MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Mempersatukan Dina dan Rafael



Di Mall XXX


" Aku beli tiket dulu ya," ujar Maureen lalu pergi membeli. Hari ini kami berencana nonton bareng. Aku juga mengajak Rafael untuk nonton bareng kami. Tadi pagi ia memberi pesan padaku agar membantu dia untuk berbaikan dengan Dina.


" Evo, kita beli makanan dan minum dulu yuk," ajak Dina.


Aku hanya mengangguk, tapi dari kejauhan aku melihat sosok Rafael sudah tiba di bioskop. Lalu aku meminta izin pada Dina, " Kamu duluan ya. Aku mau ke toilet dulu."


Aku memantau dari kejauhan. Rafael menghampiri Dina. Wanita itu tampak terkejut.


" Kenapa kamu ke sini?" tanya Dina jutek.


" Aku mau nonton. Masa iya ketemu kamu," jawab Rafael santai. Lelaki itu tahu betapa benci Dina pada dirinya, tapi dia harus meminta maaf dan menyelesaikan masalah ini. Tiga tahun Rafael mencari Dina, tetapi wanita itu menghilang seperti ditelan bumi. Pria itu putus asa, hingga akhirnya dia bertemu Evo. Wanita yang mampu membuka hati Rafael.


" Di mana Evo?" tanya Maureen yang sudah selesai membeli tiket.


" Ada Pak Rafael juga rupanya. Kebetulan sekali, mau nonton apa, Pak?"


" Jangan panggil, Pak kalau di luar. Panggil nama saja," Rafael tidak mau ada kecanggungan.


" Sepertinya ada film terbaru ya. Aku mau nonton film tersebut."


" Wah, kami juga mau nonton itu. Rafael sudah beli tiketnya? Duduk dekat kami saja. Tenang saja, kamu bukan cowok sendiri kok, nanti pacarku juga ikut nonton," ajak Maureen


" Aku mau-mau aja, tapi ada yang tidak suka dengan kedatanganku," Rafael melirik Dina. Kemudian aku mendatangi mereka. Padahal dari kejauhan aku mengamati mereka.


"  Ren, Apa kamu sudah membeli tiket? Eh, ternyata ada Rafael, sedang apa disini?" tanyaku pura-pura.


" Dia mau nonton katanya. Film yang ditonton sama kaya kita, terus aku ajak aja Rafael soalnya dia nonton sendirian. Rafael menolak," Maureen menjelaskan.


" Loh, kenapa Fa?" aku bertanya lagi.


" Ada yang tidak suka dengan kehadiranku," jawab Rafael singkat.


" Tidak usah menyindir aku, kalau kamu mau ikut ya silahkan. Aku tidak pernah melarang kamu," ucap Dina ketus. Rafael hanya tersenyum menanggapinya. Dia percaya sekali Dina masih mencintainya. Kemudian Rafael membeli tiket duduk dengan kami. Pacar Maureen pun sudah tiba di bioskop. Kami menonton bersama. Film yang kami tonton durasinya cukup lama. Durasi film tersebut dua jam. Kami menikmati film tersebut, hingga tidak terasa dua jam telah berlalu.


" Kita makan malam dulu yuk," ajak Maureen.


" Kamu laparkan sayang?" tanya Maureen pada pacarnya. Pacar Maureen mengangguk.


" Sepertinya aku tidak bisa, Bagas mengajakku pergi malam ini," ujarku pada mereka.


" Aku juga mau pulang," ucap Dina.


" Loh, Pak Bagas sudah di Indonesia lagi, bukannya kata Mbak Meli beliau ke Malaysia?" tanya Maureen tidak percaya.


" Dia bilang mau makan malam sama aku," ucapku lagi.


" Orang kaya bebas ya. Mau makan malam di mana saja terserah," kata Maureen membuat kami tertawa. Bagas memang orang kaya, apa saja bisa dia beli.


" Aku juga mau pamit kalau begitu," ujar Rafael pada kami.


" Apa?" tanya Rafael.


" Aku dan Dina menumpang di mobilmu ya,"ujarku.


" Aku tidak usah ikut. Aku naik taksi saja." Dina mengelak.


" Dina, aku mohon, untuk kali ini saja. Hari ini kita bareng Rafael ya. Kalau Bagas tahu aku dianter Rafael tanpa ada teman, nanti Bagas akan marah padaku," aku memberi alasan. Akhirnya Dina berhasil dibujuk.


Disepanjang perjalanan aku dan Rafael yang berbicara. Dina hanya menjadi pendengar yang baik. Kalau ditanya jawabannya hanya singkat. Tibalah kami di restoran tempat aku dan Bagas janjian. Aku mengabari Bagas bahwa aku sudah tiba ditempat perjanjian.


Bagas menghampiri mobil kami. Aku turun dari mobil Rafael, begitu juga dengan yang lain.


" Hai, Rafael," sapa Bagas lalu menjabat tangan Rafael.


"Terima kasih sudah mengantar calon istriku," kata Bagas. Pria itu menekan pengucapan calon istri saat mengucapkannya. Rafael yang lebih dewasa hanya tersenyum menanggapi.


" Eh, belum resmi ya!" aku membantah. Bagas memelototiku. Dia kesal dengan ucapanku,


" Selamat ya, Evo pantas untukmu. Aku tunggu undangannya," Rafael mengucapkan dengan tulus. Bagas langsung tersenyum bangga. Dasar anak kecil. Ucapku dalam hati.


" Ayo ikut kami makan," ajak Bagas riang.


" Terima kasih untuk ajakannya, kami pulang dulu."


" Kami? Kata siapa aku tidak mau ikut? Aku dengan senang hati menerima tawaran Pak Bagas," ujar Dina. Aku dan Rafael saling memandang. Terpaksa Rafael ikut dengan kami. Kamipun makan malam bersama. Makanan yang kami makan enak semua. Seperti biasa Bagas menyewa satu restoran untuk kami. Dasar orang kaya, buang-buang uang saja. Bagas dan Rafael semakin akrab. Dina dan aku juga saling berbincang, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Aku melihat jam, waktu menunjukkan pukul dua belas malam.


" Bagas, ayo pulang. Sudah jam 12 malam," ajakku. Bagas melirik jam tangannya. Dia mengangguk setuju.


" Tidak terasa ya makan malam hari ini," ujar Bagas lagi. Kamipun bersiap-siap untuk pulang.


" Dina, kamu pulang sama siapa?" tanyaku.


" Biar Dina aku yang mengantar, Vo. Kamu jangan khawatir," ujar Rafael menawarkan diri.


" Tidak usah, aku pulang sendiri saja," Dina enggan ikut Rafael.


" Aku setuju dengan Rafael, kamu bareng Rafa aja ya, Din," timpalku. Dina tetap tidak mau ikut dengan Rafael.


" Ini bukan tawaran, tapi perintah dariku," ujar Rafael membuat aku dan Bagas saling memandang. Rafael bisa galak juga ya. Akhirnya dengan perasaan terpaksa, Dina mau ikut dengan Rafael. Aku membisikkan sesuatu pada Rafael. Membuat Bagas dan Dina kepo.


Di mobil.


" Apa yang kamu bicarakan sama Rafael?" tanya Bagas sesuai perkiraanku.


" Ada aja," jawabku singkat.


" Sekarang sudah mulai berani ya sama aku?" ujar Bagas nakal. Dia mendekatkan dirinya ke arahku. Aku menjauhi dirinya. Malu, karena ada supir juga di dalam mobil.


" Ada orang Bagas," aku memperingati. Bagas tidak peduli, lalu dia mencium diriku penuh dengan cinta.