MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Kotak Masa Lalu



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


Bastian membuka mata karena merasakan sentuhan tangan dari Evo.


 


 


  “Maaf, aku menyusahkanmu lagi.”


 


 


  Bastian bangkit dari tempat tidurnya, lalu mengelus kepalaku. “Aku tidak merasa disusahkan oleh kamu.”


 


 


  Bastian hendak pergi lalu dicegah oleh Evo.


 


 


“Terima kasih,” ucap Evo.


 


 


  Bastian mengangguk dan tersenyum. “Aku harus bersiap ke kantor. Apa kamu mau ikut?”


 


 


  “Hari ini aku tidak ikut. Aku mau pergi ke suatu tempat,”ucap Evo.


 


 


  “Apa butuh supir untuk mengantarmu?” tanya Bastian.


 


 


   Evo menggelengkan kepala, kemudian berkata, “Tidak. Aku bisa sendiri. Sudah sana bersiaplah. Nanti kamu terlambat ke kantor.”


 


 


  Bastian keluar dari kamar Evo setelah mendengar jawaban dari perempuan itu. Evo pun menyiapkan diri untuk pergi. Hari ini Karel masuk ke dalam mimpinya lagi. Ia ingin memastikan mimpi itu.


 


 


*****


Sekolah Dasar Harapan Mulia.


 


 


  “Sekolah Dasar Harapan Mulia. Sudah lama aku tidak ke sini,”ucap Evo.


 


 


  Evo menapakkan kakinya di sekolah dasarnya itu. Mimpi Karel membuatnya rindu untuk mengunjungi sekolah dasarnya. Dulu saat kuliah hampir setiap hari Evo ke sini dan mencari tahu keberadaan Karel.


 


 


  Hari ini Evo tidak mencari Karel, tetapi mencari sebuah kotak besi yang pernah dikuburkan dua belas tahun oleh mereka.


 


 


  Evo berjalan menuju sebuah taman yang sering mereka kunjungi dulu. Posisi taman sekarang digunakan untuk menanam tanaman hasil karya siswa siswi SD Harapan Mulia. Evo mencoba mengingat posisi kotak besi yang mereka kuburkan waktu itu.


 


 


  “Pasti di sini.”


 


 


  Evo mengambil sekop dari dalam tas. Dia menengok ke kanan dan kiri, untung dia datang ketika anak – anak sedang masuk sekolah. Jadi Evo bisa leluasa melaksanakan eksekusi terhadap kotak besinya.


 


 


  Evo menggali tanah. Dia tidak menemukan kotak tersebut. Evo sudah merasa yakin dengan letaknya. Ia mencoba menggali lebih dalam lagi, tapi tidak menemukannya.


 


 


  “Apa aku salah ya? Kenapa kotaknya tidak ketemu juga?” ucap Evo merasa heran.


 


 


  Akhirnya Evo menyerah karena dia merasa sudah terlampau dalam menggali tanah tersebut. Evo mencoba mengingat kembali letak yang tepat penguburan besi tersebut.


 


 


  “Aku tidak salah! Pasti letaknya di sini! Ada dinding, terus bangku! Iya di sini! Kenapa kotaknya tidak ada ya?” kata Evo bingung.


 


 


  “Apa jangan – jangan Karel sudah ke sini?” ucap Evo setelah gagal mencari kotak besi tersebut. Evo sangat yakin kalau kotak tersebut sudah di ambil oleh Karel, sebab yang tahu keberadaan kotak tersebut hanya dia dan Karel.


 


 


  “Siapa yang bisa aku tanya ya?” ujar Evo bimbang. Evo memutar otaknya, kemudian dia mengingat wali kelas dia dulu. Evo segera masuk ke dalam sekolah, tetapi di haling oleh satpam sekolah.


 


 


  “Maaf, Bu. Belum bisa bertemu dengan guru saat ini karena masih jam pelajaran,” tolak satpam dengan sopan.


 


 


Evo menepuk jidatnya, perkataan satpam itu benar. Sekarang masih pukul 11, anak – anak masih belajar di kelas.


 


 


  “Jam berapa selesai ya, Pak?” tanya Evo tidak sabaran menunggu.


 


 


“Pukul 2 siang Bu.”


 


 


Evo kembali kecewa. Dia tidak bisa bertemu dengan mantan guru kelasnya. Masih ada waktu tiga jam menunggu.


 


 


  “Sepertinya aku harus menunggu, sayang kalau aku pergi.”


 


 


*****


Kantor Pratama.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


Pintu kantor Bastian berbunyi.


 


 


  “Masuk,” perintah Bastian.


 


 


  “Evo, ayo kita makan siang!” ajak Maureen. Dia kaget karena tidak menemukan sosok Evo di ruangan Bastian.


 


 


  “Ke mana perginya Evo?” tanya Maureen pada Bastian.


 


 


 


 


  “Ke… kenapa tertawa?” ujar Maureen malu.


 


 


  “Tidak. Aku hanya merasa kamu mirip dengan Evo,” ungkap Bastian.


 


 


  Maureen memberikan senyuman kecut pada Bastian. Banyak orang yang bilang kalau Maureen dan Evo begitu mirip.


 


 


  “Di mana Evo? Apa dia tidak ikut kerja dengan kamu?” tanya Maureen lagi. Maureen menghampiri Bastian yang masih asik bekerja.


 


 


  “Hari ini dia ada urusan. Ada apa mencari dia?” tanya Bastian.


 


 


  Maureen memajukan mulutnya. Wanita itu kecewa, siang ini dia harus pergi sendirian. Padahal hari ini Evo sudah janji padanya untuk menemani dia pergi.


 


 


  Bastian melirik, dia melihat Maureen tampak kecewa tidak menemukan Evo di ruangan ini. Pasti mereka sudah berjanji sebelumnya.


 


 


Bastian melihat jam tangannya, ternyata sudah jam 12. Sudah waktunya makan siang. Pria itu segera membereskan dokumen yang berserakan di mejanya, kemudian menutup laptop.


 


 


  “Aku balik saja kalau begitu. Aku akan menelepon Evo,” pamit Maureen.


 


 


  “Tunggu,” tahan Bastian.


 


 


  “Ya?”


 


 


  “Bagaimana kalau hari ini, aku yang menemani kamu makan siang?” ajak Bastian sambil memberikan senyumnya.


 


 


  “Bagaimana kalau aku tidak mau?” tanya Maureen jahil.


 


 


  “Apa kamu yakin mau menolak bos kamu ini?” Bastian berbalik jahil pada Maureen.


 


 


  Maureen yang mendengar itu jadi ciut dan tidak bisa berkata apa – apa lagi. Kayanya yang bisa melawan Bastian Cuma Evo. Aduh, Evo kamu wanita macam apa sih bisa? Kenapa semua lelaki kaya bisa kamu dapatkan?


 


 


   “No, Bos! Mari kita makan siang, bos!”


 


 


 


 


*****


Restoran.


 


 


  Bastian dan Maureen sudah sampai di restoran cepat saji. Siang ini restoran tidak terlalu ramai, mungkin karena hari ini adalah akhir bulan. Orang – orang sudah kehabisan uang dan tidak pergi makan di luar. Mereka sudah memesan makan untuk makan siang.


 


 


  “Hari ini aku akan mentraktir kamu,” ucap Bastian.


 


 


  “Wah, baik sekali bosku!” kata Maureen gembira. Tiba – tiba dia kepikiran sesuatu. Bastian mengajak dia pasti punya tujuan.


 


 


  “Aku mencurigai sesuatu,” ujar Maureen.


 


 


  “Apa yang kamu curigai?” tanya Bastian. Dia mengambil kentang yang ada di depannya, lalu memakannya.


 


 


  “Apa kamu mengajakku ke sini untuk mencari tahu tentang Evo?” ucap Maureen.


 


 


  Bastian tertawa, dia tidak menyangka kalau niat tulusnya menemani Maureen malah dikira yang lain olehnya.


 


 


“Wah, ternyata ketahuan ya!” dusta Bastian.


 


 


“Benarkan! Ternyata aku begitu pintar,” puji Maureen pada dirinya sendiri. Bastian tertawa geli untuk ke sekian kalinya.


 


 


“Jadi apa yang hendak kamu tanyakan? Silahkan bosku, hari ini aku akan bongkar semua tentang Evo!” ungkap Maureen, “Tapi ada syaratnya!”


 


 


  “Apa syarat itu?” tanya Bastian.


 


 


  Maureen mendekatkan dirnya ke Bastian, lalu dia berkata dengan pelan, “Jangan kamu beritahu kepada Evo ya! Aku bisa di bunuh olehnya nanti. Bagaimana? Apa kamu sepakat?”


 


 


  Maureen memberikan tangannya pada Bastian untuk berjabat tangan. Bastian menyambut tangan Maureen.


 


 


  “Sepakat.”


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤