MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Malam yang Indah



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Jangan lupa ya kasih like, dan votenya untuk memberikan semangat padaku. Terus kasih tahu teman – teman yang lain tentang cerita ini. Terima kasih.


*****


  “Sudahlah, kalau kalian tidak menjawab. Tapi kalau pertanyaan ini harus kamu jawab, Vo!” pinta Dina.


 


 


  “Apa?” tanyaku.


 


 


  “Kenapa kalian tidak pacaran sungguhan saja?” tanya Dina sambil nyengir.


 


 


  “Eh?”


 


 


  Bastian diam tidak menanggapi pertanyaan Dina. Bastian masih sangat yakin dihati Evo masih ada Bagas. Dia tidak ingin membuat Evo menjadi bimbang.


 


 


  Rafael yang lebih peka dengan keadaan yang ada di dalam ruangan ini, mengubah topik pembicaraan, “Apa kalian sudah makan?”


 


 


  “Belum. Kami belum makan,” Maureen yang menjawab.


 


 


  “Aku akan pesan makanan, kalian tunggu di sini,” ucap Rafael, kemudian dia bersiap – siap untuk pergi.


 


 


  “Rafael, biar aku ikut dengan kamu,” pinta Bastian. Rafael mengangguk setuju. Pergilah kedua lelaki itu untuk membeli makan buat kami.


 


 


  “Jadi? Jawablah pertanyaanku, Vo. Kenapa kamu tidak pacaran sungguhan dengan Bastian?” Dina mengulang pertanyaannya ketika kedua lelaki itu pergi.


 


 


  “Aku masih mencintai Bagas, Din. Aku tahu Bastian sangat baik padaku, tapi sepertinya akan tidak adil kalau aku berpacaran dengan Bastian tapi di hatiku masih ada pria lain.”


 


 


  “Ucapan Evo benar. Jangan sampai kamu mengiyakan pacaran sungguhan dengan Bastian, tapi kamu masih cinta dengan Bagas. Itu pasti akan menyakitkan Bastian,” bela Maureen yang masih menggendong anak Dina.


 


 


  Dina menatap Evo dengan tatapan sangat menyesal. Dia beranggapan bahwa Bastian sangat baik untuk sahabatnya itu. Apalagi Evo sudah mengenal keluarga Bastian dengan baik, dan keluarga Bastianpun sayang dengan Evo.


 


 


  “Lalu apa rencana kamu selanjutnya?” tanya Dina.


 


 


  Aku yang sejak tadi masih berdiri di dekat bayi Dina, menghampiri Dina dan duduk di sebelahnya. Aku menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya. Aku merasa berat menjawab pertanyaan dari Dina.


 


 


  “Aku belum tahu, Din. Sampai saat ini Bagas membenciku. Aku ingin menjelaskan semuanya tapi dia tidak mau mendengarkan,” kataku sedih.


 


 


  Dina memegang tanganku, lalu berkata padaku, “Maafkan aku yang pernah tidak percaya padamu. Aku berjanji saat ini akan selalu percaya padamu.”


 


 


  “Terima kasih, Dina,” ucapku sambil tersenyum.


 


 


  “Ada satu pertanyaanku saat ini. Boleh aku bertanya?” tanya Maureen.


 


 


  “Katakanklah,” ucapku.


 


 


  “Bagaimana kabar cinta pertama kamu? Siapa namanya? Karel?”


*****


Di tempat makan.


 


 


  “Maafkan istriku yang suka ikut campur dengan urusan kalian. Dia tidak bermaksud untuk itu,” ucap Rafael ketika sedang menunggu pesanan makanan.


 


 


  Sambil menunggu, Rafael menyalakan sebatang rokok. Dia menghisap rokok tersebut. Rasanya sudah lama Rafael tidak merokok.


 


 


  “Apa kamu mau?” tanya Rafael.


 


 


  “Maaf, aku tidak merokok,” tolak Bastian sopan.


 


 


  Bastian memperhatikan sekelilingnya. Mereka menunggu di halaman luar restoran tersebut. Kala itu langit begitu indah karena bintang dan bulan sedang bersahabat. Bastian bisa memastikan kalau Evo pasti akan menyukai pemandangan seperti ini.


 


 


  “Sejak kapan kamu menyukai Evo?” tanya Rafael membuka pembicaraan.


 


 


  Bastian memutar otaknya. Dia bingung harus memulai dari mana bercerita. “Sekolah dasar.”


 


 


  Rafael yang sedang minum, tersendak mendengar jawaban dari Bastian. Bastian yang menyaksikan Rafael tersendak segera memberikan tissue padanya.


 


 


  “Apa aku tidak salah dengar? Sejak SD?”


 


 


  Bastian mengangguk dengan mantap. Rafael mengawasi mata Bastian. Tidak ada kebohongan yang terdapat di mata Bastian saat ini.


 


 


  “Apa kalian teman SD?” tanya Rafael mulai ingin tahu.


 


 


  “Ya. Kami teman sejak kecil, tapi Evo belum tahu kebenaran ini.”


 


 


  “Kenapa?”


 


 


  Bastian yang tadinya duduk lalu berdiri, “Belum saatnya.”


 


 


  “Kapan saatnya?” Rafael terus bertanya. Dia jadi penasaraan seperti istrinya.


 


 


 


 


  Pelayan restoran datang membawa makanan dan memberikan makanannya pada Rafael dan Bastian.


 


 


   “Terima kasih,” ucap Rafael. Setelah membayar dan menerima makanan, kedua laki – laki itu kembali ke rumah sakit.


 


 


*****


Kediaman Keluarga Hermawan.


 


 


  Keluarga Pratama baru saja tiba di rumah Dea saat waktu menunjukkan pukul 8 malam. Hari ini kedua keluarga besar itu mengadakan makan malam. Mereka ingin membicarakan perjodohan antara Bagas dan Dea.


 


 


   “Wah, Bagas. Senang rasanya Tante melihat kamu sehat seperti ini! Silahkan duduk, silahkan!” ucap Bu Heni.


 


 


   “Terima kasih, Tante,” balas Bagas dengan sopan.


 


 


  Kedua keluarga sudah berada di ruang makan. Keluarga Pratama hadir semua pada malam ini. Bu Heni menyajikan makanan yang mewah untuk makan malam.


  Setelah makan malam sudah selesai disajikan, mulailah mereka makan. Mereka banyak berbincang – bincang mengenai bisnis, politik, dan kekuasaan.


 


 


  “Bagaimana dengan skripsimu, Char?” tanya Dea. Dea sungguh senang Charlotte bisa ikut dalam acara ini. Biasanya dia tidak pernah mau ikut acara keluarga.


 


 


  “Minggu depan aku akan sidang, Kak. Aku harap kamu bisa datang untuk memberikan semangat padaku,” pinta Charlotte.


 


 


  “Benarkah? Kenapa kamu baru memberitahu Mas?” tanya Bagas tidak percaya.


 


 


  Charlotte tersenyum mendengar ucapan kakaknya. “Aku lupa, Mas. Maafkan. Untung saja Kak Dea menanyakan padaku.”


 


 


  “Wah, wah! Semoga sidangnya berhasil ya,”ucap Bu Heni yang ikut nimbrung obrolan mereka.


 


 


  “Terima kasih atas doanya, Tan,” ujar Charlotte dengan sopan.


 


 


  “Ternyata waktu cepat berlalu ya, Lin. Anak – anak kita sudah besar. Charlotte sudah mau lulus kuliah, setelah selesai kuliah pasti akan menikah ya.”


 


 


  “Iya, kamu benar, Hen. Charlotte sudah punya pasangan. Pacarnya itu pengusaha muda. Dia memang anak perempuanku yang hebat,” puji Bu Lina.


 


 


  “Oh, ya? Siapa nama anak muda itu? Beruntung sekali dia mendapatkan Charlotte,” kata Bu Heni penasaran.


 


 


  “Namanya Evan, Tan. Dia pengusaha batu bara di Kalimantan. Makanya jarang ikut pertemuan keluarga,” Charlotte menjelaskan.


 


 


  “Kamu memang wanita yang hebat. Hebat menangkap umpan yang bagus. Aku salut dengan ajaranmu, Lin,” puji Bu Heni lagi.


 


 


  Charlotte tersenyum kecut. Seandainya Evan bukan orang kaya pasti kedua orang tuanya tidak akan setuju dengan hubungan mereka. Charlotte sudah muak dengan orang tuanya, tapi sebagai anak dia tetap berusaha untuk menjadi anak yang patuh.


 


 


  “Sudah jangan membicarakan pernikahan Charlotte. Dia masih kecil. Kita bicarakan yang lebih tua dahulu,” kata Bu Lina mengubah topik.


 


 


  “Benar katamu, Lina. Jadi kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?” tanya Bu Heni tanpa basa – basi.


 


 


  “Aduh, Mama. Masa bertanya sama aku. Aku sebagai wanita mengikut calon suamiku saja,” ujar Dea.


 


 


  “Bagas, sekarang Om bertanya kepadamu, apa kamu yakin akan menikahi Dea?” Pak Hermawan mulai bertanya.


 


 


  “Ya, Om,” jawab Bagas dengan setengah hati.


 


 


  “Apa kamu mencintai Dea?”


 


 


  “Papa! Kenapa bertanya seperti itu? Papa membuat Dea malu!” rungut Dea.


 


 


“Benar kata Dea. Itu urusan anak muda. Kalau Bagas mau menikahi Dea berarti Bagas mencintai Dea!” bela Bu Heni.


 


 


  “Tapi saya mau mendengar langsung dari mulut Bagas. Saya tidak mau pernikahan ini karena unsur pemaksaan,” tegas Pak Hermawan.


 


 


  Bu Lina, Dea, dan Bu Heni saling menatap. Mereka tahu persis apa yang akan di jawab oleh Bagas.


 


 


  “Jadi apakah kamu mencintai Dea?” Pak Hermawan mengulang pertanyaannya.


 


 


“Saya….”


 


 


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya.


 


 


❤❤❤