MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Bertemu Karel Bastian



Dua minggu lagi pesta pernikahan aku dan Bagas akan segera digelar. Surat undangan sudah disebar ke para undangan. Kami tidak terlampau sibuk, karena yang mempersiapkan anak buah Bagas.


" Besok pagi aku akan berangkat lagi ke Malaysia. Ada beberapa dokumen yang harus aku periksa," ujar Bagas ketika kami sedang asyik menonton televisi.


"Kenapa begitu mendadak?" tanyaku.


"Iya, ada beberapa proposal yang sepertinya salah, ujar Bagas lagi.


" Kapan pulang?"


" Lusa. Kenapa?" tanya Bagas memandangku. Aku takut kalau Ibu Lina akan datang ke apartemen ini dan melakukan hal yang tidak baik. Aku merangkul tangan Bagas.


" Hey, aku hanya sebentar pergi," ujar Bagas.


" Apakah harus pergi? Aku tidak mau kamu pergi." Ujarku.


Bagas mulai bingung dengan tingkah lakuku. Dia memeluk aku dengan erat, kemudian berkata," Ada apa sayang?"


" Tidak, aku hanya takut kehilanganmu, Bagas," ucapku.


" Tenanglah, aku akan kembali untukmu."


" Janji?"


" Iya, janji." Ucap Bagas. Dia mencium dahiku. Ada apa denganmu, Vo? Hari ini kamu begitu manja.


❣❣❣


Keesokan harinya Bagas pergi ke Malaysia meninggalkanku. Aku tidak mengantar Bagas karena Bagas tidak mengizinkanku pergi.


Drrt.


Bunyi pesan masuk. Bastian mengirim pesan.


Bastian : Hai, Moy, aku merindukanmu.


Sebenarnya aku pun merindukan Bastian. Dia begitu baik padaku selama di Malaysia. Sepertinya aku harus bertemu dengannya lagi. Aku harus memberitahu kepada Bastian bahwa aku akan segera menikah. Aku membalas pesannya.


Aku ingin bertemu. Kita ketemu di kafe Cinta nanti siang.


Bastian : Sampai ketemu.


❣❣❣


"Evolet!" Panggil Bastian. Aku berjalan menuju ke tempat duduknya. Bastian memanggil pelayan, lalu memesan makan dan minuman untukku.


Bastian tersenyum, diapun berkata,"Tidak apa-apa, Vo. Aku senang kamu datang. Bagaimana kabarmu?


Aku memberikan surat undangan. Bastian membuka surat tersebut. Sekilas aku melihat raut muka dia berubah menjadi sedih.


" Ternyata aku terlambat ya," ucap Bastian.


" Apa maksudmu?" tanyaku bingung.


"Tidak usah dipikirkan. Selamat untuk kalian berdua," ucap Bastian lalu menjabat tanganku.


"Terima kasih, Bas. Aku harap kamu bisa datang ke pestaku."


"Sepertinya aku tidak bisa, Vo. Minggu depan aku akan pulang ke Malaysia," Bastian berdusta.


" Kenapa balik? Bukannya kamu akan tinggal di sini?"


"Aku tidak dapat kerja, Vo."


Kemudian kami berdua terdiam, hanya alunan musik yang mengisi keheningan ini. Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan kami. Biasanya kami berdua selalu berbincang dengan mudah, tapi kali ini begitu sulit.


"Apa aku boleh bertanya satu hal sama kamu?" Tanya Bastian membuka keheningan.


"Apa?"


"Apa kamu benar-benar mencintai, Bagas?" tanya Bastian.


"Aku sangat mencintai Bagas, Bas. Walau, Bagas kelihatan galak, dia sebenarnya rapuh. Aku sangat sayang padanya, Bas," kataku dengan tegas.


Bastian terdiam, dia bingung mau bicara lagi. Sepertinya tidak ada lagi tempat baginya dihati Evo.


"Aku pulang dulu ya, Bas. Langit sudah sore. Aku harus pergi ada hal yang akan aku kerjakan." Pamitku. Bastian mengangguk. Perasaan Bastian sebenarnya sedih. Seandainya dia yang lebih dulu bertemu dengan Evo, pasti dia yang akan menikahi Evo bukan Bagas.


Kepala Bastian terasa sakit. Pria itu memegang kepalanya, lalu Bastian terjatuh. Para pelayan panik melihat Bastian jatuh lalu memanggilku.


"Mbak, mbak! Maaf, tadi mbak sama pria yang memakai baju merahkan?"


Aku mengingat-ingat baju milik Bastian. Iya, benar itu baju Bastian.


"Benar, Mbak. Ada apa ya?" tanyaku.


"Temannya pingsan, Mbak."