
" Jadi kamu sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada?" tanya Bastian memastikan. Aku mengangguk mantap. Apapun yang terjadi hari ini, aku sudah siap. Aku tidak ingin bersembunyi lagi seperti penjahat. Aku harus bertemu dengan mereka dengan para sahabatku itu.
Aku dan Bastian menuju ke gedung pernikahan Dina dan Rafael. Perjalanan dari rumah Bastian menuju ke gedung cukup lama. Selain jauh, kalau hari Sabtu jalanan cendrung padat merayap. Akhirnya pukul 6 sore kami tiba di gedung tersebut. Aku menarik nafas. Apapun yang terjadi hari ini, semoga Tuhan menjagaku.
Aku dan Bastian turun melalui lobby depan. Supir membukakan pintu mobil kami. Bastian memegang tanganku erat. Dia menggandengku menuju ke gedung. Terdengar suara musik pengantin. Sebelum masuk ke aula, Bastian menghentikan langkahnya.
" Kenapa?"
" Apapun yang terjadi, aku pasti menolongmu. Jadi jangan takut," Bastian menyemangatiku. Kami pun masuk. Acara pembukaan sudah dimulai. Pengantin sudah masuk ke dalam gedung. Aku terpana melihat Dina sahabatku itu. Dia begitu cantik menggunakan gaun putih itu. Cita-cita dia untuk menikah akhirnya terwujud. Aku pun memandang Rafael, dia benar-benar serasi dengan Dina. Untung saja aku menolak Rafael dulu, kalau tidak, aku akan menyakiti sahabat terbaikku.
Alunan lagu yang syahdu membuat acara pernikahan semakin indah. Aku menikmati setiap kata demi kata alunan lagu tersebut.
" Apa kamu mau menemui mereka?" tanya Bastian.
" Tidak usah, Bas. Aku udah bahagia melihat mereka dari jauh. Ayo kita pulang," ajakku.
Bastian bukannya mengikutiku dari belakang, malah memegang tanganku, lalu menariknya untuk mengikuti pria itu. Aku kaget melihat perbuatan dia.
" Bas, bas, jangan, kalau begini, nanti kita ketahuan," aku mencegah Bastian, tapi namanya juga laki-laki, kekuatan aku kalah olehnya.
Kami sudah di depan tempat pelaminan. Aku dan Bastian menjadi perhatian, karena tingkah kami.
" Evo? Itu kamu?" tanya Dina dari atas pelaminan. Dina yang ada di atas langsung ke bawah.
"Benar, ini kamu. Evo!" Dina menangis setelah memelukku. Rafael yang melihat istrinya turun ke bawah bingung. Lalu dia menyusul istrinya.
" Aku ngga percaya kamu beneran hadir dipernikahan kami." Nangis Dina pecah. Aku jadi terhanyut dan ikut menangis.
" Evolet?" tanya Rafael tidak percaya.
" Hai, Dina, Hai Rafa," sapaku pada mereka berdua setelah mengumpulkan kekuatan.
" Ke mana saja kamu, Vo? Kami benar-benar merindukanmu," Dina masih menangis.
Aku melepas pelukanku pada Dina, lalu menghapus air matanya.
"Sudahlah, jangan menangis. Ini acara pernikahanmu. Seharusnya kamu bahagia." Ujarku.
" Ayo mempelai segera kembali ke atas, akan dilanjutkan acaranya," kata MC mengingatkan mereka.
" Nanti kita bicara lagi, ya, Vo." Ucap Dina. "Kamu ngga boleh pulang sampai acara selesai. Janji ya?" Tanya Dina. Aku mengangguk. Dina melirik lelaki di sebelahku.
" Siapa?"
Bastian memberikan tangan agar dijabat olehku, " Bastian."
" Dina." Dina menjabat tangan Bastian. "Tolong aku biar Evo tidak pergi dari sini ya, Bas."
" Oke," jawab Bastian singkat. Rafael dan Dina naik lagi. Acara pun dilanjutkan dengan dansa dua mempelai dan diikuti oleh para undangan.
" Dear, Nona Evolet, bersediakah dirimu berdansa denganku?" tanya Bastian. Aku tersenyum melihat tingkah Bastian. Dia berlutut dan memintaku berdansa dengannya.
" Berdiri, Bas."
" Tidak, jawab dulu pertanyaanku! Maukah kau berdansa denganku?" Bastian mengulangi pertanyaanya.
" Aku ngga bisa dansa, Bas," kataku jujur padanya. " Berdirilah!"
" Oke, oke. Mari berdansa, tapi ajari aku ya," pintaku padanya. Bastian pun berdiri. Lalu suara musik yang sejak tadi sudah bunyi, mempersilahkan kami untuk berdansa. Bastian mengajariku berdansa. Dia sungguh pandai berdansa, Selama kami berdansa, kami saling menatap.
Seandainya, kita dipertemukan lebih awal, Vo. Aku akan sungguh bahagia. Ungkap Bastian dalam hati.
"Kamu benar-benar cantik sekali, Vo."
"Jangan gombal, Bas," ucap.
Lampu gedung sedikit diredupkan, membuat suasana pernikahan semakin romantis. Alunan musik yang lembut membuat hati semakin tentram.
"Aku tulus, Vo. Sama seperti rasa suka aku padamu."
"Jangan bilang seperti itu, Bas. Aku tidak mau kamu menyukaiku, ujarku saat kami masih berdansa.
" Aku tidak bercanda, Vo."
Aku menghentikan dansa dengan Bastian. "Aku hanya ingin kamu menjadi temanku selamanya, Bas."
" Tapi, aku ingin lebih dari sekedar teman, Vo!" ujar Bastian. Lalu dia memelukku erat, dengan cepat dia mencium bibirku di depan orang banyak. Aku terkejut untuk kesekian kalinya atas kelakuan Bastian.
" Bastian, apa yang kamu lakukan?"
" Mencium kamu," ucap Bastian dengan gampang.
BRUK!
Tiba-tiba ada yang memukul Bastian dengan cepat. Lelaki itu terjatuh ke lantai.
" BASTIAN!" jeritku panik. Aku segera menolong Bastian, tetapi tanganku ditarik oleh seseorang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.