MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Tanda



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


 


 


  Mata Evo yang tadinya terpejam karena ketakutan, lalu membukanya. Untung saja Bagas menangkap tubuhnya agar terjatuh. Beberapa saat mereka saling memandang. Bagas mencoba untuk mencium bibir Evo.


 


 


Ceklek


 


 


  “Evo!! Ayo kita berangkat. Bastian juga sudah datang!” ajak Maureen membuka pintu. Seperti biasa Maureen masuk tanpa ketok pintu.


 


 


  “Evo, Bagas? Apa yang kalian lakukan?”


 


 


  Dengan cepat Evo mendorong tubuh Bagas. Bagas yang tidak menyangka didorong oleh Evo jadi terjatuh.


 


 


“Aduh. Tega sekali kamu, Vo. Aku sudah menolongmu, malah kamu mencelakaiku,” keluh Bagas.


 


 


  Evo membantu Bagas untuk berdiri, “Maaf, aku tidak sengaja tadi reflex, Gas.”


 


 


  Bastian memandangi keduanya dengan perasaan sedih. Di ruangannya mereka berdua bermesraan.


 


 


  “Aku dan Bagas ti… dak… aku tidak melaku… kan apapun,” kata Evo terbata – bata. Dia memandang Bastian, entah kenapa Evo tidak mau kalau Bastian memiliki prasangka buruk padanya.


 


 


  Bastian tersenyum kepada Evo, lalu dia berkata, “Aku percaya padamu, Vo.”


 


 


  Mendengar ucapan Bastian, Evo merasa lega, senang dan terharu. Bastian yang baru mengenal dia saja percaya dengannya, Bagas dan sahabat- sahabatnya bisa tidak percaya dengan kejadian saat di hotel itu.


 


 


Bagas pergi meninggalkan mereka. Pria itu sengaja menyenggol Bastian.


 


 


“Untuk apa Bagas ke sini?” tanya Maureen menyelidik.


 


 


“Tadi aku menelepon Bastian menanyakan beberapa dokumen yang tidak aku mengerti maksudnya, sayangnya Bastian tidak mengangkat teleponku. Beberapa saat kemudian ada telepon masuk aku pikir….”


 


 


  “Sudah, sudah tidak usah dijelaskan. Ayo kita berangkat makan siang kemudian menjenguk Dina lagi,” potong Bastian.


 


 


  Evo mengangguk setuju. Mereka pun akhirnya berangkat untuk makan siang. Setelah selesai makan mereka lanjut ke rumah sakit menjenguk Dina.


 


 


*****


Rumah Sakit.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


  Maureen mengetuk pintu kamar inap milik Dina. Tidak ada yang menyahut, Maureen membuka pintu tersebut.


 


 


“Hai, bolehkah kami masuk?” tanya Maureen membuka sedikit pintunya.


 


 


  Di ruangan tersebut ada Dina dan Rafael saja. Rafael yang melihat Maureen datang, menghampirinya.


 


 


  “Sama siapa kamu ke sini? Eh, ada kalian juga,” ujar Rafael melihat Evo dan Bastian ikut menjenguk.


 


 


“Yoi,” sapa Bastian pada Rafael.


 


 


  Mereka pun masuk, kemudian mendekati Dina. Evo mengamati mata Dina. Mata Dina bengkak, sepertinya baru selesai menangis.


 


 


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Evo.


 


 


“Aku rindu dengan Mike dan Nay, Vo,” kata Dina jujur.


 


 


“Aku punya ide,” usul Evo, “Siapa yang menjaga Mike dan Nay?”


 


 


Rafael menjawab,”Ibu Dina.”


 


 


“Bisakah kamu menghubunginya menggunakan video call? Aku pikir Dina bisa sedikit mengurangi rasa rindunya pada Mike dan Nay.”


 


 


  “Ide yang bagus,” tutur Rafael.


 


 


  Rafael segera mengambil handphone milik dia, lalu menghubungi ibu mertuanya itu.


 


 


  “Halo.”


 


 


  Akhirnya ide yang diberikan Evo, menyembuhkan sedikit rasa rindu Dina pada kedua anak kembarnya. Dina memanggil nama kedua anaknya secara bergantian. Mike dan Nay yang belum mengerti apa – apa hanya tertawa dan tersenyum ketika dipanggil ibunya.


 


 


  Setelah puas menelepon, Dina mematikan teleponnya. Ada sedikit semangat yang muncul dalam dirinya setelah selesai menelepon kedua anaknya tersebut.


 


 


  “Terima kasih, Vo atas idemu itu. Aku sampai lupa teknologi kita sudah canggih saat ini,”ucap Dina tulus.


 


 


  “Sama – sama. Aku senang kamu sudah kembali ceria lagi.”


 


 


  “Benar kata Evo, sebelum kamu menelepon Mike dan Nay, kamu begitu sedih. Sekarang sudah kembali ceria seperti Dina yang kami kenal,” lanjut Maureen.


 


 


  “Apapun sakit yang kamu derita, kamu tidak sendiri. Ada aku, dan Maureen yang selalu bersamamu. Jadi kalau kamu mau apapun, silahkan hubungi kami,” Evo berjanji.


 


 


  “Kalian memang sahabat aku yang terbaik. Aku sayang kalian,” ucap Dina. Evo dan Maureen memeluk Dina dengan sangat erat.


 


 


   Rafael dan Bastian sangat kagum dengan persahabatan ketiga wanita itu. Ketiganya tidak dapat dipisahkan.


 


 


  Evo dan Maureen melepaskan pelukan mereka terhadap Dina.


 


 


 


 


“Sudah lebih enak, Vo.”


 


 


Aku melirik ke arah Rafael, pria itu mengangguk menyatakan kalau Dina sudah tahu penyakit yang dia derita.


 


 


  “Kapan akan biopsi?” Maureen mencoba bertanya dengan hati – hati.


 


 


  “Aku belum bertemu dengan Dokter Dion hari ini. Beliau akan datang memeriksa Dina sekitar jam 3 nanti,” jelas Dion.


 


 


  “Beritahu kami kabar selanjutnya ya,” pinta Evo.


 


 


“Vo,” panggil Dina.


 


 


“ Kenapa, Din?”


 


 


“Apa aku akan selamat?” lirih Dina.


 


 


Evo memeluk Dina. Dia sangat sedih mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Rafaelpun sedih.


 


 


  “Kamu pasti selamat, pasti,” ujar Evo memberi semangat.


 


 


*****


Malamnya.


 


 


  Bastian dan Evo kembali ke rumah pukul 10 malam. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Bastian hingga pulang selarut ini.


 


 


  “Bas,” ucap Evo mencegah kepergian Bastian untuk pergi ke kamar. Bastian membalik badan. Evo tampak ragu untuk bertanya.


 


 


  “Ada apa?” tanya Bastian akhirnya karena Evo tidak kunjung berbicara.


 


 


  “Kapan Mbak Meli akan pulang?” tanya Evo.


 


 


    Aduh, Evo kenapa malah bertanya tentang Mbak Meli?


   “Oh, dia. Sepertinya baru minggu depan Mbak pulang. Kenapa?”


 


 


   “Tidak, aku hanya rindu,” dusta Evo.


 


 


   “Kamu bisa menghubunginya sekarang,”usul Bastian.


 


 


    “Oh, baiklah.”


 


 


   Bastian membalikkan badannya, kemudian dia merasakan sakit di kepalanya. Bastian hampir saja terjatuh. Evo membawa Bastian ke sofa yang ada di ruang tamu.


 


 


   “Bastian? Apa yang terjadi padamu?” tanya Evo.


 


 


  “Tidak, aku hanya kelelahan saja.”


 


 


  “Tunggu di sini. Aku akan membuatkan teh manis hangat untukmu,” kata Evo.


 


 


  “Tidak perlu, Vo. Aku balik ke kamar saja,” ucap Bastian. Dia berusaha untuk berdiri tapi masih belum mampu untuk berdiri.


 


 


  “Diam di sini. Aku akan mengambil obat untukmu, dan mengambil minyak untuk memberikan ke lehermu.”


 


 


  “Tidak, tidak perlu.” Bastian berusaha berdiri lagi, tapi tidak kuat juga.


 


 


  Mata Evo menghardik Bastian. Dia jengkel dengan Bastian yang susah dibilangin. Evo memaksa Bastian untuk duduk.


 


 


  “Tetap duduk, dan jangan ke mana – mana. Apa kamu mengerti?” ucap Evo kesal. Bastian tidak bisa membantah lagi. Baru kali ini dia melihat Evo marah padanya.


 


 


  Setelah mengambil minyak dan membuat teh manis untuk Bastian, Evo kembali ke ruang tamu.


  “Minumlah,” pinta Evo. Perempuan itu memberikan secangkir teh manis pada Bastian. Bastian mengambil teh manis itu dari tangan Evo.


 


 


  “Terima kasih, Evo,” ucap Bastian.


 


 


  “Aku akan mengurutmu. Biasanya kalau kepalaku pusing, pasti Mamaku akan mengurutnya. Jadi rasa sakitnya berkurang.”


 


 


  “Benarkah?” tanya Bastian.


 


 


  “Buat apa aku bercanda tentang hal ini. Apa kamu mau mencoba?”


 


 


  Bastian mengangguk setuju. Akupun melakukan pemijatan terhadap Bastian. Tiba – tiba aku melihat sesuatu di leher Bastian.


 


 


  Tanda ini? Kenapa tanda di leher ini mirip sekali dengan tanda yang ada di leher Karel dulu?


 


 


“Bas.”


 


 


“Ya?” jawab Bastian.


 


 


“Sejak kapan tanda ini ada di lehermu?”


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤