
Dua hari kemudian.
Besok adalah hari yang terpenting bagi kedua sahabatku, Dina dan Rafael. Besok malam aku akan datang ke pesta merala. Akhirnya, setelah berpikir panjang aku memutuskan untuk mendatangi pesta tersebut.
"Bas, maukah kamu menemaniku ke pesta pernikahan Dina?" tanyaku saat itu. Bastian mau mengantarku. Bastian benar-benar laki-laki yang baik. Pria yang polos, dan pintar. Memiliki segudang karisma.
Keesokan Paginya.
" Pagi, Vo," sapa Bastian saat melihatku baru datang ke ruang makan. Dasar tamu yang tidak tahu diri. Hehehe.
"Pagi, Bas. Sepertinnya aku terlambat bangun." ucapku.
" Tidak, tidak. Aku yang bangunnya terlampau pagi. Hari ini aku ada janji dengan seseorang. Aku mau cari kerja di sini aja, Vo," ungkap Bastian.
"Loh, kenapa bisa begitu?" tanyaku kebingungan.
" Sudah sejak lama aku ingin balik ke Indonesia, Vo. Menetap di sini, dan dekat dengan keluarga. Ah, sudahlah tidak usah membahas aku. Hari ini kau mau ke mana?"
" Aku mau beli baju untuk pesta pernikahan Dina, Bas. Nanti siang, aku akan pergi."
" Aku antar ya?"
" Jangan, jangan. Nanti aku menghambatmu mendapatkan pekerjaan," jawabku cepat-cepat. Bastian mengambil susu coklat yang ada di depannya, lalu meneguknya. Kemudian Bastian menatapku.
" Tidak usah sungkan, Vo. Aku selalu senang kalau aku bisa membantumu," ujar Bastian. Tatapan mata pria itu membuat aku meleleh. Entah karena mata itu mirip dengan Karel, atau memang dia begitu penuh karisma?
" Baiklah, aku harus segera berangkat. Aku akan menjemput kamu di sini. Jangan pergi sendirian. mengerti Moy?" oerintah Bastian sambil mengelus kepalaku. Gayanya seperti seorang ayah.
" Namaku, Evo, Bas!" aku memperbaiki.
" Sudah terbiasa," kata Bastian lalu berangkat meninggalkanku sendirian di rumah besarnya. Aku melanjutkan sarapan pagiku. Setelah selesai, aku membereskan piring dan gelas. Ketika aku hendak mencuci pakaian tersebut, para pembantu tidak mengizinkanku untuk melakukan hal tersebut.
" Kalau Non Evo yang kerjakan semuanya, kami mengerjakan apa?" canda pembantu pertama. Aku tersenyum menanggapinya.
" Bastian berapa bersaudara Bi?" tanyaku. Siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu tentang lelaki itu. Tentang masa lalu dia terutama.
" Tuan muda punya dua kakak, Nona Evo. Satu tinggal di Jepang, sudah menikah. Satu lagi sebenarnya tinggal di sini, tapi sekarang dia dipindahkan ke Malaysia," cerita pembantu itu.
" Lalu di mana orang tua Bastian?"
" Orang tua tuan muda sekarang tinggal di Australia. Ini rumah baru mereka, Non. Jadi foto-foto keluarga tuan tidak ada di sini," lpanjut cerita pembantu itu.
Aku semakin sedih karena mendengar hal tersebutm karena aku tidak bisa menemukan zaman dahulu Bastian. "Bibi sejak kapan bekerja di rumah Bastian?" Tanyaku.
" Saya baru lima tahun, Non di sini. Pembantu yang sudah bertahun-tahun lalu bekerja di sini baru seminggu yang lalu meninggal."
" Oh, begitu," ucapan dia membuatku kehilangan kesempatan untuk mencari tahu. Aku pun kembali ke kamarku. Sedih rasanya tidak bisa menemukan jejak tentang masa lalu Bastian. Seandainya ada foto Bastian waktu kecil, pasti aku bisa tahu Bastian adalah Karel atau bukan, atau dia hanya memiliki kesamaan nama saja.
Di kamar, aku membuka laptopku, kemudian membaca pesan di kotak masuk. Ada pesan masuk dari Bagas.
Dear my love, Evolet.
Besok Sabtu adalah pesta pernikahan Dina, sahabatmu.
Semoga kamu datang, dan aku sangat merindukanmu.
Rasanya aku ingin membalas pesan dari Bagas, tapi aku takut. Benar-benar takut. Takut kejadian satu bulan yang lalu terulang lagi. Bagas, sepertinya kita tidak bisa bersatu. Aku dan kamu bagai langit dan bumi. Aku tidak ingin masa depan Dina, Maureen, dan Rafael hancur karena aku. Semoga besok, aku tidak bertemu dengan Bagas.
Pagi sudah berganti siang. Seperti janji Bastian padaku, dia menjemputku. Kami pergi ke sebuah Mall besar di Jakarta. Sebelum berbelanja, kami makan siang terlebih dahulu.
" Kalau aku pulang, Vo, restoran ini tempat makanan kesukaanku di sini," Bastian bercerita.
" Iya, makanannya enak juga," aku berpendapat ketika kami sudah berada di salah satu tempat perbelanjaan. Bastian duduk menungguku mencari pakaian. Sambil sesekali dia membalas pesan masuk di ponselnya.
" Bagus, tidak Bas?" tanyaku pada Bastian. Bastian melirik. Dia menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
" Kamu tidak cocok pakai baju hijau, Vo." Bastian berdiri, lalu pergi ke suatu tempat.
" Ya, malah dia pergi. Padahal aku masih mau nanya," kataku. Beberapa menit kemudian Bastian datang membawakan gaun merah yang begitu anggun.
" Ini cocok banget sama kamu. Coba dipakai."
Aku mengambil gaun tersebut dari tangan dia. Lalu melihat nominal harga baju tersebut. Aku benar-benar terkejut melihat harga tersebut. "Bas, kayanya aku ngga mau sama baju ini."
" Loh, kenapa? Sudah coba dulu. Cepat," perintah Bastian dan terpaksa aku menurutinya. Aku pun ke ruang ganti, lalu mengganti bajuku dengan gaun tersebut. Aku pun menghampiri Bastian.
" SEMPURNA." Ucap Bastian. "Kamu cantik banget, Vo."
Mendengar pujian Bastian membuat pipiku merona merah. "Tapi aku ngga mau beli gaun ini, Bas. Terlampau mahal."
" Baiklah, sudah ganti bajumu. Biar kita cari yang baru," ujar Bastian. Padahal dalam lubuk hatiku, aku juga suka dengan baju ini. Bajunya benar-benar bagus.
Dua jam sudah berlalu, akhirnya aku mendapatkan gaun sesuai dengan kemampuan finansialku. Kami kembali ke rumah Bastian. Aku harus segera bersiap-siap, karena pesta pernikahan Dina akan diselenggarakan pukul 5 sore ini.
Tok, tok, tok.
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Baru saja aku menyelesaikan rambut, dan dandananku. Rencanannya aku mau pakai baju, tapi ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku pun membuka pintu tersebut.
" Hai, Moy," sapa Bastian.
" Kenapa Bas?"
Bastian memberikan sebuah kotak merah besar untukku. "Apa ini?"
" Bukalah," perintahnya. Aku pun membuka kotak tersebut. Aku terkejut melihat isi kotak itu. Isinya gaun merah yang harganya mahal sekali.
" Kenapa kamu membeli ini buatku? Ini terlampau mahal, Bas."
" Ini tidak seberapa, Vo. Harga dirimu lebih tinggi dari pada gaun ini. Aku tidak ingin ketika kamu bertemu dengan tunanganmu, kamu memakai gaun yang sederhana."Ujar Bastian padaku.
" Kenapa kamu melakukan semua ini padaku, Bas?"
" Mungkin, karena aku menyukaimu," ucap Bastian lagi sambil tersenyum padaku. Ketika dia hendak pergi, aku menghalanginya.
" Jangan menyukaiku, Bas. Aku tidak pantas untukmu," kataku. Benar, aku benar-benar tidak pantas untuk tuan muda seperti Bastian. Dia baik, kaya, dan penuh karisma. Jauh lebih baik Bastian mendapatkan wanita yang lebih baik dari diriku.
" Kita lihat saja, Vo. Biarkan Tuhan yang memutuskan, Dia berpihak padaku atau pada dirimu. Biar waktu yang menjawab semuanya, Evolet Rebecca," ucap Bagas lalu melepaskan tangannya padaku.