MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bintang Jatuh



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


"Keren banget Villanya, Bagas!" ucapku pada Bagas.


Bagas mengajakku ke suatu villa. Villanya sangat indah karena disinari banyak lampu. Bulan tampak indah dimalam ini.


"Apa kamu punya uang untuk menyewa villa sebagus ini?" tanya aku tidak percaya.


"Ini villa punya Charlotte. Aku pinjam kuncinya tadi sore. Villaku sudah disabotasi sama Mama." jelas Bagas. Bagas dan Charlotte dibelikan masing - masing satu villa untuk mereka.


"Selamat datang tuan muda," sapa pelayan yang ada di villa.


"Sudah disiapkan apa yang saya suruh, Mbak?" tanya Bagas.


"Sudah, tuan. Sudah ada di taman," ucap pelayan tersebut.


"Apa yang mau kita lakukan?" tanyaku penasaran.


"Nanti juga kamu tahu. Mandilah dan ganti pakaianmu. Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan pakaian untuk kamu."


"Oke," sahutku.


Bagas duluan ke taman. Dia merapikan segala yang dia rencanakan sejak pagi tadi. Hari ini tidak ada yang dapat menganggu dia bersama Evolet.


Aku menuju ke kamar yang telah disediakan oleh pelayan villa. Aku mandi karena cukup lelah pergi dari pagi hingga malam ini tiba ke villa. Setelah setengah jam aku selesai mandi. Akupun menuju ke taman menghampiri Bagas.


"Apa yang kamu lakukan?"  tanya aku ketika aku tiba di taman. Aku melihat ada sebuah tenda, tempat memanggang, daging, meja, dan kursi. Bagas yang melihat kehadiranku langsung tersenyum. Bagas sedang memasak makan malam untuk kami.


"Kenapa tiba - tiba ingin ke villa?" tanya aku lagi. Sejak tadi pertanyaanku tidak dijawab oleh Bagas. Dia asyik sekali memasak.


"Bagaas! Jawab pertanyaanku," pintaku padanya. Bagas tertawa. Dia mengangkat makanan yang baru selesai dia panggang. Bagas menaruhnya di meja.


"Ayo kita makan. Sudah lama kita tidak menikmati pemandangan seindah ini," ajak Bagas. Aku menuju ke meja dan duduk di depan Bagas. Bagas memberikan beberapa potong daging kepadaku.


"Kamu benar Bagas. Sudah banyak ya kejadian yang kita lalui selama ini," kataku lalu. Aku makan daging yang telah dipotong Bagas tadi. Bagas tertawa melihat aku makan.


"Kenapa?" tanya aku bingung.


"Kamu itu tidak pernah berubah ya. Makan selalu tidak pernah rapi." Bagas mengambil tissue kemudian membersihkan sisa makanan yang ada dibibirku.


"Terima kasih sayang," ucapku.


"Malam ini bintang memancarkan sinarnya. Indah sekali ya, Vo," ujar Bagas memandang ke atas langit. Aku pun melihat ke atas langit juga.


"Benar, Bagas. Indah banget. Eh, eh, Bagas lihat!" kataku mengerjutkan Bagas.


"Apa? Kenapa?"


"Ada bintang jatuh," kataku memberitahu kepada Bagas.


"Lalu kenapa kalau ada bintang jatuh?" tanya Bagas bingung.


"Menurut film India yang aku tonton, kalau ada bintang jatuh, terus kita minta permohonan maka permohonan kita akan dikabulkan," jelasku.


"Apa kamu percaya?" tanya Bagas yang mustahil itu terjadi, "Film india lagi. Hahaha, kamu benar - benar polos."


"Ayo kita coba! Nanti kalau ada bintang jatuh, kita tutup mata dan mohon permintaan ya. Bagaimana?" usul aku pada Bagas.


"Aku tidak percaya! Kamu saja yang memohon."


"Ayolah Bagas kita coba ya. Kita harus coba ya?" pinta aku memaksa pada Bagas.


"Oke. Kita lihat aja, kalau ada bintang jatuh lagi. Mari kita minta permohonan." seru Bagas.


Bagas dan akupun melihat ke atas langit. Memantau dan menunggu bintang jatuh. Lima menit kami menunggu tapi bintang jatuh tidak kunjung ada.


"Leher aku capek menengok ke atas mulu, Vo. Sudahlah, mungkin memang kita tiada kesempatan untuk meminta permohonan. Jangan percaya juga," nasehat Bagas.


Bibirku manyun karena bintang jatuh itu tak kunjung datang. Bagas senyum lagi melihat tingkahku.


"Apa memang yang ingin kamu minta memang?" tanya Bagas.


"Aku ... Bagas ada bintang jatuh! Ayo tutup mata" ujarku. Lalu aku berlari ke samping Bagas. Aku menatik tangan Bagas, kemudian menutup mata kami berdua dengan tangan kami. Kami meminta satu permohonan.


Semoga cinta aku dan Bagas hingga maut memisahkan kita.


*****


Rumah keluarga Hermawan, di kamar Alexandrea.


"Apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan? Tidak penting sama sekali," ketus Indra.


"Ada apa dengan kamu? Kenapa begitu ketus denganku?" tanya Dea heran.


"Kamu menganggu tidurku. Sudah ya, aku mengantuk!" kata Indra kemudian menutup teleponnya.


"IHH! Indra sangat menyebalkan! Untung aku lagi senang hari ini. Rencana demi rencana sudah berhasil.Semoga Bagas dan Evo segera berpisah dan aku akan menikah dengan Bagas. Semua happy ending!" kata Dea penuh senang.


*****


Rumah keluarga Pratama.


"Terima kasih sayang telah mengantarkan aku pulang ke rumah. Apa kamu mau mampir?" tanya Charlotte.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika Charlotte tiba di rumahnya. Evan mengantar Charlotte pulang ke rumahnya setelah mereka makan malam.


"Sudah malam sayang. Besok pagi saja aku mampir untuk menemui Papa dan Mamamu. Aku pulang dulu ya," pamit Evan lalu mencium dahi Charlotte.


"Hati - hati sayang," ucapku.


Setelah Evan pergi, Charlotte masuk ke dalam rumah. Bu Lina masih bangun dan menunggu di ruang tamu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Bu Lina pada Charlotte.


"Habis jalan sama Evan," jawab Charlotte singkat.


"Sebaiknya kalian segera menikah. Mama senang dengan Evan. Dia salah satu pengusaha sukses di Jakarta. Mama dan Papa sangat setuju," ucap Bu Lina lembut pada anak gadisnya.


"Boleh, Ma, tapi aku mau kalau Mas Bagas yang duluan menikah," pintaku.


"Tentu saja, Char. Sebentar lagi dia akan menikah. Mama sudah merestui hubungan mereka."


"Apa mama serius? Mama sudah setuju dengan pernikahan Mas Bagas dengan Mbak Evo?" tanya Charlotte senang sekali.


"Kata siapa dengan Evo? Mama menyetujui pernikahan Bagas dengan Dea. Kita akan menguasai dunia ini!" ucap Bu Lina penuh percaya diri.


Kenapa Mama begitu percaya diri? Apa lagi rencana Mama? Apapun rencana Mama, aku pasti akan membantu Mas Bagas dan Mbak Evo.


*****


Villa


"Apa yang kamu minta?" tanya Bagas setelah kami selesai meminta permohonan kami masing - masing.


"Kalau aku beritahu, aku takut permohonan itu tidak akan terkabul," ujar aku.


"Aku mau kita segera menikah, Vo," pinta Bagas. Aku menengok ke arah Bagas. Menatap Bagas dengan penuh pertanyaan.


"Aku tidak mau ini berlarut - larut. Aku sangat mencintaimu. Selepas aku pergi ke Inggris, kita segera menikah."


"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" tanya aku tidak percaya.


"Om Hermawan memintaku minggu depan untuk pergi dinas. Selama dua minggu ke Inggris. Setelah dari sana, kita akan ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kita. Resepsi bisa menyusul nanti."


"Dinas?"


"Jangan khawatir, aku pasti akan kembali. Percayalah padaku." kata Bagas meyakinkan aku. Bagas berdiri lalu mengangkat tubuhku, "Hari ini aku ingin bersenang - senang dengan kamu di tenda. Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan Bagas junior dari dirimu."


"Eh, Bagas? Apa kamu bilang?" tanya Evo.


"Aku sangat lapar sekali, Vo. Aku ingin santapan terakhirku malam ini."


Bagas membawa tubuhku ke tenda yang sudah disiapkan olehnya. Dia meletakkan tubuhku di tenda.


"Santapan terakhir aku adalah Evolet Rebecca."


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.


****


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤