MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Debaran Jantung



Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.


*****


Malam hari di rumah Bastian.


 


 


  Tadi siang aku ke luar dari rumah sakit. Aku hanya diam di kamar semenjak aku keluar dari rumah sakit. Bastian tidak mengizinkanku untuk pergi ke manapun. Aku mengambil telepon genggamku. Lalu mencari nama di kontak teleponku. Nama tersebut adalah Charlotte.


 


 


  “Bagaimana keadaan Bagas?” ucapku. Rasanya sangat bimbang, antara ingin menelepon atau tidak, tapi hati kecil ini ingin mengetahui kondisi Bagas sekarang. Aku menekan tombol yes kemudian menutup kembali telepon karena ragu. Aku ragu takut percakapan kami nanti terdengar oleh Bagas.


 


 


Ceklek.


 


 


  Pintu kamarku terbuka. Bastian dan Mbak Meli masuk ke kamarku. Mbak Meli membawa nampan yang bisa aku tebak isi nampan itu adalah makan malamku. Mereka berjalan menuju ke ranjangku.


 


 


  “Yuhuy, mari makan malam, Vo!” ucap Mbak Meli lalu meletakkan makanan tersebut di atas ranjangku.


 


 


  “Ya, ampun, Mbak Meli! Kenapa kamu harus repot membawa ke sini? Akukan bisa keluar dan mengambilnya sendiri!” protesku.


 


 


  Mbak Meli tertawa, dan berkata padaku,”Hahaha, aku tidak merasa repot. Lagi pula ini pelayananku yang terakhir sebelum aku berangkat pergi besok.”


 


 


  “Mbak Meli mau pergi ke mana?” tanyaku.


 


 


  “Aku mau ke Paris. Mau liburan! Hahaha,” katanya senang,”adikku yang baik hati ini membelikan tiket liburan untukku.”


 


 


  “Tepatnya kamu menguras aku, Mbak!” ujar Bastian menekan kata menguras dalam ucapannya. Mbak Meli tidak mempedulikan sindiran Bastian itu.


 


 


  Aku tertawa kecil melihat tingkah kedua bersaudara tersebut. “Kapan Mbak Meli balik lagi ke sini? Bakal sepi tidak ada Mbak Meli di sini.”


 


 


   “Paling lama sebulan, Vo. Kamu tenang saja, Bastian akan menjagamu. Yakan Bastian?” tanya Mbak Meli sambit tersenyum nakal.


 


 


   Bastian salah tingkah dengan senyum nakal kakaknya itu. Bastian hanya menggangguk merespon ucapan dari kakaknya. Aku melirik ke arah Bastian. Wajah Bastian seperti malu. Kenapa dia malu ya?


 


 


   Mbak Meli berbisik ke arahku, “Aku memberi kesempatan padamu untuk berduaan sama Bastian. Jangan lupa aku mengharapkan kamu menjadi adik iparku, Vo.”


 


 


Bless. Mukaku menjadi merah padam. Ternyata ucapan Mbak Meli untuk menjodohkan aku dengan Bastian tidak bercanda.


 


 


  Melihat wajah aku yang tiba – tiba memerah, Bastian langsung memegang dahiku. “Kenapa muka kamu merah? Apa kamu demam?”


 


 


  Aku menggeleng kepala, lalu mengambil tangan Bastian untuk melepaskan tangannya dari kepalaku.


 


 


  “Tidak aku tidak demam. Hanya kepanasan saja,” dustaku.  Mbak Meli tertawa cekikan melihatku. Dia tahu sekali aku berbohong, karena muka merah itu sebab dari ucapan Mbak Meli yang membuat aku  malu. Aku tidak bisa mengatakan sejujurnya pada Bastian, kalau aku malu karena hal itu.


 


 


  “Mau aku suapin atau Bastian yang suapin kamu makan?” goda Mbak Meli lagi. Segera aku merebut nampan berisi makanan tersebut dari tangan Mbak Meli lalu memakannya.


 


 


  “Aku bisa makan sendiri,” kataku.


 


 


  Bastian memandangiku sambil tersenyum. Melihat Bastian seperti itu aku semakin salah tingkah. Piring yang aku pegang jadi terjatuh sangking gugupnya.


 


 


  “Aduh!” keluhku.


 


 


Makan malamku tumpah di ranjangku. Mbak Meli semakin tertawa geli. Mbak meli memang menyebalkan, dia sengaja melakukannya padaku.


 


 


  “Ada apa dengan kamu? Jangan – jangan kamu masih sakit ya?” tanya Bastian khawatir sambil membantu membersihkan makananku yang tumpah.


 


 


  “Sudah, lebih baik kita keluar dari kamar ini. Biarkan pelayan yang membersihkannya,” usul Mbak Meli. Bastian dan aku menuruti usul yang diberikan Mbak Meli. Kami bertiga keluar dari kamar.


 


 


  Aku, dan Bastian menuju ke ruang tamu. Mbak Meli memanggil pelayannya untuk membersihkan kamarku.


 


 


  “Di kamar Evo ada makanan tumpah, kamu bersihkan lalu ganti seprainya, lalu berikan makanan yang baru untuk Evo di ruang tamu,” perintah Mbak Meli.


 


 


  “Baik, Nona,” ucap pelayan itu.


 


 


 


 


Setelah memberikan perintah dia menuju ke ruang tamu, tapi Mbak Meli mengingat suatu hal kalau dia sedang mencoba untuk menjodohkan mereka berdua. Diurungkan niatnya kembali ke ruang tamu, dia langsung menuju ke kamarnya.


 


 


  “Apa kamu yakin sudah baikan?” tanya Bastian yang khawatir melihat diriku yang sejak tadi melakukan keteledoran.


 


 


 


 


  “Terima kasih,” kataku.


 


 


  Aku memandangi makanan tersebut. Sebenarnya aku sudah tidak nafsu makan, tapi kalau aku menolak pasti Bastian tidak akan suka.


 


 


  “Kenapa?” tanya Bastian yang melihat aku hanya memandangi makanan tersebut.


 


 


  “Sebenarnya aku sudah kenyang, Bas,” jujurku.


 


 


  “Tapi tadi kamu belum makan sedikitpun,” kata Bastian.


 


 


  Bastian mengambil piring berisi nasi, lalu mengambil lauknya. “Sepertinya kamu harus kusuapin ya.”


 


 


  Dheg. Jantungku berdetak lagi. Bagas jarang memperlakukan aku seperti ini.


 


 


  “Eh, tidak usah! Aku bisa makan sendiri!” tolakku.


 


 


  “Aku tidak percaya, nanti kamu hanya memandangi makanan itu. Ayo, aaa” paksa Bastian. Dengan terpaksa aku membuka mulut untuk makan.


 


 


  “Anak pintar,” pujinya sambil tersenyum.


 


 


  Aku memajukan mulutku, “Aku bukan anak kecil, Bastian.”


 


 


  “Aaa lagi,” katanya. Akupun menurutinya. Entah kenapa kalau dengan Bastian, apapun perintahnya selalu tidak bisa terbantah. Bastian memiliki aura yang sulit untuk membantahnya. Kalau dilihat – lihat dengan seksama, Bastian sangat tampan. Postur tubuhnya juga sangat ideal. Kaum hawa pasti sangat menyukai Bastian, tapi kenapa Bastian tidak memiliki pacar?


 


 


  “Apa sudah puas melihatku?” goda Bastian. Ternyata dia menyadari kalau aku memandanginya sejak tadi.


 


 


  “Eh, aku…, itu….”


 


 


  Bastian tersenyum melihat aku salah tingkah. “Kalau makan kamu habis, kamu boleh kok memandangi diriku sepuas hati kamu.”


 


 


  Blees. Lagi – lagi mukaku merah padam seperti kepiting rebus. Pernyataan Bastian membuat aku sangat malu.


 


 


  “Aa, ini suapan terakhir.”


 


 


  Bastian memberikan suapan terakhir padaku.


 


 


“Akhirnya selesai juga. Ternyata benar kata Mbak Meli kamu harus disuapin untuk makan,” ucap Bastian kemudian menaruh piring ke meja.


 


 


  “Aku bisa makan sendiri, Bas,” tegasku.


 


 


  Bastian mendekatkan mukanya ke arah mataku. Jarak diantara kamu kurang dari satu meter, “A-apa yang kamu lakukan, Bas?”


 


 


  “Imbalan.”


 


 


  “Eh? Imbalan? A- apa maksud kamu?” tanyaku semakin salah tingkah.


 


 


  “Akukan tadi bilang sama kamu, kalau kamu habis makanannya kamu boleh memandangi diriku dengan puas. Jadi silahkanlah pandangi diriku yang tampan ini, sayang,” goda Bastian, “Atau jangan – jangan kamu mau ….”


 


 


  Aku mendorong Bastian untuk menyingkirkan tubuhnya dari hadapanku.


 


 


“Bastian, kamu menyebalkan!” kataku kemudian melarikan diri dari hadapan Bastian. Jantungku sangat berdetak kencang. Aku tidak ingin Bastian mendengar debaran jantungku ini.


 


 


 


 


*****


 


 


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya.


 


 


❤❤❤