MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Semua Karena Cinta



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, Saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


Hari ini ini Pak Fredy kembali ke rumahnya. Bagas menjemput kedua orang tua tersebut dari rumah sakit. Keadaan Pak Freddy sudah pulih seperti sediakala. Bagas senang melihat Pak Freddy sudah kembali sehat dan keluar dari rumah sakit.


Bagas menghantarkan Papanya, Pak Freddy ke kamar beliau bersama Bu Lina, mamanya.


" Terima kasih Bagas setelah menjemput Papa dari rumah sakit, " ucap Pak Freddy.


" itu sudah tanggung jawab Bagas, Pa. Bagas anak papa Jadi Papa tidak usah mengucapkan terima kasih pada Bagas, " ucap Bagas lagi.


" Papa harap masalah kamu cepat selesai. Papa tidak mau ini berlarut terlalu lama. cepat selamatkan perusahaan Pratama hanya kamu satu-satunya andalan papa," pinta Pak Freddy.


"Mama setuju dengan ucapan Papa titik kamu harus segera bertemu dengan Pak Hermawan dan Bu Henny untuk memutuskan bahwa kamu menerima persyaratan itu," tegas bu Lina.


Bagas terdiam mendengar ucapan papa dan Mamanya Pak Freddy dan bu Lina. Bagas tahu dia harus cepat mengambil keputusan demi kelangsungan perusahaan pertama. Walaupun Pak Fredy dan bu Lina mendesak hal tersebut, Bagas masih belum siap untuk meninggalkan Evolet kekasihnya.


" Ma, Bolehkah Bagas diberi waktu untuk berpikir tentang hal ini? Bagas harus bijaksana dalam mengambil keputusan titik Bagas tidak bisa dipaksa seperti ini titik Bagas mencintai info Rebecca. dia tunangan Bagas. "


"Mau sampai kapan, Gas? Mau sampai kapan, Sampai kapan Bagas kita menunggu keputusan kamu? apakah menunggu perusahaan Pratama baru bangkrut terlebih dahulu baru kamu sadar bahwa tindakan kamu itu salah?" marah bu Lina.


Bagas mencerna setiap kata-kata Pak Freddy dan bu Lina. biar tahu keputusan yang harus diambil harus cepat karena nasib karyawan yang ada di perusahaan Pratama adalah tanggung jawab Bagas sebagai pemimpin perusahaan.


" Jangan keras hatimu, Bagas! Mama tahu kamu begitu mencintai Evolet, tetapi kamu harus memutuskan hubungan kamu dengan dia demi Nasib para karyawan perusahaan Pratama," tegas Bu Lina lagi.


Pak Freddy mengelus punggung anaknya, Bagas, lalu dia berkata pada anaknya, " Anakku Bagas, Cepatlah ambil keputusan karena Cuma kamu yang bisa menyelamatkan para karyawan kita. Papa hanya bisa bantu sedikit cuma kamu yang bisa membantu yang lain dengan cara cara terima penawaran dari keluarga Pak Hermawan, Papa Dea."


"Besok malam Mama akan mengadakan makan malam dengan keluarga Dea mama harap Bagas bisa memutuskan dan menerima persyaratan yang diberikan oleh Pak Hermawan dan Bu Heni, "desak bu Lina.


"Ya, Mama. Bagas akan memutuskan besok. Terima kasih telah memberi nasehat pada Bagas. Bagas harus kembali ke kantor." ucap Bagas.


" Bagas, Mama sayang sekali sama kamu titik mama dan papa tetap berdoa untuk keberhasilan Bagas dalam menangani permasalahan Perusahaan kita ini. kamu harus semangat dalam menjalani aktivitas kamu. Mama bangga karena mama memiliki Bagas sebagai anak mama, "ucap Bu Lina terhadap Bagas.


" Papa juga sayang pada Bagas, "ucap pak Freddy tidak kalah dengan Bu Lina.


Bagas menarik nafas panjang, kemudian dia berkata kepada kedua orang tuanya," Mama, Papa,.Bagas juga sayang sama kalian."


setelah berkata seperti itu Bagas keluar dari kamar Pak Freddy. Dia kemudian berangkat ke kantornya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang dia tinggalkan tadi.


*****


Di sebuah restoran tempat dia bertemu dengan seseorang. Orang itu adalah Indra.


" Aku aku mau kamu membantuku untuk yang terakhir kalinya. rencana kali ini pasti akan membuat Bagas dan Evo putus. Kamu mendapatkan Evo, aku mendapatkan Bagas," ucap Dea.


Indra yang baru saja tiba dari restoran, langsung dimintai tolong.


"Rencana apa lagi yang melibatkan aku? Aku pasti akan membantu kamu untuk mendapatkan Bagas karena aku yakin Evo pasti juga menjadi milikku," Indra bersedia membantu.


Indra memanggil pelayan restoran tersebut titik dia memesan beberapa makanan dan minuman untuk makan siang mereka. dari pagi Indra belum makan sambil mendiskusikan rencana dengan Dea dia makan siang.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Bagas?" tanya Indra ketika sudah selesai memesan makanan untuk mereka.


Dia menghela nafas panjang ketika mendengar pertanyaan dari Indra. Kemudian dia berkata kepada Indra, " Ya, aku sangat mencintai Bagas. Aku tidak rela kalau Bagas sampai jadi dengan wanita yang lain. Aku harus mendapatkan Bagas Pratama." tegas Dea.


" Apakah menurut kamu rencana kita akan berhasil? " tanya Indra lagi.


" Kenapa kamu menjadi ragu dengan hal ini? " Dea balik bertanya kepada Indra.


Indra meneguk segelas air yang baru datang tadi. kemudian dia menjawab pertanyaan Dea, " Aku tidak ragu, aku yakin rencana kita akan berhasil. aku hanya meragukan bahwa wa kita tidak akan mendapatkan cinta dari mereka berdua."


"Cinta akan datang karena terbiasa, Indra. Mereka pasti akan mencintai kita , asalkan kita mau berjuang untuk mengambil hati mereka berdua. Jadi kita tidak boleh menyerah secepat ini," Dea memberikan semangat pada Indra.


" Aku aku sangat senang melihat semangatmu yang begitu tinggi. Jadi, pa rencana kita selanjutnya, nona Alexandrea?" ucap Indra menunggu rencana dari Dea.


"Aku mau....," Dea memberitahu rencana tersebut pada Indra.


*****


Kantor Keluarga Pratama.


Sesampainya Bagas di kantornya, dia langsung mengambil laptopnya dan mengecek bursa saham perusahaan Pratama. Betapa terkejutnya dia melihat bahwa ada seseorang yang membeli sahamnya hingga 50%. Bagas benar-benar senang melihat hal tersebut dia tidak menyangka bantuan Maureen dan Mbak Meli berhasil membuat para investor kembali membantu perusahaannya dia.


Bagas mengambil ponselnya dari kantong celananya. Kemudian dia berpikir untuk menelepon Evolet, kekasihnya. Bagas harus memberitahukan kabar gembira ini kepada Evolet. Bagas yakin karena doa Evolet, maka ada investor yang mau membantu perusahaan Pratama. Bagas senang karena dia tetap menjadi pemimpin di dalam perusahaannya.


Setelah Bagas mengambil ponsel dari kantong celananya. Kemudian dia menekan nomor telepon Evolet dan menghubunginya. Dia ingin mengajak Evolet untuk makan malam di luar.


"Halo," sapa aku dari seberang.


"Di mana kamu sekarang, sayang?" tanya Bagas dengan suara gembira.


"Aku lagi bertemu dengan Maureen dan Dina. Ada apa sayang? Apakah sesuatu terjadi?" tanya aku panik.


"Ada apa, Vo?" tanya Maureen yang ikut panik melihat wajah aku berubah. Dina juga panik, dia menghentikan makannya.


" Tidak, tidak. Tidak terjadi apapun padaku. Aku hanya ingin mengajak kamu nanti untuk makan malam. ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepadamu," kata Bagas menenangkan.


" Kamu mau mengajak aku makan malam di mana? Kenapa tiba-tiba kita makan malam di luar? " tanya aku penasaran.


" Hahaha, Apakah aku tidak boleh mengajak kamu makan malam? Ya, walaupun aku berada di dalam posisi yang akan bangkrut, paling tidak aku masih bisa mengajak kamu makan malam," canda Bagas.


"Hush, jangan bercanda seperti itu!" kataku.


"Aku akan menjemputmu di apartemen nanti. Kamu bersiap - siap ya," perintah Bagas.


"Oke. Sampai ketemu di apartemen," ucapku padanya lalu menutup teleponnya.


Bagas akan membuat makan malam ini menjadi makan malam yang romantis bagi mereka berdua. Bagas tahu kalau Pak Freddy dan bu Lina selalu menyakiti hati Evo. Bagas ingin menghapus rasa sakit yang ada di dalam hati Evo karena perbuatan kedua orang tuanya. Bagas sangat mencintai Evo. Bagas ingin Evolet Rebecca kekasih hatinya selalu bahagia. semoga makan malam hari ini membuat kekasih hatinya bahagia.


Kemudian Bagas meraih telepon yang ada di kantornya. dia menekan nomor sebuah restoran yang akan digunakan mereka untuk makan malam. Bagas senang semua lancar dan semoga ini selalu lancar.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


"Sial. Siapa yang punya uang sebanyak ini untuk membeli saham kita?" tanya Bu Lina tidak percaya.


"Ada apa sayang?" tanya Pak Freddy yang baru selesai mandi.


"Kamu harus baca ini! Dea bilang kalau ada investor yang membeli saham perusahaan kita. Kalau begini terus rencana kita akan gagal dan Evolet Rebecca akan menang!" resah Bu Lina.


"Tenanglah sayang, tenang. Masih ada rencana yang bisa kita lakukan malam ini, tapi ini sangat beresiko besar buat kehidupan kita!" ucap Pak Freddy ragu.


"Tidak ada resiko apapun. Evolet Rebeccalah resiko terberat kita. Kamu harus lakukan rencana itu. Harus!" perintah Bu Lina pada suaminya.


Pak Freddy mengambil telepon genggamnya, kemudian dia menelepon seseorang, "Halo."


"Iya, Pak." jawab seseorang dari seberang.


"Saya mau kamu melakukan rencana yang saya sampaikan kemarin, hari ini juga," perintah Pak Freddy.


"Baik, Pak. Saya siap," ucap orang tersebut.


*****


Restauran.


"Senangnya kita bisa makan malam lagi di luar," ucap aku dengan bahagia.


"Boleh tidak aku menyanyikan sebuah lagu untukmu? tanya Bagas.


"Mau nyanyi apa kamu? Tidak ada musik," ucapku.


Bagas memperagakan seolah dia memakai gitar, lalu dia memetik gitar tersebut dan menyanyikan sebuah lagu untuk aku.


Hatiku berbunga-bunga mendengar suara indah dari Bagas. Aku tidak menyangka kau begitu romantis. Dalam keterpurukannya dia masih mau menghiburku. Bagas terima kasih, ucapku dalam hati.


Aku memeluk Bagas. Bagas pun memeluk diriku dengan erat.


" Kenapa hari ini kamu begitu romantis? Ada apa sebenarnya yang terjadi? Tapi apapun itu terima kasih atas lagu indah yang kamu nyanyikan untukku. itu salah satu lagu favoritku." ucap aku bahagia.


Bagas melepaskan pelukannya dari aku. Dia memandang aku dengan begitu romantisnya. Bagas tahu Evo selalu ada di sisi-nya bagaimanapun keadaan dirinya. Lagu itu merupakan salah satu isi hatinya untuk aku. Sejak siang tadi Bagas mencari lagu apa yang tepat untuk di nyanyikan buat Evolet kekasih hatinya.


" Terima kasih ya, Evolet, kekasih hatiku. Hari ini aku mendapatkan kabar yang begitu baik. tadi siang aku melihat bahwa perusahaan kita telah mendapatkan investor yang cukup untuk menjalankan perusahaan kita. itu semua berkat doa yang selalu kau panjatkan untuk diriku, " ucap Bagas lalu memegang tangan kekasih hatinya yaitu aku.


" Karna cintamu padaku, aku bisa berdiri tegar sampai saat ini. karena kekuatan cintamu padaku, aku bisa kuat menjalani keadaan seperti ini, " ucap Bagas lagi padaku.


Aku memegang erat tangan Bagas, lalu aku berkata kepadanya, " Bagas, aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Kamu selalu bertahan dalam kondisi apapun untuk memperjuangkan aku. Aku sangat mencintai kamu Bagas. aku akan selalu ada untuk dirimu, Bagas Pratama."


" Perjuangan kita belum berakhir Evo, kita harus berjuang untuk mempersatukan hubungan kita titik kita harus meyakinkan Papa dan Mama aku agar menerima cinta kita," pinta Bagas.


Aku mengangguk setuju dengan ucapan Bagas. Lalu aku berkata kepadanya, " ya, kita akan berjuang bersama-sama Bagas. kita pasti akan menang dan aku akan berusaha agar Om Freddy dan Bu Lina membuka hatinya untukku."


Setelah berkata seperti itu, kami kemudian melanjutkan makan malam kami. Bagas sudah memesankan banyak makanan dan minuman untuk kami makan malam ini. Makanan yang disajikan di restoran ini begitu enak. Walau sekarang Bagas tidak menyewa satu restoran tetapi aku merasakan kebahagiaan yang sama seperti Bagas menyewa satu restoran untuk kami berdua.


Satu jam kemudian kami selesai makan malam. Bagas dan aku aku bersiap-siap untuk balik ke apartemen. Makan malam ini sungguh membuat aku bahagia.


*****


Apartemen Bagas.


Pukul 11 malam kami sudah sampai di apartemen. aku dan Bagas melepaskan sepatu kami dan menaruhnya di tempat yang sudah tersedia.


Bagas langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian aku merapikan tas punyaku dan Bagas. Aku menyiapkan minuman hangat untuk Bagas, agar setelah selesai dia mandi, Bagas minum air hangat tersebut.


Drt... Drtt..


Bunyi panggilan masuk dari telepon genggam Bagas. Bagas segera menerima panggilan tersebut.


"Sayang, teleponnya berbunyi," ucapku memberitahu.


"Nanti aku akan menerimamya setelah selesai mandi," ujar Bagas dari kamar mandi.


"Oke." kataku lagi.


Sejak tadi telepon genggam bagus tidak berhenti berbunyi. Sepertinya ada sesuatu terjadi. Pasti ada hal yang penting yang akan diberitahu untuk Bagas. Akupun dengan tidak sabar menerima telepon tersebut. aku melihat kalau yang menelepon adalah Mbak Meli.


"Halo," sapa Mbak Meli dari seberang.


" Hai, Mbak Meli! Ada apa menelpon malam-malam seperti ini? " tanyaku.


" Bisakah aku berbicara dengan Bagas? ada hal yang penting yang harus aku bicarakan sekarang juga padanya, " ucap Mbak Meli dengan panik.


" Bagas baru saja mandi Mbak Meli. Apa yang terjadi? aku akan menyampaikan kepada Bagas. "


Bagas keluar dari kamar mandinya. lalu dia bertanya kepadaku, " Siapa yang menelpon? "


"Mbak Meli," jawabku.


Bagas kemudian meraih telepon genggamnya dari aku. Lalu dia menyapa Mbak Meli, "Ada apa?"


" Aku harap kamu tidak kaget dengan apa yang aku beritakan malam ini. kantor kita di Malaysia telah terbakar! " ucap Mbak Meli membuat Bagas terkejut.


"APA?" tanya Bagas tidak percaya apa yang dia dengar.


Kantor Pratama di Malaysia terbakar! Mbak Meli dan Bagas memandang satu sama lain.


*****


Hai, kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca karyaku. Semoga kamu masih meneruskan membaca ya.