
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Perusahaan Pratama
"Keputusan rapat ditunda sama dua jam mendatang. Terima kasih." ucap Pak Freddy pada semua yang ikut rapat. Setelah perintah dari Pak Freddy, semua orang bubar dari ruang aula.
Maureen menghampiri Mbak Meli dan Bagas.
"Mbak Meli!" sapa Maureen riang lalu memeluk Mbak Meli.
"Hai, Ren," sapa Mbak Meli balik.
"Kenapa kamu bisa di sini? Lalu aku benar - benar terkejut kamu adalah pemegang saham terbesar kedua di Perusahaan Pratama," kata Maureen penasaran.
"Hahahahaa, ceritanya panjang Maureen," jawab Mbak Meli santai.
"Mbak Meli!" sapa Dina juga. Walau Dina tidak seakrab Maureen tapi dia masih mengenal Mbak Meli.
"Hai, Din. Wah, kamu sedang hamil. Sudah berapa bulan?" tanya Mbak Meli melihat perubahan tubuh Dina yang semakin berkembang.
"Jalan tiga bulan, Mbak." jelas Dina.
"Aduh, aku sangat senang mendengarnya. Semoga bayi dan Mamanya sehat selalu ya," doa Mbak Heni.
"Amin," ucap Dina
"Sudah, sudah. Dari pada kita mengobrol di sini, kita pindah tempat, yuk. Aku sudah lapar," ajak Maureen. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Aku setuju," ucap Bagas.
"Benar kata Maureen sejak pagi tadi aku belum makan," jelas Mbak Meli.
"Mbak berangkat dari Malaysia jam berapa?" tanya Dina.
"Penerbangan jam 7. Aku malas sarapan di pesawat. Makanan di pesawat tidak membuat aku selera makan," jelas Mbak Meli lagi.
"Nah, kalau begitu kita makan dulu!" ajak Maureen lagi.
"Setuju!" ucap mereka dan pergi meninggalkan gedung aula.
*****
Apartemen Bagas.
"Bagas apa kabar ya? Katanya dia cuma sebentar saja di kantor," kataku. Beberapa barang lagi akan selesai aku kepakkan. Aku segera mengepak barang yang terakhir.
Setelah selesai, aku mengambil telepon genggamku kemudian mencari nama Bagas di kontak telepon tersebut. Lalu aku meneleponnya.
"Halo, sayang," sapa Bagas dari seberang.
"Kamu ada di mana?" tanyaku cemas.
"Aku masih ada di kantor," jawab Bagas.
"Kenapa kamu belum pulang?" tanyaku lagi.
"Rapat belum selesai. Apa kamu sudah makan siang?" tanya Bagas.
Bagas, Mbak Meli, Maureen, dan Dina tiba di sebuah kafe yang dekat dengan Perusahaan Pratama. Mereka memesan makanan untuk makan siang.
"Saya pesan cappuchino dan pisang goreng," pesan Mbak Meli.
Aku seperti mendengar suara yang aku kenal, "Belum, aku belum makan. Aku baru saja menyelesaikan kepakan barang kita yang terakhir."
"Wah, kamu pasti lelah ya? Jangan lupa makan ya. Setelah selesai rapat, aku akan segera pulang," jelas Bagas.
"Iya, Gas. Aku akan makan. Tadi sepertinya aku mendengar suara Mbak Meli. Apakah Mbak Meli ada di sana?" ujar aku pada Bagas.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau ada Meli di sini?" tanya Bagas tidak percaya.
"Aku mengenali suaranya. Berarti benar ya dia ada bersamamu?" tanyaku lagi.
"Ya, Meli sedang bersama aku. Di sini juga ada Maureen dan Dina. Kami sedang makan siang," jelas Bagas lagi.
"Siapa?" tanya Mbak Meli.
"Evo," jawab Bagas.
"Aku mau bicara," ucap Mbak Meli. Bagaspun memberikan telepon genggamnya pada Mbak Meli.
"Hai, Vo," sapa Mbak Meli padaku.
"Mbak Meli! Kenapa kamu bisa di sini? Bukankah kamu sedang di Malaysia?" tanya aku tidak percaya.
Mbak Meli tertawa, kemudian berkata padaku, "Hahaha. Apa kamu tidak tahu kalau perusahaan tempat aku kerja sudah terbakar? Jadi buat apa aku di sana berlama - lama?"
"Hahaha, Mbak Meli benar sekali. Jadi kenapa kalian bisa berkumul di kantor? Kalau tahu Mbak Meli datang aku pasti akan ikut ke kantor bersama Bagas," kataku menyampaikan isi hatiku.
Mbak Meli tertawa lagi, dia pun menjelaskan pada diriku, "Aku ingin minta pertanggung jawaban dari Bagas. aku tidak mau jadi pengangguran."
"Hahaa, Mbak Meli bisa saja," kataku mendengar lelucon Mbak Meli.
"Halo, sayang," sapa Bagas lagi.
"Bagas, setelah aku makan siang, aku akan menyicil mengirimkan barang kita ke rumah kontrakan," jelas aku pada Bagas.
"Apa kamu tidak ingin menungguku?" tanya Bagas.
"Kalau aku menunggu kamu, aku takut kita akan kemalaman. Jadi aku menyicil saja ya," pintaku pada Bagas.
"Baiklah, tapi jangan lupa pesanku untuk kamu makan siang," Bagas mengingatkan lagi.
"Oke sayang. Apa yang di bahas dalam rapat tadi?" tanyaku pada Bagas.
Bagas meneguk air terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaanku. Setelah selesai minum barulah Bagas berkata, "Tadi ada pemilihan suara. Ada dua opsi yang di pilih yaitu aku di pecat atau aku tetap menjadi pemimpin."
"Apa sudah ada hasil?"tanyaku lagi.
"Belum. Dua jam lagi akan di adakan rapat. Aku akan kabari kamu lagi," jelas Bagas.
"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu. Sampai ketemu" ujarku.
"Ya, sampai ketemu lagi." pamit Bagas juga.
Setelah menutup telepon dari Bagas, aku mandi. Lima belas menit kemudian aku telah selesai mandi. Aku berjalan menuju ke luar untuk mencari makan siang.
Tibalah aku di sebuah tempat makan yang letaknya tidak jauh dari apartemen. Tempat makan ini sering aku kunjung bersama Bagas. Selain makanannya enak, harganya murah dan tempatnya lselalu diputarkan lagu. Aku memesan makanan dan minuman yang biasa aku pesan bersama Bagas.
"Boleh aku bergabung di sini?" tanya seseorang.
"Indra?" tanyaku tidak percaya. "Kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu mengikuti aku ya?"
Indra duduk di depanku. Dia tertawa kecil meliha aku terkejut. Indra pun menjelaskan padaku, "Aku baru selesai bertemu dengan rekan kerjaku di tempat ini. Kemudian aku melihat kamu. Lalu aku datang ke sini untuk menyapa kamu."
"Apa benar seperti itu?" tanya aku tidak percaya.
"Aku serius. Aku berani sumpah padamu," ucap Indra meyakinkan aku.
"Hahahaa, aku hanya bercanda, Indra," kataku sambil tertawa.
"Evo, kamu ya! Aku sudah bingung mau bicara apa lagi sama kamu kalau kamu tidak percaya," lega Indra. Padahal Indra memang mengikuti dirinya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya aku padanya.
"Belum. Tadi aku hanya berbincang dengan rekan kerjaku. Aku akan ikut makan bersama dirimu," ucap Indra lagi. Setelah berkata seperti itu Indra memanggil pelayan dan memesan makanan serta minuman untuk dia.
"Bagaimana kabar Bagas?" tanya Indra membuka topik pembicaraan. Indra sudah mendengar berbagai masalah yang di hadapi Bagas.
"Bagas sedang rapat dengan pemegang saham. Hasil rapat belum selesai juga, dia masih menunggu keputusan." kataku.
"Menunggu keputusan apa?" tanya Indra.
"Bagas bilang kalau dia di suruh untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Beberapa orang menolak. Tadi pagi hingga siang ini rapat belum kunjung selesai. Belum ada keputusan yang sah," ceritaku pada Indra.
"Aku mengerti," ucap Indra.
"Permisi, pesanan sudah datang," ucap pelayan.
"Wah, akhirnya makanan kita sudah datang," kataku girang. Hari ini aku memutuskan makan di luar karena malas mengeluarkan perabotan lagi. Tidak efesien juga harus membuka, lalu memasukkan lagi. Lebih baik makan di luar karena praktis.
Makanan yang aku dan Indra pesan sudah tiba. Aku dan Indrapun segera mengeksekusi makanan tersebut.
"Ya, ampun makanan ini enak sekali," ujarku girang.
"Kamu begitu girang sekali. Lihat ada makanan yang menempel di bibir kamu," ucap Indra memberitahu padaku.
"Apa kamu serius? Di mana? Apakah di sini?" tanyaku panik.
Aku menunjukkan bibir di sebelah kiri, padahal makanan aku yang menempel ada di sebelah kanan. Indra yang gemas dengan tingkah lakuku langsung membersihkan makanan tersebut dengan menggunakan tangannya.
"Di sini," kata dia memberi tahu.
"Te..., terima kasih Indra," ucapku sedikit gugup.
"Sama - sama," ucap Indra sambil tersenyum. Evo, kamu memang wanita yang cantik dan baik. Aku benar - benar mencintai kamu. Semoga kamu juga mencintai aku.
Terdengar alunan lagu yang diputarkan di tempat tersebut. Lagu tersebut dari The Virgin judulnya Cinta Terlarang.
Indra merasa lagu tersebut pas seperti keadaan dia sekarang. Indra sangat mencintai Evolet. Indra ingin sekali Evolet menjadi kekasihnya. Indra ingin sekali Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk memiliki Evolet. Indra memandang Evolet penuh cinta.
"Semoga suatu hari nanti kamu menjadi milikku, Evolet." gumam Indra.
"Kamu ngomong apa, Dra?" tanya aku yang tidak mendengar ucapan Indra.
"Aku bilang makanan di sini enak banget, Vo. Apa kamu sering ke sini?" Indra mengalihkan pembicaraan.
"Iya, aku dan Bagas sering ke sini. Maureen juga pernah ke sini. Ini tempat kesukaan kami," kataku lagi sembil makan.
"Ya, aku juga suka...." kata Indra. Aku suka dengan Evolet Rebecca ucap Indra dalam hatinya.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤