
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Kamu bagaikan harta yang tidak ternilai bagiku.
Senyumanmu selalu menghiasi hidupku.
Canda tawamu selalu melekat didalam hati.
Aku tidak tahu kalau takdir akan menentukan kita seperti apa?
Semoga nasib berpihak padaku.
*****
Hari Senin.
"Bagaimana penampilanku? Apa kelihatan tampan?" tanya Bagas yang sudah memakai baju kerjanya. Pagi ini kami sudah bersiap - siap untuk berangkat kerja.
"Halo, Bagas Pratama, aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam. Haruskah kamu mengganti pakaian lagi bila kamu merasa pakaianmu itu buruk?" keluhku.
Hari ini Bagas sangat aneh, sudah lebih dari setengah jam dia merasa kalau pakaian yang dia pakai sangat buruk. Padahal aku merasa apa yang dia pakai selalu bagus dan terlihat tampan.
"Tapi kenapa aku merasa pakaian ini juga buruk ya?" Bagas mulai berbuat ulah lagi. Aku menatap dirinya dengan tajam. Sudah pukul 6, tapi kami belum kunjung berangkat. Akupun tersenyum padanya, ini cara satu - satunya agar kami cepat berangkat.
"Kamu sangat tampan, Bagas. Aku sangat kagum padamu hati ini," ujar aku pada Bagas kemudian aku menciumnya.
"Wah, betapa agresifnya pacarku ini. Apakah aku begitu tampannya hari ini?" goda Bagas.
"Sangat tampan, tapi akan lebih baik kita pergi sekarang, aku tidak ingin kita terlambat nantinya," pintaku pada Bagas.
"Sial. Seandainya aku masih memiliki perusahaan, aku sudah memakanmu pagi ini."
"Untung saja kamu bukan pemilik perusahaan," ledekku membuat aku dan Bagas tertawa.
*****
Kantor Indra.
"Selamat pagi!" sapaku ketika tiba di lobby depan.
"Pagi, Mbak Evo. Sepertinya kamu bahagia sekali. Ada apa?" tanya repsesionis.
"Tidak ada apa- apa. Bukankah setiap pagi kita harus memancarkan kebahagian agar lebih bersemangat dalam bekerja," kataku.
Benar sekali kata resepsionis, aku sedang bahagia. Dua hari bersama Bagas membuat aku gagal move on. Aku sangat senang sekali. Bunga - bunga dalam hatiku bermekaran, membuat aku tidak berhenti tersenyum.
"Apa Pak Indra sudah datang?" tanyaku.
Sabtu malam kemarin Indra meneleponku, tapi tidak aku angkat karena Bagas melarangku. Bagas tidak mau terganggu dengan pekerjaan saat kami bersama kemarin.
"Sudah, Mbak Evo. Beliau sudah ada di ruangannya sekarang."
Aku mengangguk menjawab ucapannya. Akupun segera pergi ke ruangan Indra. Aku takut kemarin dia menelepon aku karena ada hal yang sangat mendesak.
Tok, tok, tok.
"Silahkan masuk," ucap Indra dari dalam.
Aku membuka pintu ruangannya, lalu memberikan senyuman terbaik untuk bosnya itu. Aku melangkah masuk ke dalam ruangannya.
"Selamat pagi, Pak Indra," sapaku dengan manis.
"Hai, Vo. Kenapa Sabtu kemarin kamu tidak mengangkat teleponku? Padahal aku ingin mengabarimu bahwa kita malam ini diundang untuk pembukaan perusahaan baru klienku. Apakah kamu bisa datang?" tanya Indra.
"Jam berapa kita akan berangkat?" aku bertanya.
"Kita akan berangkat dari sini jam 5. Acara jam 7 nanti. Sebenarnya aku tidak enak untuk mengajak kamu, tapi ini demi perusahaan kita. Perusahaan mereka akan bekerja sama dengan kita, kalau kita tidak datang rasanya kurang pantas."
"Baiklah, aku setuju."
"Kamu memang sekretarisku yang bisa diandalkan." puji Indra.
*****
Kantor keluarga Hermawan. (Ruangan Bagas)
"Kenapa teleponku tidak diangkat?" tanya Dea.
Bagas baru saja tiba di ruangannya, Dea sudah memberikan pertanyaan yang enggan Bagas jawab.
"Itu hari liburku, Dea. Ada apa kamu meneleponku?"
Dea menghela napas panjang. Dea yakin sekali kalau Bagas sedang pergi berduaan dengan Evo. Dia yakin juga Bagas sengaja tidak mau mengangkat teleponnya.
"Rabu Visa kita sudah terbit. Aku sudah pesan tiket untuk keberangkatan kita hari Kamis. Aku harap kamu sudah memberitahu Evo kalau kita pergi ke Inggris," jelas Dea.
"Evo sudah tahu, kamu tidak usah khawatir. Dia sudah setuju. Apa hanya itu yang mau kamu bicarakan padaku?" tanya Bagas.
"Ya, hanya itu."
"Harusnya kamu tidak perlu repot- repot menelepon. Buktinya kamu bisa memberitahuku hari ini," ucap Bagas. Kemudian dia membuka file lalu memeriksanya.
Dea yang mendengar ucapan Bagas sedikit kesal. Bagas tidak semanis dulu. Bagas benar - benar telah berubah dibuat Evo.
"Hmm, Dea," panggil Bagas.
"Iya?"
"Apakah nanti malam kita ada acara?" tanya Bagas.
"Sepertinya tidak," jawab Dea. Bagas tersenyum senang mendengar jawaban Dea. Hari ini dia bisa berduaan lagi dengan Evo.
"Ada apa?" tanya Dea curiga.
"Rahasia."
*****
Sore harinya
"Ini pakai," ucap Indra. Indra memberikan sebuah paper bag kepadaku. Aku membukanya dan sangat terkejut melihat isinya.
"Untuk apa ini?" tanyaku heran.
"Kamu tidak mungkinkan menggunakan baju seperti itu untuk acara nanti malam dan tidak mungkin juga kamu mengambil baju pulang," jelas Indra.
"Kamu benar. Aku akan menggantinya."
Indra balik ke ruangannya. Aku menghela napas lagi. Harusnya aku mengangkat telepon Indra, utangku semakin banyak untuk membeli gaun.
Sebelum aku mengganti pakaian, aku mengambil teleponku untuk menghubungi Bagas.
"Nomor yang ada hubungi di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi," ujar operator.
Aku mengangkat dahiku, Bagas tidak bisa dihubungi. Aku akan meneleponnya nanti, ujarku dalam hati. Kemudian aku menuju ke toilet untuk mengganti pakaianku dengan gaun yang diberikan oleh Indra.
Setelah selesai dari kamar mandi untuk mengganti pakaian, aku menuju ke ruangan Indra. Indra yang melihat aku tercengang.
"Bagaimana dengan penampilanku? Aku lupa membawa make up sehingga hanya meminjam tadi," jelasku. Demi perusahaan harus totalitas.
"Sudah baik. Ayo kita jalan, takut nanti akan terlambat."
****
Kantor keluarga Hermawan.
"Ada apa buru - buru pulang?" tanya Dea.
"Aku sangat lelah. Banyak sekali file yang aku kerjakan hari ini," curhat Bagas.
"Apa kita tidak makan malam dulu?" tawar Dea.
"Tidak. Evo sudah menungguku di rumah," tolak Bagas. Bagas kemudian bersiap - siap untuk pulang. Hari ini dia ingin bertemu denga Evo secepatnya.
Dea mengambil telepon genggamnya, lalu mengirim pesan.
Semoga berhasil.
*****
Malam harinya,
"Wow, besar sekali hotel ini," kataku takjub melihat begitu megahnya hotel yang aku kunjungi dengan Indra. Aku berpikir kalau klien Indra seorang yang kaya seperti Bagas.
"Ayo, kita segera ke aula. Mereka pasti sudah menanti.
Drt.
Bunyi pesan masuk dari ponsel Indra. Indra membuka pesan tersebut kemudian menutupnya. Setelah itu mereka pergi menuju ke aula.
Setibanya di aula, banyak sekali para tamu yang diundang oleh teman Indra.
"Halo, Indra. Apa kabar kamu?" tanya teman Indra menyambut hangat dirinya.
"Hai, Rio. Kenalkan ini Evo. Evo, perkenalkan ini Rio." Indra memperkenalkan Evo. Evo menjabat tangan lelaki yang bernama Rio. Riopun menyambut dengan hangat.
"Wanita kamu sangat cantik. Kamu benar - benar pintat mencari pasangan," puji Rio.
"Terima kasih. Aku belajar darimu."
"Aku? Hahahha, kamu pintar sekali memujiku," ujar Rio begitu senang.
Percakapan demi percakapan aku dengarkan. Aku hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka karena tidak begitu paham apa yang mereka bicarakan.
"Bersenang - senanglah malam ini. Aku harus bertemu dengan yang lain," pamit Rio.
"Huft, akhirnya dia pergi juga," ucapku lega, "Bagaimana kamu bisa menemukan orang seperti itu?"
"Dia aset kita yang berharga. Ayo kita cicipi makanan dulu," ajak Indra. Akupun menyetujui ajakan Indra. Aku benar - benar lapar.
"Para hadirin semuanya. Hari ini di pesta yang saya buat megah ini untuk kalian, saya mengundang kalian untuk berdansa dengan saya!!" pinta Rio.
Baru saja aku dan Indra ingin menyantap makanan, Rio mengajak para tamu untuk berdansa.
"Sepertinya kita tidak usah ikut berdansa," tolak Indra.
"Hay, Pak Indra! Berdansalah dengan pasanganmu," ujar Rio membuat Indra malu.
"Vo, maafkan aku. Aku tidak memaksa kamu untuk berdansa denganku. Rio memang sangat menyebalkan!" kesal Indra.
"Ayo kita berdansa. Aku tidak mau kamu dipermalukan lagi olehnya. Aku harus menjaga martabat bosku," ucapku. Aku dan Indrapun berdansa. Lagu sudah diputarkan. Lagu yang begitu romantis. Coba kalau aku berdansa dengan Bagas, pasti aku akan sangat senang.
"Terima kasih, Evo," ucap Indra.
"Terima kasih untuk apa?" tanya aku bingung.
"Karena mau berdansa denganku. Aku takut nanti kita akan menimbulkan kesalahpahaman."
Aku tersenyum, lalu berkata, "Kitakan sahabat. Bagas juga sudah mengenalmu. Tidak mungkin dia akan cemburu padamu."
Setengah jam berlalu, acara dansa pun selesai. Aku dan Bagas kembali ke tempat duduk kami. Rio mendatangi kami lagi.
"Kalian memang pasangan yang luar biasa," puji Rio. Aku dan Indra membalas dengan tersenyum
"Silahkan makanlah hidangannya," ujar Rio lagi. Setelah mendapat izin dari yang punya pesta, akupun mulai mengisi perutku dengan makanan tersebut.
Seorang pelayan datang memberikan minuman.
"Makanlah, setelah selesai makan kita pulang," ajak Indra. Aku mengangguk setuju.
Seorang pelayan datang memberikan minuman. Aku mengambil minuman tersebut kemudian meminumnya sekali teguk. Rasanya enak sekali.
Aduh, kenapa kepala aku pusing ya? Kenapa semua gelap?
"Evo? Evo? Kenapa denga kamu, Evo?"
BRUK!
Aku pingsan.
*****
Seseorang mengetik pesan lalu mengirimnya.
Emergency.
*****
Apa yang terjadi dengan Evo? Saksikan kelanjutan di episode berikutnya. Jangan lupa ya untuk LIKE, dan VOTEnya. Terima kasih telah sayang sama MOY.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤