
*****
“Charlotte ada di rumahnya sekarang.”
“Tapi Mbak, tadi aku ke sana, pelayannya….”
Evo memotong omongan Evan, “Percayalah padaku. Begini saja, aku punya ide….”
Evo memberitahu rencananya pada Evan. Evan mendengarkan rencana itu dengan baik. Demi Charlotte dia akan melakukan apa yang diperintahkan Evo.
“Baik, Mbak. Aku akan menunggumu di sana. Terima kasih, Mbak untuk bantuannya,” ucap Evan kemudian dia mengakhiri telepon mereka.
Evo segera memakai pakaiannya. Dia harus segera bicara dengan Bastian karena Charlotte sedang dalam bahaya.
“Bas! Bastiaan!!” panggil Evo.
Bastian keluar dari kamarnya karena mendengar panggilan Evo.
“Ada apa, Sayang?” tanya Bastian.
“Aku mau minta tolong padamu,” ucap Evo dengan wajah cemas.
Bastian mengerutkan dahinya, kemudian berkata,”Katakanlah. Apa yang bisa aku tolong?”
“Charlotte, Bas. Charlotte.”
Charlotte? Bastian sepertinya pernah mendengar nama perempuan itu. Oh, iya, dia adalah adiknya Bagas.
“Kenapa dengan Charlotte?” tanya Bastian.
“Tadi Evan pacarnya Charlotte menghubungiku. Dia bilang padaku kalau Charlotte menghilang, padahal hari ini hari pernikahan Bagas,” terang Evo.
“Apa?”
“Kita harus mencari Charlotte, Bas. Perasaanku tidak enak karena menghilangnya Charlotte,” pinta Evo.
Bastian mengangguk setuju, dia tidak bisa menolak permintaan Evo, tapi di sisi lain Bastian merasa sedih karena rencana nanti malam akan batal karena mencari Charlotte.
Bastian berlari mengambil kunci mobil yang berada di kamarnya. Evo menunggu di ruang tamu. Setelah mendapatkan kuncinya, Bastian menghampiri Evo, kemudian berkata, “Ke mana kita?”
“Kita pergi ke rumah Bagas, Bas,” ucap Evo.
“Ke rumah Bagas? Bukankah katamu kalau Charlotte menghilang?” tanya Bastian. Pria itu bingung dengan perkataan Evo sebelumnya.
“Nanti aku jelaskan padamu. Aku mohon kamu percaya padaku, aku merasa Charlotte di kurung di dalam rumahnya,” kata Evo menduga.
Lagi – lagi Bastian hanya mengangguk. Bastian selalu percaya dengan Evo. Pria itu menarik tangan Evo dan mengajaknya ke mobil.”Ayo kita pergi.”
*****
Rumah keluarga Bagas.
Evo menekan bel rumah Bagas. Pintu dibuka oleh pembantu rumah tersebut.
“Permisi, saya utusan dari Tuan Bagas untuk menghias kamar pengantin,” ucap Evo sambil tersenyum.
“Oh begitu, Mbak. Silahkan, masuk, Mbak,” kata pelayan tersebut tanpa curiga.
Evo merasa bangga dengan dirinya sendiri. Ini sudah ketiga kalinya dia menyamar, dan tidak ada yang sadar dengan penyamarannya.
“Ini kamar Tuan Muda. Silahkan segera menyelesaikan tugasnya, Mbak,” ucap pelayan tersebut. Pelayan itu keluar dari kamar Bagas.
“Fiuh, akhirnya kita berhasil masuk ke kamar Bagas,” tutur Evo. Perempuan itu bernapas lega karena tujuannya untuk masuk ke dalam rumah Bagas berhasil.
“Iya, Mbak Evo. Terima kasih ya untuk idenya,” ucap Evan yang ikut menyamar. Bastian tidak ikut ke dalam, dia menunggu di dalam mobil.
“Aku akan menghias kamar Bagas, kamu cari Charlotte sekarang, tapi ingat, kamu harus hati – hati!” pesan Evo.
“Siap, Mbak!”
Dengan segera, Evan keluar dari kamar Bagas. Dia mengendap – endap. Matanya dipertajam untuk mengawasi sekitar rumah. Perlahan – lahan Evan ke kamar Charlotte. Dia mengetuk kamar tersebut.
Charlotte yang ada di dalam kamar, mendengar suara ketukan dari luar kamarnya. Charlotte menghampiri pintu kamarnya.
“Siapa?” tanya Charlotte.
“Char? Apakah itu kamu, Sayang?” tanya Evan tidak percaya.
“Apa yang terjadi padamu?” ucap Evan sedikit berteriak.
“Aku disekap oleh, Mama. Tolong bukakan pintu. Aku harus segera ke pesta pernikahan Bagas. Mas Bagas harus tahu hal yang sebenarnya,” ungkap Charlotte dengan berteriak.
“Kamu mundurlah, aku akan mendobrak pintu ini,” pinta Evan.
Charlotte pun mundur dari pintu kamarnya. Evan berusaha mendobrak pintu tersebut berulang kali, tapi dia tidak bisa. Pintu terlampau kuat untuk Evan dobrak.
“Tunggu di sini, aku harus mencari bantuan,” kata Evan.
“Evan! Jangan tinggalkan aku!” teriak Charlotte.
Evan kembali ke kamar Bagas, lalu berkata pada Evo,”Mbak, aku sudah menemukan Charlotte!”
“Serius? Di mana Charlotte?” tanya Evo.
“Charlotte ada di kamarnya, Mbak. Tadi aku berusaha membuka pintunya, tapi tidak bisa,” jelas Evan.
Evo berusaha mencari jalan keluar. Dia memutar otaknya. “Aku tahu caranya, Van.”
“Apa itu, Mbak?”
“Setiap kamar mempunyai kunci cadangan. Dulu ketika aku menginap di rumah Bagas, kunci itu di simpan di lemari sebelah dapur. Ayo kita cari kunci itu. Aku akan mengelabui pelayan, kamu cari kuncinya.”
Evan mengangguk setuju. Mereka berdua keluar dari kamar Bagas. Evo telah selesai menghias kamar Bagas untuk malam pertama mereka. Entah kenapa Evo sudah sangat ikhlas untuk melepas Bagas untuk tidak bersama dengan dirinya. Mungkin benar, kalau kita mencintai orang lain, kita menjadi lebih tegar melepas yang lain.
“Permisi, Mbak,” panggil Evo kepada pelayan rumah tersebut.
Untung saja pelayan yang tertinggal di rumah Bagas hanya tinggal satu orang saja. Pelayan yang lain membantu proses pernikahan Bagas.
“Iya, Mbak,” ujar pelayan tersebut. Dia menghampiri Evo. Evopun memulai aksinya dengan mengajak pelayan itu bicara. Evan melakukan pekerjaannya. Dia ke ruang dapur, kemudian mencari lemari yang dikatakan Evo padanya.
“Pasti ini lemari yang dikatakan Mbak Evo,” katanya dengan suara pelan. Evan membuka lemari tersebut, dia menemukan banyak kunci di lemari tersebut.
“Terima kasih, Mbak Evo, ucapan kamu benar,” ucap Evan. Dia mengambil kunci tersebut lalu naik ke atas ke kamar Charlotte.
Evan mencoba beberapa kali kunci untuk membuka pintu kamar Charlotte. Akhirnya kunci yang kelima, dia bisa membuka pintu kamar Charlotte.
Charlotte memeluk Evan. Dia sangat senang melihat Evan telah menolongnya. “Kamu memang bisa aku andalkan, Evan.”
Evan melepaskan pelukan mereka berdua. Evan juga senang akhirnya bisa menemukan Charlotte setelah lama dia mencarinya.
“Bagaimana kamu bisa ke sini? Bukankah ada pelayan yang menjaga?” tanya Charlotte.
“Aku dibantu oleh Mbak Evo. Aku bingung harus minta bantauan sama siapa lagi? Mbak Evo sedang bersama pelayan kamu di bawah. Dia sedang mengalihkan perhatian pelayanmu,” terang Evan.
Charlotte menunduk, dia merasa sangat malu mendengar cerita kekasihnya itu. Sampai detik ini, Evo selalu membantu dia, tapi orang tuanya selalu menyakiti dan membuat Evo menderita.
“Mbak Evo benar – benar wanita yang baik. Aku sangat bangga padanya,” puji Charlotte. Evan pun sependapat dengan pacanya itu.
“Kenapa kamu bisa disekap oleh Mamamu?” tanya Evan.
Mendengar perkataan Evan, Charlotte tersadar dengan tugasnya. Dia mengambil baju, lalu menggantinya di kamar mandi.
“Ada apa?”
Setelah selesai mengganti pakaian, Charlotte keluar dari kamar mandinya. Dia menatap Evan dengan tatapan kesungguhan.
“Van,” ucap Charlotte.
“Kenapa?”
“Kita harus segera mencegah pernikahan, Mas Bagas dan Dea. Mas Bagas harus tahu hal yang sebenarnya terjadi,” ungkap Charlotte.
“Apa maksud kamu?”
“Kita harus segera pergi, Van. Kita harus pergi!” pinta Charlotte.
Dengan segera Evan membawa Charlotte pergi dari kamarnya. Dia keluar dari pintu belakang. Setelah tiba di luar. Evan menghubungi Evo.
“Mbak, Charlotte sudah bersamaku di luar.”