
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Sore harinya. Aku dan Bagas sedang duduk di taman. Semalam setelah kami bertempur di tenda, Bagas membangunkanku dan megajakku masuk ke dalam kamar.
Dua hari ini, aku merasakan kebahagian yang sangat besar. Tidak ada keributan dari Pak Freddy dan Bu Lina. Suasana yang sejuk yang semakin menentramkan hati aku dan Bagas. Aku merangkul tangan Bagas.
"Terima kasih, aku sungguh bahagia," ucapku.
"Kenapa beberapa hari ini kamu begitu manja padaku?" goda Bagas.
"Beberapa bulan ini aku merasa kalau hidup kita terlampau berat. Apalagi saat kamu mendapat begitu banyak cobaan karena diriku."
"Sudah, jangan kamu pikirkan. Kita nikmati hari ini tanpa memikirkan masalah itu," pinta Bagas. Bagas mengambil dua buah raket dan kok, lalu memberikan satu raket padaku.
"Apa yang mau kita lakukan?" tanya aku.
"Kita main bulu tangkis. Bagi yang kalah, hari ini wajib masak dan memijit yang menang."
"Aturan dari mana itu?" sewotku. Aku sama sekali tidak bisa main bulu tangkis. Lagi pula main bulu tangkis tetapi tidak ada netnya. Bagaimana mungkin bisa?
"Dari akulah. Ayo kita mulai!" kata Bagas.
"Tapi Bagas aku tidak bisa main bulu tangkis!" tolak aku.
"Halo, Evolet. Selama pelajaran olah raga apa yang kamu lakukan? Permainan bulu tangkis itu permainan paling mudah," ucap Bagas.
"Aku bergosip dengan teman - teman yang lain," jujur aku.
"Dasar wanita! Ya sudah, aku akan ajarkan. Ketika aku akan memberi server, kamu harus menangkapnya. Kamu pergi ke arah sana. Menjauh sepanjang satu meter," perintah Bagas. Aku menuruti perintahnya. Aku pergi ke arah berlawanan dengan Bagas. Bagas memberikan bola padaku untuk aku pukul.
BUK!
"Aduh!" keluhku. Bola tersebut kena kepalaku. Bagas tertawa melihatnya.
"Bagas, kamu sengaja ya?" tuduhku.
"Tidak, aku tidak sengaja melakukannya. Kamu saja yang tidak bisa main," Bagas mengelak.
"Berarti kamu kalah! Malam nanti kamu harus memijitku dan masak."
"Curang! Aku tidak mau," tolakku.
"Atau aku saja yang memijit kamu nanti malam?" goda Bagas.
"Bagas kamu mesum!"
Bagas benar - benar mesum. Belum satu hari kami di sini tapi Bagas sudah minta untuk ketiga kalinya. Dasar cowok menyebalkan.
"Tapi kamu sayangkan?" ledek Bagas lagi. Kamipun tertawa.
Drtt... Drt...
Telepon genggam milik Bagas berbunyi. Bagas mengambil teleponnya tersebut yang ada di dalam kantongnya. Dia melirik ke arah telepon genggamnya. Alexandrea yang menelpon dirinya. Bagas enggan untuk mengangkat telepon tersebut.
"Siapa yang menelepon?" tanyaku.
"Tidak penting. Aku tidak suka diganggu saat liburan seperti ini," ucap Bagas.
Aku dan Bagaspun menikmati keindahan taman di villa milik Charlotte. Aku menarik napas untuk merasakan kesejukan dan kemurnian udara tersebut. Kalau boleh aku meminta agar waktu dapat segera berhenti berputar. Aku ingin bersama Bagas selamanya.
*****
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤