
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Aku melangkah keluar dari rumah sakit. Sedih rasanya melihat semua orang menjauhiku karena bukan perbuatanku. Bagaimana meyakinkan semua orang bahwa aku tidak bersalah?lalu bagaimana keadaan Bagas sekarang? Aku sungguh rindu padanya.
Aku menghentikan taksi. Aku masuk ke dalam taksi.
“Ke mana kita akan pergi, Nona?” tanya supir taksi.
“Jalan ke arah harmoni, Pak.”
“Baik, Nona,” patuh Pak supir.
Aku mengambil telepon genggamku. Lalu membuka galerinya, aku melihat foto Bagas.
Aku sangat merindukan dia. Apa yang dilakukan oleh Bagas sekarang? Apakah dia tidak merindukanku?
Sesudah puas melihat foto Bagas, aku menatap keluar jendela. Kala itu langit masih sore, walau matahari perlahan mulai menyembunyikan dirinya.
Rasanya aku ingin segera malam datang, aku mau bertemu bintang jatuh agar aku bisa meminta permohonan padanya. Aku ingin semua ini hanya mimpi buruk saja karena ketika aku bangun, selesai sudah mimpi buruk tersebut.
Tuhan, bila aku masih diberi kesempatan, izinkan aku untuk bertemu dengan Bagas. Namun bila waktu ini berakhir untuk bersama Bagas, kuatkan hatiku agar aku bisa menerimanya. Lagi – lagi air mata ini tidak bisa dibendung.
Setengah jam kemudian sampai sudah aku di rumah kontrakan.
“Nona, sudah sampai,” ucap supir taksi itu membuyarkan pikiranku.
“Terima kasih, Pak,” ucapku. Lalu aku keluar dari mobil tersebut. Aku berjalan ke pintu kamarku.
“Hai, Evolet Rebecca,” panggil seseorang dari belakang. Aku membalikkan badan.
“Untuk apa kamu datang ke sini, Dea?” tanya aku dingin.
Dea tersenyum kecut, dia berkata lagi, “Aku hanya ingin berbicara padamu. Mari kita diskusikan sesuatu.”
“Aku tidak berminat untuk mendiskusikan apapun denganmu,” kataku membalikkan badan dan berjalan ke pintu rumah. Dea mengikutiku.
“Tapi aku memaksa,” kata Dea menarik tanganku.
Aku menghela napas panjang. Aku sudah malas berhubungan dengan keluarga Bagas. Aku hanya mau bertemu dengan Bagas.
“Katakan. Waktumu dua menit.”
“Aku harap kamu segera meninggalkan Bagas. Kamu tidak pantas dengan Bagas. Dia sudah tidak mencintai kamu lagi! Sekarang dia sudah bahagia berkumpul dengan keluarganya.” kata Dea.
“Apa hanya itu yang ingin kamu bicarakan padaku?”
“Tentu saja tidak. Segera menikah dengan Indra atau aku akan mengirimkan berita tentang kamu dan membuat kamu dipenjara,” ancam Dea.
“Apa ada hal lain lagi?” tanyaku tidak peduli dengan ancamannya.
“Aku tidak sekedar hanya mengancam, Evo!” amuk Dea.
“Aku kira kamu teman yang benar – benar baik buat Bagas. Ternyata aku salah. Silahkan kamu melakukan apapun yang kamu suka. Aku tidak peduli. Hidupku sudah hancur tanpa Bagas,” kataku kemudian masuk ke rumah.
Tangan Dea bergetar menahan marah. Dia kesal dengan jawaban dari Evo.
Betapa sombongnya wanita ini! Lihat aja, aku pasti akan membuat kamu masuk penjara atau menghilangkan kamu dari muka bumi ini!
Dea kembali ke mobilnya, lalu memerintahkan supirnya, “Ayo jalan!”
*****
Rumah Rafael.
“Kenapa kamu selalu membela, Evo?” tanya Dina setelah mereka kembali di rumah.
Rafael menghela napas panjang. Dia tidak ingin berdebat dengan Dina lagi. Rafael tidak mau calon bayinya bermasalah.
“Apakah boleh kita tidak membicarakan hal ini?” tanya Rafael lelah.
“Aku ingin tahu. Seberapa berharganya Evo dibanding aku?” tanya Dina lagi. Dia masih kesal dengan tamparan yang diberikan Rafael padanya.
Rafael menghampiri istrinya itu. Lalu berlutut dihadapannya, dan memegang telinga dengan tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Dina bingung dengan kelakuan suaminya.
Dina menggigit bibirnya. Dia mengerutkan dahinya.
“Percayalah padaku, aku hanya mencintai Dina. Evo hanya masa laluku. Dulu juga Evo tidak mencintaiku. Jadi jangan menuduh Evo dan aku selingkuh ya? Itu sangat menyakitkan aku,” kata Rafael menyakinkan istrinya itu.
“Benarkah?”
“Benar sekali. Kita harus menolong Evo. Satu – satunya keluarga Evo adalah kita. Dia sudah tidak punya keluarga lagi.”
“Kamu benar sayang. Maafkan aku malah terpancing emosi,” ucap Dina.
“Satu lagi aku mohon kamu jangan marah – marah terus. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anak kita,” pinta Rafael.
“Aku janji sayang,” ucap Dina.
Rafael bisa bernapas lega. Masalah istrinya sudah dapat dia selesaikan dengan baik.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Semoga aku tidak terlambat membantu Evolet. Dia tidak bersalah dengan kejadian ini.
*****
Rumah kontrakan.
Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku memegang telepon genggamku dan berharap Bagas segera menghubungiku, tapi harapanku sia – sia sampai sekarang dia tidak menghubungi diriku.
Tok, tok, tok.
Pintu rumah aku diketuk. Dengan malas aku melangkah dan membuka pintu. Semoga itu Bagas.
“Hai, Mbak,” sapa Evan.
“Maaf. Siapa kamu?” tanya aku.
“Spertinya Mbak Evo lupa denganku. Aku adalah Evan. Aku pacar Charlotte. Dulu aku pernah ke sini bersama Charlotte,” Evan menjelaskan.
“Ah, iya, aku ingat. Silahkan masuk,” ucapku mengizinkan Evan masuk. Pria itupun masuk ke rumah.
“Aku datang ke sini di suruh Charlotte, Mbak,” kata Evan kemudian duduk di sofa ruang tamu.
“Mengapa Charlotte menyuruh kamu ke sini?” tanyaku.
“Mas Bagas sejak kemarin malam tidak sadarkan diri,” jelas Evan.
Aku tertegun mendengar ucapan Evan. Bukankah tadi Dea berkata bahwa Bagas sedang bahagia karena sudah berkumpul dengan keluarga besarnya? Perkataan siapa yang harus aku percayai?
“Mas Bagas memanggil namamu terus, Mbak,” cerita Evan lagi.
Aku memegang kepala. Kepalaku mulai sakit. Aku sangat bingung siapa yang dapat aku percayai saat ini?
“Aku ada beberapa foto yang Mbak Evo dapat lihat,” kata Evan lagi memberikan telepon genggamnya untuk memperlihatkan foto tersebut.
Aku melihat dengan tatapan sedih. Sudah habis air mata ini karena selalu menangis. Bagas tergeletak di atas tempat tidurnya. Dia sangat tidak berdaya.
“Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia bisa tidak sadarkan diri? Mengapa dia tidak dibawa ke rumah sakit?” tanyaku.
“Tadi pagi Charlotte sudah menghubungi dokter. Dokter bilang kondisi Mas Bagas baik, tapi kami bingung kenapa sampai sekarang Mas Bagas tidak sadarkan diri?”
“Bagas….” Ucapku. Dadaku sangat sakit melihat kondisi Bagas sekarang. Bu Lina benar – benar tidak punya hati. Kenapa dia sangat begitu kejam pada anaknya sendiri?
“Apa Mbak Evo mau bantu kami untuk sadarkan Mas Bagas?” tanya Evan.
“Bagaimana caranya aku membantu kalian?” kataku.
“Aku dan Charlotte berencana untuk membawa Mbak Evo untuk bertemu dengan Mas Bagas malam ini. Kami yakin ketika kalian bertemu Mas Bagas akan sadarkan diri. Apa Mbak mau?” tanya Evan lagi.
“Aku pasti mau, Van. Tapi aku takut rencana kita tidak akan berhasil,” raguku.
Evan tersenyum kemudian berkata padaku, “Tenang saja, Mbak. Ini akan berhasil. Nama aku bukan Evan kalau tidak bisa mengelabui kedua orang tua itu asal Mbak Evo mau bekerja sama denganku malam ini.”
Aku mengangguk setuju. Aku ingin bertemu dengan Bagas. Walau pada akhirnya kami berpisah, tapi aku harus menyelamatkan Bagas dengan membuatnya sadar. Walau nyawaku taruhannya.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku.
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤