
Cinta? Apakah Bagas mencintai aku? Aku bertanya dalam hati.
"Kamu tidak bisa mengancam saya, Bagas. Pilihan ditanganmu sekarang!"
"Kamu menang, Pa. Aku setuju kemauan, Papa," Bagas menarik tanganku dan keluar.
"Lepas, Pak."
"Tidak, kita harus bicara," Bagas tak bisa terbantah. Dia menarikku keluar dan mengajakku pergi dari kantor.
.
.
.
Apartemen Bagas.
"Masuk," perintah Bagas.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku harus bekerja, Pak."
Bagas memaksaku masuk. Aku ditariknya dengan kasar. Bagas kemudian menutup pintu apartemennya.
Kami berdua terdiam. Bagas masih marah dan kesal dengan tindakan Pak Freddy, papanya.
"Maaf," ucap Bagas akhirnya memecahkan keheningan.
"Untuk apa?"
"Untuk Papa barusan. Aku telah menghancurkan kariermu dan masa depanmu."
Aku terkejut. Aku yang tadinya berdiri, kemudian menghampiri Bagas. Ada apa dengan Bagas? Dia begitu peduli padaku. Aku duduk di kasur, disebela Bagas.
"Papa egois. Aku selalu berusaha untuk menuruti apa yang dia harapkan. Tapi untuk kali ini, aku ngga bisa menuruti beliau," Bagas terus bercerita. Aku mengelus punggunnya.
"Hari itu, sebelum hari ulang tahunku, aku sudah tau rencana Papa. Maaf, aku harus melibatkanmu dalam urusan keluargaku."
Aku terdiam. Bagas tampak begitu sedih.
.
.
.
.
Drrtt.
Telepon genggamku bergetar lama. Tanda telpon masuk.
"Sore, Mbak, mau memberitahu, kalau ibu mbak....."
BRUKKKK!
Telepon genggamku terjatuh. Mataku meneteskan air.
Bagas memandang Evo, "Kamu kenapa, Vo?"
"Mama meninggal, Pak."
"APA? Ayo segera kita berangkat ke rumah sakit!" ajak Bagas.
Di rumah sakit, aku memeluk mama. Aku menangis sedih. Aku menjerit dalam hati. Tuhan? Mengapa ini begitu tidak adil padaku? Mengapa Tuhan membuatku berjuang sendiri di dunia ini? Mengapa mama harus cepat dipanggil Tuhan? Tak henti-hentinya air mataku keluar.
" Mama. Kenapa Mama pergi begitu cepat? Kenapa mama meninggalkanku?"
Aku memeluk jenazah mama. "Sekarang aku sebatang kara, Ma.Tidak ada yang menemaniku. Mama."
Bagas lalu menepuk bahuku. Dia membelai rambutku dengan lembut, lalu berkata padaku, " Sabar, Vo. Kamu harus kuat. Ada aku di sini."
.
.
.
.
.
Tiga hari berlalu. Proses pemakaman mama berjalan dengan lancar. Itu semua berkat bantuan Bagas. Aku yang tidak mau larut dalam kesedihan, sudah kembali kerja.
"Kenapa tidak ambil cuti aja sih, Vo?" tanya mbak Meli nggak percaya dengan kehadiran Evo di kantor.
"Kalau aku sendirian di rumah, aku jadi tambah stress mbak," ungkapku jujur. Akhir-akhir ini Mbak Meli berubah. Semakin baik dengan timnya.
"Ya, sudahlah, yang penting kerjamu tidak berantakan ya."
" Siap, mbak. Makasi," jawabku mantap.
"Bagaimana perkembangan novelmu, Vo?" Tanya Maureen setelah Mbak Meli pergi.
"Sudah tanda tangan kontrak, Ren. Doain laku ya dipasaran," jawabku.
.
.
.
Drrt.
Bunyi pesan masuk. Dari Bagas.
Sudah masuk? Nanti aku antar pulang.
Aku menarik nafas. Aku lagi ingin sendirian. Tiga hari ini memang Bagas begitu perhatian padaku. Dia yang menemaiku selalu. Aku tidak membalas pesannya.
.
.
Siangnya.
Bagas langsung muncul di depan mejaku, lalu dia berkata padaku, "Kenapa pesanku tidak di balas?"
Aku diam tidak menanggapi perkataan Bagas.
" Sudah, makan belum? Ayo makan bareng."
" Aku bawa bekal, Pak."
" Siang, Pak," sapa Maureen yang habis dari toilet.
" Ayo, Ren, aku sudah lapar."
Bagas yang masih disitu kesal karena ditolak olehku.
"Maaf, hari ini Evo makan bareng saya." ucap Bagas memberikan kode agar Maureen menyingkir.
"Oh, baik, Pak Bagas. Vo, aku duluan ya." pamit Maureen langsung pergi.
"Maureen, tunggu."
"Sudah tidak ada penghalangkan. Ayo kita pergi."
.
.
.
Restaurant.
"Aku lapar. Bisakah kamu jangan menggeruti terus."
Bagas memesan makanan.
"Kamu ngga pesan?" tanya Bagas. Aku menggeleng.
"Itu saja, mbak," Bagas mengembalikan menu ke pelayan tersebut. Bagas menyewa seluruh restaurant ini untuk kami berdua. Dasar orang kaya.
"Sekarang kamu tinggal sama siapa, Vo?" Bagas membuka topik setelah kami beberapa menit terdiam.
"Sendiri," ucapku.
"Tinggal di apartemenku ya." ajak Bagas.
"Tidak."
"Kenapa tidak mau? Apa kamu udah punya pacar?" tanya Bagas lagi.
"Bukan urusanmu."
"Nona Evo yang tidak terhormat, apa kamu lupa aku udah membayar kamu?" Aku mengangkat alisku.
"Jangan-jangan sebenarnya perkataan Papa benar. Bahwa kamu cuma mendekati lelaki kaya."
Aku mulai marah. Bagas sudah mulai gila. Aku berkata padanya, "Jangan memulai pertengkaran denganku, Bagas."
Bagas mendekatiku. Tangannya memegang pahaku, lalu berkata, "Tubuhmu ini sudah milikku sejak waktu itu sayang."
"Bagas, stop, ini ditempat umum!" Aku mulai panik.
Tangan Bagas berhenti. Pelayan datang memberikan pesanan Bagas. Syukurlah, pelayan itu menyelamatkanku.
.
.
.
.
Sorenya.
Drrrt.
Bunyi getar, tanda pesan masuk.
Bagas.
Tunggu 30 menit. Aku akan mengantarmu pulang.
Seperti tadi, aku tidak membalasnya. Lebih baik aku cepat pulang. Hari ini aku mau ada janjian dengan Rafael, tim penerbit. Dia mau memberikan novelku yang sudah dibukukan.
.
.
.
Restaurant.
"Terima kasih, Rafael. Kamu memberikan kabar baik padaku," ujarku senang.
" Aku pun senang, Vo. Semoga novelmu laris dipasaran ya," harapan Rafael. Semenjak buku ini, aku makin akrab dengan Rafael. Sikap Rafael beda sekali dengan bos playboy itu.
"Sorry juga aku tidak tahu kalau mama baru pergi," Rafael menyesal.
"Santai, Fael. Aku wanita kuat kok," Aku berusaha tersenyum.
"Kamu semakin cantik ya, Vo," puji dia, mukaku langsung merah. Coba Rafael itu Karel ya, pasti aku langsung jatuh cinta.
"Jangan gombal."
"Udah cantik, jago nulis lagi," tambahnya lagi. Aku tertawa mendengar semua itu.
Kami banyak bercerita hingga tak terasa sudah pukul 10 malam.
"Wah, sudah jam 10," ujar Rafael.
"Ngga terasa ya jam berlalu begitu cepat."
Aku mengangguk setuju. Aku menyalakan HP mau pesan taxi online.
Aku terkejut ada lebih dari 20 kali telpon masuk. Dari Bagas.
"Bawa kendaraan?"
Aku menggeleng, kemudian berkata, "Aku mau pesan taxi."
"Udah ngga usah, aku anterin ya. Hari ini aku bawa kendaraan," Rafael menawarkan diri.
"Apa aku tidak merepotkanmu?" tanyaku.
"Nanti pacarmu cemburu, kalau ada wanita lain yang kamu antar pulang," ledekku. Rafael tertawa.
"Sudah putus, beberapa tahun yang lalu. Jadi tenang aja ya tidak akan ada yang marah sama kamu," Rafael tersenyum manis. Rafael beda 5 tahun denganku. Dia begitu sabar mengajariku tentang cara menulis novel yang baik. Banyak revisi yang harusnya aku kerjakan, tapi dia membantuku.
.
.
.
Di rumah kontrakan.
Rafael membuka pintu mobil."Silahkan turun my little princess."
"Stop, Rafael. Aku geli tahu."
"Ini rumahmu? " tanya dia ngga percaya. Aku mengangguk.
"Daerah ini kayanya kurang aman Vo, sebaiknya kamu pindah," Rafael memberi saran.
"Iya, nanti kalau uangku cukup ya."
"Bagaimana kalau kamu tinggal di apartemenku?" dia menawarkan diri.
"Eh, tidak. Tidak usah. Aku tidak ingin merepotkanmu."
"Ngga kok. Kamu nyewa rumah ini berapa?"
"5 tahun aku sewa, Fa."
"Oper kontrak aja, biaya oper kontrak kasih ke aku, nanti kamu tinggal di apartemenku. Dari pada apartemenku kosong terus jadi sarang hantu, mending kamu pakai. Kamu jadi aman jugakan."
"Nanti aku pikirkan ya, Fa. Tapi, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
"Sama-sama," Rafael masuk ke mobil.
"Udah kamu masuk, biar aku pulang." Aku masuk gerbang. Kemudian Rafael pergi.
Tiba-tiba....
.
" Jadi tidak angkat telpon, tidak balas pesanku, ternyata ada laki-laki lain ya selain aku." Bagas tiba-tiba muncul.
"Bagas!"
Bagas menarik tanganku, lalu menyeretku masuk ke dalam mobilnya. "Bagas, stop. Sakit."
Bagas begitu marah, dia menyuruhku masuk ke mobil, lalu menutup mobil dengan keras dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.