MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sumber Kekuatan



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Apartemen Bagas.


Sekitar pukul 8 malam kami tiba di apartemen. Bagas melepaskan sepatu dan meletakkan di tempat yang sudah disediakan, begitu juga diriku. Kemudian dia langsung duduk di sofa. Aku mengambilkan dua gelas minuman untuk kami minum.


"Ini kamu minum dulu, Bagas," aku memberikan segelas air hangat untuknya.


"Terima kasih sayang," ucap Bagas lalu mengambil gelas tersebut dari tanganku. Bagas meneguk air hangat itu. Dia menghela napas yang sangat panjang. Aku mengerti perasaan Bagas sekarang. Banyak beban pikiran yang ada dibenaknya.


Bagas melepaskan dasinya, lalu melempar dengan kesal. Walau dia sudah mendapat pinjaman dari orang tuanya, tapi dia harus segera mengembalikkannya. Pak Freddy masih membutuhkan uang tersebut untuk biaya pengobatan dan uang kuliah Charlotte.


Bagas mengambil remot televisi, lalu menyalakannya. Dia ingin tahu berita apa lagi yang disiarkan? Apakah masih ada berita tentang keburukan dia dan Perusahaan Pratama.


"Selamat malam, pemirsa sekalian. Berita pada hari ini tentang pengusaha muda bernama Bagas Pratama. Mari kita lihat cuplikannya." ucap pembawa berita.


"Beberapa hari yang lalu kita mendengar bahwa adanya skandal video yang tersebar luas di masyarakat, tapi ternyata berita itu tidak benar adanya. Bagas Pratama akan segera mencari pelaku penyebaran video tersebut dan akan melaporkan ke polisi kata salah satu rekan bisnis beliau." ucap operator memberikan video tentang kehidupan Bagas dan Evo. Foto - foto prawedding mereka tersebar luas.


Aku dan Bagas yang melihat berita tersebut kaget terkejut. Siapa yang memberikan berita baik seperti ini pada media?


"Siapa yang menyebarkan berita ini, Vo?" tanya Bagas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Aku tidak tahu, Bagas, tapi aku senang sekali kalau berita ini bisa menutup berita kamu yang jelek itu," ucapku dengan perasaan gembira.


"Kamu benar, Vo. Siapa pun yang melakukan ini, dia telah melakukan hal yang benar dan baik untuk menolongku. Aku berterima kasih padanya," ucap Bagas. Aku melihat secercah harapan terdapat dimatanya. Bagas benar- benar mempunyai semangat lagi setelah melihat berita tadi.


"Aku senang kamu jadi lebih semangat dari sebelumnya," ungkapku jujuar pada Bagas.


"Maafkan aku ya telah membuat kamu jadi susah. Terima kasih sampai saat ini kamu ada di sisiku dan selalu memberi aku semangat," ucap Bagas menatap Evo dengan tatapan cinta.


"Aku akan selalu ada untukmu, Gas. Walau kamu memilih meninggalkan aku, aku tetap akan mendukungmu," jujur aku padanya.


Bagas menutup mulutku dengan satu jarinya, dia berkata padaku, "Jangan berkata seperti itu ya, Vo. Aku tidak mau kita berpisah. Jangan berandai - andai seperti itu, aku mohon."


Aku mengangguk kepala, lalu aku menurunkan jari Bagas dan memeluknya. Tapi entah kenapa aku merasa kita akan berpisah, Bagas, ujarku dalam hati.


Bagas melepaskan pelukan kami, kemudian dia berkata lagi, "Sepertinya aku akan menjual apartemen ini seperti yang aku katakan padamu di rumah sakit. Beberapa mobil kepunyaanku pun akan aku jual. Kita akan cari kontrakan untuk kita tinggal berdua."


"Jangan Bagas. Bagaimana kalau kita tinggal di rumah kontrakan yang aku sewa dulu selama sepuluh tahun?" aku memberikan ide.


"Rumah yang kecil itu? Apa kamu serius?" tanya Bagas tidak percaya dengan ide gila pacarnya.


"Daripada kita mengontak, lebih baik uangnya kita kumpul untuk hal yang mendesak. Aku juga punya tabungan bila kamu membutuhkannya." usulku lagi.


"Tapi....," ucap Bagas masih kurang setuju dengan pendapat pacarnya.


"Tidak ada tapi - tapian. Kita belum tahu Om Freddy sampai kapan di rumah sakit. Aku juga tahu kamu tidak mau tinggal dengan Om Freddy dan Tante Lina, jadi kali ini kamu harus nurut sama aku. Apa kamu mengerti tuan muda Bagas?"


Bagas menghela napas, lalu berkata, "Oke, aku setuju. Kalau nanti uang kita cukup, kita beli rumah yang jauh lebih baik dari kontrakanmu yang aneh itu."


"Tidak akan aneh, kan ada aku. Pasti kontrakannya akan penuh dengan cinta. Kaya cinta aku ke kamu," goda aku pada Bagas.


Bagas tersenyum, lalu dia merangkul diriku.


*****


Rumah Maureen.


"Terima kasih, Tuhan beritanya sudah disiarkan di televisi." ucapku dengan senang. Lalu dia menelepon Dina untuk memberitahu hal tersebut.


"Halo," sapa Dina dari seberang.


"Apa kamu sudah melihat berita malam ini? Usahaku berhasil menyebarkan berita positif tentang mereka berdua," kata Maureen memberitahu Dina.


"Ya, Maureen. Aku sudah nonton. Usaha kamu berhasil, semoga ada banyak yang memberikan kontrak kerja dan menjalin kerja sama dengan perusahaan kita," ucap Dina senang juga.


"Besok kita harus bertemu dengan Evo. Kita harus memberikan semangat pada sahabat kita itu," usul Maureen. Mereka yakin Evo butuh dukungan dari mereka berdua.


"Kamu benar. Sampai ketemu besok." ucap Dina.


*****


Rumah Keluarga Hermawan- Dea.


"Sial! Berita apa ini? Kenapa malah berita baik seperti ini bisa keluar?" kesal Dea,"Bagas bisa kembali pada Evo kalau caranya begini!"


Dea langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Tante Lina.


"Halo, Dea sayang!" ucap Tante Lina dari seberang.


"Halo, Tante. Apa Tante sudah menonton berita malam ini?" tanya Dea cemas.


"Berita? Berita tentang apa sayang?" tanya Tante Dea dengan bingung.


"Barusan Dea melihat berita tentang klarifikasi dan berita baik tentang Bagas dan Perusahan Pratama. Kalau begini terus, usaha kita tidak akan berhasil!" sedih Dea. Dea tidak mau usaha mereka tidak berhasil. Dea sadar kalau Deapun mencintai Bagas. Entah kapan perasaan itu dia tahu. Dea tidak rela Bagas bersama Evolet.


"Tenang sayang. Sekarang rencana kedua harus kamu laksanakan, tante tunggu aksi Dea ya." ucap Tante Lina.


"Tapi Tan, aku takut rencana ini gagal," ragu Dea.


"Percaya sama Tante, ini pasti berhasil." ucap Tante memberi semangat.


"Baiklah, Tan. Doakan ini berhasil ya." ucap Dea meminta restu.


"Tante dan Om Freddy berdoa untukmu. Kami selalu berdoa bahwa pasangan hidup Bagas adalah kamu. Kamu adalah pasangan yang pantas dan sederajat untuknya," jujur Bu Lina untuk calon mantu.


"Terima kasih, Tante. Aku sayang Tante." Dea senang mendengar perkataan calon mertuanya. Dari dulu memang Tante Lina sudah dianggap Tante Dea sendiri. Dulu waktu kecil bila orang tua Dea pergi dinas ke luar negeri, Tante Linalah yang mengurus Dea.


"Bagaimana keadaan Om Freddy?" tanya Dea lagi.


"Om kamu sudah sehat. Tadi juga Bagas sudah datang menjenguk. Melihat anak kesayangannya datang dia sangat senang," cerita Tante Lina.


"Syukurlah kalau Om sudah semakin pulih. Dea sangat senang mendengarnya," ucap Dea.


"Ya, sudah. Ini sudah malam, kamu tidur ya." kata Tante Lina.


"Selamat malam, Tan." pamit Dea setelah itu menutup teleponnya. Deapun segera mencari ide yang tepat untuk rencana dia dan tante selanjutnya. Semoga rencana ini membuat Bagas dan Evo benar - benar putus.


*****


Rumah Sakit.


"Ada apa?" tanya Pak Freddy yang belum tidur.


"Dea menelepon. Ada berita hari ini bahwa Bagas membuat klarifikasi. Ada pula yang menyebarkan berita positif tentang hubungan Evo dan Bagas," cerita Bu Lina.


"Anak kamu memang tidak bisa dilawan ya," puji Pak Freddy pada Bagas.


"Tapi dia tidak tahu siapa yang dia lawan. Kita harus segera eksekusi ini semua, sayang atau Bagas akan cepat bangkit dari keterpurukannya. Kamu harus benar - benar menekan para investor dan perusahaan yang bekerja sama dengan kita agar membuat semua ini semakin kacau," ujar Bu Lina.


"Kamu tenang saja. Mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan, tiga hari ini Bagas akan terguncang lagi," ucap Pak Freddy sambil tersenyum.


*****


Rumah Keluarga Pratama.


"Terima kasih sayang kamu sudah antarkan aku ke rumah," ucap Charlotte pada Evan pacarnya.


"Apa sih yang tidak buat pacarku?" gombal Evan pada Charlotte.


Charlotte dan Evan baru tiba di rumah beberapa menit yang lalu. Mereka sedang duduk di sofa ruang tamu rumah Pratama.


"Sayang, aku sedih melihat Mas Bagas dan Mbak Evo," Charlotte mulai bercerita.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Evan.


Evan memandang Charlotte pacarnya, lalu dia merangkul pacarnya itu. "Kalau itu terjadi, aku akan mengajak kamu kawin lari!"


"Kawin lari? Aku tidak mau!" tolak Charlotte.


"Kenapa begitu? Apa kamu tidak mencintaku?" tanya Evan bingung dengan ucapan pacarnya.


"Aku cinta sama kamu, tapi aku tidak mau kawin lari. Kalau kawin sambil lari - larikan capek, sayang," canda Charlotte membuat mereka tertawa.


Evan melihat ada sebuah gitar dekat televisi, dia beranjak mengambil gitar tersebut.


"Kamu mau apa?"  tanya Charlotte bingung.


"Aku mau bernyanyi satu lagu untukmu. Apa kamu bersedia untuk mendengarnya, tuan putriku?" tanya Evan.


Charlotte tersenyum, kemudian berkata," Dengan senang hari, Pangeran Evan."


Evan memetik gitarnya, lalu dia menyanyikan lagu untuk Charlotte.


"Lama sudah tak kulihat.


Kau yang dulu kumau.


Kadang ingat kadang tidak.


Bagaimana dirimu?


Kau cantik hari ini dan aku suka


Kau lain sekali dan aku suka


Entah ada angin apa kau berdiri di sana?


Berhenti aliran darahku.


Kau menatap mataku.


Kau cantik hari ini dan aku suka


Kau lain sekali dan aku suka.


Takkan kubiarkan lagi kau menghilang dari kehidupanku.


Kau cantik, Kau cantik, Kau cantik hari ini."


(Lirik lagu diambil dari Lobow judulnya Kau Cantik Hari Ini)


Charlotte tersenyum bahagia melihat tingkah pacarnya itu. "Terima kasih sayang," ucap Charlotte.


"Lagu cantik untuk pacar aku yang cantik," puji Evan pada pacarnya. Evan menaruh gitar di sebelah bangkunya.


"Sejak kapan kamu bisa seromantis ini?" tanya Charlotte.


"Sejak bertemu kamu. Kamu mengubah duniaku. Kamu membuat aku menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu." ucap Evan kemudian mencium dahi Charlotte.


"I love you too, my prince!" Charlotte memeluk Evan lebih erat. Semoga Papa dan Mama tidak memisahkan Evan seperti mereka memisahkan Mas Bagas dan Mbak Evp, ujar Charlotte dalam hati.


*****


Keesokan harinya di Perusahaan Pratama cabang Malaysia.


"Bagaimana perkembangan di Indonesia?" tanya Mbak Meli kepada salah satu staffnya.


"Berita beres, Bu. Ikatan kerja sama dengan perusahaan asing di sini juga berhasil," ucap staffnya itu memberi kabar baik.


"Kita harus bantu Pak Bagas untuk menaikkan bursa saham perusahaan kita. Kalau bukan kita yang membantu, bisa jadi perusahaan akan hancur. Kamu tidak maukan di pecat dari kantor ini?" ancam Mbak Meli pada bawahannya.


"Siap, Bu. Kami akan selalu membantu Pak Bagas."


"Kamu boleh ke luar," perintah Mbak Meli. Dia pun mengambil ponselnya lalu menelepon Bagas. Sudah lama Bagas tidak ada berita. Perusahaan Pratama harus dipegang olehnya.


"Halo," jawab Bagas.


"Hai, Pak Bagas. Apa kabarmu? Apa kamu lupa dengan kami yang ada di Malaysia?" tanya Mbak Meli.


"Meli? Ya, ampun! Untung saja kamu meneleponku. Maafkan saya karena tidak sempat ke sana. Saya sibuk mengurus perusahaan kita yang terancam bangkrut. Apakah berita itu tidak sampai ke sana?" tanya Bagas balik.


"Aku tahu, aku hanya bingung kenapa kamu sampai lupa sama kami. Tidak diskusi dengan aku yang juga pejabat perusahaanmu," omel Mbak Meli.


"Maaf, Mel. Bukan maksudku menganak tirikan Perusahaan Pratama di Malaysia, aku percaya kamu bisa pegang kendali di sana," ucap Bagas.


"Sudah, lupakan. Aku dan Maureen hanya bisa membantu dengan membuat berita yang baik tentang kamu. Aku harap semua bisa selesai. Hubungi aku bila semua terasa hilang kendali," ujar Mbak Meli mengingatkan Bagas. "Kamu tidak bisa bekerja sendiri. Kamu perlu anak buahmu untuk membantumu!"


"Terima kasih, Mel. Aku sangat senang memiliki tim seperti kamu dan Maureen," kata Bagas.


"Sama - sama. Sampai bertemu." Mbak Meli menutup teleponnya.


Mbak Meli membuka laptopnya dan membaca sebuah iklan penjualan apartemen. Dia melihat dengan seksama, sepertinya dia tahu apartemen ini.


"Aku seperti mengenal apartemen ini." Mbak Meli kemudian meneruskan membaca iklan tersebut, lalu dia membaca nama pemilik apartemen tersebut.


"Sudah aku duga, ini apartemen Bagas. Kenapa Bagas menjual apartemennya? Kenapa dia tidak cerita tadi?" tanya Mbak Meli tidak percaya.


*****


Apartemen Bagas.


"Siapa yang meneleponmu sayang?" tanya aku.


Kami masih dalam kamar. Waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi. Aku terbangun karena mendengar suara Bagas sedang bicara dengan seseorang melalui ponsel.


"Meli. Dia memarahiku karena tidak mengabari berita buruk tentang perusahaan padanya. Padahal aku yang pemimpin, malah aku yang dimarahi," gerutu Bagas. Aku tertawa mendengar cerita Bagas. Mbak Meli memang dari dulu tidak pernah takut sama pemimpinnya. Kalau menurut Mbak Meli pemimpinnya salah maka dia akan berani untuk menegurnya.


"Kenapa malah tertawa? Bukannya malah belain aku kamu!" gerutu Bagas lagi.


"Apa ada larangan kalau kita tidak boleh ketawa?" kataku melawan Bagas.


"Ya, tidak ada. Sekarang kamu berani ya melawan aku, sini kamu!" ucap Bagas lalu mengkelitik badanku.


"Ampun, ampun Bagas. Geli," pintaku memohon. Bagas tetap tidak mendengar.


"Hahaha, hahhaaa, ampun Bagas. Aku tidak akan mengulang," pintaku lagi.


"Janji?" tanya Bagas masih mengkelitik diriku.


"Iya, aku janji." ucapku.


Bagaspun menghentikannya, lalu berkata,"Sebagai hukumannya, kamu harus mencium aku."


"Itu hal yang mudah sayang, tapi aku punya syarat untukmu," ucapku.


"Apa itu?" tanya Bagas.


"Tutup matamu," perintahku pada Bagas. Kemudian aku pergi meninggalkan Bagas.


"Evo? Evo? Kenapa lama sekali ciumnya?" tanya Bagas. Kemudian dia membuka mata, pria itu tidak melihat ada Evo di kamar.


"Evo! Kamu nakal ya!" teriak Bagas.


Aku tertawa, lalu teriak kepadanya," Satu sama, sayang! Sudah mandi sana, aku mau buat sarapan dulu."


Bagas tersenyum melihat tingkah pacarnya. Aku harap kebersaman kita sampai selamanya, karena kamu adalah sumber kekuataanku, Evolet Rebecca, ucap Bagas dalam hati.


*****


Hai, kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca karyaku. Semoga kamu masih meneruskan membaca ya.