MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Kebenaran yang Terungkap



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca!! Sesuai janji aku crazy up nih dan sudah terungkap ya.


*****


 


 


  Tanda ini? Kenapa tanda di leher ini mirip sekali dengan tanda yang ada di leher Karel dulu?


 


 


Flash Back.


 


 


“Karel, Karel! Di mana kamu?” tanya Evo mencari sahabatnya itu. Tidak biasanya Karel susah dicari pada jam istirahat seperti ini.


 


 


“Permisi? Apakah ada Karel?”


 


 


  Evo yang biasanya tidak pernah ke kelas Karel, hari ini mengunjunginya. Biasanya mereka selalu bertemu di kantin. Dari awal istirahat sampai mau habis, Karel tak kunjung kelihatan.


 


 


  “Tadi Karel dimintai tolong oleh Pak Petrus untuk mengambil tumbuhan di pekarangan belakang, Vo,” jawab Mira, teman sekelas Karel. Mira adalah teman sekelas Evo dulu saat di kelas 4.


 


 


  “Terima kasih, Mira. Aku akan menyusul Karel ke sana.”


 


 


   Evo berlari menuju ke pekarangan belakang, pantas saja Karel tidak ditemukan ternyata dia di suruh oleh guru.


 


 


  “Karel,” panggil Evo ketika dia melihat Karel masih berada di pekarangan.


 


 


  “Evo?” Karel menghampiri Evo, “Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?”


 


 


  “Aku mencarimu ke kelas. Mira yang memberitahu kalau kamu ada di sini,”jelas Evo.


 


 


  Evo melihat gerak – gerik Karel. Sepertinya Karel sedang bingung saat ini. Dia mencari sesuatu tapi tidak dia temukan.


 


 


  “Apa yang kamu cari?” tanya Evo.


 


 


  “Pak Petrus menyuruhku mencari tanaman bunga sepatu. Katanya ditanam di sini. Hari ini bunga itu diperlukan beliau untuk belajar IPA.”


 


 


  “Oh, iya! Hari ini ada pelajaran IPA.”


 


 


  “Tolong bantu aku, Vo. Dari tadi aku cari tidak ketemu,” kata Karel tetap mencari.


 


 


  Evo membantu Karel mencari tanaman bunga sepatu. Pekarangan belakang banyak tumbuhan yang di tanam di sini. Ada pohon mangga, ada tanaman cabai, dan masih banyak lagi.


 


 


  “Evo! Aku sudah menemukannya!” teriak Karel bahagia. Akhirnya dia bisa menemukan tumbuhan yang diminta oleh gurunya.


 


 


  Evo menghampiri Karel, tanpa dia sadari ada batang pohon yang patah. Batang itu hendak mengenai Evo. Karel yang melihat itu berlari menyelamatkan Evo dengan cara mendorong Evo, sehingga pohon tersebut menimpa Karel, tepatnya di leher Karel.


 


 


  “Karel!” teriak Evo melihat kondisi Karel terluka parah menolong dirinya, “Tolong!! Tolong! Bu Guru!! Pak Guru, tolong! Karel meninggal!!”


 


 


  *****


Kembali ke masa sekarang.


 


 


“Bas.”


 


 


“Ya?” jawab Bastian.


 


 


“Sejak kapan tanda ini ada di lehermu?”


 


 


Bastian memegang lehernya,”Apa maksudmu tanda di belakang ini?”


 


 


“Ya? Ini,” ucap Evo ikut menunjuk.


 


 


“Tanda itu ada waktu aku menolong seorang teman, Vo,” ucap Bastian.


 


 


  Evo mulai mengingat kembali, dulu Karel memiliki tanda seperti ini karena menolong dirinya. Evo mengigit bibirnya, hatinya mulai gelisah. Apakah orang yang di depannya sekarang adalah Karel? Apa Bastian adalah Karel?


 


 


  Bastian sudah merasa membaik. Dia mulai coba untuk bangkit berdiri, dan ternyata bisa.


 


 


  “Terima kasih telah menolongku tadi,”kata Bastian.


 


 


  “Bastian.” Evo menarik tangan Bastian.


 


 


  “Apa, Vo?”


 


 


  “Siapa kamu sebenarnya?” tanya Evo pada akhirnya.


 


 


  “Apa maksudmu?” Bastian mulai bingung.


 


 


  “A- apa kamu Karel?”


 


 


  “Namaku memang Karel. Ada apa denganmu, Vo?”


 


 


  Evo tampak bingung. Nama Bastian juga ada Karelnya. Pertanyaan Evo malah membuat Evo seperti orang bodoh. Bagaimana pertanyaan yang tepat untuk mengetahui kalau Bastian adalah Karel cinta pertama Evo?


 


 


  “Vo?” panggil Bastian membuyarkan pikiran Evo.


 


 


  “A- aku merasa kamu mirip dengan seseorang,” ungkap Evo.


 


 


  Bastian mulai tergelitik. Sebenarnya dia mulai tahu kalau Evo telah menyadari kalau Bastian adalah Karelnya yang selama ini dia cari.


 


 


 


 


  Bastian menurungkan niatnya untuk masuk kamar. Sepertinya dia harus membongkar jati dirinya pada Evo.


 


 


  “Siapa maksudmu?” tanya Bastian.


 


 


  Bastian mengajak Evo untuk duduk di sofa. Evo masih ragu untuk menceritakan semuanya pada Bastian.


 


 


  “Katakanlah, Vo,” desak Bastian.


 


 


  “Dulu aku punya sahabat, namanya sama seperti kamu, Bas. Maksudku bukan nama Bastian, tapi Karel. Ya, namanya sahabatku Karel.”


 


 


Flash Back.


 


 


“ Dua belas tahun mendatang, kira-kira kita akan menjadi apa ya, Rel?” tanyaku sambil menatap cerahnya langit dikala itu.


 


 


“Hmm, apa ya, Moy?” tanyanya balik. Dia bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.


 


 


“Kitakan baru kelas 6 SD,” ujar Karel lagi.


 


 


" Tolonglah Karel jangan manggil namaku dengan Moy. Namaku Evo. Evo lebih manis," protesku.


 


 


" Bagusan Moy."


 


 


"Ih, kesal sama kamu!"


 


 


Karel tertawa menanggapinya.


 


 


“Terserahlah. Baiklah kita kembali ke topik semula. Walaupun baru kelas 6 SD kan kita harus punya impian!” sahutku.


 


 


Karel sahabatku berpikir sejenak, kemudian dia berkata, “Aku mau keluar negeri aja.”


 


 


“Luar negeri?” aku terkejut. Ada perasaan yang mengganjal mendengar ucapannya itu, rasa tak rela kehilangannya.


 


 


“Iya, kuliah terus main sepak bola dan jadi pemain professional kaya kapten Tsubasa!”


 


 


Aku tertawa keras. Karel memukul kepalaku.


 


 


“Aduh! Sakit, Karel!" ringkisku.


 


 


“Kenapa tertawa?”


 


 


“Habis kamu lucu sekali. Kapten Tsubasakan hanya kartun. Tokoh kartun kenapa dijadikan impian?”


 


 


“Walau hanya kartun, Tsubasakan bisa memotivasi aku menjadi seorang pemain sepakbola professional!” belanya.


 


 


“Baiklah, baik! Jangan cemberut seperti itu!”


 


 


“Cemberut? Tidak.” bantah Karel. Aku tertawa lagi melihat tingkah temanku itu.


 


 


" Bagaimana dengan kamu? Di mana kamu akan kuliah?" tanya Karel lagi.


 


 


“Ya, aku di sini ajalah. Aku kan cinta Indonesia! Kamu di sini ajalah kuliahnya. Biar aku ada teman!”


 


 


Karel sedang berpikir, lalu dia berkata ”Aku punya ide. Bagaimana beberapa tahun mendatang kita bertemu? Kamukan suka menulis, lalu cobalah untuk menerbitkan bukumu."


 


 


“Terus?” Aku masih bingung dengan arah pemikirannya.


 


 


“Aku janji, kalau nanti novelmu terbit aku jemput kamu di sini. Kita ke luar negeri bersama. Bagaimana?”


 


 


“Apa? Apa kamu pikir menerbitkan novel itu mudah?” sewotku langsung berdiri. Bel selesai istirahat sudah berbunyi.


 


 


“Kalau kamu berusaha pasti bisalah! Pokoknya kita sepakat!” Karel menarik tanganku lalu menjabat tangannya.


 


 


“Aku belum setuju! Aku belum bilang iya, Karel!” kataku kesal. Karel selalu begitu. Dia selalu memaksakan kehendak dia aja. Karel memberikan senyum menanggapi perkataanku.


 


 


  “Kita sudah berjanji! Jadi kita harus menepati janji tersebut!”


 


 


*****


Kembali ke masa sekarang.


 


 


  “Aku merasa kamu sangat mirip dengan Karel. Cara kamu memanggilku Moy, cara kamu berjanji, dan cara kamu melindungiku. Itu sangat mirip dengan Karel.”


 


 


  Rasanya Bastian ingin memeluk Evo, dan memberitahu padanya kalau dirinya adalah Karel yang selama ini dia cari, tapi dia menahan diri untuk tidak melakukannya. Bastian masih ingat kalau Evo masih sangat mencintai Bagas.


 


 


  “Apa kamu Karel, Bas? Apa kamu Karel yang selama ini aku cari?” tanya Evo. Dia sudah tidak peduli dibilang aneh atau gila oleh Bastian. Dia hanya ingin memastikan kebenaran yang ada.


 


 


  “Vo, Apa yang kamu akan lakukan kalau kamu bertemu dengan Karel?” tanya Bastian.


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤