MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Sebuah Pilihan



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. Dukungan kalian sangat berharga buat saya. Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY


****


"Tidak bisa, Pap. Mama punya syarat untuk bantuan ini," ujar Bu Heni. Dia mau membantu Bu lina melepaskan Bagas dari cengraman Evo. Dia juga ingin Dea anaknya bahagia dengan pria yang dicintainya.


"Mama, apa maksudmu?" tanya Pak Hermawan.


"Kami akan bantu perusahaanmu tapi dengan syarat kamu menikah dengan Dea."


"Apa? Menikah?" tanya Bagas tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Mama! Kenapa buat syarat seperti itu?" tanya Dea pura - pura tidak percaya.


"Kalau Bagas tidak mau, kita tidak akan meminjamkan uang tersebut!" tegas Bu Heni.


"Mama!" jerit Dea.


"Diam kamu Dea! Masuk ke kamar. Sekarang!" perintah Bu Heni.


"Dea tidak mau!" bantah Dea.


"Mama bilang masuk ke kamar kamu!" ujar Bu Heni lagi dengan kesal karena Dea tidak mau mendengarkan dirinya.


"Masuk dulu sayang. Dengarkan Mamamu," ujar Pak Hermanawan dengan lembut.


"Bagas, jangan dengarkan Mama. Kamu ingat pesan aku!" ucap Dea setelah itu pergi ke kamarnya.


Pak Hermawan menghela napasnya. Keadaan yang sekarang dihadapi oleh Bagas sangat sulit. Istrinya semakin membuat anak ini sulit, tetapi mendengar cerita Bu Lina dan kebenaran kata - kata Bu Heni membuat Pak Hermawan setuju dengan perjodohan ini.


"Nak, Bagas bisa pikirkan lagi. Tidak usah dijawab sekarang. Om Hermawan akan menunggu keputusanmu. Apapun keputusan Bagas, Om akan tetap menganggap Bagas seperti anak, Om," ujar Pak Hermawan dengan bijaksana.


"Saya harapkan kamu memilih keputusan yang tepat! Karena kalau kamu memilih yang salah, semua orang akan menderita karena kamu," Bu Heni memberikan nasehat.


Menikah? Menikah dengan Dea? Apa aku tidak salah mendengar?


"Saya tahu Mama kamu tidak setuju dengan keputusanmu menikah dengan Evo. Jadilah anak yang mendengarkan kata orang tua, Nak. Sadarlah wanita itu tidak membuat kamu beruntung. Tante yakin ketika kamu miskin, dia akan pergi meninggalkan kamu." lanjut Bu Heni memberi saran.


"Terima kasih Tante dan Om telah mendengar cerita saya. Sudah mau membantu saya meminjamkan modal walaupun ada syarat. Tapi maaf Bagas tidak bisa meninggalkan, Evo. Bagas mencintai Evo," tegas Bagas.


"Apa katamu? Kenapa kamu masih begitu egois dengan semua ini?' tanya Bu Heni tidak percaya.


"Mama, tolong diam dulu. Nak Bagas boleh pikirkan dulu syarat ini. Jangan gegabah dalam memberikan keputusan. Om selalu menunggu keputusan kamu yang bijaksana. Jangan kamu mengorbankan orang lain hanya karena keegoisan dirimu," Pak Hermawan memberi nasehat.


Mendengar perkataan Pak Hermawan, Bagas menjadi diam. Dia begitu sedih karena perkataan beliau benar. Bagas harus bijaksana dalam segala keputusannya.


"Maafkan Bagas, Tante Heni. Bagas malah membuat Tante marah. Bagas akan memikirkan semua ini dengan matang." Bagas meminta maaf.


"Tante mengerti perasaan kamu saat ini. Maafkan Tante juga yang terlampau keras memberikan nasehat padamu. Satu pesan Tante padamu. Dea mencintaimu dari dulu. Semoga perasaan Bagas juga sama dengan Dea," ujar Tante Heni.


"Baik, Tante. Sepertinya saya harus ke kantor, karena sudah siang. Bagas pamit dulu," pamit Bagas.


"Om menunggu keputusanmu segera," ucap Pak Hermawan. Mereka pun mengantar Bagas ke luar.


*****


Perusahaan Pratama di Malaysia.


Mbak Meli mengotak - atik laptopnya. Dia berusaha mencari apa yang terjadi dengan Perusahaan Pratama. Tidak ada sistem yang salah, tapi mengapa harus bangkrut. Apalagi dengan alasan penyebaran video yang tidak baik. Itu tidak masuk diakal.


Drt, Drt, Drt.


"Halo," sapa Mbak Meli yang masih sibuk mencari kebenaran.


"Mbak Mel, ini Evo," ujarku.


"Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya Mbak Meli. Mbak Meli langsung menghentikan aktifitasnya.


"Aku baik, Mbak, yang tidak baik Bagas bersama Perusahaan Pratama," ucap aku dengan suara sedih. Aku sudah tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa?


"Ada apa? Coba cerita padaku. Siapa tahu aku dapat membantu kalian?" ujar Mbak Meli dengan perasaan sedih.


"Bagas di suruh oleh semua orang untuk mengundurkan diri dari perusahaannya. Mereka marah dengan kelakuan Bagas yang suka main perempuan, apalagi tersebar video kami berdua. Saham banyak dijual oleh para investor. Bagas lagi terpuruk,Mbak Mel," ceritaku.


Mbak Meli mengecek bursa saham Perusahaan Pratama. Benar kata Evo, banyak yang sudah menjual saham Perusahaan Pratama.


"Mbak Mel?" tanyaku.


"Eh, iya, Vo. Maaf, maaf, aku sambil kerja," ucap Mbak Meli, "Semoga masalah ini segera selesa. Vo, maaf aku harus kerja lagi,


"Iya, Mbak. Maaf mengganggu." ujar aku lalu menutup teleponnya.


Mbak Meli pun berhasil menemukan keanehan ini. Dia mengambil ponsel dari mejanya. Kemudian dia menuliskan pesan ke seseorang.


**SOS. **


*****


Perusahaan Pratama.


Tok, tok, tok.


Pintu ruangan Maureen di ketuk.


"Masuk," ucap Maureen, "Dina!"


"Hai, Maureen!" sapa Dina. Dina menghampiri sahabatnya itu. Perempuan itu memeluk Maureen.


"Bagaimana keadanmu?" tanya Maureen, "Silahkan duduk. Kamu mau minum apa?"


"Tidak usah, Bos Editor. Aku hanya mampir menjengukmu. Aku rindu," ujar Dina sambil tersenyum.


"Bagaimana keadaan kandungan kamu?" tanya Maureen lagi.


"Dokter bilang bayiku dan aku sehat, dan tidak boleh stress," jelas Dina.


"Syukurlah kalau kalian sehat, aku senang dengarnya. Tetapi ada yang aku risaukan dalam hari," ucap Maureen, "Sebenarnya Rafael selingkuh dengan siapa?"


Dina mengambil ponselnya yang ada di dalam kantong baju. Lalu dia membuka sebuah pesan gambar, kemudian memberikan kepada Maureen.


"Evo? Rafael selingkuh dengan Evo? Apa kamu yakin?" tanya Maureen tidak percaya.


"Awalnya aku percaya karena dulu Rafael sempat menyukai Evo, tapi setelah aku berpikir panjang, tidak mungkin Evo berbuat seperti itu," Dina menjelaskan.


"Lalu apa kamu sudah bertanya kebenaran ini pada Evo atau Rafael?" Maureen bertanya dengan perasaan bingung.


"Tidak. Kalau aku bertanya sama saja aku tidak percaya pada mereka, yang harus aku cari tahu adalah nomor ini. Siapa yang menyebarkan fitnah ini padaku?" tegas Dina.


"Kasihan, Evo. Bagas sedang terancam turun jabatannya, sekarang ada yang memfitnahnya. Kita harus bertemu dengan Evo memberi dia semangat."


"Sepertinya akan sulit kita bertemu dengan Evo. Apartemennya selalu dipenuhi dengan para wartawan yang mencari berita tentang mereka." ucap Dina.


"Jadi apa yang bisa kita lakukan sekarang?" tanya Maureen.


"Kita harus bantu menyebarkan berita baik tentang perusahaan ini. Aku mohon tim kalian segera membuat berita baik. Walau usaha ini kecil kemungkinan berhasil, paling tidak berita sebelumnya bisa menghilang," kata Dina memberikan ide.


"Sudah aku siapkan berita itu. Mbak Meli yang ada di Malaysia juga membantu menyebarkan berita baik. Semoga ini sedikit membantu Bagas agar menambah investor."


*****


Apartemen Bagas.


Drt, Drt, Drt.


Telepon genggam milikku berbunyi. Aku tidak mengenali nomor ini. Akupun menerima telepon tersebut.


"Halo," sapaku.


"Hai, Evo," sapa orang itu. Aku mengenal suara ini.


"Indra?" tanyaku.


Ketika aku hendak mematikan teleponnya, dia mencegah," Hei, jangan ditutup. Aku hanya ingin bicara sebentar. Hanya satu menit."


"Silahkan, waktu kamu dimulai dari sekarang," tegasku. Seandainya dia bukan orang yang dicintai sahabatnya itu, pasti sudah dimatikan teleponnya ini.


"Aku minta maaf atas kelakuanku padamu. Kamu benar aku salah. Mau kah kamu memaafkan diriku?" pintanya.


Ada apa dengan Indra? Kenapa dia begitu cepat sadar? kataku dalam hati.


"Aku tahu aku pasti tidak mendapatkan maaf olehmu, tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk berubah," pinta Indra lagi.


Aku menghela napas panjang, lalu berkata padanya,"Baiklah, aku memaafkan kamu, Ndra. Semoga kamu bisa kembali dengan Maureen. Dia sangat mencintaimu."


"Maafkan aku lagi, tapi rasa cintaku pada Maureen sudah pudar," tegas Indra.


"Terserah padamu, tapi yang jelas aku bukan pilihan yang tepat untuk kamu pilih menjadi orang yang kamu cintai," akupun ikut tegas berbicara pada Indra. Setelah berkata itu, aku menutup teleponnya.


Aku menghela napas untuk kedua kalinya. Aku benar - benar bosan di apartemen. Rasanya aku ingin ke luar, tetapi mengingat para wartawan masih menungguku, niatku langsung menciut.


Apa kabar dengan Bagas? Bagaimana usahanya untuk meminjam kepada keluarga Dea? Apakah berhasil? ucapku dalam hati.


Aku mengambil ponselku kembali, kemudian mencari kontak nama Bagas. Aku ragu untuk meneruskan menelepon dia atau tidak. Aku takut menganggunya. Aku pun mengurungkan niat untuk meneleponnya.


*****


Siangnya di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Freddy, Lin?" tanya Bu Heni yang sudah hadir di rumah sakit bersama Pak Hermawan.


"Dokter baru masuk untuk memeriksa, kita tunggu dokter ke luar memberikan berita pada kita," jelas Bu Lina.


"Semoga kita mendapat berita baik ya, Lin," ujar Pak Hermawan. Bu Lina mengangguk menanggapi ucapan Pak Hermawan.


Dari ujung sana Charlotte dan Dea datang berbarengan. Mereka menyalami ketiga orang tua itu.


"Hai, sayang," sapa Bu Heni pada Charlotte,"Habis dari mana?"


"Charlotte habis ketemu dengan dosen pembimbing, Tante." jawab Charlotte.


"Wah, sudah mau selesai kuliahnya. Berarti habis kerja bantu Mas Bagas donk di perusahaan?" ucap Pak Hermawan.


"Ya, kalau Perusahaan Pratama selamat. Ini karena kebodohan Bagas yang tidak mau mendengarkan orang tuanya!" kesal Bu Lina pada anak lelakinya.


"Jangan emosi, Tan. Bagas tidak salah," bela Dea.


Charlotte diam saja mendengar ocehan Bu Lina. Padahal semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Bagas. Dia tahu semua ini pasti perbuatan Bu Lina.


"Bagaimana pertemuan kalian dengan Bagas? Apakah kalian jadi meminjamkan uang kepada kami?" tanya Bu Lina.


"Bagas belum memenuhi syarat yang kami ajukan, Lin." ucap Bu Heni.


"Benar - benar anak bodoh! Sejak bertemu dengan wanita itu dia semakin bodoh dan tidak bertanggung jawab!" omel Bu Lina.


"Jangan seperti itu. Saya yang menyuruh dia untuk memikirkan, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi syarat yang diberikan oleh kami begitu sulit dia jalani," jelas Pak Hermawan.


"Mereka itu saling mencintai. Entah apa yang dipikirkan dia menolak kebaikan kalian," geram Bu Lina. Rencana kami bisa gagal kalau sampai Bagas tidak mau.


"Maksud, Om Hermawan apa? Charlotte bingung dengan pembicaraan ini. Syarat apa yang harus Mas Bagas penuhi untuk mendapatkan pinjaman?" tanya Charlotte mulai bingung.


"Syarat untuk menikahi, Dea." jawab Bu Heni.


Mata Charlotte terbelalak karena terkejut.


Jadi ini maksud Mama. Mama bermaksud menjodohkan Dea dengan Mas Bagas, ucap Charlotte dalam hati.


"Sebenarnya Dea tidak setuju dengan perjodohan ini," ucap Dea.


"Dea tidak boleh bicara seperti itu. Tante Lina yakin sekali kalau Dea pun mencintai Bagas sama seperti Bagas mencintai kamu. Benarkan Charlotte? Charlotte saksi kalau Bagas mencintai Dea," kekeh Bu Lina.


"Iya, Mbak Dea. Mbak Dea merupakan cinta pertama Mas Bagas, tapi...."


"Dengarkan? Tante tidak salah! Kamulah yang pantas menjadi istri Bagas Pratama!" potong Bu Lina.


"Benarkah? Senangnya!" ucap Dea.


Aku tidak menyangka perasaan aku dan Bagas sama. Tidak sia- sia aku membantu Tante Lina melepaskan Evo. Ternyata Evo hanya benalu bagi Bagas. Aku harus segera melepaskan mereka. Ucap Dea dalam hati.


Kemudian Dokter ke luar dari ruang ICU.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Bu Lina melihat dokter sudah ke luar dari ruangan ICU.


"Pak Freddy sudah sadarkan diri. Kalian sudah boleh menjenguk beliau. Beliau sudah kami pindahkan ke ruang inap VIP lantai 5. ucap Dokter memberikan kabar gembira.


"Terima kasih, Tuhan," ucap Charlotte.


"Syukurlah," kata Pak Hermawan dan Bu Heni berbarangan. Kamipun segera pergi menuju ruangan tersebut.


*****


Perusahaan Pratama.


"Apa? Uang untuk gaji pegawai kurang untuk bulan ini?" tanya Bagas tidak percaya.


"Ya, Pak. Kemarin dipakai buat biaya pengadaan, bayar bunga bank. Pemasukkan kita tidak ada. Banyak yang memutuskan kontrak kerja pada perusahaan kita," jelas karyawan itu.


"Kalau begitu kamu cari pinjaman pada bank untuk sementara waktu ini," usul Bagas.


"Sudah saya lakukan kemarin, Pak, tapi ditolak karena mereka bilang Perusahaan Pratama telah bangkrut."


"Apa? Terima kasih informasi kamu. Kamu boleh ke luar!" perintah Bagas.


Bagas melempar gelas yang ada di mejanya. Dia marah dan kesal sekali. Mengapa dalam keadaan sesulit ini tidak ada satupun yang mau membantunya? Kenapa?


"Sial! Brengsek!" maki Bagas dengan berteriak. Dia sangat frustasi.


Bagas mengingat kejadian tadi pagi di rumah keluarga Dea.


(Mari kita flashback)


Nak, Bagas bisa pikirkan lagi. Tidak usah dijawab sekarang. Om Hermawan akan menunggu keputusanmu. Apapun keputusan Bagas, Om akan tetap menganggap Bagas seperti anak, Om," ujar Pak Hermawan dengan bijaksana.


"Saya harapkan kamu memilih keputusan yang tepat! Karena kalau kamu memilih yang salah, semua orang akan menderita karena kamu," Bu Heni memberikan nasehat.


Menikah? Menikah dengan Dea? Apa aku tidak salah mendengar?


"Saya tahu Mama kamu tidak setuju dengan keputusanmu menikah dengan Evo. Jadilah anak yang mendengarkan kata orang tua, Nak. Sadarlah wanita itu tidak membuat kamu beruntung. Tante yakin ketika kamu miskin, dia akan pergi meninggalkan kamu." lanjut Bu Heni memberi saran.


*****


Bagas mengingat setiap kejadian dan kata yang diucapkan Pak Hermawan dan Bu Heni. Apakah keputusan untuk menikahi Dea adalah hal yang benar? Bagaimana dengan Evo, wanita yang sangat dicintainya


*****


Ruang Maureen.


"Apa kalian sudah siap dengan berita yang sudah saya pesankan itu?" tanya Maureen pada anak buahnya.


"Sudah, Mbak. Sebentar lagi akan disiarkan di seluruh televisi swasta di Indonesia." ucap anak buahnya.


"Kerja yang bagus. Aku tidak mau sampai ada kesalahan. Situasi seperti ini kita harus bantu perusahaan kita untuk cari cara bangkit," nasehat Maureen. Semoga rencana dia dan Mbak Meli berjalan lancar dan kami mendapatkan peminjam atau paling tidak membeli saham mereka yang dijual beberapa orang.


Maureen mengetik pesan pada Mbak Meli.


Berita siap disebarkan. Semoga kita berhasil mendapatkan investor baru.


*****


Apakah Bagas akan menerima perjodohan itu atau usaha Maureen dan Mbak Meli berhasil mendapatkan investor baru? Saksikan terus kelanjutan cerita Evo di episode selanjutnya.