MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Persiapan Pernikahan



Aku dan Maureen pergi dari kantor untuk merayakan kehadiranku lagi. Tadi Maureen sempat menelpon Dina, tapi Dina tidak bisa ikut. Hari ini dia dan Rafael akan pergi ke Jepang buat bulan madu.


" Aku tidak mengira, kalau Dina akan duluan menikah. Padahal aku kira kamu yang duluan menikah."


" Indra belum siap, Vo. Entah apa yang masih dia tunggu."


" Sudahlah, aku akan selalu mendoakanmu."


Hari ini aku begitu bahagia. Aku dan Maureen saling bercerita selama kami tidak bertemu. Banyak perubahan yang terjadi di Perusahaan Bagas. Dari Lisa yang keluar dari perusahaan. Pak Freddy yang sakit, dan kenaikan pangkat Maureen. Padahal cuma satu bulan, semua sudah begitu cepat berlalu.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Kami harus segera balik ke kantor. Bagas pasti sudah menungguku.


"Terima kasih untuk kebahagian hari ini, Vo. Jangan pergi tanpa meninggalkan pesan untuk kami," nasehat Maureen padaku.


" Siap, Maureen."


Seperti dugaanku, Bagas sudah menunggu di lobby depan kantor.


" Wah, mentang-mentang sudah lama tidak berjumpa sampai lupa sama aku," ucap Bagas.


" Selamat sore, Pak," sapa Maureen hormat.


" Dari pada aku menunggumu di rumah, lebih baik aku mengunjungi sahabatku," kami bertiga tertawa.


" Vo, kamu tidak berniat untuk kembali ke kantor ini? Bagian editor membutuhkan orang profesional sepertimu." Maureen bertanya padaku.


" Aku setuju dengan Maureen, kembalilah bekerja," Bagas sepakat dengan Maureen.


" Nanti aku pikirkan ya, Ren. Aku sedang asyik menulis novel. Lagi menggarap novel yang ketiga."


" Wow, ternyata calon istriku punya bakat jadi penulis ya,".puji Bagas.


" Stop, Bagas. Pujianmu membuatku mual," candaku membuat Maureen tertawa.


" Aku senang kalian bersatu lagi. Semoga semuanya cepat selesai ya."


" Aku janji akan menjaga Evo dengan sungguh-sungguh," Bagas bersumpah.


" Aku percaya padamu, Pak," jawab Maureen.


Setelah perbincangan itu, kami pun berangkat ke rumah Bagas. Sepanjang perjalanan, aku berdoa, biar semuanya lancar. Rencana pernikahanku dengan Bagas, dan kedua orang tua Bagas mau menyetujuinya.


Sesampainya di rumah Bagas, aku terheran-heran melihat rumahnya. Rumah Bagas seperti rumah seorang artis. Sangat besar. Jalanan rumah ke depan pintunya aja cukup jauh. Aku semakin minder dengan semua ini.


" Bagas, aku takut," ujarku setelah kami tepat di depan pintu rumahnya.


" Tenanglah, ada aku," ucap Bagas menenangkan hatiku. Bagas menggandeng tanganku. Dia membawaku masuk ke dalam rumahnya. Rumah ini begitu besar, tapi kenapa aku merasa rumah ini begitu tidak bersahabat.


" Bagas, akhirnya kamu menemukan Evo,"Bu Lina menyambut kami dengan penuh haru.


" Oh, my dear, ke mana saja kamu? Bagas benar-benar merindukanmu sayang," ucap Bu Lina membuatku mual. Betapa munafiknya dia. Bu Lina memelukku.


" Papa ada di mana, Ma?" tanya Bagas.


" Papa di kamar sayang, dia sudah lama menunggumu. Cepat-cepat masuk ke kamar," Bu Lina melepas pelukannya padaku. Aku dan Bagas pun mengikuti Bu Lina masuk ke kamar Pak Freddy.


" Bagas, akhirnya kamu datang juga sayang."


Bagas menghampiri Papanya. Ia duduk di sebelah papanya.


" Pa, aku dan Evo berencana menikah bulan depan. Papa dan Mama setujukan?"


" Kabar yang baik sekali, Bagas. Mama sudah tidak sabar menunggu hari itu," ucap Mama langsung merangkul aku.


" Bagaimana dengan Papa? Papa setujukan?" tanya Bagas lagi.


" Apapun yang membuatmu bahagia, pasti Papa setuju," ucap Pak Freddy membuat Bagas bahagia. Dia mencium papanya, kemudian menghampiri mamanya. Ya, pernikahan Bagas dan aku sudah disetujui. Bukan, bukan disetujui tapi kedua orang tua itu pura-pura menyetujuinya.


" Makan malamlah di sini, mama sudah masak makanan yang enak buat kalian," kata Bu Lina, kemudian mempersilahkan kami ke ruang makan. Kami pun keluar untuk makan.


" Mengapa sulit sekali untuk memisahkan mereka berdua, Pa?" tanya Bu Lina kesal ketika aku dan Bagas sudah diluar.


" Kita atur strategi. Biarkan mereka merancang pernikahan mereka. Ketika sudah tiba hari pernikahannya itu, kita gagalkan," ucap Pak Freddy. Bu Lina pun setuju.


" Bagaimana masakan mama?" tanya Bu Lina keluar dari kamar Pak Freddy.


" Enak, Ma. Mama memang andalanku," puji Bagas.


" Terima kasih sayang. Bagaimana masakan mama, Vo?" tanya Bu Lina basa-basi.


" Enak, Bu Lina," jawabku.


" Mulai sekarang belajar menyebut saya Mama."


" Eh, tapi Bu...."


" Benar kata Mama, Vo. Sebentar lagikan kita resmi jadi suami istri. Mamaku akan menjadi mamamu."


" Aku setuju denganmu, Bagas."


" Baiklah, Mama. Makanan mama enak sekali," pujiku tulus.


" Nanti setelah menikah, aku harap kalian berdua tinggal di sini. Menemani kami yang sudah tua ini," pinta Bu Lina.


" Boleh, Ma. Nanti aku akan tinggal di sini. Oh, ya Ma, Charlotte di mana? Kenapa aku tidak lihat dia?"


" Charlotte belum pulang, ada temanya yang ulang tahun," jelas mama. Charlotte adalah adik perempuan Bagas.


" Bagas dan Evo balik ya, Ma."


" Evo tinggal di apartemenmu?"


" Ya, Mama. Aku tidak mau Evo hilang lagi. Kalau sampai Evo hilang, aku pasti ikut hilang," ucap Bagas. Bu Lina hanya senyum menanggapinya.


Kami pergi meninggalkan rumah besar itu. Di jalan Bagas begitu senang. Dia memegang tanganku.


" Aku ingin segera kamu menjadi milikku selamanya. Menjadi ratu dalam hatiku," Bagas mencium tanganku.


" Terima kasih, Bagas."


❣❣❣


Persiapan pernikahanpun sudah di mulai semenjak seminggu yang lalu. Bagas yang begitu antusias, membeli segala perlengkapan pernikahan kami.


" Hari ini kita beli gaun pernikahanmu," kata Bagas, ketika kami sedang sarapan.


" Sebelum kita ke butik, bolehkah aku ke kantor Rafa? Novelku yang ketiga ingin kuterbitkan di sana."


" Boleh. Kalau begitu, aku akan menyuruh supir untuk mengantarmu. Aku ke kantor sebentar untuk menandatangi kontrak bazar."


" Bazaar? Bazaar apa?" tanyaku lalu minum seteguk susu coklat.


" Mereka minta dana dari perusahaan kita, mereka mau mengadakaan sebuah bazar yang akan dihadiri oleh pengusaha-pengusaha muda."


" Wah, keren sekali ide orang itu. Kapan diadakan bazaar tersebut? Aku jadi ingin ikut," ucapku pada Bagas.


" Nanti aku kabari kamu. Sekarang aku harus berangkat. Sampai ketemu lagi sayang," pamit Bagas lalu mencium dahiku.


❣❣❣


" Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini, Vo," ucap Rafael di ruangannya.


" Iya, Fa. Aku pun tidak menyangka kamu menikah dengan Dina."


" Itu berkat dirimu, Vo."


" Tidak, tidak itu karena kegigihanmu meminta maaf pada Dina."


Ya, Rafael tidak menyerah dengan sikap Dina yang begitu dingin padanya waktu itu. Rafael tahu cinta Dina hanya untuknnya.


" Sudah-sudah jangan membahas aku. Ke mana kamu selama satu bulan itu, Vo?"


" Aku dijual, Fa sama Mama Bagas, tapi ada laki-laki yang baik yang menolongku."


" Serius kamu mau dijual? Lalu apakah kamu tidai cerita dengan Bagas?" tanya Rafael tak percaya dengan kisahku.


" Aku sudah cerita, Fa. Bagas tidak percaya. Hingga ia mengajakku berkunjung ke rumahnya untuk mengajukan pernikahan kami pada orang tuanya "


" Lalu apa yang dilakukan mereka setelah melihatmu?"


" Mereka pura-pura sedih, dan mau menerima pernikahan ini."


" Apakah kamu mau nikah dengan Bagas, Vo?" tanya Rafael menatap mataku dengan lekas.


" Ya, Fa. Aku akan menikah dengan Bagas."


" Menikah tidak main-main, Vo. Ini berlaku untuk selamanya. Kalau kamu tidak tepat memilih pasangan hidupmu, kamu akan menderita."


" Aku sudah tidak suci lagi, Fa," akhirnya aku mengungkapkan rahasia ini.


" Apa? Apa kamu serius?" tanya Rafael tidak percaya.


" Aku terpaksa menjual diriku padanya. Aku tidak punya uang saat itu untuk perobatan Mama. Pada akhirnya, dia membeliku. Dia melakukan hal itu padaku."


" Jadi apa karena hal itu kamu menolakku?" Rafael tidak percaya. Perkataanku seperti petir bagi dia.


" Ya, Fa. Tapi untungnya aku menolakmu. Kamu jadi bisa bertemu dengan Dina dan menikahi Dina."


Seandainya aku tahu itu, Vo, aku tidak akan meninggalkanmu. Ucap Rafael dalam hati.


" Sudahlah, jangan membahas masa lalu. Aku mau mengajukan novel ketigaku," kataku mengalihkan topik Rafaelpun mengambil berkas novel tersebut dari tanganku.


" Coba aku pelajari ya, Vo," ujar Rafael lagi


" Oke."


❣❣❣


Siangpun berlalu, Bagas menjemputku di kantor Rafael.


" Rafael, saya minta maaf telah membuat keributan di pesta pernikahanmu," Bagas meminta maaf. Rafael menjabat tangan Bagas.


" Tidak masalah. Sukses dengan rencana pernikahan kalian," ucap Rafael tulus.


Seteleh berbincang sedikit dengan Rafael, kami berdua memutuskan untuk pergi. Hari ini mau ke butik mau beli gaun pernikahan. Bagas sudah memilih butik untuk gaun pernikahanku. Dia telah meminta perancang hebat untuk membantu membuatkan gaun dan jas terbaik untuk kami.


Aku mencoba contoh-contoh baju pernikahan, tetapi tidak ada satupun yang menarik perhatian Bagas.


"Ayolah, Bagas. Cepat pilih, aku sudah bosan di sini."


" Baik, baik sayang," ucap Bagas. Akhirnya Bagas memilih gaun warna pink yang begitu mewah.


" Aku tidak sabar menantikan pesta pernikahan kita. Kamu cantik banget, Vo."