
Sebelum kalian membaca kelanjutan
ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan
kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima
kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Tempat makan Evo dan Indra.
"Terima kasih telah menemaniku
makan," ucap Indra.
"Hahaha, aku tidak menemani
kamu makan. Kita bertemu di sini tadi," jelas aku.
"Ke mana kamu habis ini?"
tanya Indra. Aku dan Indra sudah selesai makan siang.
"Hari ini aku mau pindah
rumah," ucapku.
"Oh, ya? Kenapa pindah?"
tanya Indra penasaran.
Aduh, aku keceplosan, kataku dalam
hati.
"Tidak apa - apa. Sudah jangan
dipikirkan," ucap aku pada Indra.
"Apa mau aku bantu untuk
pindah?" tanya Indra memberikan bantuan.
"Tidak, tidak usah. Sebentar
lagi Bagas akan pulang. Terima kasih bantuannya," ucap Indra.
*****
Ruang Kantor Bagas.
“Bagaimana ini Papa? Bagas pasti
tidak jadi di pecat!” Ujar Bu Lina khawatir.
“Papa juga heran. Kenapa di saat
seperti ini malah ada yang membantu dia! Apalagi dia pemilik saham yang
terbesar kedua,” ucap Pak Freddy bingung.
“Bagas harus segera kita pecat, agar
rencana kita selanjutnya berhasil, Papa. Ayo Papa pikirkan cari lain untuk
memecat Bagas,” desak Bu Lina kepada suaminya, Pak Freddy.
“Iya, Ma. Iya. Ini Papa sedang
berpikir,” kata Pak Freddy lagi.
Pak Freddy mengambil telepon
genggamnya, lalu menekan nomor, setelah itu menghubungi telepon tersebut.
“Halo,” sapa Pak Freddy.
“Halo, Pak Freddy,” sapa orang itu
balik.
“Saya mau tanya suatu hal padamu
selaku pengacara Perusahaan Pratama. Apakah saya sebagai pemegang sahan
tertinggi dapat memecat Bagas sebagai pimpinan?” tanya Pak Freddy meminta
masukan pada pengacaranya.
“Wah, kenapa Pak Freddy ingin
memecat Pak Bagas? Bukankah Pak Bagas anak Pak Freddy?” tanya pengacara tidak
percaya dengan apa yang dia dengar.
“Jawab saja pertanyaan saya,” pinta
Pak Freddy.
“Bila alasannya kuat Pak Freddy
dapat melakukan hal tersebut,” ucap pengacara tersebut.
“Baik, terima kasih atas masukan
kamu,” kata Pak Freddy dengan perasaan senang.
Bu Lina yang melihat perubahaan muka
Pak Freddy, langsung berkata, “ Ada apa? Ada berita baik apa?”
“Aku bisa memecat Bagas karena aku
adalah pemegang saham tertinggi,” cerita Pak Bagas bangga.
“Lakukan, Pa. Lakukan biar Bagas
sadar tanpa kita berdua, dia bukan siapa – siapa,”ucap Bu Lina senang mendengar
kata- kata suaminya.
“Ayo kita menuju ruang aula, waktu
sudah menunjukkan pukul 3. Kita harus melanjutkan rapat ini,” ajak Pak Freddy.
Ruang Aula Perusahaan Pratama.
Rapat sesi kedua pun di mulai
kembali. Para anggota rapat sudah memasuki aula kembali.
"Rapat akan di mulai kembali.
Terima kasih Bapak dan Ibu telah datang lagi untuk mengikuti rapat ini."
ucap Pak Freddy.
"Sebelum kita memulai kembali
rapat, ada baiknya kita melihat kembali hasi pemilihan suara," lanjut pak
Freddy.
Flash Back rapat dua jam yang lalu
"Baik, kami percaya dengan
kamu. Sudah saat saya memberikan hasil pemilihan suara ini," ujar Pak
Freddy. Semua memandang ke arah layar.
Hasil dari pemilihan adalah 17
memilih Bagas tetap menjadi pemimpin dan 18 memilih ingin Bagas di pecat dari
perusahaan.
Melihat hasilnya Dina dan Maureen
lemas. Bagas terpaksa di pecat dari perusahaan.
"Dari hasil yang dapat kita
lihat Bagas akan dipecat dari Perusahaan Pratama!" ucap Pak Freddy senang.
Bu Lina merasa puas telah menghukum anaknya. Bagas yang sudah tahu akan kalah,
tidak banyak komentar.
"Maaf, saya tidak setuju dengan
hasil pemilihan suara ini," tegas Mbak Meli. Semua orang yang berada di
dalam ruangan melihat ke arah Mbak Meli.
"Permintaan ketidak setujuan di
tolak," ucap Bu Lina.
"Maaf, Bu Lina kamu tidak bisa
menolak. Dalam aturan sebuah perusahaan setiap pemegang saham berhak memberikan
suara. Saya baru tiba dan belum memilih. Itu tidak sah dan tidak adil bagi
saya," kecam Mbak Meli.
"Benar yang dikatakan oleh Bu
Meli. Dia berhak untuk memilih!" bela Maureen. Mbak Meli menengok ke arah
Maureen sambil tersenyum
"Betul, itu. Betul
sekali!" ujar yang lain yang membela Bagas.
Ruangan kembali ribut.
"Tenang, tenang. Semua tenang
dan kembali fokus!" perintah Pak Freddy.
"Jadi apakah saya diizinkan
untuk memilih?" tanya Mbak Meli lagi.
"Silahkan kamu memilih,"
geram Pak Freddy. Dia tahu kalau Mbak Meli akan memilih Bagas sehingga hasil
menjadi seimbang.
Mbak Meli menekan tombol yang ada di
depannya. Maureen dan Dina tersenyum senang, karena dia yakin sekali kalau Mbak
Meli akan mempertahankan Bagas.
Hasilpun diberitahu kembali oleh
operator.
Hasil dari pemilihan adalah 18
memilih Bagas tetap menjadi pemimpin dan 18 memilih ingin Bagas di pecat dari
perusahaan.
seimbang. Maureen dan Dina tersenyum karena Bagas masih punya kesempatan untuk
menjadi pemimpin Perusahaan Pratama.
*****
Kembali
“Setelah kita tahu bahwa pemilihan
ini seimbang. Saya sebagai pemegang saham tertinggi memberi opsi yang ketiga yaitu
pembatalan pemilihan suara,” ujar Pak Freddy.
Semua orang di dalam ruangan ramai.
“Apa maksud semua itu, Pak?” tanya
salah satu orang.
“Lalu buat apa di buat pemilihan
suara?” gerutu yang lain.
“Betul sekali. Menghabiskan waktu
dan energi,” marah yang lain.
“Tidak boleh seperti ini! Ini tidak
adil!” ujar seseorang.
“Tenang semua tenang!” ujar Pak
Freddy pada para anggota rapat.
“Papa kamu benar – benar hebat,”
puji Bu Lina. Bu Lina senang sekali bahwa rencana mereka kali ini berhasil.
Bagas perlu di beri pelajaran karena dia telah mempermalukan keluarganya. Dia
memilih wanita yang baru dikenalnya ketimbang kami keluarganya. Itu sangat
menyakitkan Bu Lina dan Pak Freddy.
Mbak Meli membisikkan sesuatu pada
Bagas, “Kenapa Papamu begitu menginginkam kamu untuk keluar dan melepaskan
jabatanmu di Perusahaan Pratama?”
Bagas menatap Mbak Meli, lalu dia
juga berbisik pada Mbak Meli, “Karena aku tidak setuju dengan perjodohan dengan
Dea.”
“Dea? Siapa Dea? “ tanya Mbak Meli
penasaran.
Bagas menggaruk kepalanya. Dia
bingung harus mulai cerita dari mana tentang ini semua.
“Nanti akan aku ceritakan padamu,”
ucap Bagas. Mbak Meli mengangguk.
“Hasil yang menunjukkan seimbang.
Saya sebagai pemegang saham paling besar di sini menimbang dan memutuskan
kepada kalian bahwa saya akan tetap memecat anak saya Bagas Pratama dari
jabatannya sebagai pemimpin Perusahaan Pratama,” tegas Pak Freddy. Bu Lina
tersenyum mendengar kata – kata suaminya.
“Apa?” tanya Maureen tidak percaya
di ruangan para pejabat.
“Kenapa bisa begitu? Itu tidak adil!”
ucap Dina di ruangan karyawan.
“Benar tidak adil!” ucap teman –
teman Dina di ruangan tersebut.
“Kenapa Pak Freddy tega memecat
anaknya sendiri? Padahal kinerja Pak Bagas bagus,” cerita yang lain.
“Pak Freddy benar – benar tidak
adil,” ujar seseorang menyayangkan sikap Pak Freddy.
Para karyawan tahu betapa bagusnya
kerja Bagas. Bagas selalu perhatian dengan anak buahnya. Mereka selalu mendapatkan
izin mudah bila ada keperluan keluarga. Mereka juga akan dibantu oleh Bagas
apabila salah satu keluarganya mengalami musibah. Bagas Pratama tidak pantas
untuk dipecat.
Mereka tidak setuju dengan keputusan
itu, tapi apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanyalah seorang karyawan biasa
yang tidak ada kekuatan dan kekuasaan untuk melawan Pak Freddy dan Bu Lina.
Mereka sadar tidak dapat membantu apa pun.
Mbak Meli yang mendengar keputusan
itu tidak adil, langsung berdiri, tapi tangan Bagas mencegah. Bagas menyuruh
Mbak Meli untuk duduk kembali.
“Tapi, Gas, itu tidak adil untukmu,”
bela Mbak Meli.
“Sudahlah, Mel. Papa dan Mama memang
sudah berencana untuk memecatku sejak kemarin. Perjuangan kamu juga akan sia –
sia. Mereka merupakan pemegang saham paling besar di Perusahaan ini,” jelas
Bagas pada Mbak Meli.
“Kenapa mereka bisa sekejam itu sama
kamu? Apa mereka tidak sadar kalau kamu adalah anak kandungnya?” tanya Mbak
Meli kesal.
Mbak Meli sangat kesal dengan semua ini. Sia –sia sudah dia
datang ke sini untuk menolong Bagas. Dia sangat sedih akhirnya kalah berperang.
“Rapat telah selesai. Saya harap kalian menerima dengan
lapang dada. Mulai besok Bagas Pratama dibebas tugaskan menjadi pemimpin di
Perusahan Pratama. Dia tidak diizinkan untuk ke kantor ini walau alasan apa
pun. tegas Pak Freddy.
Pak Freddy melihat Bagas. Bagaspun melihat ke arah Pak
Freddy. Ayah dan anak itu saling memandang. Ada rasa sedih yang dirasakan
Bagas. Bagas tidak bisa melawan Pak Freddy dan Bu Lina karena mereka adalah
orang tuanya. Bagaspun sadar kalau dia salah karena menolak untuk kedua kalinya
acara perjodohan tersebut.
“Apakah ada yang mau di sampaikan Pak Bagas Pratama? Bila ada silahkan ke
depan,” ujar Pak Freddy mempersilahkan.
Bagaspun naik ke atas. Dia masih bersyukur karena memperbolehkan
untuk pamitan dengan para karyawannya.
Bagas menerima mic dari salah satu karyawan.
“Kepada semua karyawan Perusahaan Pratama. Terima kasih selama
ini kalian telah mendukung saya di sini. Terima kasih atas jerih lelah kalian
untuk membantu saya mengembangkan Perusahaan Pratama. Terima kasih pula telah
memilih Perusahanan Pratama sebagai ajang untuk mengembangkan diri kalian.
Maafkan saya apabila menjadi pemimpin telah menyakiti kalian. Maafkan saya yang
harus meninggalkan kalian berjuang sendiri di sini. Saya harap kalian terus mengembangkan
kemampuan kalian di Perusahaan Pratama ini. Saya mohon pamit dan sampai ketemu
di lain kesempatan,” ujar Bagas berpamitan.
Beberapa orang meneteskan air mata. Mereka sedih melihat
pemimpin mereka akan pergi meninggalkan mereka.
Salah satu karyawan memberikan tepuk tangan pada Bagas.
Melihat itu karyawan yang lain pun memberikan tepuk tangan mereka. Mereka
sangat yakin Bagas adalah pemimpin sejati. Tidak ada yang dapat menggantikan
Bagas. Tidak seorangpun.
Setelah berkata seperti itu, rapat pun berakhir. Para
anggota rapat keluar dari ruangan tersebut. Beberapa orang sedih dan tidak
menerima hasil rapat yang diputuskan sepihak itu. Mereka kecewa kenapa Bagas
harus di pecat?
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo.
Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan
lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤