MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Pesta Wisuda Charlotte



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya yak karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca dan tetap jaga kesehatan ya.


*****


  Drt, drt.


 


 


Telepon genggam Bastian berbunyi. Dia mengangkat telepon tersebut.


 


 


“Halo. Katakan. Apa yang kamu dapatkan?” ucap Bastian saat menerima telepon. Dia mendengar dengan seksama setiap ucapan dari seseorang di sebrang telepon tersebut.


 


 


  “Bagus. Sebentar lagi semuanya akan terungkap. Selesaikan segera, maka bayaran kamu akan saya berikan secepatnya.”


 


 


  Bastian menutup teleponnya. Dugaan Bastian tepat, segala permasalahan yang dihadapi oleh Evo ada dalangnya. Ternyata dalang tersebut adalah orang yang ada dalam kehidupan Bagas. Orang – orang tersebut adalah orang tua Bagas dan Dea.


 


 


*****


Malam hari di rumah kediaman Bastian.


 


 


  Jam menunjukkan pukul 10 malam. Evo dan Bastian tiba di rumah setelah berkunjung ke rumah Dina. Mereka masuk ke dalam rumah tersebut.


 


 


“Aku,” kata mereka berbarengan.


 


 


“Silahkan kamu duluan,” kata Evo mempersilahkan.


 


 


“Wanita duluan,” Bastian memberikan izin Evo untuk bicara terlebih dahulu.


 


 


  Evo menarik napas. Evo bingung mulai cerita dari mana. Seakan dia tidak mampu mengungkapkan itu semua.


 


 


  “Bastian, aku mau pindah dari rumah ini,” pinta Evo.


 


 


Bastian tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia mendekati Evo lalu memegang tangannya dengan erat.


 


 


  “Kenapa Vo? Apa aku telah berbuat salah padamu?” tanya Bastian.


 


 


Evo melepaskan tangan Bastian dari tangannya. Bastian tidak pernah salah yang salah adalah dia masih di sini bersama Bagas.


 


 


  “Mulai besok aku akan pindah dari rumahmu, Bas. Aku tidak mau kamu kena masalah lagi karena aku.”


 


 


  “Tidak, tidak. Aku tidak setuju dengan ini,” tolak Bastian.


 


 


  “Tapi, Bas, kalau kita bersama seperti ini terus orang akan beranggapan salah tentang kamu, Bas! Aku tidak mau merusak nama baikmu,” kataku masih mempertahankan pendapat.


 


 


  Bastian terdiam. Kenapa tiba – tiba Evo minta keluar dari rumahnya? Apa yang salah dengan ini?


 


 


  “Tidak ada yang berani menghinaku, Vo. Jangan kamu khawatir tentang hal itu. Aku mohon bersabarlah sedikit, kalau kamu pergi, aku akan sulit untuk menjagamu.”


 


 


  “Menjaga? Menjaga dari apa?” tanya Evo.


 


 


“Menjagamu dari orang yang menyakitimu. Dengarkan aku sekali ini saja,” pinta Bastian lagi.


 


 


Evo mengangguk, ada sebuah kejujuran dari mata Bastian. Selama ini Bastian selalu menolongnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Bastian berkata seperti itu.


 


 


  “Bas, aku mau mengatakan satu hal lagi padamu,” kata Evo. Kali ini dia merasa ragu untuk mengungkapkannya.


 


 


  Bastian seperti tahu apa yang hendak dikatakan oleh Evo. “Vo, untuk pernyataan perasaanku itu, aku mohon lupakan saja. Aku takut kamu merasa tidak nyaman dengan itu semua.”


 


 


  “Tidak, bukan itu, Bas. Aku….”


 


 


  “Aku mengerti, Vo. Aku tahu kamu masih mencintai Bagas. Bolehkah kita menjadi sahabat? Apa aku salah meminta kamu menjadi sahabat? Apa aku salah menjagamu sebelum kamu kembali kepada Bagas?” tanya Bastian.


 


 


Evo menggelengkan kepala. Sebenarnya dugaan Bastian terhadap Evo adalah salah. Bukan itu yang dimaksud Evo. Wanita itu sendiri terluka karena kebodohan yang dilakukannya selama ini. Dia mencintai Bagas, tapi dia juga menyakiti Bastian. Lagi pula Bastian tidak pantas disakiti terus oleh Evo.


 


 


  “Berjanjilah padaku untuk tinggal di sini beberapa hari sebelum semuanya terbongkar. Aku akan berjanji padamu untuk mempersatukan kalian kambali,” janji Bastian.


 


 


Aku mengigit bibir bawahku untuk menahan tangis. Bastian hatimu sungguh mulia.


 


 


*****


Beberapa minggu kemudian.


 


 


  Pesta wisuda Charlotte dilaksanakan hari ini. Charlotte mengundang Evo datang ke pesta wisudanya. Evo menerima pesta undangan tersebut. Dia datang bersama Bastian. Evo menggunakan gaun berwarna silver, dan Bastian menggunakan jas berwarna hitam. Tampaklah kedua orang itu seperti pasangan serasi.


 


 


 


 


  “Sama – sama. Aku bahagia melihat kamu wisuda dan tunangan dengan Evan,” ucap Evo.


 


 


  Benar sekali selain acara wisuda, hari ini adalah pesta tunangan antara Evan dan Charlotte. Beberapa hari yang lalu Charlotte dan Evan datang ke rumah Evo untuk memberikan undangan tersebut. Setelah mendapat izin dari Bastian, tanpa pikir panjang Evo datang ke pesta tersebut.


 


 


“Silahkan mencicipi hidangan yang ada ya, Mbak,” kata Evan mempersilahkan Evo dan Bastian untuk makan.


 


 


  Bu Lina yang melihat kehadiran Evo, menatap sinis ke arah Evo. Wanita tua itu merasa jijik kedatangan tamu miskin seperti Evo.


 


 


  “Ternyata masih punya muka kamu hadir ke sini,” sindir Bu Lina.


 


 


  Evo tidak mengubris sindiran tersebut. Cewek itu sadar, meladeni Bu Lina akan membuang energinya.


 


 


Bastian yang mendengar sindiran tersebut, mengandeng tangan Evo dan mengajaknya pergi menghindari Bu Lina.


 


 


  Sekarang Bastian dan Evo duduk di dekat kolam renang rumah kediaman Bagas. Pesta wisuda dan pertunangan Charlotte diadakan di rumah. Walau di rumah pesta ini cukup mewah. Dekorasinya juga sangat indah.


 


 


  “Apa kamu mau makan?” tanya Bastian.


 


 


  “Bolah,” kata Evo.


 


 


  “Sebentar aku ambilkan makanan untukmu,” ujar Bastian lalu meninggalkan Evo.


 


 


  “Hai,” sapa Bagas.


 


 


  Bagas menghampiri Evo ketika Bastian sudah pergi dari hadapannya. Bagas duduk di samping wanita tersebut.


 


 


  “Apa kabar?” tanya Bagas.


 


 


  “Cukup baik dan bahagia,” kata Evo sedikit dingin. Semenjak pertemuan Dea dengan Evo, pikiran Evo tentang Bagas menjadi jelek.


 


 


  “Kamu sangat cantik dengan gaun itu,” ucap Bagas. Pria itu memegang tangan Evo, lalu mencium tangannya.


 


 


  “Apa – apaan sih kamu?” tanya Evo. Dia segera melepaskan tangan Bagas. Merasa tidak enak dengan pandangan orang, Evo menyingkir dari hadapan Bagas. Sayangnya Bagas menangkap tangan Evo.


 


 


  “Lepaskan aku, Gas! Jangan mempersulit aku!” pinta Evo.


 


 


“Aku mencintai kamu, Vo,” ujar Bagas.


 


 


  Evo mencoba melepas genggaman tangan Bagas. Tenaga Bagas sangat kuat sehingga Evo tidak dapat melepaskannya.


 


 


  “Aku tidak cinta kamu, Bas!” kata Evo.


 


 


“Bohong!” ucap Bagas.


 


 


Bagas menarik tubuh Evo untuk lebih dekat ke dalam pelukannya. Evo merasa tidak enak dengan perlakuan Bagas terhadapnya.


 


 


  “Dengarkan, sayang. Katakan padaku kamu mencintaiku, maka aku akan membatalkan pernikahanku dengan Dea.”


 


 


  Dari sudut sebelah timur, Dea memandang kedua orang tersebut dengan kesal. Bagas dan Evo bermesraan di sana. Dengan cepat Dea menghampiri kedua orang tersebut.


 


 


  “Hai, Vo! Hai, sayang!” sapa Dea dengan senyum palsunya.


 


 


  Evo yang melihat kehadiran Dea, segera melepaskan pegangan tangan Bagas terhadap dirinya. Dia tidak mau ada kesalahpahaman.


 


 


  “Apa aku sedang mengganggu kalian?” tanya Dea dengan kesal.


 


 


 


 


 


 


*****


 


 


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤