
"Tiga tahun yang lalu aku pacaran sama Rafael. Hubungan kami sudah mau lanjut ke jenjang pernikahan. Suatu hari, ada pesan masuk di telepon genggamku. Seorang wanita bilang padaku kalau mereka sedang di hotel melakukan itu semua. Aku tidak percaya. Hingga akhirnya aku memutuskan ke sana, dan ucapan wanita itu benar." Dina menangis menceritakan kisahnya.
Aku dan Maureen segera memeluk Dina. Ternyata Rafael selingkuh. " Kemudian apa yang terjadi selanjutnya?"
" Aku marah pada Rafael dan memutuskan hubungan kami pada hari itu juga. Rafael mengejarku, dan tidak mau putus padaku. Setelah itu, aku menghilang. Pindah kerja, dan ganti nomor."
" Apa kamu tanya alasan dia mengapa berbuat seperti itu?"
Dina menggeleng kepala, kemudian dia berkata lagi," Aku tidak sanggup bertanya lagi."
Akhirnya kami tahu, mengapa Dina seperti ini. Masih ada cinta dihati Dina untk Rafael. Kamipun menghibur Dina, mengalihkan topik agar dia lupa kejadian tersebut.
Seseorang menaruh makanannya dengan kesal. Orang itu adalah Mbak Meli. "Boleh ikut makan bareng kaliankan?"
Kami bertiga mengangguk. Mbak Meli tampak begitu kesal. Dia mengaduk - aduk makanan miliknya.
" Kenapa Mbak Mel?" tanya aku memberanikan diri.
" Aku kesal, Vo sama Pak Freddy. Hari ini Pak Bagas pergi lagi ke luar negeri, melanjutkan urusan di sana. Pekerjaan Pak Bagas aku yang pegang katanya. Padahal, itu bukan bidangku," keluhnya.
" Sabar, mbak. Mungkin Pak Freddy percaya sama kemampuan mbak, jadi Mbak Meli dipilih sama Pak Freddy," ucap Maureen bijaksana.
" Betul itu mbak, kata Maureen. Mbak Meli itu pantas jadi pemimpin dari pada Pak Bagas,"aku ikut menyemangati.
" Hush! Masa pacar sendiri dikatain," ucap Mbak Meli. Aku tertawa menanggapinya.
Ternyata hari ini Bagas ke luar negeri. Pantas sejak pagi dia tidak ada. Tidak ada kabar juga darinya dari semalam.
Waktu cepat berlalu, pagi sudah berganti sore. Sudah saatnya kami pulang kerja. Ponselku berbunyi. Aku mengambil lalu membaca siapa yang menelponku sekarang. Tidak lain tidak bukan adalah Bagas.
" Selamat sore istriku," sapa dia riang dari sebrang sana.
" Apa sebut aku istri-istri? Aku kan belum nikah sama kamu," ucapku sambil tertawa.
" Memang belum, tapi pasti akan," jawabnya lagi.
" Kenapa hari ini tidak masuk?"
" Iya, tidak apa-apa."
" Apa kamu merindukan aku?" tanya dia.
" Tidak," jawabku sesuka hati agar membuat Bagas kesal.
" Baiklah, aku tutup saja teleponnya kalau kamu tidak rindu," kesal Bagas.
" Dasar tukang ngambek," aku terkekeh mendengar kekesalan Bagas.
" I miss you, too."
" Benar kamu rindu?" tanya dia tidak percaya.
" Kenapa malah tidak percaya?" tanyaku balik.
" Aku kira cuma aku saja yang rindu padamu."
" Aku juga...."
" Kamu juga apa?"
" Rindu. Cepatlah pulang," ujarku mengalihkan pembicaraan.
" Nanti malam kita makan di luar. Aku benar-benar rindu padamu. Sampai jumpa nanti malam," Bagas menutup teleponnya.
" Siapa yang menelepon?" tanya Maureen yang masih di sebelahku. Dia menungguku rupanya.
" Bagas. Dia sedang di Malaysia katanya," jawabku.
" Mumpung Bagas di Malaysia. Malam ini kita nonton di bioskop yuk. Ada film bagus yang baru keluar," anak Maureen.
" Boleh. Aku telpon Dina juga ya, ajak dia," Aku memberi ide. Diam-diam akupun memberi pesan pada Rafael. Aku ingin membuka peluang bagi Rafael dan Dina untuk kembali.