MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Masalah Kedua



Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Setelah selesai menelepon Maureen, aku mendengar pintu depan terbuka. Aku bangkit berdiri lalu membuka pintu kamarku.


"Hai, sayang. Maaf aku datang terlambat," sapa Bagas. Dia mencium dahi aku. Sepertinya Bagas hari ini begitu lelah. Aku mengambilkan segelas minuman untuk dia. Aku memberikan minuman itu padanya.


"Ini untukmu," kataku memberikan padanya.


"Terima kasih untuk minumannya," kata Bagas sambi mengambil minuman itu dariku. Bagas minum air yang diberikan oleh aku dengan sekali teguk.


"Sepertinya kamu tampak lelah hari ini," aku berpendapat.


Tadi ada rapat darurat pemegang saham," ucap Bagas jujur.


"Apa ada masalah serius? tanyaku lagi. Aku mengurut punggung Bagas. Tidak biasanya dia sepeti ini. "Apa aku bisa membantumu?"


Bagas meraih tanganku. Dia mencium tanganku lembut. "Aku bisa menghandel semua ini," aku Bagas.


"Katakan padaku kalau memang aku bisa membantumu, paling tidak aku akan kembali bekerja," kataku lagi. Pasti ada sesuatu yang terjadi di perusahaan tadi.


Bagas tersenyum, dia merangkul diriku, "Peluk aku saja, itu sudah membuat aku senang."


Akupun terdiam. Aku mengeratkan pelukan kami. Hari ini banyak sekali masalah yang aku hadapi. Mungkin begitu juga dengan Bagas. Aku membiarkan beberapa saat kami berpelukan. Tidak ada suara disekitar kami, sampai aku dapat merasakan detak jantung kami saling menyahut. Tuhan, jangan biarkan terjadi sesuatu pada kami. Jangan biarkan kami terpisah. Kalau Tuhan tidak izinkan aku untuk bertemu dengan cinta pertamaku, tapi aku mohon jangan biarkan aku berpisah dengan cinta terakhirku, Bagas Pratama.


*****


Keesokan harinya di Rumah Sakit Akan Sehat.


"Tolong jangan seperti ini, Din. Jangan mendiamkan aku. Aku tidak mengerti kenapa kamu bungkam padaku." pinta Rafael hingga merendahkan dirinya.


Dina tidak menanggapi ucapan Rafael. Dina tidak mau terpancing emosi lagi. Kalau memang Dina harus berpisah dengan Rafael, paling tidak dia masih bisa menyelamatkan anak yang ada dalam kandungannya.


"Din, aku mohon. Bicaralah padaku." ucap Rafael lagi. Wanita itu tetap diam seribu bahasa.


"Pulanglah, Fa. Mungkin Dina masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti kalau Dina sudah tenang, Ibu akan menghubungimu," pinta Mama Dina. Rafael yang mendengar nasehat dari Mama Dina, mengangguk setuju.


"Aku pergi Din. Aku harap kamu besok kembali seperti Dina yang ku kenal. Dina yang aku cintai. Dina yang mejadi istri Rafael."


Dina tidak membalas sedikit pun ucapan Rafael. Pria itu pergi dengan putus asa. Dia sangat bingung begitu cepat DIna berubah.


"Kenapa kamu begitu dengan Rafael, Nak?" tanya Mama Dina sambil mengelus kepala anaknya, "Rafael sangat menderita kamu perlakukan seperti itu."


Air mata Dina menetes di pipi. Kemudian dia berkata pada Ibunya, "Dina juga menderita Bu, mendiamkan Rafael seperti ini, tapi Dina lebih menderita lagi mempertahankan Rafael yang tidak mencintaiku."


"Apa maksudmu?" tanya Mama Dea bingung.


"Rafael selingkuh, Bu. Dia mengkhianati Dina lagi, yang bikin Dina tambah menderita adalah Rafael selingkuh dengan sahabat DIna sendiri," cerita Dina. Air matanya terus mengalir. Mama Dina memeluk anaknya dengan erat. Wanita tua itu tahu tabiat anaknya. Dia paling benci dengan pria yang tidak setia, tapi Mama Dina tjuga tahu bahwa Dina mencintai Rafael.


*****


Apartemen Bagas.


Bagas sudah bersiap - siap untuk bekerja ketika aku baru bangun. "Kamu mau beragkat? Kenapa sepagi ini?"


"Aku mau ke rumah dulu bertemu Mama dan Papa," ucap Bagas.


"Tapi kamu kan belum sarapan, Gas. Apa sempat aku buatkan sarapan untukmu?" tanya aku.


"TIdak perlu. Aku akan sarapan di rumah nanti. Aku pergi ya," pamit Bagas. Bagas langsung pergi tanpa mencium diriku dulu. Sepertinya perusahaan lagi gawat.


Aku bangun dari tidur, kemudian merapikan kasur kami.


Drt.


Ada pesan masuk ke telepon genggamku.


Indra : Temui aku di kafe ini, aku merindukanmu.


Pesan Indra langsung ku hapus. Indra benar - benar mengganggu diriku. Bagaimana caranya aku bisa menyadarkan lelaki ini?


Drt, Drt, Drt.


Panggilan masuk datang dari telepon genggamku. Maureen yang meneleponku.


"Evooo! Hari ini kamu mau ke mana? Cutiku sampai hari ini. Maukah kamu menemaniku menjenguk Dina?" tanya Maureen.


"Aku tidak ada rencana apapun hari ini. Baik aku akan menemani kamu," ucapku.


"Baiklah. Jam berapa kita bertemu?" tanya Maureen lagi. Aku melirik ke jam dinding yang ada di kamar kami. Baru pukul tujuh pagi.


"Bagaimana kalau jam sepuluh? Aku harus merapikan apartemen terlebih dahulu lalu mandi setelah itu baru bisa bertemu." saranku.


"Siap. Akupun belum sarapan. Sampai ketemu, Vo," kata Maureen kemudian menutup teleponnya. Aku menggarut kepalaku. Apa Dina masih seperti kemarin? Apa dia nanti menolakku lagi? Semoga dia sudah berubah.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


"Kenapa Mama dan Papa tidak pernah memberi tahu Bagas kalau perusahan kita mengalami kebangkrutan? Kenapa tidak jujur dengan Bagas?" tanya Bagas kesal dengan perbuatan orang tuanya. Kemarin tiba -tiba para pemegang saham membuat rapat. Bagas pun baru tahu dari pemegang saham bahwa saham perusahaan Pratama mengalami penurunan drastis.


Bu Lina memandang anaknya dengan sengit, "Apa selama ini kamu mendengar ucapan kami? Apa pernah sekali saja kamu mendengar perkataan kami?"


"Apa maksud Mama? Bagas selalu mendengar ucapan dan perintah kalian!" bela Bagas.


"Ini salahmu Bagas. Kamu yang membuat perusahaan kita hancur! Kamu tidak mendengarkan omongan Mama dan Papa untuk meninggalkan Evo!" jerit Bu Lina.


"Apa hubungan semua ini dengan Evo, Ma?" tanya Bagas tidak percaya. Evo tidak pernah berbuat apa - apa pada perusahaan. Dia juga sudah lama berhenti dari kantor.


Bu Lina menyalakan televisi. Berita video hubungan terlarang antara Bagas dan Evo muncul dipermukaan. Evo yang katanya menjual diri pada Bagas. Bagas yang suka gonta - ganti pasangan. Berita yang menjelekkan keluarga Pratama.


"PUAS KAMU, BAGAS? PUAS?" teriak Bu Lina kemudian meneteskan air mata, "Mama selalu memperingatkan kamu untuk tidak berhubungan dengan sembarangan wanita."


Bagas tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia terduduk lemas. Mengapa video mereka berdua bisa tersebar luas ke luar sana.


"Bagas..., kamu, kamu....." ucap Pak Freddy yang terpancing emosi. Setelah berkata seperti itu Pak Freddy pingsan.


"Papa!" teriak Bu Lina. Dia menghampiri suaminya itu.


"Papa!" panik Bagas. Dia memegang tangan Papanya. Bu Lina menepis tangan anaknya.


Bagas mundur dengan perlahan. Charlotte yang masih di dalam kamar langsung ke luar mendengar teriakan mamanya memberitahu bahwa Pak Freddy pingsan.


"Mama! Papa kenapa?" tanya Charlotte tidak percaya. Pelayan mengangkat Pak Freddy ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


"Biar Bagas saja yang mengantar Papa," pinta Bagas.


"Lepas! Kamu urusilah wanita murahan itu! Dari dulu itukan pilihanmu?" kesal Bu Lina.Charlotte dan Bu Lina membawa Pak Freddy ke rumah sakit dengan di antar supir pribadi mereka.


Bagas kembali mematung. Dia tidak sanggup melihat Papanya yang pingsan hari ini, sampai terjadi sesuatu pada Pak Freddy, Bagas akan merasa amat sangat bersalah.


*****


Rumah Sakit Akan Sehat


Rafael baru datang ke rumah sakit, ketika dia masuk Mama Dina menolakknya, "Jangan masuk dulu ya, Nak Rafa."


"Kenapa Rafa tidak boleh masuk, Ma? Rafakan suami Dina." tanya Rafael tidak terima dengan penolakan Mama Dina. Wanita tua itu mengajak Rafael untuk duduk di luar. Rafael mengikuti wanita itu.


"Mama mau ngobrol dengan kamu tanpa di dengar Dina. Apa boleh Mama bicara dengan kamu?" tanya Mama Dina lembut.


"Boleh, Ma. Apa yang mau Mama bicarakan padaku?' tanya Rafael.


"Apa benar Rafael mengkhianati Dina? Maksud Mama, Rafael selingkuh?" tanya Mama Dina tetap dengan lembut.


"Itu tidak benar, Ma! Rafael hanya mencintai Dina. Aku tidak selingkuh, Ma. Aku berani bersumpah pada Mama," jelas Rafael. Mama Dina tersenyum. Dia percaya dengan menantunya. Tatapan mata Rafael menunjukkan kebenaran.


"Mama akan bantu bicara pada Dina ya. Untuk sementara waktu Nak Rafa jangan ketemu dengan Dina dulu," saran Mama Dina.


"Rafa tidak bisa, Ma kalau Mama suruh aku untuk tidak menemui Dina. Itu menyiksa Rafael," kata Rafael. Tidak bertemu kemarin saja membuat Rafael mau gila.


"Maksud Mama, Rafael lihat dari kejauhan dulu ya. Mama mau bicara dulu dengan Dina. Mama tahu sifat Dina, dia butuh waktu untuk menenangkan diri. Percaya sama Mama, Dina pasti memaafkan Rafael. Mama hanya minta kesabaran dari kamu," ucap Mama Dina.


"Baik, Ma. Rafael setuju." ucap Rafael.  Orang tua itu masuk kembali ke dalam kamar.


Sering beberapa menit, aku dan Maureen datang. Rafael masih bertahan di luar ruangan.


"Hai, Fa." sapa aku.


"Kamu kenapa, Fa? Apa Dina sedang gawat?" tanya Maureen bingung melihat Rafael begitu lemas dan pucat.


"Tidak, aku tidak apa -apa," ucap Rafael. "Dina ada di kamar. Kamu masuk saja," ucap Rafael lagi.


Maureen menggeleng kepala, kemudian dia berkata, "Nanti aku masuk, aku sedang menunggu seseorang."


"Siapa yang kamu tunggu?" tanya aku bingung, karena tadi kami pergi hanya berdua. Beberapa saat kemudian Indra datang dari ujung jalan.


"Hai, Indra! Akhirnya kamu datang juga," sapa Maureen senang. Melihat kehadirannya aku langsung bete.


"Maaf aku datang terlambat," ucap Indra.


"Kami juga baru datang, Dra." jawab Maureen. Aku dan Rafael tidak ikut pembicaraan mereka. Maureen mengajak Indra untuk ikut masuk.


"Evo? Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Maureen.


"Aku akan menyusul kamu nanti. Kamu duluan saja," kataku. Indra menahan dirinya untuk masuk ke dalam.


Indra mendekati diriku, kemudian dia berkata, "Hai, Evolet"


"Hai juga," sapaku balik. Indra memegang tanganku. Aku segera melepas tangannya. Indra memegang lagi dan mencium tanganku. Aku langsung melepaskannya lagi.


"Jangan gila, Ndra. Ini rumah sakit!"


"Aku bisa lebih gila dari ini, sayang," kata Indra lalu menarik tanganku. Dia memaksa aku untuk pergi.


"Indra lepas! Lepasin tangan aku!" pintaku memelas.


BUK!


Pukul Rafael. Indra tersungkur jatuh. Rafael bangkit dari tempat duduknya. "Jangan sentuh, Evo!" geram Rafael.


Indra memegang bibirnya. Ada sedikit darah yang keluar dari mulutnya. Indra bangkit berdiri.


"Siapa kamu yang berani memukulku?" tanya Indra kesal. Indrapun melayangkan tinjunya kepada Rafa, aku melerainya. Aku memeluk Indra.


"Cukup, Ndra! Cukup. Baik, ayo kita pergi." ujarku. Aku mengajak Indra pergi.


"Vo, Evo! Jangan pergi!" cegah Rafael. Aku tidak mendengarkan Rafael. Aku tidak mau ada keributan di sini.


*****


Di dalam mobil Indra.


"Apa yang kamu mau dari diriku sih, Indra?" tanya aku kesal dengan perbuatannya selama ini.


"Aku cuma mau kamu!" jawab Indra lalu memegang tanganku. "Aku hanya ingin merasakan dirimu, Vo."


"Indra, aku sudah punya tunangan. Kamu sudah tahu itu. Jadi tolong kembalikan akal sehatmu itu!" pintaku padanya.


Indra tidak mendengar ucapanku. Dia memegang bibirku, lalu memaksa menciumnya. Aku meronta agar tidak dicium olehnya tapi tidak bisa.


"Terima kasih untuk ciuman hari ini. Kamu membuat aku bahagia, Evo sayang." ucap Indra melepaskan ciuman kami.


"Aku sangat membenci dirimu, Indra!" kataku kesal.


"Tapi aku sangat mencintamu!" ucap Indra lagi. Aku hendak keluar, tapi Indra mencegah.


"Minggir atau aku akan teriak," ancamku.


"Bagas tidak mencintaimu seperti aku mencintaimu. Kamu akan ditinggalkan Bagas sebentar lagi. Percayalah padaku, Vo," ucap Indra.


"Seandainya Bagas menghempaskan aku dalam hatinya, aku akan tetap mencintai Bagas," tegasku. Aku pun segera pergi dari mobil Indra.


Lagi - lagi tanpa di sadari Evo, ada sepasang mata yang memotret kejadian itu.


"Penangkapan yang bagus."


*****


Siapakah yang memotret Evo dan Indra? Bagaimana keadaan Pak Freddy? Bagaimana pula nasib perusahaan Pratama? Saksikan di episode selanjutnya. Evo tunggu ya kehadiran kalian.