MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Pilihan (2)



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Apartemen Bagas.


"Aku tidak bisa diam saja di sini. Aku harus ke luar dari apartemen. Aku mau tahu keadaan Bagas. Bagas dari tadi tidak bisa ditelepon, aku sangat khawatir," ucapku. Aku mengambil masker, dan selendang untuk menyamar. Semoga para wartawan tidak melihat diriku, dan tidak mengetahui penyamaranku.


Aku ke luar dari kamar apartemenku, kemudian aku menuju lift untuk turun ke bawah. Aku menekan tombol lift untuk membukanya. Setelah terbuka, aku masuk dan menekan lantai dasar. Untung saja di dalam lift tidak ada orang, sehingga orang tidak aneh melihat tingkahku.


Jantungku berdetak kencang karena gugupnya, tanganku mulai dingin. Sebentar lagi aku akan menuju lantai dasar. Semoga para wartawan tidak tahu penyamarannya.


Lift sudah sampai ke lantai dasar, menunggu untuk terbuka. Debaran jantungku semakin cepat berdetak. Aku mulai panas dingin. Ketakutan aku semakin memuncak. Kamu pasti bisa menghadapi para wartawan. Kamu pasti bisa Evo*. *Ucap aku dalam hati.


Lift pun terbuka. Aku terkejut karena banyak banyak wartawan yang ada di lobby. Dengan mengendap - endap aku jalan menuju ke luar lobby. Aku sudah menelepon supir Bagas untuk bertemu di jalan.


"Mbak, mbak!" panggil salah satu wartawan padaku.


*OH, My God! *Apa aku ketahuan ya? jerit aku dalam hati.


"Dompetnya jatuh, Mbak," ucapnya lagi. Aku membalikkan badan kemudian mengambil dompet tersebut. Setelah itu aku pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Takut penyamaran aku terbongkar.


"Eh, dasar orang kaya! Sudah dibantu malah tidak mengucapkan terima kasih!" umpat wartawan itu.


Aku pun berlari ke ujung jalan tempat janjian aku dengan supir Bagas. Setelah beberapa menit aku menunggu, supir tersebut tidak kunjung datang. Akupun menelepon supir Bagas.


"Non Evo, maafkan saya, mobil tuan muda bannya bocor. Saya jauh dari bengkel," jawab Pak Udin.


"Oh, ya udah, Pak. Saya naik taksi aja," balas diriku. Setelah pembicaraan itu aku mencari taksi. Sudah lima menit aku menunggu taksi tapi tidak ada. Aku takut nanti wartawan melihatku karena aku telah melepaskan maskerku. Aku hanya menggunakan selendang saja.


Tin, tin, tin.


Bunyi klakson mobil seseorang. Orang itu adalah Indra. Indra membuka jendela mobilnya.


"Kamu mau ke mana, Vo?" tanya Indra.


"Indra? Aku, aku mau ke kantor Bagas, tapi dari tadi aku menunggu taksi tidak kunjung datang," aku menjelaskan pada Indra.


"Masuklah. Aku akan mengantarmu ke sana," ajak Indra.


"Tapi, aku....." kataku ragu. Sebenarnya aku tidak ingin berhubungan lagi dengan Indra.


"Apa kamu mau ketahuan dengan para wartawan itu?" tanya Indra. Aku menggelengkan kepala.


"Ayolah masuk! Aku janji tidak akan berbuat jahat," janji Indra padaku.


Dari kejauhan ada wartawan yang mengenali wajahku, lalu aku berkata,"Evo! Itu Evolet Rebecca! Ayo kita ke sana!"


Mendengar teriakan itu, tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke mobil Indra. Indrapun melajukan mobilnya dengan kencang.


"Terima kasih ya sudah menolongku," ucapku pada Indra.


Indra menengok ke arah aku, kemudian dia tersenyum. "Akhirnya, aku bisa melihat Evo yang selalu baik pada semua orang. Maafkan kelakuanku selama ini ya."


"Aku sudah memaafkan kamu, Indra, tapi...."


"Tapi kamu tidak bisa menerima cintaku, betulkan?" ucap Indra mengulang kata - kataku.


Aku menggangguk menjawab pertanyaan Indra. Sepertinya Indra sudah mengerti maksud hatiku. Semoga dia dapat wanita yang lebih baik dariku.


"Sudah. Jangan membahas hal itu lagi ya, Ndra. Sekarang kita adalah teman," ucapku.


"Dari dulu kali, Vo kita teman," ledek Indra. Aku tertawa mendengar ledekan Indra.


Akhirnya aku bisa melihat wajah Evo yang tersenyum. Aku sangat senang sekali, apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi milikku. Senang Indra dalam hati.


*****


Rumah Sakit


"Papa, akhirnya Papa sadar juga," ucap Charlotte lalu memeluk Pak Freddy.


"Hai, Om Fred!" sapa Dea.


"Papa juga senang lihat kamu, sayang." ucap Pak Freddy.


"Bagaimana perasaan kamu, Fred?" tanya Pak Hermawan. Pak Freddy tersenyum melihat kerabatnya datang melihat dia.


"Sudah lebih membaik. Maaf membuat kalian begitu khawatir. Terima kasih sudah datang menjengukku," kata Pak Freddy pada semua yang ada di ruangannya.


"Suamiku benar, Fred. Jangan banyak pikirkan. Bagas pasti akan kami bantu," ujar Bu Heni membenarkan ucapan suaminya.


"Bagaimana kabar Bagas? Apa dia sudah dapat mengatasi masalah Perusahaan Pratama?" tanya Pak Freddy. Semua yang ada di dalam ruangan terdiam. Mereka tidak ingin menceritakan kepada Pak Freddy, takut kesehatannya menurun.


"Tadi Tante Henikan sudah biland ke Papa, Papa tidak boleh banyak pikiran. Aku yakin Mas Bagas bisa menyelesaikan ini semua," Charlotte menjawab pertanyaan Pak Freddy.


"Walau sampai sekarang anak kesayanganmu itu tidak pernah menjengukmu," umpat Bu Lina kesal.


"Hush, kamu tidak boleh berkata seperti itu, Lin. Saya yakin Bagas sedang berjuang untuk mempertahankan Perusahaan Pratama," Bu Heni mengingatkan Bu Lina.


"Papa harus tahu Bagas menolak bantuan keluarga Freddy hanya karena calon mantumu yang payah itu," cerita Bu Lina kesal.


"Tante, aku mohon jangan buat beban pikiran Om Freddy bertambah. Aku takut kesehatan Om Freddy menurun. Ingat kata Dokter, Tan," Dea mengingatkan Bu Lina.


"Mbak Dea benar, Mam. Tolong ya pembahasan ini kita tunda dulu," pinta Charlotte.


"Dea benar, Lin. Sudah jangan bahas yang tidak penting," Bu Heni juga mengingatkan. Diserang dari ketiga orang tersebut Bu Lina diam.


"Bantuan apa?" tanya Pak Freddy penasaran.


"Sudah, jangan dipikirkan. Kamu pulihkan dulu diri kamu, baru kamu boleh ikut campur dalam urusan perusahaan," nasehat Pak Hermawan.


"Baik, Her. Saya nuruti nasehat kamu."


*****


Perusahaan Pratama.


"Terima kasih, Indra," ucapku sesampainya di lobby depan Perusahaan Pratama.


"Santai. Kalau kamu butuh bantuanku, segera telepon aku," ujar Indra, lalu dia pergi meninggalkan lobby Perusahaan Pratama.


Drt, Drt.


Bunyi panggilan masuk di ponselku. Aku langsung menerima karena yang menelepon adalah Maureen.


"Kamu di mana, Vo?" tanya Maureen.


"Aku adabaru sampai di kantor kamu. Ada apa?" tanya aku.


"Serius? Kamu berhasil ke sini?" tanya Maureen lagi tidak percaya.


"Iya, aku berhasil ke sini. Ada apa Maureen?" ucapku kemudian aku masuk ke dalam. Seperti biasa para karyawan menatap aku dengan sinis, tapi aku tidak peduli.


"Aku dan Dina mau bertemu dengan kamu. Aku mohon kamu ke ruangan aku dulu ya," pinta Maureen.


"Aku akan ke sana, tapi aku lihat keadaan Bagas dulu. Sejak tadi pagi aku menghubungi Bagas tapi tidak kunjung diterima," ceritaku.


"Oke, kami akan menunggu kamu di ruanganku." Maureen sepakat.


*****


Ruangan Bagas.


Tok, tok, tok.


Aku mengetuk pintu ruangan Bagas, tapi tidak ada sahutan. Kemudian aku membuka pintu tersebut.


"Bagas? Kenapa dengan kamu?" tanya aku yang melihat kondisi ruangan Bagas memprihatinkan. Semua barang berantakan di ruangan Bagas.


"Aku hancur, Vo. Aku hancur. Aku tidak bisa membayar gaji karyawan," ucap Bagas putus asa. Aku menghampiri Bagas dan memeluk dia.


"Bagaimana pertemuan kamu dengan Pak Hermawan?" tanya aku lagi.


"Tidak berhasil, Vo. Om Hermawan tidak memberikan," dusta Bagas. Dia tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Pak Freddy dan Bu Lina? Apa kamu sudah minta bantuan pada mereka?" tanya aku.


Bagas menggeleng kepala. Dia sama sekali belum bertemu kedua orang tuanya sejak kejadian Pak Freddy pingsan.


"Kita ketemu mereka ya, Bagas. Kita harus minta bantuan dan nasehat mereka. Mereka orang tua kamu, pasti mereka akan bantu kamu," nasehat aku pada Bagas.


"Kamu benar. Aku harus bertemu dengan Papa dan Mama," ucap Bagas. Semoga Papa dan Mama mau membantuku menyelesaikan masalah ini, kata Bagas dalam hatinya. Satu - satunya andalah Bagas sekarang adalah kedua orang tuanya.


*****


Silahkan menunggu kisah Evo selanjutnya. Terima kasih telah mampir dan memberikan komentar yang membuat saya semangat. Jangan lupa ikut bergabung ya dalam group saya. Salam sayang dari MOY.