MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
MOY



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Keesokan harinya.


Suara merdu burung terdengar hingga membangunkan diriku. Aku membuka mata. Mataku melihat sekeliling kamar ini. Rasanya tidak bisa dipercaya kalau aku berada di rumah Bastian sekarang. Aku beranjak dari tempat tidur, kemudian merapikannya.


Tok, tok, tok.


Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku berjalan menuju ke pintu kamar, lalu membuka pintunya.


“Selamat pagi, sayang. Bagaimana tidurmu tadi malam? Apa tidur kamu nyenyak?” tanya Mbak Meli sambil tersenyum.


“Pagi, Mbak. Sangat nyenyak, maaf ya aku jadi bangun terlambat,” kataku yang tadi sempat melihat jam. Sekarang sudah jam 10 pagi.


“Santai saja, Evo. Rumah ini bebas untukmu. Kamu mau jungkir balik juga tidak masalah, hahaha,” canda Mbak Meli membuat aku tertawa.


“Kamu mandi dulu. Nanti kita cerita lagi di luar. Aku tidak sabar mendengar cerita kamu tentang kejadian tadi malam,” ucap Mbak Meli lagi.


“Iya, Mbak Meli. Aku mandi dulu.”


Setelah mendengar perkataanku, Mbak Meli pergi. Aku langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setengah jam kemudian aku selesai mandi. Aku mencari telepon genggamku.


“Ah, Aku lupa kalau kemarin aku meninggalkan seluruh harta bendaku di sana!” kataku sambil menepuk jidat. Tadi malam Bastian tidak mengizinkan aku untuk mengambilnya.


Setelah beberapa saat melamun, aku memutuskan untuk keluar kamar untuk bertemu sang pemilik rumah.  Aku menuju ke ruang tamu rumah mereka. Rumah Bastian sangat besar sama seperti rumah Bagas. Mereka memiliki kekayaan yang sama kurasa.


“Selamat pagi, Moy!” sapa Bastian sambil memberikan senyuman terbaiknya. Aku membalas dengan senyum juga.


“Sebaiknya kamu sarapan dulu,” ucap Mbak Meli.


Aku menggelengkan kepalaku, dan berkata, “Aku belum lapar, Mbak Meli.”


Aku duduk di salah satu bangku di ruang tamu. Suasana rumah Bastian beda sekali seperti suasana rumah Bagas. Keluarga Bastian sangat menerimaku. Apa mungkin karena Bastian adiknya Mbak Meli makanya aku merasa nyaman di rumah ini?


“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu, Bas,” ucapku.


“Katakanlah.”


“Kenapa tiba – tiba kamu ada di sana?” tanyaku penasaran.


Bastian kembali memberikan senyumnya.


“Aku kebetulan lewat saja, Moy. Aku melihat kamu di sana. Kamu kelihatan kesulitan jadi aku membantumu, Moy.” Jawab Bastian sederhana.


“Nama aku, Evo. Jangan ganti namaku sembarangan, Bas,” protesku.


“Aku jadi penasaran, kenapa Bastian mengganti namamu jadi Moy?” tanya Mbak Meli.


“Waktu di Malaysia aku yang menyuruh Bastian untuk memanggil namaku dengan Moy, tapi sampai sekarang Bastian malah memanggil namaku dengan Moy," jelasku.


“Nama Moy lebih bagus dari pada Evo. Nama Evo jelek aku tidak suka!”


DHEG!


Aku tertegun mendengar perkataan Bastian. Rasanya aku pernah mendengar perkataan ini sebelumnya, tapi aku lupa siapa yang berkata seperti itu ya?


“Terserah kamu saja,” aku sewot. Bastian tertawa, Mbak Meli hanya tersenyum.


“Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Bastian di jalan?” tanya Mbak Meli ingin tahu hal yang sebenarnya terjadi.


“Beberapa hari yang lalu aku di jebak oleh Indra. Dia memberikan obat tidur dan meniduriku di hotel. Aku rasa dia juga yang memanggil Bagas dan keluarganya. Bagas marah lalu memukuli Indra. Bagas tidak percaya padaku. Setelah kejadian itu aku diusir oleh pemilik kontrakan karena ada yang mau beli rumah tersebut. Seharian aku mencari kontrakan tapi tidak kunjung dapat. Kemudian aku…,” air mataku mulai mengalir dipipiku.


Aku tak sanggup untuk bercerita. Mbak Meli menghampiriku, lalu memberikan tissue untuk menghapus air mataku.


“Sudahlah, Vo. Kamu tidak perlu menceritakan lagi,” pinta Bastian. Hati Bastian hancur melihat air mata yang ikut bicara dalam perbincangan ini.


“Aku sudah tidak tahu lagi kalau kamu tidak datang kemarin, Bas. Terima kasih, Bastian karena kamu, aku tertolong dari para lelaki itu.”


“Jangan sungkan, Moy. Aku berjanji akan selalu melindungi kamu,” janji Bastian.


Mendengar ucapan Bastian, ada perasaan yang aneh mengganjal di hatiku. Aku merasa dulu ada yang berjanji seperti ini padaku.


“Kenapa kalian bisa kembali lagi ke Malaysia?” tanya aku setelah mampu menenangkan diri.


“Itu karena aku kangen sama kamu. Apa tidak boleh aku kembali ke Indonesia lagi untuk bertemu dengan kamu?” ucap Bastian memotong ucapan Mbak Meli.


Mbak Meli menjadi heran dengan perkataan Bastian. Kenapa Bastian merahasiakan semuanya pada Evo? Padahal diakan sudah tahu kalau Evo dalam bahaya. Apa sebenarnya rencana kamu Bas?


“Eh, e, boleh saja. Itu hak kamu, Bas,” ujarku salah tingkah.


“Jadi apa yang bisa aku bantu?” tanya Bastian lagi.


“Bagas dalam kondisi buruk saat ini. Dia terkapar di kamar setelah kejadian itu. Aku ingin bertemu dengannya, Bas,” pinta aku.


“Aku akan bantu, tapi kamu harus ikuti saran aku,” kata Bastian sambil memberikan senyumannya lagi.


“Apa sarannya?”


“Besok kita akan ke perusahaan Pratama. Kamu tinggal ikuti saja perintahku, maka kamu bisa bertemu dengan Bagas lagi.”


“Segampang itu?” tanya aku tidak percaya.


“Ya, hanya itu, dan kamu harus siapkan hati kamu untuk kejadian besok. Sudah saatnya keluarga Pratama diberikan sedikit pelajaran agar tidak sombong dan menindas orang yang tidak bersalah seperti kamu,” terang Bastian.


Melihat raut muka Bastian yang berubah, aku terkejut. Mengapa dia begitu percaya diri untuk memberikan pelajaran pada keluarga Bagas? Siapa sesungguhnya keluarga Mbak Meli dan Bastian yang mampu melawan keluarga Bagas?


“Hari ini kamu pergilah bersama Mbak Meli untuk membeli perlengkapan kamu yang kemarin hilang. Aku hanya menyelamatkan dompetmu saja kemarin,” kata Bastian kemudian memberikan dompetku.


Aku mengambil dompetku dengan perasaan senang. Aku mengecek isi dompetku. Isinya masih utuh, untung saja aku tidak mencairkan uangku dalam bentuk uang tunai. Bisa menangis semalaman aku karena Bastian tidak mau mengambilnya semalam.


“Apa kamu mengambil telepon genggamku juga?” tanyaku.


Bastian menggeleng kepala,”Aku tidak ambil. Aku pikir kamu bisa membelinya nanti dengan Mbak Mali.”


“Aku tidak punya uang yang banyak untuk membeli telepon genggam! Lagi pula telepon genggam itu kamu yang berikan padaku,” curhatku.


Apa? Apa aku tidak salah dengar? Evo masih memakai telepon genggam yang aku berikan waktu di Malaysia? Kenapa mendengarnya hatiku sangat senang? ucap Bastian dalam hatinya.


Bastian berdiri lalu menghampiriku, “Aku akan membelikannya lagi untukmu. Sekarang kamu dan Mbak Meli bersenang – senang saja.”


“Loh? Kenapa kamu tidak ikut?” tanyaku.


“Aku akan menyusul. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan.”


Aku memberikan jari kelingkingku agar Bastian mengkaitkannya padaku, “Janji ya?”


“Aku janji. Teman baik tidak akan berbohong,” sumpah Bastian. Diapun mengkaitkan kelingkingnya di kelingkingku.


“Kamu ganti baju dulu sana, Vo! Aku tunggu di sini,” ujar Mbak Meli.


“Oke, siap,” kataku , kemudian aku mengganti bajuku.


Setelah merasa aman tidak ada kehadiran Evo, Mbak Meli bertanya, “Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya pada Evo?”


Bastian berdiri, lalu menaruh kedua tangannya di saku celananya,”Karena tidak semua pertanyaan dapat kita jawab dengan jawaban yang sebenarnya. Evo masih mencintai Bagas. Tugas Bastian adalah menyatukan kembali Evo ke pelukan Bagas dan menghancurkan orang – orang yang menyakiti Evo.”


“Tapi Bas, Evo harus tahu kalau kamu….”


Bastian menatap Mbak Meli, memberikan kode bahwa Ev ovsudah kembali ke ruang tamu. Bastian tersenyum kepadaku untuk sekian kalinya.


“Hati – hati dan nikmatilah harimu,” ucap Bastian kepadaku.


Aku dan Mbak Meli melangkah keluar rumah, masuk ke mobil dan kami pergi ke Mall.


Bastian mengambil telepon genggamnya, lalu menelepon seseorang,”Apakah seluruh saham sudah berhasil kamu dapatkan?”


“Hanya beberapa saham yang mau dilepas oleh mereka, Pak. Tapi tenang saja, Pak, saham Bapak sudah lebih besar dari pemiliknya,” jawabnya.


“Bagus sekali. Kerja kamu sungguh bagus. Besok siapkan rapat untukku, sudah saatnya aku mengambil alih perusahaan tersebut,” perintah Bastian.


“Segera dilaksanakan, Pak.”


Bastian tersenyum. Dia sangat senang dengan pekerjaan anak buahnya. “Pembalasan segera di mulai. Menyakiti Evo berarti menyakiti Karel.”


*****


❤❤❤