
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Malamnya rumah kontrakan.
Tok, tok, tok.
Pintu rumah aku diketok. Aku membuka pintu tersebut.
"Hai, sayang. Maaf membuat kamu menunggu lama," ucap Bagas sambil dia masuk ke rumah.
"Bagaimana? Apa yang dikatakan oleh Pak Hermawan?" tanyaku.
"Om Hermawan minta bantuan padaku untuk mengelola perusahannya," cerita Bagas.
Aku berjalan menuju ke sofa sambil membawa segelas air hangat untuk Bagas. Di luar sedang turun hujan.
"Ini untukmu. Minumlah air hangat ini. Di luar begitu dingin. Air hangat dapat membuat badan kamu hangat," ucap aku padanya sambil memberikan minuman tersebut.
Bagas mengambil minuman itu lalu dia meminumnya kemudian dia berkata," Terima kasih untuk minumannya."
"Lalu apa kamu menerima tawaran tersebut?" tanyaku.
Bagas mengangguk dan berkata lagi, "Iya, Vo. Aku menerima tawaran tersebut. Aku sudah banyak berhutang budi dengan keluarga Dea. Jadi aku berpikir untuk menerima tawaran tersebut. Aku harap kamu tidak marah padaku ya, karena tidak menanyakan padamu."
"Aku senang kalau kamu punya pekerjaan baru. Aku harap kariermu di tempat Pak Hermawan baik."
"Apa kamu tidak cemburu?" tanya Bagas. Dia tidak ingin menebak - nebak perasaan Evo.
"Aku percaya padamu. Ada yang bilang sama aku dulu kalau aku tidak boleh cemburu, karena cemburu itu berat ...."
"Lebih baik yang cemburu itu aku," sambung Bagas seraya tersenyum. Bagas memegang tanganku, lalu mengecupnya.
"Terima kasih sudah menemaniku ketika aku jatuh seperti ini," ucap Bagas lalu memandang mataku, " Aku tidak mengerti kalau bukan kamu wanita yang aku pilih, mungkin aku akan dibuang oleh mereka."
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kamu selalu membelaku dan memilihku," ucapku lagi.
Bagas tersenyum. Aku memang tidak salah memilih kamu menjadi teman hidupku. Maaf karena kita belum menikah karena banyaknya masalah ini. Semoga setelah selesai badai ini, kita akan segera melaksanakan pernikahan kita yang tertunda. Ucap Bagas dalam hati.
"Jadi mulai kapan kamu akan kerja?" tanya aku.
"Mulai besok aku akan bekerja. Aku akan menggunakan mobil tuaku itu untuk transportku ke sana. Jaraknya lumayan jauh dari rumah ini," jelas Bagas.
"Berarti kamu harus segera memberitahu Indra, bahwa kamu sudah mendapatkan pekerjaan," aku mengingatkan Bagas.
"Besok pagi aku akan menelepon dia," janji Bagas.
"Baguslah kalau kamu sudah mulai bekerja besok. Ayo, kita tidur sudah malam. Aku khawatir kamu akan terlambat bangun," kataku memberitahu. Aku bangkit berdiri. Aku bermaksud untuk masuk ke kamar. Bagas menarik tanganku.
"Apa?" tanyaku.
Bagas tidak menjawab pertanyaanku. Dia segera mencium diriku.
"Aku rindu untuk mencumbu dirimu.
.
Aku diangkatnya ke kamar. Bagas mencumbuiku lagi.
*****
Keesokan harinya.
Bagas dan aku sudah bangun. Aku sudah mempersiapkan sarapan pagi kami yang ada kadarnya.
"Hari ini aku akan ke kantor Rafael untuk acara novelku. Mungkin sore aku akan pulang ke rumah," kataku memberitahu pada Bagas.
"Aku akan mengantarmu," ucap Bagas.
"Jangan. Nanti kamu akan datang terlambat. Inikan hari pertama kamu kerja di kantor Pak Hermawan. Aku tidak mau kamu datang terlambat karena mengantarku. Acaraku juga baru mulai pukul 10," cegahku.
"Baiklah. Berarti nanti aku akan menjemputmu pulang. Jadi kalau ini tidak boleh menolak," ucap Bagas.
"Sepakat. Aku setuju denganmu," kataku lagi. Beberapa menit kemudian acara sarapan pagi kamipun selesai.
Bagas mengambil tasnya, kemudian dia pergi berangkat ke kantor.
"Kamu sudah mau pergi?" tanya aku.
Aku menarik tangan Bagas lalu berkata, "Kamu melupakan sesuatu. Kamu lupa dengan aku!"
Bagas tersenyum. Dia benar - benar lupa untuk mencium kening aku kalau mau berangkat kerja. Setelah diberikan kecupan itu aku tersenyum bahagia.
"Hati - hati. Semoga hari kamu indah," ucapku.
"Kamu juga. Aku berangkat," pamit Bagas.
Setelah keberangkatan Bagas, aku merapikan rumah. Sudah dua hari ini rumah tidak dibersihkan olehku karena masih banyak barang yang harus ditata.
"Oke, rumah kesayanganku mari kita buat rumah ini menjadi manis," ucapku.
Lalu aku pun segera merapikan rumah. Menata segala barang yang masih terlihat kurang pas letaknya. Beberapa buku Bagas yang aku bawa dari apartemen aku tata dengan baik.
Tok, tok, tok.
Satu jam kemudian ketika aku sedang asyik mendekor ruangan, pintu rumahku diketuk. Aku menghentikan kegiatanku, kemudian membuka pintu.
"Indra?" tanyanaku tidak percaya.
"Hai, Vo. Ini aku bawakan sarapan untukmu dan Bagas," ujar Indra.
"Wah, Indra. Terima kasih atas makanannya. Ayo masuk," ajakku. Indra kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bagas sudah berangkat satu jam yang lalu. Kamu datang terlambat," terangku padanya.
Indra duduk di sofa. Dia melihat ke seluruh ruangan. Ternyata ruangan tersebut sudah lebih rapi dari sebelum pertama kali mereka datang.
"Ke mana Bagas pergi?" tanya Indra.
Aku memberikan minuman pada Indra, lalu berkata padanya, "Bagas dapat kerja dari Pak Hermawan, Papa Dea."
"Pak Hermawan? Siapa Pak Hermawan?" Indra bertanya.
"Papanya teman kecilnya Bagas, namanya Dea. Mereka sudah berteman dari dulu. Pak Hermawan banyak bantu keluarga Bagas dulu. Jadi kemarin Bagas diminta untuk membantu mengelola perusahannya tersebut," jelas aku.
"Kamu benar - benar hebat," puji Indra.
"Kenapa tiba - tiba kamu berkata seperti itu?" tanyaku pada Indra.
"Sepertinya aku kemarin mendengar bahwa Papanya Dea mau membantu Bagas untuk meminjamkan uang buat Perusahan Pratama dengan syarat Bagas menerima perjodohan itu. Benarkan apa yang aku dengar?" tanya Indra.
"Lalu apa hubungannya aku hebat dengan perjodohan itu?" tanyaku masih bingung.
"Ya karena kamu hebat, kamu mengizinkan Bagas untuk bekerja di perusahaan Papanya Dea. Itu artinya ada kesempatan bagi keluarga Dea untuk menjodohkan Dea lagi pada Bagas," sambung Indra memberitahu.
Aku diam mendengar ucapan Indra. Perkataan Indra benar juga. Jangan - jangan Pak Hermawan sengaja memberi tawaran pekerjaan itu agar dapat mendekati Bagas dan Dea. Tidak, jangan berpikir seperti itu. Itu pasti tidak benar.
Indra tersenyum melihat raut wajahku yang berubah. Pasti sekarang Evo berpikir bahwa ucapanku benar. Mudah sekali wanita ini dihasyut.
"Jadi selain membawa sarapan ke sini, apa tujuan kamu?" tanya aku pada Indra mengubah topik pembicaraan. Aku tidak mau membahas tentang Bagas dan Dea pada Indra.
"Hampir saja aku lupa. Tadinya aku mau mengajak Bagas untuk bekerja hari ini. Aku sangat membutuhkan Bagas untuk membantuku dalam perusahaan, tapi sepertinya aku gagal dapat bantuan," terang Indra.
"Aduh, pasti Bagas lupa menelepon kamu tadi. Aku sudah mengingatkan dia semalam untuk segera menghubungimu untuk memberitahu bahwa dia sudah dapat pekerjaan. Maafkan Bagas ya," pinta aku pada Indra.
"Tenang saja. Aku mengerti, atau begini saja apa kamu mau membantuku untuk bekerja di perusahaanku?" ide Indra. Kalau Evo mau kesempatan aku untuk mendapatkan Evo pasti lebih besar.
"Apa? Aku? Jadi manager? Tidak, tidak aku tidak mampu. Itu bukan bidangku," tolakku pada Indra.
"Mudah sekali pekerjaan ini. Kamu adalah bosnya, kamu hanya akan menyuruh anak buahmu untuk bekerja. Aku sangat yakin kamu pasti bisa dalam pekerjaan ini," Indra menyakinkan diriku.
'"Apa kamu yakin? Apa semudah itu?" tanya aku.
"Iya, benar. Kamu cuma menyuruh saja. Aku pasti akan membantu kamu untuk pekerjaan ini. Aku mohon Evo. Bantulah temanmu ini," pinta Indra.
Ya, Tuhan, semoga Evo mau menerima pekerjaan ini. Seharusnya dari kemarin aku menawarkan pekerjaan ini. Ini satu - satunya harapan aku agar aku bisa dekat dan mendapatkan Evolet. Semoga Evo mau. Semoga dia mau, ujar Indra dalam hati.
"Aku tidak yakin akan bisa. Itu bukan bidangku Indra," tolakku lagi.
"Aku pasti membantu kamu, percayalah padaku. Kamu mau kan?" tanya Indra pantang menyerah.
*****
Hai kamu, iya kamu! Terima kasih sudah membaca kisah Evo. Tetap setia ya membacanya. Evo tunggu kalian di episode selanjutnya. Jangan lupa gabung juga di group chat aku. ❤❤❤