
" Berapa yang harus saya bayar untuk membeli wanita ini?" aku mendengar seseorang berkata seperti itu. Aku membuka mataku. Aku melihat tubuhku diikat, mulutku di tutup. Apa yang terjadi pada diriku? Siapa yang berusaha untuk menjualku? Aku coba mengingat, mengapa aku bisa di sini. Aku bertemu dengan Bu Lina, ibu dari Bagas. Kami membicarakan keputusanku yang tidak ingin pergi meninggalkan Bagas. Lalu aku meminum secangkir teh, setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Jangan-jangan, teh yang diberikan sudah dicampur obat tidur.
Orang yang mau membeli aku adalah seorang lelaki tua. Sepertinya dia sama denganku, dia bisa menggunakan bahasa Indonesia. Pria tua itu memberikan sebuah tas yang berisi uang kepada seseorang. Aku tidak bisa melihat siapa orang tersebut karena orang itu membelakangi pria tua itu. Setelah mereka sepakat, yang menjualku pergi meninggalkan kami.
Pria tua itu menghampiriku, dia sadar aku sudah bangun dari tidur panjangku. "Selamat pagi, pelayan baruku. Selamat menikmati menjadi pelayanku,"ujar lelaki itu membuatku semakin takut. Dia membuka ikatan dari mulutku, lalu mencium paksa diriku. Aku menggigit bibir lelaki itu. Aku tidak sudi bibirku dicium olehnya.
" Saya suka dengan wanita kuat seperti kamu," lelaki itu membuka tangan dan kakiku dari ikatan tali. Lalu dia menamparku. Dia merobek bajuku, dan melakukan hal yang tidak baik. Ketika hasratnya sudah tinggi, aku menendang dia dengan keras hingga ia terjatuh ke lantai.
" Wanita brengsek!" Umpat lelaki tua itu, dia mengejarku dan menarik tanganku, Dia menampar, memukul, dan menendangku. Aku menangis kesakitan.
" Jangan macam-macam kamu, sekarang kamu harus melayaniku!" Dia menjambak rambutku, lalu melakukan hal buruk padaku. Dia memaksakan hasratnya padaku. Bagas, tolong aku. Jeritku dalam hati.
"TOLONGG!!!! TOLOOONG AKUUU!!!!!" aku teriak minta tolong. Berharap ada yang mendengarku.
" Diamlah sayang, nikmatilah semua ini. Percuma kamu berteriak, tidak akan ada yang mendengarmu," lelaki itu terus memperlakukanku dengan buruk, dengan sekuat tenaga aku mencoba menendang dia untuk kedua kalinya. Dia pun terjatuh lagi. Aku berlari, dan membuka pintu. Aku berlari sekuat tenagaku.
" Dasar wanita brengsek, kembali kamu!!"
Lobby di hotel begitu sepi, lelaki itu mengejar aku. Lift masih dalam keadaan tertutup. Pria hidung belang itu masih mengejarku. Tuhan, tolonglah aku. Lift terbuka, aku langsung masuk tanpa peduli ada yang keluar.
BRUK! Aku menabrak seseorang. Dia seorang lelaki. " Tolong, aku mohon tolonglah aku."
"Wanita tidak untung kemari kau!" Pria itu hampir mendekat dariku. Buru-buru laki-laki yang dilift menutup pintunya.
" Terima kasih," kataku lagi sambil menangis. Lututku gemetaran, aku tak tahan menahan diriku, aku terjatuh. Laki-laki itu menopangku. Kemudian dia membuka jaketnya dan memakaikan padaku. Seketika itu juga aku pingsan.
" Hai, kamu sudah bangun dari tidurmu," sapa seseorang.
" Aku, aku, di mana aku?"
" Ini apartemenku. Jangan khawatir, kamu aman di sini," ucap lelaki itu. Lelaki itu memberikan segelas air putih untukku. Aku mengambil dari tangannya, lalu meneguknya.
" Mengapa kamu bisa di kejar orang itu?" tanya dia. "Kamu pasti bukan orang sini."
" Aku dijual oleh calon mertuaku. Aku ke sini mau mengadakan pesta pembukaan perusahaan calon suamiku. Mereka tidak menyetujui pertunangan ini,".ceritaku.
"Jadi begitu ceritanya. Jadi calonmu tidak tahu kamu dijual?"tanyanya.
" Ya, dia tidak tahu, tapi terima kasih kau telah menolongku."
" Tidak usah sungkan," ujar pria itu sambil tersenyum. Senyumnya begitu manis sekali. Matanya seperti aku pernah kenal sebelumnya. "Sepertinya kamu belum makan, aku pesankan makanan dulu untukmu ya."
Pria itu mengambil gagang telepon, lalu memencet sebuah nomor, lalu memesankan makanan untuk kami. Pria ini sepertinya seumuran denganku. Perasaanku mengatakan aku merasa seperti sudah lama mengenalnya.
" Siapa namamu?" tanyaku padanya.
" Bastian. Karel Bastian."