MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Cinta Rafael



Menunggumu adalah pengorbananku.


Mencintaimu adalah keputusanku.


.


.


.


" Evo," Rafael memegang tanganku erat. Dia menatapku dengan penuh makna. Deg. Jantung mulai berdetak dengan kencang.


"Rafael."


"Tidak perlu dijawab sekarang, Vo. Aku akan menunggumu. Mencintai kamu adalah keputusanku. Menunggumu adalah pengorbananku. Aku harap pengorbanan ini tidak sia-sia ya, Vo."


Rafael begitu dewasa. Mendengar pernyataan Rafael, Evo hanya terdiam. BIasanya bila ada yang menyatakan cinta, aku pasti langsung meninggalkan lelaki itu tanpa bicara.


Kemudian datanglah pelayan mengantarkan makanan kami. Rafael melepaskan genggaman tangannya. Kamipun menyantap makanan yang telah datang.


Drrt.


Bunyi pesan masuk.


Bagas : Di mana kamu? Kenapa tidak datang?


Aku mengambil telepon genggamku. Ketika aku ingin membalas, Rafael berkata lagi," Habis pulang kerja ada rencana mau ke mana, Vo?"


Aku menggeleng kepala, kemudian aku berkata," Tidak ada rencana. Kenapa?"


"Nanti pulang kerja, aku jemput ya? Besokkan hari Sabtu, boleh ya hari ini aku ajak kamu jalan?" tanya Rafael dengan semangat.


Gawat. Bagaimana ini? Ada janji lagi dengan Bagas. Ah, kenapa aku harus memikirkan pria itu? Bagas juga bukan siapa-siapaku. Lebih baik aku pergi dengan Rafael,mengenal Rafael lebih jauh.


Drrt.


Bunyi pesan masuk.


Bagas : Datang sekarang, sebelum aku membongkar semuanya.


Membaca pesan dari Bagas, membuatku marah. Siapa dia? Berani benar mengancamku, Benar-benar tidak dewasa.


" So? Apa kamu bisa?"


" Tentu."


.


.


.


Sorenya


" Jalan yuk, Vo!" ajak Maureen sambil merapikan mejanya. Sebentar lagi jam pulang.


" Hari ini aku mau pergi, Ren. Sorry."


" Sama siapa? Pak Bagas?" tanya Maureen kepo.


Aku menggeleng, kemudian berkata,"Kenapa selalu Bagas ya? Calon pacar baru".


" Wow, senang sekali aku mendengarnya. Jadi kamu sudah bisa melupakan Karel?"


Aku menggeleng dengan kuat. "Belum. Tapi sepertinya perkataanmu dulu membuat aku berpikir ulang."


" Perkataan yang mana?" tanya Maureen lagi bingung.


"Kamu bilang ke aku, sebaiknya aku mengenal seorang pria, takutnya Karel bukan jodohku."


"Oh, iya, iya aku baru ingat. Tapikan itu untuk Pak Bagas, Ren."


"Iya, aku tau, tapi hari ini ada seseorang berkata padaku menunggumu adalah pengorbananku, mencintaimu adalah keputusanku. Entah kenapa perkataannya itu membuat hatiku berdebar, Ren."


Maureen tersenyum," I think you're falling in love now."


"Entahlah." Karena ada dua debaran yang aku rasakan. Untuk Bagas dan Rafael.


Drttt.


Pesan masuk dari telepon genggamku.


Rafael : Aku sudah di bawah.


Aku membalas : Oke, tunggu ya.


"Ren, aku duluan ya udah di jemput," pamitku.


" Oke, sayang. Good luck ya. Senang banget kamu mau buka hati."


Di lobby.


" Sorry, lama nunggu ya, Fa?"


Rafa menggeleng, lalu berkata,"Untukmu, aku rela menunggu lebih lama."


" Dasar gombal," kami berdua tertawa.Tanpa kami sadari, ada seseorang yang melihat kami.


Di Mobil Rafael.


" Mau ke mana kita malam ini?"


Dua jam kemudian. Kami sampai di tempat tujuan, lalu aku berkata pada Rafael, "Ya ampun, Rafael!! Ini indah banget!"


Rafael membawaku ke sebuah taman yang begitu indah. Lampu yang menyala di saat malam begitu indah. Bunga asli yang ditanam di sini melengkapi indahnya taman ini. Ada bangku taman yang terdapat gambar cinta. Taman itu di sebut taman cinta.


" Taman cinta? Kenapa kamu bisa tahu tempat seindah ini?" tanyaku ngga percaya.


Rafael tersenyum, " Ini taman pribadiku. Rumah di sebelah sana villaku, Vo."


Aku duduk di bangku tersebut. Menikmati indahnya taman cinta ini. "Kenapa kamu menamai taman ini taman cinta?"


"Karena aku ingin suatu hari nanti, aku mau mengajak orang yang aku cintai ke sini." Rafael menyusul duduk di sebelahku dan menatapku penuh dengan cinta.


Rafael merangkulku,"Orang yang aku cintai sekarang di sini, di sampingku."


Aku menatap Rafael. Matanya begitu penuh cinta. Berbeda dengan Bagas yang hanya ingin tubuhku saja. Rafael memelukku penuh erat.


"Aku mencintaimu, Evolet," aku memenjamkan mataku. Aku merasakan debaran jantung Rafael. Rafael begitu hangat, santun, dan mencintaiku. Tetapi, aku sudah kotor sekarang, Aku sudah tidak suci.


Aku melepas pelukan Rafael.


"Kenapa?" tanya Rafael.


"Maaf, aku tidak bisa."


Rafael menutup mulutku dengan jarinya. "Jangan katakan sekarang,Vo! Tolong berikan aku kesempatan untuk menunjukkan perasaan ini."


Ingin rasanya Evo mengatakan hal sejujurnya, tetapi Rafael tidak memberi dia kesempatan.


Rafael kembali memelukku. Dia mengelus rambutku penuh lembut. Dia mencium dahiku dengan penuh kasih. Aku merasakan hembusan nafas Rafael.


Tuhan seandainya boleh terulang, seandainya tubuhku ini masih suci, aku pasti akan bahagia mendapatkan cinta Rafael.


"Hawa sudah mulai dingin, ayo masuk ke rumah. Kita menginap hari ini ya?" Rafael mengajakku masuk ke villa tersebut.


Di dalam Villa.


" Mau makan apa?" tanya Rafael lalu melihat isi kulkas. Aku mengikuti langkah Rafael.


" Wah, isi kulkas ini penuh ya? Apa kamu bisa masak?" tanyaku.


" Tentu saja, masak telur," ujarnya mantap.


"Semua orang juga bisa masak telor, Fa. Aku yang masak kalau begitu," aku menawarkan diri. Aku mengeluarkan bahan makanan yang ada dari kulkas. Mencuci bahan tersebut.


"Kalau begitu, aku masak nasi ya," Rafael ikut bekerja. Aku mengangguk setuju. Setelah selessai menyuci bahan tersebut. Aku mulai mengupas kulit bawang merah, bawang putih. Lalu memotong dengan perlahan.


"ADUH!" jeritku.


Rafael terkejut mendengar jeritanku," Kamu kenapa?"


"Tanganku teriris, Fa. Terlampau semangat memotong," kataku sambil tertawa.


Rafael memegang jariku. Dia memasukkan jariku ke mulut Rafael dan menghisap darah dari tanganku. " Rafael..."


Dia melepaskan jariku, "Biar tidak infeksi." Ujarnya. Kemudian segera mengambil obat untuk mengobati jariku yang terluka.


"Terima kasih."


"Hati-hati ya. Aku ngga mau kamu terluka. Kalau kamu terluka hati ini sakit rasanya."


"Berlebihan!" ujarku malu.


"Sudah ah, kalau kamu terus gombal mulu, kapan aku selesai masaknya? Nanti kita kelaparan, Rafael" Rafael tertawa.


Setengah jam kemudian, makanan sudah selesai di masak. Kami berdua makan bareng.


"Enak. Sering-sering ya."


" Masa?" Aku mencicipi. "Asin tahu, Fa." Aku protes.


" Apapun yang kamu masak itu enak, kok."


" Mulaikan gombalnya."


Rafael tersenyum, "Aku serius."


"Thanks, Fa."


Setelah makanan habis. Rafael yang giliran berganti kerja. Dia mencuci piring tersebut. Aku membantunya. Selesai menyuci piring, Rafael berulah. Rafael mengambil sedikit air di gelas dan melemparkannya kepadaku.


"Ya, ampun Rafael. Basah!" protesku. Rafael tetap iseng dan terus mengulangi perbuataannya. Akupun membalas. Bajuku dan Rafael sudah basah karena bermain air. Lantai begitu banyak air. Kami tertawa. Aku begitu bahagia.


"Aku balas ya kamu Rafael!" Aku mengambil air lagi. Rafael berlari menghindar, aku mengejarnya. Karena terlampau semangat, aku tersandung kakiku sendiri.


"Evo?!" Rafael menarik tanganku, berusaha untuk menyelamatkanku. Sayangnya, karena Rafael tidak seimbang, kami berdua terjatuh juga. Rafael dibawah tubuhku, hembusan nafas, dan detak jantung kami saling bersahutan.


"Are you okay, Vo?" tanya Rafael masih panik. Tubuh kami terlalu dekat, malah sangat dekat. Tubuh Rafael begitu kekar. Tubuhnya masih tetap wangi.


"Iya, Fa."


Rafael menatap mataku. Begitu lama. Bibir kami begitu dekat. Nafas Rafael dapat aku rasakan. Rafael mendekatkan bibirnya ke bibirku. Lalu menciumku dengan lembut. Sangat lembut. Begitu dalam. Ciuman ini berbeda dengan Bagas yang begitu kasar.


Rafael melepaskan ciumannya padaku. Dia mendekapku dalam pelukannya. Dia membalikkan posisi kami. Sekarang tubuhku yang di bawah tubuhnya.


" Kamu terlihat seksi, Vo!"


Rafael menciumku lagi. Penuh kasih lembut. Entah mengapa aku menerimanya. Aku membalas ciuman Rafael. Kami berciuman begitu lama. Aku menutup mata menikmatinya.


Rafael menghentikan ciumannya, setelah itu dia berdiri dan berkata, "Mandilah, aku sudah membelikan baju untukmu tidur malam ini. Kalau tidak kita hentikan perbuatan ini, aku takut kita kebablasan."