mau. Kita ke tempat yang lain saja," ucap Evan ogah - ogahan. Charlotte yang bersih keras menarik tangan Evan. Evan terpaksa mengikuti pacarnya.
"Hai, hai para pejuang cinta! Hari ini kita mengadakan acara khusus untuk kalian yang sudah punya pacar atau pun belum," sapa pembawa acara pria.
"Wow, acara apa itu?" tanya pembawa acara perempuan.
"Berani Cinta. Kita di sini memberikan kesempatan ke kalian untuk mengungkapkan kembali rasa sayang kalian bagi yang sudah punya pacar atau menyatakan perasaan pada gebetan atau balik sama mantan!!!!" seru pembawa acara pria.
"Seru banget, ya! Jadi bagi kalian yang berani mengungkap cinta pada pacarnya silahkan ke depan dan dapatkan hadiah dari kami langsung," ujar pembawa acara perempuan.
"Sayang, ayo kita pulang aja. Aku sudah bosan di sini. Loh, Charlotte kamu di mana?" tanya Evan bingung tidak melihat pacarnya di sampingnya.
"Ya, ternyata ada seorang wanita cantik yang berani maju ke depan untuk ikut acara Berani Cinta! Siapa namanya, Mbak?" semangat pembawa acara.
Mendengar perkataan pembawa acara, Evan menduga kalau wanita itu adalah ....
"Nama saya Charlotte," sebut Charlotte.
"Ya, Tuhan Charlotte, apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Evan tidak percaya.
"Nama yang indah. Apa yang akan kamu lakukan di acara ini?" tanya pembawa acara perempuan.
"Wow, hebat! Siapa orang tersebut?" goda pembawa acara pria.
"Dia adalah seseorang yang selalu membuat aku tersenyum. Aku ingin mengungkapkan rasa cintaku padanya dengan menyanyikan satu lagu untuknya," ungkap Charlotte.
Evan yang melihat tingkah pacarnya, tersipu malu. Dia terkejut melihat keberanian Charlotte. Charlotte lalu membisikkan sesuatu kepada pemusik. Dia mengambil mic dari pembawa acara perempuan.
"Buat kamu yang selalu membuat aku tersenyum, Evan Sanders. Lagu ini aku persembahkan untukmu.
Datanglah sayang dan biarkan ku berbaring.
Di pelukanmu walaupun tuk sejenak.
Usaplah dahiku dan kan kukatakan semua.
Bila kulelah tetaplah disini.
Jangan tinggalkan aku sendiri.
Bila kumarah biarkanku bersandar.
Jangan kau pergi untuk menghindar.
Rasakan resahku dan buat aku tersenyum.
Dengan canda tawamu walaupun tuk sekejap.
Karna hanya engkaulah yang sanggup meredakan aku.
Kau tau engkaulah satu-satunya untukku.
Dan pastikan kita selalu bersama.
Karna dirimulah yang sanggup mengerti aku.
Dalam susah ataupun senang.
Dapatkah engkau slalu menjagaku?
Dan mampukah engkau mempertahankanku?
Bila kulelah tetaplah disini.
Jangan tinggalkan aku sendiri.
Bila kumarah biarkanku bersandar.
Jangan kau pergi untuk menghindar.
Terima kasih telah mencintaiku tanpa alasan, Evan."
(Lagu diambil dari S07 yang berjudul Buat Aku Tersenyum)
Mata Evan berbinar - binar diperlakukan seperti itu oleh Charlotte. Evan benar - benar di buat bahagia oleh Charlotte. Charlotte membuat dirinya selalu jatuh cinta.
Evan lari ke panggung lalu memeluk wanita yang begitu dicintainya. Evan tidak peduli dengan jutaan mata yang memandangnya, yang Evan tahu dia harus memeluk Charlotte kekasihnya.
"Terima kasih sayang. Terima kasih Charlotte," ucap Evan. Charlottepun ikut tersenyum bahagia.
Penonton yang menyaksikan kejadian tersebut ada yang menangis terharu dan memberikan tepuk tangan untuk sepasang kekasih itu.
*****
Rumah Keluarga Dea.
Dea datang dengan muka cemberut. Kekesalannya belum hilang mengingat kejadian semalam. Harusnya kemarin adalah hari yang paling indah buat Dea, tetapi malah menjadi hari terburuk baginya.
"Habis dari mana kamu?" tanya Pak Hermawan pada anak gadisnya.
Dea memandang sinis Pak Hermawan. Pak Hermawan salah satu orang yang membuat harinya kemarin kelabu. Harusnya Pak Hermawan tidak mendesak Bagas untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Ternyata Papa masih peduli juga sama Dea. Aku kira Papa sudah tidak peduli lagi sama, Dea," sinis Dea pada Papanya.
"Dea ngomong yang sopan sama Papa!" bentak Bu Heni.
"Setelah Papa sekarang Mama yang sudah tidak sayang sama Dea. Mending Dea pergi saja dari rumah!" teriak Dea lalu pergi ke kamar.
"Dea, kamu....."
Pak Hermawan menangkap tangan Bu Heni untuk mencegah amarahnya.
"Sudah, biarkan saja. Dea butuh waktu untuk menenangkan hatinya," ucap Pak Hermawan lembut pada istrinya. Bu Heni mengangguk kepala.
****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤