
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Malam harinya.
Setelah makan bersama Bastian tadi sore, aku segera menelepon Evan untuk memberitahu padanya bahwa aku setuju untuk bertemu dengan Bagas. Evan menjemputku di halte dekat rumah Bastian.
“Terima kasih, Mbak telah membantu Charlotte,” ucap Evan ketika aku sudah berada di mobilnya. Aku juga membantu mereka karena aku rindu dengan Bagas.
“Jangan sungkan. Semoga Bagas segera sadar,” harapku.
Evan memarkirkan mobilnya di rumah Bagas. Kami tiba di rumah Pratama pukul 11 malam. Evan segera menghubungi Charlotte untuk memberi kabar bahwa kami sudah tiba di rumahnya.
“Kami sudah di parkiran rumahmu.” Evan memberitahu.
“Tunggu, aku akan segera ke sana.”
Dua menit kemudian Charlotte datang ke parkiran. Pelayan keluargapun sudah tidur, sehingga tak ada satu orang yang akan tahu kalau mereka menghadirkan Evo.
“Terima kasih, Mbak. Semoga pertemuan kali ini membuahkan hasil yang baik,” ucap Charlotte setelah itu dia memelukku.
Aku memberikan senyum pada Charlotte. Dia adalah salah satu keluarga Pratama yang mendukung hubunganku dengan Bagas.
“Ayo segera kita ke kamar Mas Bagas. Aku takut nanti Papa dan Mama kamu bangun dan rencana kita jadi gagal.”
Charlotte dan aku setuju dengan ucapan Evan. Kami segera menuju ke kamar Bagas dengan langkah mengendap – endap.
Ceklek.
Charlotte membuka pintu kamar Bagas. Dia menatap mataku dengan penuh harapan. Semoga setelah pertemuan ini kakaknya bangun dari tidur panjangnya.
“Mbak, aku dan Evan menunggu di luar seperti biasa. Jangan terlalu lama ya, Mbak. Aku takut Papa dan Mama akan bangun, lalu kamu akan kena masalah besar.”
Aku memberikan jempol tanda setuju. Perlahan aku menghampiri Bagas. Aku duduk di samping tubuhnya. Aku menyentuh tangannya. Suhu tubuh Bagas tampak normal, tidak terasa dingin maupun panas.
“Apa kabar kamu sayang?” tanyaku.
Aku menyentuh lembut wajah Bagas. Mengingat kenangan yang indah ketika Bagas menyentuh diriku. Tidak pernah aku menyangka ketika melihat kondisi Bagas seperti ini. Terkapar, tidak berdaya.
“Bangun Bagas, bangun!” Air mata mengalir di pipi ini, “bukan maksud aku kemarin melukai kamu, bukan ingin aku, Gas membuat kamu terluka seperti ini. Kamu harus tahu, aku tidak mengkhianati kamu.”
Tangan Bagas kuraih, lalu kukecup dengan penuh cinta. Aku sangat rindu dengan tangan ini. Tangan yang menyentuhku, dan membelaiku penuh dengan cinta.
“Aku mohon bangunlah, Gas. Apa kamu tidak tahu aku terluka melihat kamu terbaring di sini? Kamu menang, Gas. Menang karena berhasil menyiksaku dengan melihat kamu seperti ini.”
Air mataku terus mengalir tidak berhenti. Rasanya sangat sakit ketika melihat Bagas seperti ini. Lebih baik Bagas mencaci maki diriku tetapi aku bisa melihat dia hidup.
“Apa kamu ingat waktu di Villa Charlotte? Kamu bertanya padaku apa permintaanku saat bintang jatuh? Apa kamu tidak ingin tahu?” tanya diriku pada Bagas.
Sampai detik inipun Bagas tidak merespon ucapanku. Dia tetap tergeletak di ranjangnya. Aku memeluk Bagas dan berkata padaku, “permintaanku sederhana, Gas, aku hanya ingin bersama kamu selamanya. Dapatkah kamu mengabulkan permintaanku?”
Air mataku jatuh di mata Bagas. Aku menyentuh bibir Bagas dengan bibirku. “Tuhan, tolong sadarkan Bagas untukku.”
“Mbak Evo! Kita harus pergi! Mama Charlotte bangun! Bahaya!” kata Evan ketika tiba di sampingku dengan wajah paniknya. Aku mengangguk setuju. Kami berlari ke jendela dan pergi kabur.
Tanpa mereka sadari tangan Bagas bergerak dan meresponnya.
“Kenapa Mama tidak boleh masuk ke kamar Bagas? Apa yang kamu sembunyikan?” teriak Bu Lina kesal sambil masuk ke kamar Bagas.
Bu Lina menatap setiap sudut yang ada di kamar Bagas. Dia mencurigai ada seseorang yang datang ke rumah ini.
“A… aku ti… dak menyembunyikan sesuatu. Mama salah paham padaku,” kata Charlotte. Dia memandang ke arah jendela. Charlotte bisa bernapas lega, Evan dapat membawa kabur Evo tepat waktu.
Bu Lina merasakan hawa dingin masuk ke dalam ruangan ini. Wanita tua itu melihat jendela besar di kamar Bagas terbuka.
“E…, itu aku, Mam. Maksud aku…, biar Mas Bagas bisa merasakan hawa sejuk di pagi hari, tapi aku lupa untuk menyuruh pelayan menutupnya,” dusta Charlotte.
Mendengar ucapan anaknya, Bu Lina percaya. Dia menutup jendela kamar tersebut dengan perlahan. “Lain kali tidak boleh lupa seperti ini, takut ada pencuri masuk menyelinap.”
“Iya, Mam.”
Charlotte melihat ke arah Bagas. Tangan Bagas bergerak, dan perlahan matanya terbuka. Adik Bagas ini tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Mama!” panggil Charlotte.
“Apa?” tanya Bu Lina berjalan ke arah putrinya itu.
“Mas bagas siuman.”
*****
Evan menghentikan mobilnya di depan rumah Bastian. Aku keluar dari mobil Evan.
“Terima kasih sudah mengantarku,” ucapku pada pacar adik Bagas. Kami tiba di rumah Bastian pukul 1 subuh. Aku rasa Bastian sudah tidur jam segini.
Drt, Drt.
Bunyi ponsel dari Evan. Aku menunggu Evan menerima telepon baru akan masuk ke rumah. Evan tampak ceria menerima telepon tersebut. Setelah beberapa saat, dia menutup teleponnya. Evan menatapku, dia tidak menyangka kalau aku masih menunggu dirinya.
“Mbak, aku punya kabar gembira!” ucap Evan.
“Ada kabar apa?” tanyaku.
“Kali ini kita berhasil, Mbak. Tadi Charlotte menelponku, dia memberitahu bahwa Mas Bagas sudah sadar dari tidurnya yang panjang.”
“Benarkah? Syukurlah!” kataku senang.
“Kalau begitu aku pulang, Mbak. Sudah malam,” pamitnya.
Evan melaju mobilnya pergi dari rumah Bastian. Deru mobil Evan terdengar sudah menjauh. Aku masuk ke dalam rumah Bastian. Aku kaget melihat Bastian masih bangun. Dia sedang menonton televisi di ruang tamu.
Aku menyentuh bahu Bastian. Dia menatapku lalu tersenyum. Terlihat jelas di matanya, Bastian senang melihat aku sudah sampai di rumah.
“Kenapa belum tidur?” tanyaku.
Bastian mematikan televisinya. Aku langsung duduk di sebelah Bastian.
“Bagaimana pertemuan dengan Bagas?” Dia malah balik bertanya tidak menjawab pertanyaan dariku.
“Keadaan Bagas sudah membaik. Baru saja adiknya menghubungi dan mengabarkan kondisi Bagas yang sudah sadarkan,” jelasku pada Bastian.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya,” kata Bastian tulus.
Aku mengangguk setuju dengan perkataan Bastian. Akhirnya pertemuan yang kedua ini membuahkan hasil yang baik.
“Jadi apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu akan kembali pada Bagas?” tanya Bastian. Pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Bastian membuat dirinya sedikit sakit. Entah kenapa dia merasa akan sebentar lagi akan ditinggal oleh Evo lagi. Walau dia pernah janji pada Evo bahwa akan mempersatukan mereka, tapi hatinya sedikit tidak rela.
“Aku….”
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤