
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Keesokan paginya.
“Jangan, jangan! Tidak mau!!” teriakku.
Bastian terbangun dari tidurnya mendengar teriakanku. Dia langsung memeluk diriku dengan erat, “tenanglah, Evo. Tidak ada yang menyakitimu kamu.”
Aku mengeratkan pelukanku pada Bastian. Aku sangat ketakutan. Indra seperti kerasukan setan ingin menodaiku. “Indra, Indra! Dia mau menodaiku!”
“Evo, lihatlah. Ini rumah sakit. Kamu tidak lagi bersama dengan Indra. Kita sudah aman, Vo,” ucap Bastian sambil memegang wajah aku agar aku menatap dirinya.
Aku menatap mata Bastian, kemudian mengamati sekelilingku. Benar, tidak ada Bastian di sini. Dia tidak ada. Hatiku mulai sedikit lebih tenang.
Dengan lembut Bastian membantuku memperbaiki posisi tidurku di ranjang, setelah itu dia menghapus air mataku yang sempat muncul tadi.
“Ini di mana?” tanyaku.
“Kita sedang di rumah sakit. Kemarin kamu pingsan,” jelas Bastian.
Aku menarik tangan Bastian, perasaan takutku mulai muncul kembali,”Di mana Indra?”
Bastian memelukku lagi. Tangannya mengelus punggungku dengan lembut. “Dia sudah di dalam penjara. Tidak ada lagi yang akan menyakitimu. Jadi tenanglah.”
Mendengar ucapan Bastian, aku kembali tenang. Aku melepaskan pelukan Bastian dari tubuhku.
“Maaf,” ucapku.
Bastian kembali duduk di kursinya. Dia tersenyum senang melihat kondisiku sudah membaik. Masih teringat dibenaknya kejadian tadi malam. Bagaimana Indra hampir menodai gadis yang dia cintai?
“Bagaimana wajah kamu? Apa masih sakit?” tanya Bastian menyentuh wajahku.
Aku menggeleng kepala, lalu berkata, “Tidak, sudah membaik, Bas.”
“Permisi,” ucap perawat mengantarkan sarapan. Perawat tersebut meletakan makan tersebut di meja samping diriku. Setelah selesai, dia pamit keluar dari ruangan.
“Makan ya. Dari kemarin sore perut kamu tidak diisi oleh makanan,” ucap Bastian. Bastian mengambil makanan tersebut. Dia membuka plastik yang menutup makanan itu, lalu mengambilnya dan menaruh di depan dia.
Bastian menyendok makanan tersebut, kemudian menyuapin diriku. Bener juga, dari kemarin sore, perutku tidak diisi. Untung saja aku ada bantuan infus, aku masih kuat, kalau tidak pasti aku akan pingsan.
Dengan telaten Bastian menyuapiku makan.
“Uhuk, uhuk,” aku terbatuk. Dengan segera Bastian mengambil minuman dan memberikannya padaku.
Setelah aku selesai minum, dia melap sisa air yang ada di mulutku menggunakan tissue.
“Pelan – pelan.”
Aku mengangguk tanda mengerti perintahnya. Kupandangi Bastian dengan perasaan takjub. Dia sunggh banyak membantuku akhir – akhir ini. Tanpa dia mungkin sekarang aku sudah menjadi gelandanga.
“Bas,” panggilku setelah Bastian selesai menyuapiku makan. Dia sedang asyik merapikan tempat makan yang kotor.
“Apa? Apa ada yang mau kamu inginkan?” tanya Bastian membalikkan badannya.
“Apa tadi malam kamu tidak pulang ke rumah?” aku balik bertanya.
Bastian kembali duduk di kursi yang tepat ada di sampingku. Dia memegang tanganku lalu menjawab pertanyaanku, “Apa kamu pikir aku pacar yang tega meninggalkan pacarnya sendiri di rumah sakit?”
“Tapi…, tapikan kita hanya ….”
Dengan tangan satunya, Bastian menutup mulutku untuk tidak melanjutkan bicaraku. Tiba – tiba getaran itu datang lagi. Getaran yang tidak bisa aku deskripsikan dengan kata – kata. Perasaan apa ini?
Aku menatap mata Bastian yang sedang menatapku. Tatapan mata Bastian berbeda sekali dengan Bagas. Mata Bastian penuh dengan kelembutan dan ketulusan, kalau mata Bagas penuh dengan napsu dan amarah.
“Kata siapa hanya bohongan? Kamu memang kekasih aku,” ucap Bastian sambil tersenyum.
Aku terkejut mendengar ucapan Bastian, tapi aku yakin itu hanya untuk menyenangkan hatiku saja. Aku tidak boleh menyimpan serius ucapannya.
“Terima kasih, Bas. Kamu memang sahabatku yang paling baik.”
“Salah! Kekasih yang baik,” ujar Bastian memperbaiki kata – katanya.
“Tapi, aku masih mencintai Bagas, kamu tahu itu. Maafkan aku,” kataku jujur.
“Aku….” Kata diriku.
“Sampai kamu kembali pada Bagas, kamu adalah pacarku sekarang. Jadi jangan membantahku,” pinta Bastian.
Aku tidak mengerti jalan pikiran Bastian. Dia tahu aku sudah punya pacar, tapi dia menganggap aku sebagai pacarnya. Apa jangan – jangan dia menyukaiku?
“Bas….” panggilku lagi.
“Ya?”
“Aku….” Kataku tapi terpotong dengan kedatangan Mbak Meli.
“Hai, selamat pagi!” ucap Mbak Meli masuk ke ruang kamarku.
“Hai, Mbak Mel,” sapaku.
Mbak Meli masuk dengan membawa tas yang cukup besar. Dia meletakkan tas itu di sofa yang ada di kamar ini. Kamar perawatanku cukup luas karena Bastian memberikan fasilitas VIP untuk diriku. Aku sangat yakin biaya perawatanku sangat mahal.
Mbak Meli membuka tas tersebut, dia mengeluarkan beberapa baju dan memasukkan ke dalam lemari yang ada di sini.
“Kenapa Mbak Meli membawa banyak baju untukku?” tanyaku heran.
“Loh bukannya kamu harus tinggal di sini untuk beberapa hari?” tanya Mbak Meli balik.
Bastian yang melihat tingkah kakaknya langsung menepuk jidat. “Mbakku sayang, Evo sudah boleh pulanh hari ini,” kata Bastian menjelaskan.
“Ya, aku pikir akan lama Evo di sini,” sesal Mbak Meli.
Mbak Meli memberikan baju kepada Bastian, “Ayo kamu mandi dulu. Sudah bau dari kemarin kamu belum mandi.”
“Iya, iya. Kamu datang membawa keributan aja, Mbak. Tadi tanpa kamu suasana sangat menyenangkan.”
“Terserah apa katamu. Aku tidak peduli. Kamu bau, nanti Evo kebauan!” omelnya.
Aku tertawa geli melihat tingkah Mbak Meli. Dia mendorong Bastian menuju ke kamar mandi yang ada di kamarku. Mbak Meli sudah seperti ibu Bastian saja.
“Iya, aku mandi. Tidak usah didorong seperti itu!” kesal Bastian.
Bastian sudah masuk ke kamar mandi. Mbak Meli menghampiriku sambil bergerutu, “Susah sekali di suruh mandi saja.”
“Mbak Meli lebih terlihat seperti Mama ketimbang kakaknya,” komentarku masih tertawa geli. Mbak meli menggaruk kepalanya. Memang sejak kecil Bastian selalu dirawat Mbak Meli. Mereka sangat akrab satu sama lain.
“Dulu aku sangat ingin punya asik laki – laki. Jadi ketika Mama melahirkan adik laki – laki aku bersumpah pada diriku akan menjaga adikku tersebut. Membuat dia bahagia, dan mencarikannya seorang istri yang baik.”
“Kamu memang luar biasa, Mbak. Aku iri, aku jadi pengen punya kakak juga,” jujurku.
Seketika itu juga Mbak Meli memeluk diriku. Wanita itu tahu bahwa diriku hanya sebatang kara di dunia ini. Papa dan Mama sudah meninggal. Aku tidak punya saudara kandung.
“Kalau begitu, sekarang kamu adalah adik perempuan aku!” kata Mbak Meli masih memeluk diriku.
“Terima kasih, Mbak. Aku senang punya kakak seperti kamu.”
“Tapi tidak- tidak kamu jangan jadi adik aku, bagaimana kalau kamu menikah dengan Bastian? Jadi kamu adalah adik ipar aku!” Mbak Meli mengeluarkan ide gilanya.
BERSAMBUNG
Ada yang setuju dengan Mbak Meli untuk menjodohkan Bastian dan Evo?
*****
NEWS!!
Ada cerita baruku judulnya : CINTAI AKU, MR. KANEBO!
Silahkan dibaca, like, komment, bintang 5 dan share sebanyak - banyaknya. Terima kasih.
❤❤❤