
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Episode sebelumnya:
Dea tidak merespon kata - kata orang tuanya. Tiba- tiba Dea jadi mengingat beberapa tahun yang lalu. Saat Bagas dan Dea masih mesra layaknya sepasang kekasih. Masa- masa SMA yang sangat membahagiakan Dea. Saat itu Bagas dan Dea menjadi sepasang kekasih. Saat itu Bagas menyatakan kisah cintanya pada Dea. Bagas yang selalu ada untuk Dea. Bagas yang selalu menolong Dea dalam setiap kesulitannya. Bagas yang akan selalu membela Dea dan memanjakan Dea. Dea sangat merindukan Bagas yang seperti itu.
Dea mengambil sebuah boneka yang pernah diberikan oleh Bagas waktu ulang tahunnya.
"Tuhan, apakah aku tidak bisa kembali lagi pada Bagas? Apa aku tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan aku pada Bagas?" doa Dea.
Episode selanjutnya
Flash Back kisah Dea dan Bagas.
Saat mereka SMA.
"Dea, Dea sini!" panggil Bagas pada Dea. Bagas membawa sebuah gitar.
Kalau itu mereka sedang duduk di taman. Mereka sedang mencari kupu - kupu untuk tugas pelajaran IPA hari ini.
"Apa sih Bagas? Kitakan sedang mencari kupu - kupu untuk diobservasi," kesal Dea pada Bagas, "Terus untuk apa gitar itu?"
"Aku mau nyanyikan lagu untukmu. Aku sedang malas mengerjakan tugas. Apa kamu mau dengar?" tanya Bagas padanya.
Dea duduk di sebelah Bagas, lalu berkata padanya,"Kamu mau nyanyi apa? Sok romantis deh."
"Aku tanya apa kamu mau dengar aku nyanyi untukmu?" tanya Bagas sekali lagi.
Dea mengangguk lalu berkata pada Bagas," Iya, Bagas. Aku mau dengar kamu bernyanyi."
Bagas memetik gitarnya kemudian dia bernyanyi. Lagu dari salah satu artis terkenal yang disukai oleh Dea.
Mendengar nyanyian itu, Dea tersipu malu. Apakah Bagas menyanyikan lagu itu untuknya? tanya Dea dalam hati.
"Ini belum malam, Bagas masih siang. Lagi pula aku tidak melihat ada bunga mawar di sini," canda Dea pada Bagas.
"Sebentar," kata Bagas. Bagas beranjak dari tempat duduknya.
"Bagas! Bagas! Kamu mau ke mana? Tugas kita belum selesai tahu!" Dea mengingatkan Bagas. Walau Bagas pergi tapi hati Dea berbunga - bunga di nyanyikan lagu seperti itu oleh Bagas. Dea tidak menyangkal bahwa Dea jatuh cinta pada Bagas. Dea dan Bagas sudah berteman sejak kecil. Rumah mereka berdekatan satu sama lain.
Beberapa menit kemudian Bagas datang dengan membawa sebuah bunga mawar merah. Bagas berlutut di hadapan Dea.
"Bagas? Kamu mau apa? Terus kamu ambil dari mana bunga mawar itu?" tanya Dea bingung.
Bagas tidak menjawab pertanyaan Dea, dia memegang tangan wanita itu.
"Bagas kamu mau apa sih?" tanya Dea lagi dengan perasaan bingung.
""Kepadamu dengan penuh kebencian, Alexandrea.
Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak. Aku benci jantungku berdetak menunggu kehadiran dirimu di sekolah. Saat kamu muncul, aku akan bersembunyi kemudian berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.
Aku benci terkejut ketika kita bertemu, dan kamu menyapaku. Aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat.
Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu.
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain? atau apakah aku salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.
Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di digycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan? Disaat itu aku tidak bisa bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan,“Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya ikatan emosional.”
Kemudian aku harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”
Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.
Akupun sangat benci untuk mengakui bahwa aku telah mencintai kamu. Aku sangat mencintaimu.
Dari aku yang begitu lemah karena rasa cinta ini, Bagas Pratama."
(Di episode sebelumnya surat ini telah dibaca oleh Evo)
"Alexandrea, apakah kamu mau menjadi kekasihku?" tanya Bagas.
Tes, tes, tes.
Air mata Dea menetes di pipi. Dea terharu dengan Bagas yang sangat romantis.
"Apa - apaan sih kamu ini?" kata Dea bingung tidak bisa berkata apa - apa lagi.
"Jadi apa jawabannya Dea? Kakiku pegel nih menunggu jawaban kamu!" kesal Bagas. Dea mengangkat Bagas untuk berdiri.
"Aku mau, Bagas. Aku mau jadi pacar Bagas!" ucap Dea lalu memeluk Bagas dengan erat.
Bagas menghela napas panjang. Dia bersyukur Dea menerima cintanya. Bagas sudah berjuang selama seminggu membuat sebuah surat untuk Dea buat menyatakan perasaannya. Setelah berpikir panjang akan lebih romantis kalau dirinya membaca surat tersebut. Usaha Bagas berhasil.
"Terima kasih Dea kamu telah menerima aku menjadi kekasih kamu!" ucap Bagas lalu mencium dahi Dea.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah mencintai aku dengan tulus," kata Dea. Dia merasakan hembusan napas Bagas di rambutnya.
"Aku mencintaimu," ucap Bagas lagi.
"Aku juga mencintaimu, tapi Bu Reni tidak mencintai kita Bagas. Dia akan memarahi kita kalau kita tidak mengerjakan tugas yang diberikan olehnya," ucap Dea mengingatkan.
"Ya ampun Dea kamu merusak keromantisan yang kita sudah aku buat!" ucap Bagas melepaskan pelukannya dari Dea.
Dea tertawa, "Hahaha, ayolah kita kerjakan. Aku tidak mau hari bahagia ini tercoreng karena di beri hukuman oleh Bu Reni."
Bagas merajuk tidak mau mengerjakan.
"Kalau kita selesaikan ini, aku janji nanti pulang sekolah kita nonton bareng merayakan hari jadi kita. Bagaimana ideku?" bujuk Dea.
Bagas menghela napas panjang lagi untuk kedua kalinya, "Baiklah, aku setuju denganmu. Ayo kita cari kupu - kupu itu."
Bagas dan Dea pun mencari tugas tersebut. Diam - diam doa berdoa semoga kisah cintanya abadi selamanya dengan Bagas.
Kembali ke dunia nyata.
Tes, tes, tes.
Air mata Dea jatuh di pipinya.Dea menghapus air mata dari pipinya. Begitu indah hari - hari Dea sewaktu SMA karena Bagas selalu ada di sampingnya.
"Nak, ayo makan," ajak Pak Hermawan.
"Berikan waktu Dea untuk sendiri, Pa," pinta Dea dengan lembut.
"Papa dan Mama akan berikan tapi tolong isi perut kamu agar kamu tidak sakit. Papa dan Mama sayang sama Dea. Jadi jangan siksa Papa dan Mama seperti ini ya, sayang. Kami tidak kuat," bujuk Pak Hermawan.
Dea tidak merespon omongan Pak Hermawan. Pak Hermawan pun mengajak Bu Heni ke ruang makan.
Di ruang makan.
Pak Hemawan dan Bu Heni duduk di kursi. Mereka bersiap - siap untuk makan siang. Para pelayan sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
Sebenarnya Pak Hermawan mau saja menuruti keinginan anak gadisnya. Memaksa Bagas untuk menikahinya. Keluarga Pratama banyak berutang budi terhadap dirinya, tetapi itu bukan jalan yang benar. Pak Hermawan tidak mau memaksa hal tersebut. Pak Hermawan tidak mau Dea anak gadisnya menyesal di tengah jalan begitu juga dirinya.
"Papa, apa kita telah salah mengasuh anak kita ya?" tanya Bu Heni pada suaminya.
Pak Hermawan mengelus punggung istrinya, "Tidak sayang. Kita tidak salah mengurus anak. Ini fase di mana Dea menemukan jati dirinya. Kita harus bersabar dengan keadaan ini."
"Mama takut Dea melakukan hal yang nekat," cemas Bu Heni.
"Apa maksud Mama?" tanya Pak Hermawan pada Bu Heni.
"Iya, Papa. Mama takut kalau Dea akan mencoba untuk bunuh diri," ujar Bu Heni.
"Semoga itu tidak terjadi. Papa yakin Dea akan kuat menghadapi fase ini," kata Pak Hermawan menenangkan istrinya.
Para pelayan pun datang menyajikan makanan.
"Ayo kita makan," ajak Pak Hermawan.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤