MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Karena Cinta Tidak Harus Memiliki



Sebelum kalian membaca, mohon ditekan ya jempol dibawah dan vote. Like dan vote kalian membuat saya semangat berkarya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Drrt, Drtt, Drtt.


Bunyi panggilan masuk dari telepon genggam diriku. Aku berhenti melarikan diri dari Indra. Aku menatap layar teleponku. Telepon dari Bagas.


"Ha..., Halo, Bagas." sapaku.


"Evo? Kenapa dengan suaramu? Kenapa sepertinya kamu sedang di kejar-kejar?' tanya Bagas mendengar napasku tidak stabil.


"Tidak, hanya saja tadi aku..., sudah lupakan. Ada apa Bagas?" tanya aku balik. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian di rumah sakit.


"Papa masuk rumah sakit. Beliau pingsan tadi. Kamu ada di mana?" Bagas memberitahu dan menanyakan keberadaanku.


"Oh, aku, aku sedang menjenguk DIna. Aku akan segera ke rumah sakit untuk menemui kalian," kataku.


"Jangan. Kita bertemu di kantor saja. Kamu datang ke kantor ya." ucap Bagas lembut.


"Iya, Bagas. Aku akan ke kantor, tapi kenapa kita tidak langsung bertemu di rumah sakit?" tanya diriku bingung.


"Ikuti kata- kata aku saja ya sayang,aku menunggu kamu di sini. Hati - hati di jalan," ucap Bagas. Setelah bicara seperti itu Bagas menutup teleponnya. Ada yang aneh. Benar - benar ada yang aneh.


*****


Suatu Tempat.


"Foto yang bagus, Dea," puji Indra pada Dea.


"Bukan aku yang hebat, tapi kamu. Aku yakin Evo akan segera putus dengan Bagas. Saat itulah aku ingn kamu masuk dalam kehidupan Evo," saran Dea.


"Setuju," ucap Indra menyetujui rencana Dea.


"Sebentar lagi akan ada keguncangan yang hebat dengan hubungan Bagas, dan Evo. Pertengkaran hebat antara persahabatan Evo, Dina, Maureen dan Rafael. Di sanalah kamu masuk sebagai pahlawan untuk Evo," ungkap Dea.


"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Indra yang bingung dengan rencana yang dirancang oleh Dea.


"Kamu tidak perlu tahu, peranmu hanya sebagai pahlawan Evo," jelas Dea.


Indra membalikkan badan Dea, menatap wanita itu dengan tajam. "Jangan pernah menyakiti, Evo. Apa pun rencanamu aku akan setuju, tapi ketika kamu menyakiti Evo seujung rambut pun, kamu akan berurusan padaku! Mengerti?" ujar Indra.


Dea melepaskan tangan Indra. Dia pergi meninggalkan Indra dengan kesal. "Sudah dibantu malah berkata seperti itu padaku. Dasar lelaki yang menyebalkan!" maki Dea.


*****


Rumah Sakit Akan Sehat.


"Ada apa dengan kamu, Di? Kenapa bisa kamu pendarahan?" tanya Maureen yang sedang di sampingnya.


Tes, tes, tes. Air mata Dina mulai menetes. Dia memeluk Maureen sahabatnya itu. Maureen yang melihat Dina ikut meneteskan air mata.


"Jangan menangis, Dina. Aku tidak kuat melihat kamu seperti ini. Ada apa? Kenapa sama kamu? Tolong ceritakan padaku, biar aku bisa membantumu," ucap Maureen penuh kasih sayang.


"Rafael selingkuh, Ren. Dia selingkuh. Dia mengkhianati janji suci kami dihadapan Tuhan," tangis Dea pecah. Dia sangat kecewa dengan Rafael.


"Selingkuh? Rafael selingkuh? Apa kamu sudah tanya dengan Rafael? Apa ada bukti?" tanya Maureen. Dia melepaskan pelukannya. Dina menggeleng kepala, tanda dia tidak bertanya pada Rafael.


"Percuma, Ren. Dulu Rafaelpun pernah selingkuh, makanya kami putus. Aku tidak menyangka saat kami sudah menikah pun dia selingkuh," jelas Dea berusaha menenangkan dirinya.


"Sabar, Nak. Jangan terpancing emosi. Kasihan cucu Ibu yang ada di dalam kandungan kamu," ucap Mama Dina menasehati. Beliau mengelus punggung anak gadisnya itu. Dari dulu anaknya memang sulit untuk mengendalikan emosinya, tapi sekarang dia harus berusaha untuk menyelamatkan darah dagingnya sendiri yang sedang dia kandung di rahimnya.


"Perkataan Mbak Maureen benar sayang. Ada baiknya kamu memberi kesempatan pada Rafael untuk menjelaskan. Ingat anakmu masih butuh Bapaknya," pesan Mama Dina mengingatkan anaknya.


Seandainya Maureen dan Mama tahu sama siapa Rafael selingkuh, mereka juga pasti marah. Batin Dina menyimpan rahasia ini. Evo adalah sahabat pertamanya di kantor. Dia sudah mengganggap Evo saudaranya sendiri. Dia terkejut melihat foto yang di kirim pada telepon genggamnya. Dina merasa Rafael masih mencintai Evo. Pernikahan mereka dulu harusnya tidak terjadi. Itu penyesalan Dina. Dina salah telah menerima lamaran Indra.


"Pikirkan ya, Din. Jangan lama - lama seperti ini. Kasihan Rafael tersiksa dengan tidak kepastian ini," ucap Maureen menasehati.


"Terima kasih telah menjengukku." kata Dina pada akhirnya.


"Kamu, dan Evo sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri. Sudah semestinya kita saling dukung baik suka maupun duka," ungkap Maureen kemudian memeluk Dina lagi, "Sama seperti kemarin aku sakit, kalian mendukungku untuk bangkit. Cepat sembuh ya. Aku dan Evo merindukan kebawelan kamu."


"Semoga benar kalau Evo juga merindukanku," gumam Dina.


"Apa? Kamu bilang apa, Din?" tanya Maureen.


"Tidak. Aku tidak bilang apa - apa," bantah Dina.


****


"Bagaimana keadan suami saya, Dok?" tanya Bu Lina ketika Dokter ke luar dari ICU. Charlotte ikut berdiri melihat dokter ke luar dari ICU.


"Saya sudah pernah memberikan saran pada kalian, kenapa tidak dituruti? Pak Freddy tidak bisa banyak pikiran. Apa kalian mau nyawa Pak Freddy melayang?" marah Dokter pribadi keluarga Pratama pada Bu Lina. Charlotte hanya diam mendengarnya.


"Maafkan kami, Dok. Kami tidak akan mengulangi hal ini." janji Bu Lina.


"Pak Freddy masih belum siuman. Saya belum mengizinkan siapa pun untuk menjenguknya. Saya permisi dulu," ujar Dokter pergi meninggalkan Bu Lina dan Charlotte.


"Puas, Mam? Puas Mama melakukan ini? Aku kecewa sama Mama, Mama mengorbankan nyawa Papa. Charlotte heran dengan kebencian Mama sama Mbak Evo!"


"Diam kamu, Charlotte. Mama tidak butuh ocehan anak tidak tahu diri sepertimu!" bentak Bu Lina.


*****


Kantor Pratama


Aku menuju ke ruangan Bagas. Setiap orang memandangku sengit. Mereka berbisik ketika melihatku.


Tok, tok, tok.


Aku mengetuk pintu ruangan Bagas dari luar. "Masuk," izin Bagas dari dalam.


"Hai, sayang," sapa Bagas senang melihat aku sudah datang. Dia mendatang diriku, lalu memeluknya.


"Ada apa dengan orang - orang di sini? Mengapa semua melihat aku sinis seperti itu?" tanyaku pada Bagas.


Bagas melepaskan pelukannya, kemudian dia menyalakan laptop dan memberitahu berita yang telah tersebar luas di seluruh masyarakat.


"Si, siapa yang menyebarkan itu semua?" tanya aku tidak percaya.


Bagas menggelengkan kepala, dia tidak tahu siapa yang menyebarkan video saat mereka berhubungan layaknya sepasang suami istri. Aku terduduk lemas. Bagas menghampiriku, lalu berlutut di depanku.


"Karena berita ini, perusahaan akan mengalami goncangan. Para pemegang saham sudah banyak yang menarik sahamnya di perusahaan kita. Aku harap kamu kuat dengan ini semua," jelas Bagas.


Aku memegang wajahnya, lalu berkata, "Aku yang harusnya berkata seperti itu padamu. Kamu harus kuat. Aku selalu ada untukmu."


Bagas memelukku, lalu berkata, "Aku harus berterima kasih pada Tuhan, karena Dia memberikan wanita yang tepat untuk aku cintai. Terima kasih Evo. Terima kasih.


Kenapa badai terus datang padaku? Tidak bisakah mereka datang satu persatu saja? Paling tidak ketika satu masalah selesai, mereka baru datang lagi. Batin aku menangis dalam hati.


*****


Siang ini aku bertemu dengan Charlotte. Charlotte memberikan pesan singkat padaku, Dia ingin bertemu denganku hari ini. Aku meninggalkan Bagas yang sedang rapat darurat dengan semua para pejabat.


Aku sudah sampai di tempat yang disepakati oleh kami.


"Hai, Mbak. Maaf aku datang terlambat," kata Charlotte yang baru saja datang. Lalu segera duduk.


"Tidak apa - apa, Char. Bagaimana keadaan Om Freddy?" tanyaku.


"Papa gawat, Mbak. Belum bisa dijenguk. Papa belum siuman juga," cerita Charlotte.


"Aku sedih mendengarnya. Tadi aku ingin menjenguk Om Freddy, tapi dicegah oleh Bagas," kataku.


"Keputusan Mas Bagas benar. Mbak jangan bertemu dengan Papa atau Mama dulu ya," pinta Charlotte, "Mama lagi benar - benar membencimu."


"Apa salahku, Char, sehingga Tante Lina membenciku?"


Charlotte memegang tangan diriku, kemudian dia memohon padaku dengan menangis, "Lepaskan, Mas Bagas, Mbak. Lepaskan dia, Mbak. Jangan sampai hidup kalian semakin menderita. Tolong dengarkan diriku, Mbak."


"Tapi Char, aku mencintai Bagas. Aku tidak mau kehilangan, Bagas," tegasku.


"Tolong dengarkan aku untuk terakhir kali ini. Hubungan kalian akan menghancurkan semuanya. Mas Bagas tidak bisa aku nasehati, aku mohon paling tidak kamu dengarkan aku." kata Charlotte memohon sambil menangis. Aku benar - benar tidak tega melihatnya.


"Aku tahu kalian saling mencintai, tapi aku juga tahu cinta kalian bisa menghancurkan semua. Cinta tidak harus memiliki, Mbak. Tolong dengarkan aku, Mbak," pinta Charlotte dengan air mata yang masih menetes.


Apa cinta kami merusak semuanya? Apa kami ditakdirkan untuk bersatu? Apa aku harus mempertahankan dirimu, Gas? atau aku harus pergi meninggalkan kamu dengan kondisi seperti ini?


*****


Jadi, apakah Evo akan meninggalkan Bagas seperti saran Charlote calon adik iparnya? Bagaimana nasib hubungan mereka selanjutnya? Saksikan terus ya.