
" Rafa...." Setelah beberapa menit, aku mengeluarkan suara. Rafael yang masih memelukku, kemudian melepaskan pelukannya. Dia menatap diriku. "Aku ingin bicara jujur padamu".
" Sudahlah, Vo. Tidak usah dibahas ya. Aku tidak mau melihatmu menangis seperti ini lagi."
" Tapi...."
" Aku ikhlas kalau kamu menolakku, tapi aku mohon jangan menyuruhku untuk membencimu."
" Rafael...," air mataku kembali mengalir, namun aku cepat-cepat menghapusnya.
" Ya ampun, kenapa kamu jadi secengeng ini sih?" Rafael memberikan sapu tangannya padaku. Lalu pelayan datang memberikan pesanan kami.
" Ayo, kita segera makan! Nanti makanannya ke buru dingin." Aku dan Rafael makan dengan tenang. Pria ini membuat diriku begitu damai. Setiap kata dari mulutnya memancarkan kedamaian. Tidak seperti Bagas. Tuhan, seandainya aku tidak bertemu dengan Karel lagi, bolehkah aku bersama dengan Rafael? Bolehkah?
" Ada makanan dibibirmu," Rafael berucap lagi. Dia memandangku yang begitu lahap makan. Selera makanku akhir-akhir ini tidak baik.
" Di mana? Sini? Ini?" tanyaku samb aku menunjuk segala sisi bibirku, tapi masih salah. Lalu Rafael membersihkan sisa makanan yang ada di bibirku dengan tangannya.
" Ini loh....," tunjuk Rafael, padahal tidak ada makanan apapun yang ada ditangan dia.
" Rafael nakal!" ujarku sambil tertawa.
" Ya ampunnnnnnnn!!!" teriak Rafael.
" Ada apa? Kenapa?" tanyaku bingung.
" Tolong kalau aku katakan ini, kamu jangan langsung menengok."
Aku mengangkat satu alisku, tanda aku bingung. "Apa maksudnya?"
" Dengarkan, dengarkan. Pelan-pelan kamu menengok ke belakang. Ada perempuan cantik yang membuatku terpesona pada pandangan pertama."
Aku mengikuti perintah pria itu. Padahal baru tadi dia bilang kalau dia mencintaku. Pelan-pelan aku membalikkan badanku. Siapa gerangan wanita yang membuat dia begitu terpesona?
" Cepat sedikit, nanti dia pergi," ucap Rafael lagi. Aku pun segera membalikkan badan. Aku tersenyum sendiri. Wanita yang dimaksud Rafael adalah aku. Ketika aku membalikkan badan, ada sebuah kaca besar yang memperlihatkan diriku.
"Cantikkan perempuan itu? Dia lagi tersenyum sekarang membuat hatiku bahagia."
" Dasar cowok gombal."
.
.
.
.
.
" Terima kasih sudah mengantarkanku," ucapku dengan tulus.
" Hubungi aku kapanmu kamu mau. Aku pasti datang dengan segera."
" Pulang sana sudah malam".
" Kamu masuklah, biar aku tahu kamu aman sampai ke rumah," Rafael tersenyum di dalam mobilnya. Kemudian aku masuk. Rafaelpun pergi.
.
.
.
Keesokan hari di PT Pratama.
" Apa yang kamu lakukan, Evo? Kenapa pekerjaanmu begitu berantakan?" Lisa memulai pertengkaran.
" Kalau kamu tidak bisa bekerja, silahkan keluar dari kantor ini," lanjut Lisa.
" Sudah salah bukan minta maaf malah menyanggah," Lisa melempar kertas itu ke mukaku. "Cepat perbaiki! Kalau ngga becus kerja mending keluar dari sini!"
Aku memungut kertas yang terjatuh di lantai setelah dilempar tadi. Kemudian aku keluar dari ruangan Lisa. Ketika keluar aku melihat Bagas duduk di kursiku. Haduh, kenapa masalahku ngga selesai-selesai?
" Permisi, Pak. Saya mau duduk, mau mengerjakan tugas saya," kataku padanya.
" Dari mana kamu? Kenapa semalam tidak pulang ke apartemen?"
" Bisakah kita membicarakan hal ini nanti, Pak? Aku harus memperbaiki pekerjaanku yang salah."
Bagas menarik kertas yang ada di tanganku, lalu merobeknya. Maureen dan Mbak Meli yang menyaksikan kejadian tersebut membelalak matanya. Mereka terkejut.
" Aku tidak peduli dengan pekerjaanmu! Aku menyuruhmu untuk masuk ke ruanganku! Sekarang!" perintah Bagas dengan emosi.
Akupun mengikuti Bagas menuju ke ruangannya.
"Foto apa ini? Apakah kamu juga menjual dirimu pada lelaki ini?"
" Aku tidak sehina itu Bagas!" bantahku.
" Di depan orang banyak kalian berpelukan, jangan-jangan tadi malampun kalian melakukan hal tersebut!"
" Pikiranmu yang merusak dirimu, Bagas. Aku tak sehina itu, Bagas menghampiriku, lalu menarik rambutku, kemudian mencium bibirku.
" Tapi kamu sudah hina, Evo. Seandainya cowok itu tahu kamu menjual dirimu padaku karena uang, apakah dia akan tetap disisimu?"