
Jangan lupa sebelum kamu membaca karyaku ditekan jempol, dan kasih vote ya.... Terima kasih.
**********
Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi.
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu.
Aku tak akan lupa.
Tak akan pernah bisa.
Tentang apa yang harus memisahkan kita.
Di saat ku tertatih, tanpa kau disini.
Kau tetap aku nanti.
Demi keyakinan ini, jika memang dirimulah tulang rusukku.
Kau akan kembali, pada tubuh ini.
Aku akan tua dan mati dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini.
Lirik lagu dari Last Child- Seluruh Nafas Ini.
********************
Bagas bangun dari tidurnya. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kami.
"Hari ini aku tidak ke kantor. Aku mau ke rumah jenguk Papa. Kamu ikut ya," ajak Bagas.
Aku memberikan makanan pada Bagas, lalu menjawab ajakannya, "Hari ini aku mau ketemu Rafael untuk tanda tangan kontrak novelku. Bolehkah kita bertemu Rafael dahulu baru kita ke rumahmu?"
"Om Hermawan - Papa Dea akan ke rumah sebentar lagi. Apa kamu diantar oleh supir saja, Vo?" tanya Bagas.
Dea lagi Dea lagi. Apa aku mulai tidak penting ya buat Bagas? Aku bertanya dalam hati.
"Baiklah. Nanti aku akan menyusul kamu setelah aku selesai tanda tangan kontrak."
Setelah selesai makan, kami berdua bersiap - siap untuk acara kami masing - masing.
**************
Di tempat makan.
"Bisakah kamu tidak mengganggu aku terus? Kita sudah putus, Maureen!" tegas Indra. Indra begitu kesal dengan Maureen. Hampir setiap detik wanita ini memberi pesan untuk Indra. Menelepon untuk minta ketemu.
Maureen menangis, dia tidak sanggup untuk kehilangan Indra. Indra adalah laki - laki yang dia cintai selama ini, karena hal kecil mereka jadi putus. Hal kecil itu adalah kesalahan Maureen.
"Berikan aku kesempatan sekali ini aja, Indra," Maureen memohon.
Sebenarnya Indra sudah tidak mencintai Maureen. Pria itu malah senang karena dia diputuskan oleh kekasihnya itu. Indra sudah merancang semua ini sedemikian rupa, hingga rencananya berhasil. Malam itu Maureen melihat foto Evo di kamar Indra. Maureen cemburu lalu memutuskan Indra. Indra memang sengaja menaruh foto itu di kamarnya agar dilihat oleh Maureen.
Indra menggeleng kepala, tanda dia tidak mau berhubungan dengan Maureen,"Maaf Maureen, aku tidak bisa denganmu lagi."
"Kenapa Indra? Kenapa?" tanya Maureen tidak percaya. Indra bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkan Maureen yang masih menangis.
Diujung pintu Indra menabrak seseorang. Orang itu adalah aku, Evolet Rebecca.
"Maaf," ucap aku. Aku menengok. Ternyata yang aku tabrak adalah Indra.
"Evo. Apa kamu baik - baik saja?" tanya Indra lembut. Dia menyentuh tanganku, dan memperhatikan seluruh tubuhku.
"Tidak, aku tidak apa - apa. Terima kasih," ujarku lalu melepaskan tangannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Indra bertanya dengan wajah yang senang.
"Aku mau bertemu Rafael. Hari ini ada urusan dengannya. Kalau kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku balik.
"Menemui Maureen. Dia minta balik, tapi aku tidak mau. Aku mencintai seseorang...."
"Cukup! Aku tidak mau mendengar lanjutan kata - katamu lagi!" Aku memotong ucapan Indra. Aku melihat seluruh ruangan. Ada Maureen yang sedang menangis di salah satu meja rumah makan ini.
"Kenapa kamu harus putus dengan Maureen? Dia mencintaimu, Indra. Ingat masa - masa kalian bersama dulu. Maafkan Maureen, jangan tinggalkan dia," pintaku pada pria itu.
Indra mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Indra berbisik sesuatu padaku. Aku mendorong tubuhnya, lalu berkata padanya, "Kamu sudah gila, Indra!"
"Aku gila karena mencintaimu, Evo," ucap Indra kemudian pergi meninggalkan diriku. Aku terkejut mendengar perkataan Indra. Semoga Maureen tidak tahu kegilaan Indra ini. Aku melangkah menuju tempat Maureen. Aku menyentuh tubuhnya. Melihat kehadiranku, wanita itu langsung memelukku. Dia menangis begitu piluh. Tidak pernah aku melihatnya terpuruk seperti ini.
"Kenapa kamu?" tanyaku pura - pura tidak tahu.
"Aku mau mati saja, Vo. Mau mati!" jerit Maureen sambil menangis.
**********
"Hai, Vo, Maureen!" sapa Dina.
Setelah setengah jam berlalu, Maureen baru tenang. Aku menelepon Dina untuk datang ke sini. Rafael juga baru datang dari kantornya. Mereka datang sendiri - sendiri.
"Sudah lebih tenang, Din. Aku sedih melihat kondisi dia seperti ini. Maureen tidak pernah seperti ini sebelumnya."
Maureen diam saja sejak tadi. Pandangan kosong, sepertinya pikirannya melayang ke mana - mana.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Dina pada Rafael.
"Sebaiknya kita bawa Maureen ke rumah sakit," pendapat Rafael. Dina menatap diriku, menanya respon atas pendapat suaminya itu.
"Aku sudah tidak apa -apa, Vo, Ren, Fa," ucap Maureen pada akhirnya. Air matanya menetes kembali. "Aku yang salah, aku tidak percaya padanya. Aku yang salah karena aku malah cemburu pada sahabatku sendiri. Aku pantas mendapatkan semua ini. Indra pantas marah padaku. Indra selalu memberikan cinta padaku, tapi malah aku yang tidak percaya."
Aku memeluk Maureen, "Sudah, Maureen. Sudah. Kamu tidak salah. Tuhan memberika percobaan ini padamu karena Tuhan tahu dia bukan jodohmu."
"Aku tidak mau,Vo. Aku hanya mau Indra jadi jodohku," Maureen tetap memaksa keinginannya. Ketika aku mau bicara lagi, Dina memberi isyarat agar aku diam saja. Tiba - tiba Maureen pingsan dipelukanku.
"Maureen!" jeritku.
"Maureen!" teriak Dina ikut panik.
"Ayo, kita bawa dia ke rumah sakit," ajak Rafael. Lelaki itu mengangkat tubuh Maureen, Kami menuju ke rumah sakit.
**********************
"Sayang, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa datang ke rumah menjenguk Om Freddy. Maureen sedang gawat. Sesampainya di apartemen aku akan cerita sama kamu," aku menelepon Bagas. Hari sudah siang, aku takut Bagas akan khawatir padaku.
"Hati - hati kamu. Kita ketemu di apartemen," ucap Bagas kemudian menutup telepon.
"Siapa?" tanya Dea.
"Evo. Hari ini dia tidak bisa menjenguk Papa. Sahabatnya sedang gawat, entah gawat apa." jelas Bagas.
"Aneh. Seharusnya dia lebih mementingkan Papamu dari pada apapun," Dea berpendapat.
Bagas juga kecewa dengan Evo. Perkataan Dea benar, seharusnya Evo datang menjenguk Papa. Padahal dia sudah tahu kalau Papa dan Mama sedang tidak setuju dengan hubungan mereka. Seharusnya Evo mengambil hati kedua orang tuanya, bukan malah menolong orang lain.
**************************
Akhirnya aku, Dina, dan Rafael memutuskan mengantar Maureen ke rumah sakit. Kami sedang menunggu dokter yang sedang memeriksa Maureen.
"Bagaimana keadaan Maureen, Dok?" tanya Dina.
"Kalian siapanya pasien?" tanya Dokter balik.
"Kami temannya, Dok. Keluarganya akan segera ke sini," Rafael yang menjawab.
"Mbak Maureen ini kekurangan cairan dalam tubuhnya. Sepertinya beberapa hari ini asupan makanan dan minuman tidak masuk ke dalam tubuhnya," ungkap Dokter. "Syukurlah kalian cepat mengantar dia ke sini untuk segera diatasi."
"Terima kasih, Dok," ucapku.
"Resep obat akan saya berikan pada perawat untuk diberikan kepada Mbak Maureen. Saya izin pamit," pamit Dokter. Kami bertiga mengangguk setuju.
"Ada apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Rafael bingung dengan keadaan Maureen yang terpuruk seperti ini.
Dina menghela napas panjang, kemudian dia berkata, "Maureen putus dengan Indra. Mereka sudah berpacaran lama. Kalau tidak salah tujuh tahun. Ketika Maureen minta balik, Indra tidak setuju."
Rafael menghela napas juga. Dia mengerti situasi seperti ini. Dulu Dina dan Rafael pernah merasakan keadaan seperti ini. Keadaannya begitu menyakitkan, hingga rasanya ingin gila dan mau mati saja.
"Aku harap Maureen segera kuat. Kalau memang Indra jodohnya, pasti akan kembali. Seperti kita ini. Benarkan sayang?" ucap Rafael kemudian memeluk Dina.
Seandainya aku ada kekuataan untuk menceritakan hal sebenarnya pada mereka, tapi aku takut akan memperkeruh suasana. Indra benar - benar sudah tidak waras. Semoga Indra bisa sadar dengan kegilaannya. Maureenlah yang pantas untuk dia bukan aku.
*********************************
Apartemen Bagas.
"Bagaimana keadaan Papa?" tanyaku ketika Bagas baru tiba di apartemen.
"Oh, kamu masih bertanya tentang Papa rupanya. Aku pikir kamu tidak peduli dengan beliau."
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bagas, aku terkejut. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu berkata seperti itu? Tentu saja aku khawatir dengan Om Freddy!"
"Kalau kamu khawatir, pasti kamu akan datang ke rumah dan menjenguk Papa sebentar," jelas Bagas.
"Menjenguk Om Freddy bisa aku lakukan besok. Apa kamu tahu bagaimana keadaan Maureen hari ini?"
"Ternyata keluargaku tidak begitu berharga buat dirimu?" tanya Bagas mulai meninggikan suara.
"Bukan begitu maksudku, Bagas. Om Freddy sama berharganya buat aku, tapi hari ini ...."
"Cukup, Vo. Kamu tidak usah bicara lagi. Aku tidak mau bertengkar denganmu. Satu hal yang perlu kamu ingat Papa dan Mama tidak setuju dengan pernikahan kita, tolong bantu aku untuk meyakinkan mereka bahwa kamu pantas untukku," jelas Bagas kemudian dia masuk kamar membanting pintu.
Aku duduk termenung. Bagas marah padaku, dia salah paham denganku. Aku benar- benar sedih melihat keadaan ini. Indra mencintaku dan Maureen terpuruk kehidupannya. Mengapa banyak masalah dalam hidupku?
****************************