
Dari pagi Evan tidak bisa menghubungi Charlotte, ketika dia ke rumah Charlotte, pelayan rumahnya bilang Charlotte sudah pergi sejak kemarin malam ke hotel, tapi ketika Evan sampai di hotel, sosok Charlotte tidak dia temukan.
Evan mencari Bagas, tapi Bagas begitu sibuk karena acara pemberkatan nikahnya segera di mulai. Evan melihat calon mertuanya itu, dia menghampiri dan menyapa wanita paruh baya itu.
“Selamat siang, Tante,” sapa Evan.
“Selamat siang, Nak Evan. Wah kamu begitu tampan,” puji Bu Lina.
“Terima kasih atas pujiannya, Tan. Oh, ya, apakah Tante melihat Charlotte? Dari tadi saya mencari dia tapi tidak ketemu,” kata Evan.
“loh, bukannya Charlotte bersama dengan kamu? Sejak kemarin Charlotte tidak pulang ke rumah. Tante pikir Charlotte bareng kamu,” ucap Bu Lina.
“Tidak, Tan. Charlotte ti….”
“Aduh, maaf ya, Nak Evan, Tante masih ada beberapa hal yang harus diurus,” potong Bu Lina. Perempuan itu pun meninggalkan Evan.
Evan mengerutkan dahinya. Dia merasa janggal dengan ini semua. Kenapa Bu Lina tidak khawatir dengan keadaan Charlotte saat ini? Padahal Evan sudah bilang kalau Charlotte tidak bersama dengan dirinya.
Buru – buru Evan mencari Bagas, dia harus berbicara dengan Bagas walau hanya sebentar. Evan mencari Bagas ke setiap ruangan. Dia menajamkan pandangannya di setiap sudut. Akhirnya Evan menemukan Bagas.
“Mas Bagas,” panggil Evan.
Bagas menengok ke arah orang yang memanggilnya.
“Evan! Akhirnya kamu datang juga! Di mana Charlotte? Bukankah dia bersama denganmu? Aku ada perlu dengannya,” kata Bagas.
Perkataan Bagas membuat Evan kaget. Evan menggeleng kepala untuk menjawab pertanyaan Bagas.
“Apa maksudmu?” tanya Bagas bingung.
“Charlotte tidak bersamaku, Mas. Sejak pagi tadi aku menghubungi ponselnya, tapi ponsel dia mati,” terang Evan.
“Apa?”
Bagas segera mencari kedua orang tuanya. Dia berlarian menuju kamar hotel Papa dan Mamanya. Evan mengikuti Bagas dari belakang.
“Mama, Papa, Charlotte hilang!” ucap Bagas dengan panik.
Pak Freddy dan Bu Lina yang mendengar kabar itu kaget. Mereka berdua saling pandang. Sebenarnya mereka berdua tahu keberadaan Charlotte, tapi saat ini merek sedang berakting.
“Tidak mungkin, Nak. Baru saja Charlotte menelpon Mama, adikmu bilang sebentar lagi akan sampai ke sini. Bagaimana bisa Charlotte menghilang, tapi dia bisa menghubungiku?” ucap Bu Lina.
Pak Freddy menghampiri Bagas, dia memegang bahu anaknya, lalu menepuk dengan pelan. “Kamu jangan khawatir tentang Charlotte. Papa yakin adikmu baik – baik saja. Ayo segera siapkan dirimu. Satu jam lagi acara akan dimulai.”
Bagas mengangguk setuju, dia menengok ke arah Evan, kemudian berkata pada Evan,”Kamu tunggulah Charlotte, dia akan segera tiba sebentar lagi.”
Evan tersenyum untuk menjawab pernyataan Bagas. Bagas mau pun Evan keluar dari kamar Pak Freddy dan Bu Lina.
Entah kenapa hati Evan merasa kalau ucapan Bu Lina tentang Charlotte tidak benar. Dia pun menelepon kembali ponsel Charlotte untuk membuktikan perkataan Bu Lina.
“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan mencoba beberapa saat lagi.”
Evan menutup ponselnya, dugaan dia tepat. Bu Lina sedang berbohong padanya.
“Di mana kamu, Char? Apa yang terjadi padamu?” ucap Evan cemas.
*****
Rumah kediaman Bastian.
Jam dinding menunjukkan pukul 2 siang. Evo keluar dari kamar mandi, dia baru selesai mandi. Hari ini Bastian mengajaknya pergi makan di luar nanti malam. Evo sedang bersiap – siap.
Hari ini Evo ingin berdandan cantik demi Bastian. Evo melangkahkan kakinya ke lemari bajunya. Dia memilih baju yang akan di gunakannya nanti malam.
“Sebaiknya baju apa yang aku gunakan nanti malam ya?” ucap Evo.
Evo mengambil baju terusan berwarna biru tua. Evo mencobanya di depan cermin.
“Aku seperti anak SMA saja. Tidak, tidak! Ini tidak pantas buatku,” ujar Evo.
Perempuan itu pun mengambil kembali bajunya yang lain.
“Ah, aku kelihatan tua memakai baju ini,” keluh Evo.
“Kenapa jadi begitu sulit untuk memakai baju yang pantas buat nanti malam?” gerutu Evo.
Drt, drt.
Telepon genggam Evo berbunyi. Evo setengah berlari menuju ke laci samping tempat tidurnya.
“Evan,” kata Evo membaca nama di layar ponselnya. Dia pun segera menerima panggilan dari Evan.
“Halo, Mbak,” sapa Evan.
“Ya, Van?” ucap Evo.
“Di mana kamu, Mbak? Apa kamu tidak datang ke pesta pernikahan Bagas?” tanya Evan pada Evo.
Evo mengecek tanggal di kalender yang ada di lacinya. Ternyata hari ini pernikahan Bagas.
“Aku, sepertinya aku tidak datang ke sana, Van,” tutur Evo. Ya, dia sudah tidak punya urusan apa pun dengan Bagas. Evo dan Bagas sudah bicara waktu itu.
“Baiklah, aku mengerti akan hal itu.”
“Terima kasih atas pengertianmu. Sebentar lagi aku dan Bastian akan pergi, aku akan menutup telepon darimu,” kata Evo lagi.
“Jangan, Mbak! Jangan! Ada sesuatu yang harus aku katakan lagi padamu,” cegah Evan. Dia belum menyampaikan tujuan aslinya menghubungi Evo.
“Kalau kamu mau membujukku untuk kembali pada Bagas, aku menolak!” tegas Evo.
“Tidak, Mbak! Tidak!”
“Lalu apa yang hendak kau katakan padaku?” tanya Evo.
“Charlotte, Mbak! Charlotte!” kata Evan panik.
“Kenapa dengan Charlotte?”
“Charlotte menghilang, Mbak!” ucap Evan pada akhirnya.
“Apa? Bagaimana mungkin?” Evo bertanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Evan pun menceritakan semua pada Evo.
“Aku mengerti! Aku sangat mengerti! Aku tahu siapa pelaku yang membuat Charlotte menghilang,” kata Evo.
Evo sudah membayangkan pelaku yang menyekap Charlotte. Pelaku itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bu Lina, Mamanya sendiri. Hanya dia yang berani melakukan hal yang nekat dan jahat seperti itu.
“Siapa Mbak?” tanya Evan ngeri.
“Bu Lina, Van! Mama Charlotte,” tuduh Evo.
Evan tidak menduga nama Bu Lina bisa keluar dari mulut Evo, tapi dugaan Evo ada benarnya juga ketika berbagai kejadian yang Evan lihat beberapa waktu yang lalu.
“Apa yang harus aku lakukan, Mbak? Kenapa Tante Lina bisa melakukan hal sejahat itu pada Charlotte?”
Evo mengigit bibirnya, dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia sedang memutar otaknya, motif apa yang membuat Bu Lina melakukan hal itu pada anak perempuannya? Padahal hari ini keluarga mereka sedang berbahagia.
“Mbak?” panggil Evan.
“Ah, iya. Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Apa yang sedang kau pikirkan, Mbak?” desak Evan ingin tahu.
“Aku lagi berpikir, di mana Bu Lina menyembunyikan Charlotte sekarang. Apa kamu sudah ke rumahnya?”
“Sudah, Mbak, tapi pelayan rumah bilang kalau Charlotte sudah di hotel,” jelas Evan.
“Aku paham,” kata Evo. Dia menyambungkan benang merah dari setiap kejadian hari ini. Evo sudah tahu keberadaan Charlotte sekarang.
“Apa yang kau pahami, Mbak?” Evan semakin tidak mengerti arah pembicaraan Evo.
“Charlotte ada di rumahnya sekarang.”