MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bagas yang Lembut



Aku meninggalkan ruangan Bagas setelah mampu menenangkan diri.


Aku hancur, aku benar-benar hancur. Kenapa hidupku begitu tidak baik? Kenapa semuanya harus ku jalani seperti ini. Aku menggigit bibirku menahan tangis. Aku lari menuju ke toilet. Aku masuk salah satu bilik toilet tersebu. Aku menangis sejadi-jadinya. Bagas menyiksaku. Bagas menghancurkanku. Dia bukan manusia. Dia mengerikan.


Kenapa Tuhan? Kenapa aku harus bertemu lelaki penuh nafsu seperti dia?


Kenapa harus dia?


.


.


.


.


.


Di ruanganku.


" Sudah 2 jam . Mengapa Evo belum balik ya?" tanya Mbak Meli pada Maureen. Maureen mengangkat bahu.


"Ren, coba kamu hubungi dia."


Maureen mengangguk, kemudian mencoba menghubungiku.


"Ngga diangkat, Mbak."


"Mungkin masih di ruangan Pak Bagas kali ya."


.


.


.


Setelah setengah jam, aku keluar. Aku mencuci muka dan berusaha untuk tegar. "You will be okay, Vo."


.


.


.


Ruangan editor.


"Evo?! Akhirnya kamu balik juga. Kamu kenapa? Mukamu kok pucat banget," tanya Maureen.


"Tidak apa-apa, Ren. Aku tidak apa-apa," jawabku dengan sekuat tenaga.


Drtt.


Ada pesan masuk kembali.


Rafael : Bisakah hari ini kita dinner?


Aku hanya membaca. Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


.


.


.


Malamnya di apartemen Bagas.


Aku terdiam, merenung. Tadi aku minta izin pulang lebih cepat ke Mbak Meli. Aku bersiap untuk mengepak barangku ke apartemen Bagas. Apartemen ini begitu besar, dan sepi.


Cekrek.


Pintu Apartemen di buka. Bagas datang.


Bagas memandangku dingin. Dia merapikan diri. Meletakkan sepatu, menaruh jas, melemparkan kemeja. dan mengambil handuk.


"Jangan diam saja rapikan apartemen ini."


Aku menuruti perintahnya. Aku membereskan apartemen, Bagas mandi. Selesai beberes, aku kembali terdiam.


30 menit kemudian makanan sudah tersaji. Bagas makan, aku hanya diam.


"Makanlah," perintahnya.


"Aku masih kenyang, Pak Bagas," jawabku singkat.


"Bagas. Bukan Pak Bagas! Mengerti?" kata Bagas. Aku mengangguk.


Jam menunjukkan pukul 23.00.


"Ayo, kita tidur. Kamu masih mau di sana sampai kapan?" tanya Bagas.


"Aku tidur di sini aja," jawabku. Walau apartemen ini luas, kamar di apartemen ini hanya satu.


"Jangan membuatku marah, Evolet," Tatap Bagas dingin. Dheg, tatapan itu lagi. Akhirnya dengan berat hati, aku mengikuti maunya.


Kamar Bagas hanya ada satu tempat tidur. Ada sofa juga, tapi pasti Bagas ngga akan mau di sofa. Aku mengambil selimut untuk siap-siap tidur di bawah.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bagas heran.


"Aku."


"Aku saja yang tidur di sofa. Kamu tidurlah di ranjang."


"Eh!"


Bagas segera mengambil selimut, dan menuju ke sofa. Lalu dia tidur di sana. Tadi siang begitu kejam. Kenapa sekarang begitu baik?


.


.


.


.


.


Keesokan Paginya.


Pukul 05.00


Aku bangun seperti biasa. Aku menatap Bagas, masih tidur. Hendak aku bangun, aku oleng.


PRANG!


Bunyi kaca pecah. Bagas terbangun. Dia menghampiriku, lalu berkata, "Evolet."


Bagas dengan sigap dia mengangkatku.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Maaf. Kepalaku pusing sekali."


Bagas menaruhku kembali ke tempat tidur. Kemudian dia memeriksaku dengan alat pengukur panas.


"Kamu demam," katanya ketika melihat suhu badanku 39.7 derajat.


"Aku tidak apa-apa. Biarkan aku masak ya," Aku bersikeras.


"Sakitpun kamu tetap keras kepala ya?" Bagas jengkel melihat tingkahku.


"Hari ini, kamu harus istirahat, tidak boleh kerja. Aku akan panggilkan dokter pribadiku sekarang."


Aku mengangguk setuju. Benar kata Bagas, aku harus istirahat. Kepalaku sakit sekali. Kalo aku memaksakan untuk kerja, bisa jadi aku pingsan nanti.


Bagas menelpon dokter tersebut. Kemudian menelepon sekretarisnya, dan Meli. "Beres."


Lalu dia menatapku kembali. Dia memegang tanganku. "Mau makan apa?"


Aku menggeleng. "Aku mengantuk."


Bagas mendekapku dalam pelukannya, "Tidurlah, Vo.Hari ini aku akan menjagamu."


Pelukan Bagas begitu hangat. Kenapa dia begitu berbeda? Apa Bagas mempunyai kepribadian ganda? Evo menikmati hangat tubuh Bagas.