MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sederajat



" Moy, Moy, moy!" panggil Karel.


Hari ini hari kelulusan kami. Aku dan Karel berjanji bertemu di taman yang biasa kami kunjungi.


" Kamu terlambat, Karel! " kataku sudah menunggu dia lebih dari lima belas menit.


" Maaf, biasa para fansku minta tanda tangan," kata Karel sambil ketawa. Kami memang satu kelas, tapi teman Karel banyak sekali. Maklum, Karel salah satu murid terpandai di kelas 6. Dia pandai bergaul, tidak seperti aku.


"Aku bawa sesuatu untukmu." Karel memberikan sebuah buku. Bentuk bukunya bagus, ada gambar hati yang menjadi cover depan buku tersebut.


"Ya, ampun Karel ini lucu sekali! Aku sangat suka.  Mengapa kamu memberikan ini padaku?"


" Iya, kalau kamu nulis novel, tulislah di sini. Jadi setiap kamu menulis dibuku ini, kalau kamu tiba-tiba kehilangan ide cerita, kamu bisa ingat aku. Ketika kamu ingat aku, kamu akan ingat kalau kita punya janji. Janji untuk bertemu, sehingga ide yang tadinya tidak ada jadi muncul."


"KAREL!!" Aku terbangun. Lagi, lagi mimpi. Kenapa harus memimpikanmu lagi? Apakah nanti saat kita bertemu, kamu akan menerimaku yang sudah tidak berdaya ini?


" Selamat pagi, Evolet," sapa Bagas yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menghampiriku. Lalu mencium bibirku. Untung saja dia tidak dengar aku berteriak.


Aku melirik jam, lalu berkata, "Sudah jam setengah enam. Maaf aku tidak sempat membuatkanmu sarapan."


Bagas mengambil baju dari lemari, kemudian mengenakannya. "Tidak masalah, cepatlah mandi, kita harus berangkat ke kantor."


Perusahaan Pratama.


Hari ini akan ada rapat besar mengenai pembukaan perusahaan baru. Rapat dihadiri oleh para pemegang saham, karyawan dan pejabat perusahaan pratama. Pak Freddy pun menghadiri rapat tersebut.


" Rapat kali ini membahas tentang pembukaan cabang di perusahaan baru. Kita akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan. Saya harap kita semua mendoakan perusahaan yang akan dibuka ini agar berhasil seperti di sini dan di beberapa luar negeri lainnya," ujar Pak Freddy membuka rapat akbar ini, kemudian semua orang bertepuk tangan. Semua dibahas dirapat ini. Prospek ke depan, pekerjaan apa yang akan dilakukan di sana. Semua dibahas pada rapat ini. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5.


"Terima kasih untuk kesediaan kalian mengikuti rapat ini. Sebelum kita pulang, ada berita bahagia yang akan saya sampaikan kepada kalian semua."


Semua orang mulai berbisik. Maureen dan aku penasaran, lalu berkata dan berharap, "Senang kalau kita naik gaji."


"Saya akan meresmikan pernikahan Bagas dengan keluarga Lisa Notonegoro. Tunangan Bagas adalah Lisa Notonegoro. Dia yang pantas dan sederajat dengan kami."


"Apa maksud semua ini, Pa?" tanya Bagas mulai marah dengan keputusan Ayahnya.


"Saya butuh bantuan saudari Meli dan teman-teman editor untuk menjadi EO dalam acara ini. Mulai besok juga Lisa akan menjadi manager editor di perusahaan ini."


Semua orang terkejut atas keputusan Pak Freddy. Dia mengganti Mbak Meli menjadi pemimpin di bagian editor.


"Mengerti bagian editor?" tanya Pak Freddy.


" Baik, Pak," jawab Mbak Meli mewakili kami. Bagas menggebrak meja dengan keras. Dia kesal dengan sikap ayahnya yang sembarangan menjodohi dia. Lalu Bagas pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sederajat. Kata-kata itu menyakitkan hatiku. Walau aku tidak mencintai Bagas, tapi ucapan Pak Freddy membekas dihatiku. Benar kata Pak Freddy, aku tidak sederajat dengan mereka, dan aku sudah tidak layak untuk mendapatkan pasangan. Apalagi menikah. Mana ada lelaki yang mau dengan wanita yang sudah bekas orang? Aku mengigit bawah bibirku. Aku menahan tangis. Maureen melihat mimik wajahku berubah. Dia memegang tanganku, menguatkan diriku.