
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Terima kasih telah menunggu kisah MOY. Jangan sedih dan jangan baper ya menunggu tamatnya kisah MOY!! Sstt, kali ini adegannya sedikit panas. Siapkan kipas angin ya biar tidak kepanasan. Hehehee
*****
Bagas lemas mendengar cerita yang diungkapkan oleh Evo. Dia pergi meninggalkan Evo dan duduk di kursinya. Bagas memegang kepalanya karena sakit. Evo yang melihat itu, menghampiri Bagas.
“Apa kamu baik – baik saja?” tanya Evo khawatir.
“Kenapa dunia ini sangat tidak adil padaku? Apa kesalahanku dimasa lalu sehingga aku menerima ini semua?” Bagas mulai frustasi.
Evo memeluk Bagas. Untuk kedua kalinya Evo melihat Bagas seperti ini. Dilubuk hati Evo yang terdalam, dia tidak ingin melihat Bagas menderita.
“Sayang, aku sangat merindukanmu. Apa kamu tidak rindu padaku?” tanya Bagas. Suara Bagas terdengar serak karena mulai bergairah. Tanpa menunggu jawaban dari Evo, dia menggiring Evo ke lantai.
“Ba…, gas, jangan…, kamu akan segera menikah…,” Evo mengingatkan.
Bagas tidak mempedulikan peringatan dari Evo. Bagas mulai mencium bibir Evo. Badan Bagas sedikit dicondongkan agar Evo dapat dibaringkan olehnya. Posisi Bagas tepat disamping Evo. Mulut Bagas masih gerilya di bibir Evo, tangannya yang lain bergerilya membuka baju Evo.
“Katakan padaku, kalau kamu tidak suka dengan apa yang aku perbuat ini padamu,” ucap Bagas sambil memandang mata Evo. Bagas berhenti sejenak. Tubuh Evo tidak dilapisi oleh selembar kainpun. Evo tidak menjawab pernyataan dari Bagas. Dari dalam hatinya pun dia rindu dengan sentuhan Bagas.
Bagas yang tidak mendengar bantahan dari Evo. Bagas memandangi tubuh Evo yang tidak mengenakan pakaian apapun. Bentuk tubuh ini sangat dirindukan oleh Bagas. Setelah berlama – lama memandangnya, Bagas membuka bajunya. Dia memperlihatkan tubuhnya yang bidang, dan sedikit sixpack. Tidak bisa didustai, Evo juga merindukan tubuh itu.
Bagas mengambil tangan Evo. Dia menuntun tangan tersebut untuk menyentuh tubuh Bagas. Evo sangat merindukan tubuh ini.
“Sentuh aku, Vo, peluk aku, dan cium aku,” perintah Bagas.
Evo yang ikut terbawa gairahnya, menyentuh tubuh Bagas. Dia mempermainkan tangannya ke dalam tubuh Bagas.
“Aahh, terus, Vo, itu yang aku rindukan padamu,” ujar Bagas. Gairah Bagas sudah dipuncak. Dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Evo. Perempuan itu juga menikmatinya. Entah setan mana yang telah merasuki keduanya. Evo melumut bibir Bagas dengan penuh gairah.
“Aku sangat mencintaimu, Vo.”
Perlahan Bagas berbaring diatas tubuh Evo. Kedua tangan Bagas memainkan dada Evo dengan lembut. Dia sangat rindu. Bagas memandangi sesaat, kemudian menyentuhnya kembali. Bagas membuat Evo semakin gila.
“Arg, Bagas. Kamu membuatku gila,” desah Evo. Desahan demi desahan yang diberikan Evo membuat Bagas semakin bergairah. Ini yang dia rindukan. Menyentuhnya, mendekapnya, dan mencium Evo. Rasanya sudah bertahun – tahun Bagas tidak melakukan hal itu pada Evo.
“Jangan menahannya, sayang. Aku sangat merindukan desahanmu ini,” pinta Bagas.
“Ah, ah, pelan, Bagas. Aku mohon,” desah Evo lagi.
Bagas hanya memberikan waktu sebentar untuk membuat Evo bernapas. Dia sudah tidak tahan lagi meleburkan cinta ini pada tubuh Evo. Tangan Bagas terus bergerilya tanpa ampun di tubuh Evo.
“Evo, aku sudah tidak tahan.”
“Lakukanlah, Gas,” ucap Evo pasrah. Dalam benaknya sudah tidak mempedulikan apapun, yang mereka tahu mereka masih saling mencintai.
Akhirnya Bagas memberikan cintanya lagi pada Evo. Keduanya telah melebur jadi satu. Milik Bagas dan milik Evo kembali bersatu. Mereka lupa bahwa mereka ditakdirkan oleh keluarga Bagas untuk tidak bersatu.
*****
Setelah badai itu selesai, Evo mengigit bibirnya. Betapa bodohnya dia telah menuruti nafsunya. Evo memungut pakaiannya, lalu memakainya. Hal yang sama dilakukan oleh Bagas.
“Seharusnya kita tidak melakukan ini, Gas,” kata Evo menyesali perbuatannya. Dia teringat Bastian dan Dea. Evo merasa telah mengkhianati kedua orang tersebut.
Bagas mengancingkan bajunya, dia menatap ke arah Evo. Bagas tidak menyesal atas yang mereka perbuat tadi.
“Tapi….”
“Aku juga yakin kalau kamu juga mencintaiku. Aku hanya ingin bersama kamu bukan wanita yang lain,” jujur Bagas.
“Tapi Bagas….”
“Ssst, sudah jangan kita bahas lagi. Sudah jam 9 malam. Aku harus mengantarmu pulang,” ucap Bagas.
Evo mengangguk pasrah. Kehidupannya semakin sulit ketika perbuatan bodoh yang dia lakukan bersama Bagas hari ini. Seharusnya dia bisa menghentikan perbuatan mereka tadi. Tapi dia tidak mau munafik kalau tubuhnya pun merespon sentuhan dari Bagas.
*****
Kediaman Bastian.
Bastian menunggu Evo dengan gelisah. Seharusnya Evo sudah pulang duluan, tapi malah Bastian yang tiba di rumah. Bastian menghubungi Maureen, tapi sahabat Evo itu mengatakan bahwa Evo tidak bersama dengan dirinya.
Bastian mendengar suara mobil masuk ke rumahnya. Lelaki itu keluar dan menunggu di sudut pintu. Dia terkejut Evo diantar oleh Bagas.
“Terima kasih karena telah mengantarku,” kata Evo masih di dalam mobil Bagas.
Bagas menyentuh wajah Evo. Dia condongkan badannya untuk lebih dekat ke wajah Evo. Dengan perlahan Bagas mencium Evo.
Evo langsung mendorong Bagas untuk menjauhi dirinya. Evo takut Bastian akan melihat. Padahal dari kejauhan Bastian sudah melihatnya.
“Sudah malam, sebaiknya kamu pulang,” kata Evo. Wanita itu mengusir Bagas dengan alus.
“Sampai ketemu lagi sayang. Aku sangat mencintaimu,” ucap Bagas dengan senang.
Evo keluar dari mobil. Bagas melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Bastian. Bastian yang menunggu Evo dari kejauhan sedih melihat adegan ciuman yang terlihat jelas tadi.
Evo masuk kemudian dia terkejut melihat Bastian ada di depan pintu. Evo merasa seperti wanita yang telah mengkhianati pasangannya.
“Bastian, aku…,” ucap Evo ingin menjelaskan.
Bastian berusaha mengukir senyuman di bibirnya. Perasaan Bastian saat ini sangat sedih, tapi dia tidak dapat memberitahu pada Evo, karena Bastian bukan siapa – siapa.
“Aku sangat khawatir karena tadi kamu tidak bisa dihubungi,” ucap Bastian, “ayo, masuk! Sudah malam. Apa kamu sudah makan?”
“Bas, kamu harus mendengarkanku!” pintaku.
“Apa yang harus aku dengar? Bukankah sangat bagus kalau kalian sudah berbaikan?” tanya Bastian. Ucapan Bastian benar, karena Bastian berjanji akan mempersatukan Evo dan Bagas, tapi hatinya perih melihat ciuman tersebut.
“Bastian….”
“Jangan sungkan padaku. Aku bahagia kalau kamu bahagia, Vo. Ayo segera masuk, kamu harus makan,” ucap Bastian dengan lembut.
Evo mengikuti langkah Bastian. Perasaan tidak enak merasuk ke dalam hati Evo. Wanita itu tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Apa yang dilakukannya salah? Apa dia menyakiti perasaan Bastian lagi?
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤