MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Rencana Romantis



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


"Apa Sabtu ini ada acara perusahaan?" tanya Bagas. Bagas dan Dea sudah selesai bertemu dengan Pak Hermawan. Mereka sekarang sudah di ruangan Bagas.


"Sepertinya tidak ada. Ada apa?" tanya Dea.


"Tidak. Aku hanya butuh istirahat saja." dusta Bagas. Pria ini berpikir sudah beberapa hari ini dia pulang larut malam. Ada saja pekerjaan yang diberikan Pak Hermawan dan Dea padanya. Dia ingin melakukan hal romantis dengan Evo.


"Apa kamu begitu lelah bekerja di sini?" Dea bertanya. Kemudian dia memberikan secangkir kopi yang dibuatnya di ruangan Bagas. Ruangan Bagas terdapat dispenser.


"Lumayan. Ini bukan keahlianku," jujur Bagas.


"Jaga staminamu. Minggu depan kita akan ke Inggris," ingat Dea. Sebenarnya Dea yang mengusulkan Bagas pada Papanya untuk pergi ke Inggris. Dea bisa berduaan dengan Bagas sepanjang hari.


Bagas melihat jam tangannya sudah pukul 1 siang. Dia mengambil ponselnya lalu mencari nama Evo, kemudian menekan tombol hijau untuk meneleponnya.


"Halo," sapa Bagas.


"Halo, sayang. Maafkan aku. Aku sedang ada rapat. Nanti aku akan meneleponmu," ucap Evo lalu mematikan teleponnya.


"Wow, untuk pertama kalinya telepon aku ditutup oleh Evo. Sekarang dia sudah sibuk."


"Siapa yang kamu telepon?" tanya Dea yang melihat Bagas tertawa sendiri.


"Evo. Langsung dimatikan olehnya. Dia sangat sibuk aku rasa," terang Bagas.


"Wah, bakat Evo luar biasa ya. Langsung ikut rapat dengan bos," puji Dea.


Bagas tersenyum mendengar pujian Dea untuk kekasihnya itu. lalu dia berkata kepada Dea, "Dia memang sangat berbakat. Coba kamu mengenal dia lebih dekat. Charlotte juga menyukai Evo."


"Ternyata Evo begitu luar biasa ya. Setahu aku Charlotte paling anti dengan pacar - pacar kamu."


"Benar sekali. Charlotte menyukai Evo. Aku jadi merasa kalau Evo benar - benar wanita yang tepat untukku," ucap Bagas bangga.


"Aku juga senang dengan Evo. Apa kira - kira Evo akan senang juga denganku?" tanya Dea. Apalagi sebentar lagi aku merebut Bagas dari tangan Evo.


"Tentu saja. Evo tipe wanita yang mau berteman dengan siapa saja. Kapan - kapan aku akan mengundang kamu makan ya di rumah."


Dea tersenyum menanggapi ucapan Bagas. Dea sangat cemburu setiap Bagas bercerita tentang Evo, mata Bagas begitu berbinar - binar.


*****


Kantin kantor Pratama.


"Kapan kamu mulai cuti hamil?" tanya Maureen. Maureen dan Dina sedang makan siang di kantin seperti biasa. Maureen sedih karena sebentar lagi Dina cuti. Dia tidak ada teman untuk makan bareng lagi.


"Minggu depan. Wah, aku akan merindukan makan siang kita ini," ujar Dina.


"Benar sekali. Aku juga begitu," sedih Maureen.


"Maureen, ada yang aku pikirkan sejak tadi malam."


"Katakanlah!" ujar Maureen. Maureen meneguk es jeruk yang dipesannya.


"Kenapa aku merasa kalau Indra kemarin nyanyi lagu tersebut untuk Evo?" tanya Dina penasaran. Kemarin Dina melihat betapa Indra menghayati lagu tersebut. Pandangan mata Indra terus menatap Evo.


"Kalau memang Indra mencintai Evo, aku tidak jadi masalah. Aku belajar ikhlas. Evo sudah banyak menderita, Din. Dia sahabat kita satu - satunya. Dia tidak punya keluarga lagi di sini. Aku juga sudah putus dengan Indra."


"Kamu sangat hebat, Maureen," puji Dina.


"Apapun yang akan terjadi di depan, aku akan tetap percaya pada Evo. Walaupun nanti Evo jadi dengan Indra, aku percaya berarti Indra bukan jodohku."


Dina memandang Maureen dengan takjub. Dina tidak menyangka Maureen begitu melindungi para sahabatnya. Perkataan Maureen benar, Evo tidak punya keluarga lagi. Kami yang harus melindungi Evo dari ancaman Pak Freddy dan Bu Lina.


Muka Dina memerah karena malu. Dia mengingat kejadian ketika dia cemburu melihat Evo dan Rafael berpelukan. Seharusnya dia mencari tahu siapa yang mengirim pesan tersebut, bukan malah marah hingga mengancam calon anak dalam kandungannya.


"Ayo, cepat selesaikan makan kamu. Tadi aku dapat kabar akan ada rapat dadakan." ucap Maureen membuyarkan lamunan Dina. Dina mengangguk menanggapi kemudian mempercepat makannya.


*****


Kafe di Jakarta


"Kamu memang keren, Siska!" puji Charlotte lagi.


"Sudah. Jangan memuji aku seperti itu. Semoga Pak Dirly tidak melakukan hal yang tidak baik lagi."


Charllotte melihat Evan yang masuk ke kafe dan memanggilnya, "Evan!!"


Evan yang mendengar namanya dipanggil mencari suara tersebut. Setelah menemukannya, dia menghampiri. Evan mencium dahi Charlotte.


"Halo, sayang," sapa Evan. "Sejak kapan kalian?"


"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" ledek Siska.


Evan dan Charlotte tertawa melihat ledekan Siska. Evan terkejut karena perubahan ini. Dia sangat senang melihat Charlotte dan Siska kembali bersahabat seperti dulu.


"Aku senang karena kalian sudah berbaikan," jujur Evan.


Siska tersenyum, lalu berkata, "Maafkan aku ya. Aku harap kita bisa menjadi sahabat sekarang."


"Sahabat Charlotte sahabat aku juga. Jadi apa kita berteman?" Evan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Siska.


Siska menyambut tangan Evan untuk menjabat tangannya, "Sahabat."


*****


Sore harinya.


"Terima kasih Evo. Hari ini kamu bekerja sangat baik. Maafkan tadi jadi ada kesalahpahaman saat waktu rapat," pinta Indra.


"Tidak apa - apa yang penting hari ini rapat kamu sukses. Semoga lain kali tidak ada kesalahpahaman ya," ucap aku pada Indra.


"Janji. Tidak akan diulangi lagi," janji Indra.


Akupun membereskan perlengkapan kantorku. Sudah jamnya untuk pulang ke kantor.


"Naik apa kamu pulang?" tanya Indra melihat aku sudah merapikan barangnya.


"Bagas akan menjemputku. Satu jam yang lalu dia mengabari sudah berangkat dari kantornya. Apa kamu mau bertemu dengan Bagas?" tanya aku.


"Aku masih ada kerjaan yang harus diperiksa. Kamu pulang duluan saja," ucap Indra mengizinkan aku pulang.


"Baiklah. Sampai ketemu Senin depan," pamitku.


"Sampai jumpa."


Setelah pamitan dengan Indra, aku mampir ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku. Aku tidak ingin Bagas banyak nanya dan menimbulkan masalah nantinya. Sesudah selesai berganti pakaian aku menuju ke lobby. Bagas sudah di depan lobby. Akupun segera menuju ke lobby.


Aku masuk ke dalam mobil dan menyapa Bagas, "Halo, sayang."


"Hai, sayang. Bagaimana hari ini?" tanya Bagas yang sambil menyetir mobil.


"Hari ini sangat melelahkan, Bagas. Aku harus ikut rapat A, rapat B dan rapat C. Banyak sekali. Ternyata jadi sekretaris itu cukup melelahkan. Lebih baik aku jadi editor ya," keluhku.


"Sabar ya sayang. Hari ini aku sangat sedih."


"Kenapa kamu sedih? Apa yang terjadi di kantor?" tanya aku khawatir.


"Tadi pacar aku menutup teleponku. Katanya ada yang lebih penting dari pacarnya," sedih Bagas.


Mendengar ucapannya aku tersenyum lalu merangkul tangan Bagas dengan erat, "Maafkan aku sayang. Aku tidak akan mengulangi. Jadi bagaimana caranya agar kamu tidak marah?"


"Malam ini aku ingin berduaan dengan kamu. Hari ini kita tidak akan pulang ke rumah."


Aku melepas rangkulan, lalu berkata, "Apa maksudnya?"


"Malam ini aku milik kamu seutuhnya, sayang," ujar Bagas.


*****


Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.


NEWS!!


Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!


Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.


❤❤❤