MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Tak Mampu Bicara



 


 


Sore hari di kantor Pratama.


 


 


  Sejak tadi Evo memandang Bastian. Dia bersyukur karena telah dipertemukan lagi dengan Karel alias Bastian. Wajah Bastian berbeda sekali dengan wajahnya dulu. Bibirnya yang indah, alisnya yang rapi, tubuhnya yang melebihi tinggi badan Evo.


 


 


  Dulu tinggi badan Bastian lebih pendek dari pada Evo, kalau mereka berdua orang akan menyangka bahwa Evo adalah kakaknya.


 


 


  Ada yang tidak berubah dari fisik Karel, yaitu matanya. Pertama kali bertemu dengan Bastian, Evo sudah curiga kalau Bastian adalah Karel. Sayangnya, saat mencari bukti tentang hal tersebut Evo tidak dapat menemukannya.


 


 


  “Kenapa?”


 


 


  “Hah?” kata Evo gelagapan. Evo merasa tertangkap basah oleh Bastian.


 


 


  “Kenapa terus memandangku dari tadi?”  tanya Bastian.


 


 


  Muka Evo menjadi merah padam karena malu.


 


 


  “Aku… aku masih tidak percaya Bas,” ucap Evo.


 


 


  “Tentang apa?”


 


 


  “Aku tidak percaya kalau kita bertemu lagi setelah belasan tahun lamanya,” ungkap Evo dari lubuk hatinya paling dalam.


 


 


  Bastian menghentikan pekerjaannya, kemudian dia menghampiri Evo. Bastian duduk di sebelah Evo. Dia tersenyum pada wanita itu.


 


 


  “Apa kamu sangat merindukan aku?” tanya Bastian.


 


 


  “A… apa?”


 


 


  “Apa kamu merindukan aku, Vo? Maksudku ketika kita dulu, saat bersama.” Bastian mengulang pertanyaannya.


 


 


“Aku….”


 


 


  Evo tidak mampu menjawab, dia takut akan menyakiti hati Bastian lagi.


 


 


  Bastian kembali memberikan senyumnya, dia berdiri lalu kembali duduk di kursinya. Di lubuk hati Bastian masih berharap kalau Evo mau menerimanya, tapi harapan itu mustahil karena Evo hanya mencintai Bagas saat ini.


 


 


“Bas….”


 


 


“Ayo, bersiaplah kita harus pulang.”


 


 


“Hmm,” ucap Evo sedih.


Kenapa disaat seperti ini aku tidak bisa berbicara? Aku benci dengan diriku yang tak mampu berbicara padamu.


 


 


  Setelah selesai merapikan barang, Evo dan Bastian beranjak dari ruangannya menuju ke ruangan Maureen. Hari ini mereka berencana untuk menjenguk Dina ke rumah sakit.


 


 


*****


Rumah Sakit.


 


 


  Hasil biopsi Dina hari ini akan keluar. Rafael diminta oleh Dokter Dion ke ruangannya untuk membicarakan hasil tersebut. Rafael pun menuju ke ruangan Dokter Dion dengan perasaan galau.


 


 


  Tibalah Rafael di ruangan Dokter Dion. Dia disambut ramah oleh Dokter tersebut. Rafael duduk tepat di depan Dokter Dion.


 


 


  “Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Rafael cemas.


 


 


  “Melihat hasil dari biopsi kemarin, Bu Dina terkena kanker lambung stadium 4A.”


 


 


  Ucapan Dokter bagai petir bagi Rafael. Matanya berkaca – kaca, hatinya remuk tak berdaya.


 


 


  “A… apa?”


 


 


  “Penyebarannya cukup cepat, saya akan bantu semaksimal mungkin. Kita butuh keajaiban.”


 


 


  Rafael tidak dapat banyak bicara. Tubuhnya begitu lemas. Pikiran buruk menyerang benaknya. Belahan jiwanya kapanpun bisa pergi selamanya karena penyakit ini. Rafael berdiri, dia berjalan dengan gontai. Hatinya tidak siap mendengar ini semua.


 


 


*****


Ruangan Dina.


 


 


  Terdengar suara ketokan dari luar. Evo membuka pintu kamar inap Dina. Melihat sahabatnya itu datang, Dina tersenyum senang.


 


 


  “Hai!” sapa Evo.


 


 


  Evo, Bastian, dan Maureen menghampiri Dina. Muka Dina tampak pucat. Mereka sangat yakin kalau Dina sedang menahan rasa sakitnya.


 


 


  “Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya Maureen, “Aku membawakan makanan kesukaanmu, rendang dari padang.”


 


 


  “Terima kasih, Reen. Aku bosan dengan makanan rumah sakit,” ucap Dina jujur.


 


 


  “Tenang saja, kalau kamu sudah sembuh aku akan ajak kamu makan ke restoran manapun yang kamu suka,” kata Evo berjanji pada sahabatnya.


 


 


  “Terima kasih, Vo. Kamu memang sahabat yang baik.”


 


 


  “Apa maksudmu? Jadi aku bukan sahabat baikmu juga?” tanya Maureen pura – pura merajuk.


 


 


 


 


  Maureen dan Evo memeluk Dina. Entah kenapa perasaan mereka saat ini sangat sedih. Mereka merasa kalau pertemuannya dengan Dina hanya sebentar.


 


 


  “Di mana Rafael?” tanya Bastian.


 


 


  “Tadi dia izin untuk beli makan malam.”


 


 


  Drt, Drt.


 


 


  Pesan masuk dalam telepon masuk Evo. Dia mengambil telepon genggamnya itu, dan membuka pesan tersebut.


 


 


Rafael : Aku tahu kamu ada di ruangan Dina. Aku ingin bicara, jangan katakana pada siapapun kalau kita mau bicara.


 


 


   Evo tertegun membaca pesan dari Rafael itu. Ada apa dengan kamu, Fa?


 


 


  “Kenapa?” tanya Bastian yang menyadari perubahan wajah Evo.


 


 


  “Eh, itu, aku lapar, aku beli makan dulu,” kata Evo.


 


 


  “Aku telepon Rafael ya. Apa yang mau kamu titip?” tanya Dina.


 


 


  “Jangan – jangan. Aku lebih suka membeli sendiri. Aku tidak mau merepotkan Rafael.”


 


 


  “Aku akan menemani kamu,” kata Bastian menawarkan diri.


 


 


  “Tidak, tidak! Tidak perlu, aku hanya sebentar saja. Kamu di sini saja menemnai Maureen dan Dina,” pinta Evo.


 


 


  Bastian mengangguk setuju, walau hatinya merasa aneh. Evo pun pergi keluar dari ruangan tersebut. Dia mencari kontak Rafael, dan meneleponnya.


 


 


  “Di mana kamu?”


 


 


*****


Kantin Rumah Sakit.


 


 


  Evo melebarkan pandangannya di kantin rumah sakit. Dia mencari sosok Rafael. Akhirnya Evo menemukan lelaki itu. Wajah Rafael begitu pucat, tubuhnya begitu lemah. Evo menghampiri lelaki itu. Dia menyentuh pundak Rafael.


 


 


  “Ada apa?” tanya Evo.


 


 


  Evo memandang Rafael. Mata Rafael tampak berkaca – kaca. Evo melihat Rafael dengan perasaan iba. Evo merasakan ada sesuatu yang sangat mengerikan yang akan dia dengar dari mulut Rafael.


 


 


  “Fa, ada apa?” Evo mengulang pertanyaannya.


 


 


  “Dina, Vo. Dokter Dion bilang kalau Dina terkena kanker stadium 4A….”


 


 


  “A… apa?”


 


 


  Mendengar kabar tersebut, Evo merinding. Dia tidak menyangka firasatnya tepat.


 


 


  Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya mengalir begitu saja. “Dok…ter… bilang kesembuhan Dina hanyalah sebuah keajaiban…aku… aku tidak tahu harus bagaimana, Vo?”


 


 


  Tanpa Evo sadari, air mata Evo ikut menetes di pipinya. Dia memeluk Rafael. Evo mengerti perasaan Rafael saat ini karena Evo pernah diposisi Rafael.


 


 


Evo melepaskan pelukannya dari Rafael, kemudian dia duduk di sebelah Rafael.


 


 


  “Fa, aku tahu perasaanmu saat ini, tapi aku mohon jangan tunjukkan perasaan sedih kamu ini pada Dina. Kita harus memberikan semangat pada Dina.”


 


 


  “Aku tahu, Vo. Makanya aku menyuruhmu ke sini. Aku butuh teman berbicara saat ini. Aku masih tidak sanggup untuk bertemu dengan Dina.”


 


 


  Evo menghela napas panjang, Evo berpikir saat ini Rafael pasti ketakutan. Ya, takut kehilangan Dina untuk selama – lamanya.


 


 


  Evo memegang tangan Rafael, dia memberikan kekuataan pada Rafael.


 


 


  “Kuatkan hatimu, Fa. Ini takdir yang harus kamu jalani. Aku, Maureen dan Bastian akan selalu di sampingmu dan menolong kamu.”


 


 


  “Bagaimana aku bisa kuat? Bagaimana, Vo? Kapan saja nyawa Dina akan direngut oleh penyakit itu! Anak – anakku tidak akan punya Mama! Mereka masih kecil, Vo!” keluh Rafael.


 


 


  “Apa kamu tidak memikirkan perasaan Dina saat ini? Dia yang lebih berjuang dari pada kamu, Fa! Dia berjuang melawan sakitnya! Kenapa kamu jadi begitu cengeng? Ini bukan Rafael yang aku kenal!”


 


 


  Rafael diam tidak membalas ucapan Evo. Dia mencerna setiap kata dari Evo.


 


 


  “Kita balik yuk. Mereka menunggu kita, terutama Dina,” ajak Evo.


 


 


  Rafael mengangguk menyetujui ajakan Evo. Perkataan Evo benar, dia harus kuat untuk Dina, karena saat ini Dina yang paling berjuang untuk melawan penyakit yang dideritanya.


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


Noted : Akan ada kreji up di hari Sabtu nanti. Jangan lupa nantikan ya.


 


 


❤❤❤