MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Cincin Simbol Cinta



"Aku sudah memberitahumu. Aku harap kamu mau mendengarkanku. Kamu wanita yang berbeda dari wanita sebelumnya Kak. Ya, Mas Bagas mencintai, tapi dia tidak mencintaimu. Dia cinta wanita lain. Dia hanya terobsesi padamu. Pahami kata-kataku, Kak."


Kata-kata Charlote terus membayang dibenakku. Apa benar Bagas tidak mencintaiku? Apa perlakuannya selama ini hanya terobsesi padaku? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus melanjutkan semua ini? atau aku harus pergi dari kehidupan Bagas untuk selamanya? Aku benar-benar bingung. Cintaku pada Bagas sudah berkembang, tetapi kenapa harus selalu ada masalah dengan ini semua.


❣❣❣


Dua hari lagi pesta pernikahan kami akan diadakan. Masih banyak yang harus dipersiapkan. Gedung yang sudah disewakan untuk 1.000 undangan. Dekorasi yang besok pagi akan dibuat oleh EO. Bagas sudah mengambil cuti untuk mempersiapkan pernikahan kami.


"Kira-kira apa yang kurang ya dari pesta kita ini?" tanya Bagas.


"Baju sudah. Sepatu sudah. Hadiah sudah. Apa lagi memang?" tanyaku bingung.


"Ada satu lagi! Cincin pernikahan kita!" jawab Bagas.


Melihat antusias Bagas dengan pernikahan kami, aku tidak ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Kedatangan Charlote ke apartemen aku tidak memberitahu pada Bagas. Semoga itu hanya kerikil kecil atas pernikahan kami. Aku tahu Bagas benar-benar mencintaiku. Begitu juga aku, aku juga benar-benar mencintai Bagas. Entah sejak kapan cintaku padanya mulai muncul, tapi yang aku tahu pasti, aku tidak bisa kehilangan Bagas. Aku takut kehilangan Bagas.


"Sayang, kenapa melamun? Ayo kita pergi beli cincin pernikahan kita," ajak Bagas membuyarkan pikiranku.


"Baik. Aku ganti pakaian dulu ya," ujarku.


Setelah selesai ganti pakaian, kamipun berangkat ke toko untuk membeli cincin pernikahan kami. Di perjalana menuju toko, Bagas begitu antusias dengan pernikahan kami. Dia memastikan akan datang 1.000 orang lebih di pesta kami. Setelah selesai pesta kami akan berbulan madu ke luar negeri. Bagas sudah membeli tiket sejak lama.


"Nanti kita akan beli rumah baru. Kalau tinggal di apartemen tidak cukup untuk kita tinggal."


"Kenapa kita harus pindah?"


"Aku mau punya anak sepuluh. Tidak mungkin kalau kita tinggal di apartemen," ujarnya.


"Astaga, Bagas! Kenapa begitu banyak?"


"Hahaha, makanya kamu bersiap-siap ya sayang," ujar Bagas penuh bahagia.


"Tolong berikan cincin pernikahan terbaik di toko ini." Ucap Bagas kepada pelayan toko.


"Baik, Pak."


Pelayan toko pun memberikan beberapa pilihan kepada kami.


"Kamu mau yang mana sayang?" tanya Bagas padaku.


"Aku mau yang ini aja," jawabku menunjuk pilihan cincin yang ketiga. Cincin yang sederhana, namun indah dipandang. Seperti itulah permohonan doaku, semoga rumah tangga kami sederhana namun indah dipandang.


"Baiklah. Saya mau yang ini," kata Bagas lalu membayar cincin tersebut.


"Kenapa kamu membeli cincin di sini?" tanyaku penasaran.


"Toko ini milik temanku. Walau bukan di Mall, tapi pilihan perhiasannya bagus-bagus."


Setelah mendapatkan cincin tersebut, kamipun pulang ke rumah. Aku yang membawa cincin tersebut. Kami menuju parkiran. Ketika aku mau masuk ke dalam mobil, ada sebuah motor yang mendekat. Lalu menarik dengan keras tas berisi cincin pernikahan kami hingga akhirnya aku terjatuh.


"Evo!!!" Bagas panik melihatku terjatuh. Dia lalu membangunkanku. Dia memeriksaku. Ada beberapa lecet di tangan dan kakiku.


"Cincinnya Bagas," ucapku sedih.


"Sudah, tidak perlu sedih. Nanti kita beli yang baru ya."


"Tapi...."


"Hal yang paling penting, kamu selamat, Vo. Cincin bisa kita beli lagi, tapi kalau kamu yang tidak selamat, aku yang akan hancur."


Mendengar perkataan Bagas hatiku menjadi lebih sedih. Maafkan aku Bagas, sempat meragukanmu karena saudaramu. Semoga kejadian hari ini bukan pertanda hal yang tidak baik. Semoga.