
Bastian menepuk pelan punggung Evo. “Apa sebaiknya kita ke rumah sakit? Ini sudah kedua kalinya kamu seperti ini.”
“Tidak, tidak perlu. Aku akan baik – baik saja. Aku rasa aku kelelahan,” tolak Evo dengan lembut.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar,” kata Bastian.
Bastian pun mengantar Evo ke kamarnya. Dia membaringkan kekasihnya itu.
“Kalau ada perlu apa – apa, bilang padaku.”
Evo mengangguk, perasaannya sangat tidak enak. Entah kenapa kalau Evo mencium bau yang aneh – aneh dia langsung mual.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Evo.
Bastian mengecup dahi Evo sebagai ucapan selamat tidur. Setelah menciumnya Bastian keluar dari kamar Evo.
Evo bangkit bangun ketika melihat Bastian sudah pergi dari kamarnya. Evo mencurigai sesuatu. Dia melihat kalendernya dan mengingat kapan dia terakhir datang bulan.
“Tidak mungkin,” ucap Evo tidak percaya. Evo telat datang bulan setelah kejadian bersama Bagas waktu itu. Evo mengigit kuku jarinya, dia sangat cemas. Dia mondar – mandir di kamarnya.
Dia mengambil laptopnya, lalu mencari tahu ciri – ciri orang yang hamil. Perempuan itu semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Tidak, ini tidak mungkin.”
Kemudian Evo mencari cara mengetahui kehamilan.
“Datanglah ke dokter atau beli test pack.”
Evo memutar otaknya, kalau dia ke dokter, Bastian pasti akan bertanya padanya. Evo memilih cara yang kedua. Besok pagi dia tidak akan ikut dengan Bastian ke kantor, kemudian membelinya dengan diam – diam.
“Ya, Tuhan, semoga hasilnya negatif,” kata Evo sambil menutup mata. Dia tidak ingin kebahagiaan dia bersama Bastian hancur karena kehamilan ini.
*****
Keesokan harinya.
Tok, tok, tok.
Bastian mengetuk pintu kamar Evo, lalu membukanya. Bastian melihat Evo masih tertidur, dia berbalik keluar kamar Evo.
Evo membuka matanya, dia menghela napas panjang, akhirnya Bastian pergi. Tadi sempat Evo mengintip kalau Bastian sudah rapi untuk berangkat ke kantor.
Maafkan aku, Bas, aku harus berbohong padamu.
Evo bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia mandi. Setelah satu jam, dan dia merasa Bastian sudah pergi, Evo keluar dari kamarnya. Evo berpapasan dengan pelayan rumah Bastian.
“Pagi, Nona. Tadi Tuan berpesan kalau Nona harus makan dahulu, nanti siang Tuan akan mengantar Nona ke rumah sakit,” jelas pelayan tersebut.
Ke rumah sakit? Tidak! Tidak!
Evo tidak menjawab, dia langsung pergi meninggalkan pelayan tersebut. Dia harus membeli test pack itu untuk menjawab kegelisahannya dari semalam.
“Nona? Nona Evo mau ke mana? Nona harus makan terlebih dahulu,” tanya pelayan dengan bingung.
Evo terus pergi, dia berjalan menuju ke salah satu apotek yang tidak terlampau jauh dari rumah Bastian.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan toko.
“Anu, saya…,” kata Evo sedikit ragu.
“Apa yang hendak dibeli, Mbak?”
“Itu, Mbak…, a…, alat test kehamilan,” ucap Evo pada akhirnya.
Pelayan toko itu mengerti maksud Evo, segera dia mengambil barang tersebut. Kemudian memberikan barang tersebut pada Evo. Iapun membayarnya.
“Terima kasih,” ucap Evo.
Segera Evo pergi dari apotik itu, setelah sampai ke rumah Bastian, Evo masuk ke kamarnya. Dia pun segera ke kamar mandi dan menggunakan alat test tersebut. Sebelum melihatnya, Evo berdoa terlebih dahulu.
Semoga, hasilnya negatif. Aku mohon semoga hasilnya negatif.
Evo membuka perlahan hasil testnya,”Aku mohon satu garis, aku mohon satu garis.”
Harapan Evo sia – sia ketika dia melihat tanda dua garis di alat tersebut. Tetesan air mata turun dipipi Evo. Pupus sudah kisah cintanya bersama Bastian. Dirahimnya tumbuh janin hasil hubungan dia dan Bagas. Evo mengandung anak Bagas.
*****
Seperti janji Bastian, dia kembali ke rumah siang hari.
“Di mana Evo?” tanya Bastian.
“Sejak pagi setelah pergi ke suatu tempat, Nona tidak keluar dari kamarnya, Tuan.”
Pelayan tersebut mengangguk, memang sejak pagi Evo tidak makan. Diantarkan makanan ke kamarnya, dia menolak.
“Siapkan makan siang untuk kami berdua, dan antarkan ke kamar Evo,” perintah Bastian.
Bastian menuju ke kamar Evo, kemudian mengetuk pintu Evo. Beberapa kali Bastian mengetuk tapi tidak dijawab oleh Evo. Akhirnya Bastian membuka, beruntung seperti tadi pagi pintu kamar Evo tidak terkunci.
Tak terasa Evo tertidur, dari pagi Evo hanya menangis saja.
Bastian menyentuh wajah Evo. Perempuan itu bangun karena sentuhan tangan Bastian yang lembut.
“Hai.”
Evo memperbaiki tubuhnya, Bastian membantu Evo.
“Apa kita perlu ke dokter? Aku lihat mukamu sangat pucat,” ucap Bastian khawatir.
Evo menggeleng, dia tidak bersedia untuk ke dokter. Bila nanti mereka ke dokter, Bastian akan mengetahui kalau dirinya telah hamil. Bastian pasti akan menanyakan siapa ayah dari anak yang dia kandung?
“Aku tidak apa – apa, Sayang.”
“Tapi….”
“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Evo. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
Sebelum Bastian menjawab pertanyaan Evo, pelayan rumahnya masuk dengan membawa makanan. Pelayan itu meletakkan makanannya di sebelah Bastian.
“Kamu boleh keluar,” perintah Bastian.
“Aku tidak nafsu makan, Bas,” ucap Evo. Kalau dia mencium bau – bau, dia pasti akan mual lagi.
“Aku suapin ya? Dari laporan pelayan tadi pagipun kamu tidak mau makan.”
Evo menggeleng kepala, dia tetap keras kepala menolak makan.
“Kalau tidak mau, aku akan mengantar kamu ke rumah sakit,” ancam Bastian.
Mau tidak mau Evo terpaksa makan. Dia menahan dirinya untuk tidak muntah di depan Bastian, agar pria itu tidak khawatir padanya.
Pelan – pelan Bastian menyuapi Evo. Melihat perlakuan Bastian yang lembut, membuat air mata Evo jatuh lagi. Sudah kesekian kalinya Evo menangis.
“Ada apa?” tanya Bastian. Dia berhenti meyuapi Evo, tangannya yang lembut menghapus air mata kekasihnya itu.
“Tidak, aku hanya, aku hanya merasa bahagia.”
Bastian memeluk Evo, kemudian dia berkata pada Evo,”Kalau begitu aku akan menyuapimu setiap hari. Biar aku melihat kebahagianmu terus.”
“Bodoh! Bastian bodoh!”
Bas, seandainya kamu tahu aku hamil, apakah kamu akan menerimaku? Apa kamu akan tetap menerimaku? Aku sungguh sedih, kenapa sekarang Tuhan meretakkan hatinya lagi? Apa Bastian bukan lelaki yang akan menjadi teman hidup dia selamanya?
Diam – diam Bastian merasa ada yang aneh dengan Evo. Mata yang lembab, membuktikan kalau Evo sejak pagi menangis.
*****
Malamnya.
Drt, drt.
“Apa?” jawab Mbak Meli. Wanita itu tampak kesal, karena Bastian meneleponnya ketika dia hampir nyenyak.
“Halo, Mbak,” sapa Bastian.
Bastian sangat bingung, harus cerita sama siapa lagi tentang kegundahan hatinya?
Mbak Meli bangun dari tempat tidurnya, dia minum air putih untuk menyadarkan dirinya. Dia dapat merasakan suara Bastian yang berbeda.
“Kenapa kamu menghubungiku?” tanya Mbak Meli lagi.
“Aku minta kamu pulang. Aku merasa Evo dalam bahaya, tapi aku tidak bisa menolongnya.”
“Apa?”
“Aku menunggu kepulanganmu,” pinta Bastian lagi. Setelah berkata seperti itu, Bastian menutup teleponnya.
Mbak Meli menghela napas panjang, dia menggaruk kepalanya. Liburannya telah usai, dia harus membantu adiknya.