MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Propose Bagas



" Bagas, kamu membuat aku malu!" kataku mendengar dukungan para pengunjung di cafe tersebut. Mukaku mulai merah padam. Aku sungguh malu. Bagas benar-benar mengejutkan hatiku.


" Maukah kau menjadi kekasihku?"tanya Bagas lagi. Lalu aku pergi meninggalkan Bagas. Aku malu. Rafael yang melihatku pergi, mengejarku dari belakang.


Semoga aku tidak terlambat untuk membuktikan perasaan ini padamu, Vo. Ucap Bagas dalam hati.


" Vo, tunggu Vo," panggil Rafael kemudian menarik tanganku.


" Rafael...."


"Mau ke mana?"tanya dia. "Kenapa langsung pergi?"


" Maafkan aku, Fa. Aku tadi malu melihat tingkah Bagas seperti itu".


" Kenapa malu? Apa kamu pun ada perasaan pada Bagas?" tanya Rafael. Kami berdiri di depan pintu cafe.


Aku terdiam. Rafael menunggu jawaban dariku. Wajah Rafael sepertinya sedih.


" Jujurlah padaku, Vo," Rafael menatapku dengan lembut.


" Aku, akupun tidak tahu, Rafa."


Rafael memegang tanganku. Lalu dia berkata," Apapun keputusanmu, aku akan tetap menjadi sahabat terbaikmu."


Aku menatap mata Rafael. Kata-katanya penuh dengan ketulusan. Tuhan semoga aku tidak menyakiti mereka berdua.


Beberapa hari kemudian.


Seperti biasa, jam wekerku berbunyi dipagi hari. Tandanya sudah pagi. Sabtu pagi yang cerah. Saatnya berleha-leha.


Tok, tok, tok.


Baru saja mau santai, pintu rumah sudah ada yang mengetok. Siapakah geranga yang datang ke sini? Aku membuka pintu dengan perasaan malas.


" Maaf, apakah anda Evolet?" tanya pria berjas hitam, juga memakai kaca mata hitam.


" Iya, saya Evolet."


" Saya di suruh tuan muda Bagas menjemput anda sekarang."


" Boleh aku mengganti pakaianku?"


" Tidak usah nona. Nona diharapkan segera ikut dengan kami." ujar pria berjas itu lagi. Lalu dibawanya aku pergi.


Dua jam perjalanan kami lalui. Akhirnya tiba juga kami di sebuah villa. Villa yang terdapat banyak bunga di sekitarnya. Ada pula pepohonan. Masih ada juga suara kicauan burung. Merdu, dan nyaman sekali.


Tuan muda sudah ada di sana. Aku mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pria berjas hitam itu. Aku menuju ke villa tersebut. Seperti tidak ada orang. Aku membuka pintu


" Selamat ulang tahun EVOLET?!!" ujar semua orang di dalam.


" Pak Bagas? Mbak Meli? Maureen, Dina???? Kenapa kalian di sinii?" aku terkejut. Ya ampun, aku benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku.


Maureen dan Dina lari memelukku. Mereka memberi pelukan selamat ulang tahun padaku. Aku terharu. Aku bahagia sekali.


" Selamat ulang tahun, sahabatku yang paling baik," Maureen memberikan selamat.


" CEPAT MENIKAAH SAMA PAK BAGAS!" teriak Dina padaku, setelah itu aku memukul kepalanya.


" IH, SAKIT TAHU!"


" Makanya kamu jangan bicara sembarangan!" belaku. Mbak Meli menghampiriku, kemudian mengucapkan selamat.


Terakhir, Bagas datang menghampiriku, kemudian Bagas memberikan selamat, "Selamat ulang tahun untuk calon istriku tersayang."


" Memang sejak kapan aku menerima lamaranmu?" ledekku padanya.


" Kamu juga belum menolak aku," balas Bagas ngga mau kalah. Teman-temanku riuh mendengar ucapan Bagas. Acara potong kue dan tiup lilin pun dimulai. Aku membagikan kue ulang tahunku. Acara selanjutnya, kami keluar untuk manggang-manggang. Walau cuma sedikit saja yang datang, tapi aku bahagia.


" Ide siapa?" tanyaku pada Dina ketika yang lain sibuk dengan acara memanggang.


" Dua hari yang lalu, Pak Bagas mendengar kami mengobrol. Kami bilang kamu akan ulang tahun. Lalu dia mengusulkan acara ulang tahunmu di villa miliknya."


" Jadi sejak kapan kalian di sini?"


" Lalu ke mana pacarnya? Kenapa tidak ikut merayakan?"


" Tadi sih kata Maureen, pacarnya pergi ke rumah omnya yang dekat dari sini rumahnya.


" Oh, sayang sekali dia tidak ikut," aku menyayangkan. Pacar Maureen, namanya Indra. Orangnya baik sekali. Sudah tujuh tahun mereka pacaran.


" Sudah tidak usah dipikirkan, ayo kita segera kumpul dengan yang lain," ajak Dina. Kamipun menghampiri mereka.


Tidak terasa matahari sudah mulai terbenam. Bagas meminta kami untuk menginap di villanya. Besar juga villa milik Bagas. Ada banyak kamar di villa ini. Kamipun setuju. Lumayan berakhir pekan di tempat yang begitu nyaman.


" Indra gimana, Ren?" tanyaku.


" Tadi dia bilang akan menginap di rumah Omnya. Ada yang mau di urus katanya. Cuman dia nanti ke sini," jawab Maureen sambil menyiapkan diri untuk mandi.


Kami semua sudah masuk ketika matahari sudah berganti bulan. Maureen sedang mandi. Dina lagi asyik membaca novel. Mbak Meli sedang menelpon. Bagas pergi keluar, entah dia ke mana. Jaket dia ada di sini. Hawa diluar pasti dingin sekali. Aku mengambil jaketku serta jaket milik Bagas. Aku keluar mencari Bagas.


" Bagas?" panggilku. Aku mencari Bagas, tapi tidak kelihatan. Untung villa Bagas memiliki penerangan yang baik, jadi aku tidak perlu takut gelap. Tiba-tiba penglihatanku menjadi gelap. Ada seseorang menutup mataku.


" Tebak aku siapa?" tanya orang itu seperti anak kecil.


Mendengar suaranya saja aku sudah tahu, bahwa itu adalah Bagas. Lalu aku berkata,"Bagas! Sudah mainnya. Lepaskan mataku."


Bagas melepaskan tangannya dari mataku, dia menggerutu," Kamu tidak bisa romantis sekali. Kenapa jawaban tidak seperti difilm-film?"


" Pakailah jaket ini. Udara dingin sekali. Nanti kamu saki," ucapku khawatir. Bagas mengambil jaket tersebut lalu memakainya.


" Terima kasih."


Kemudian kamipun berjalan menyusuri taman villa milik Bagas. Ada beberapa tempat duduk di sana. Kami pun duduk di salah satunya.


" Kamu...." Ucap kami berbarengan.


" Aku...." Kata kami lagi bersamaan.


" Silahkan kamu duluan, Vo," Bagas mempersilahkan.


" Terima kasih untuk pesta kejutan hari ini. Aku bahagia sekali," uarku tulus sambil menatap Bagas.


" Apapun kulakukan demi kebahagianmu, Vo," balas Bagas. Lelaki yang baru bebeberapa bulan aku kenal ini ternyata begitu baik. Banyak perubahan yang kurasakan padanya.


" Apapun?" tanyaku.


Bagas memegang tanganku. Kemudian tanganku ditaruh dia di dadanya.


" Aku bersumpah. Aku Bagas Pratama akan selalu menjaga, melindungi, dan mencintai Evolet Rebecca dengan segenap jiwa serta ragaku," sumpah Bagas. Aku benar-benar terharu melihat kejadian ini. Bagas yang kasar telah berubah menjadi pria yang lembut.


" Nona Evolet Rebecca, maukah kau menikah denganku?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai semua, salam kenal ya. Semoga kalian suka dengan cerita ini. Mohon bantu like, comment, dan share sebanyak-banyaknya.


Akhir kata, saya ucapkan terima kasih.😁😊