MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Anak Bagas



Keesokan harinya.


   Evolet masih bersedih dengan kebenaran yang dia dapatkan. Baginya, ini adalah sebuah mimpi buruk yang akan membuat masa depannya suram. Evo tidak menyangka hubungan terakhir dengan Bagas saat itu membuahkan seorang anak.


   Dulu memang Evo mencintai Bagas, tapi sekarang kebaikan Bastian membuat Evo berpaling kepada Bastian.


  Evo memegang perutnya. Janin ini akan bertumbuh seiringnya waktu. Evo bersumpah akan membesarkan anak ini, kalau nantinya Bastian tidak setuju.


  Dengan perasaan gusar, Evo berjalan menuju ke ruangan Maureen. Hari ini Bastian kembali rapat dengan pemegang saham, sehingga Evo lebih leluasa untuk pergi ke mana pun dia mau. Evo melewati ruangan Bagas. Dia berhenti sejenak. Di sanalah mereka berdua berhubungan hingga menghasilkan buah cinta mereka.


   Evo menggigit bibir dia, seandainya waktu itu Evo mencegah Bagas untuk tidak melakukannya maka sekarang dia tidak hamil. Benar kata orang, penyesalan selalu datang terlambat.


  Evo melanjutkan perjalananannya ke ruangan Maureen. Dia mengetuk pintu ruangan Maureen.


  “Ya, silahkan masuk!” teriak Maureen yang mendengar pintu ruangannya diketuk.


  Evo masuk ke dalam ruangan, lalu menyapa sahabatnya itu,”Hai.”


Maureen menengok ke arah Evo, Maureen merasa seperti ada yang aneh pada sahabatnya itu. Evo menghampiri Maureen, kemudian duduk di depan Maureen.


  “Apa yang terjadi padamu?” tanya Maureen langsung tanpa basa – basi. Entah kenapa dia merasa wajah Evo pucat.


  “A… aku hanya kurang enak badan,” dusta Evo.


  Maureen menatap Evo dengan pandangan penuh selidik. Dia merasa kalau Evo sedang berbohong padanya. Dilihat seperti itu oleh Maureen, Evo merasa tidak nyaman.


  “Bagaimana keadaan Rafael?” tanya Evo mengalihkan pembicaraan.


  “Rafael sudah semakin membaik. Dia sudah bisa menerima kepergian Dina. Aku senang melihat perkembangan Rafael seperti itu,” cerita Maureen. Terbesit di mata Maureen, bahwa dia bahagia melihat Rafael semakin membaik.


  “Itu berkat kamu, Reen.”


  Maureen mengerutkan dahinya, kemudian berkata pada Evo, “Kenapa berkat aku? Aku tidak melakukan apapun.”


  “Mungkin tanpa kamu sadari, sudah banyak yang kamu lakukan kepada Rafael. Sepertinya wasiat Dina, harus kamu jalankan.”


  “A… apa? Ke… kenapa mesti aku?” tanya Maureen sambil gelagapan.


  “Aku tidak mungkin, karena aku sudah mau menikah dengan Bastian.”


  Ya, itupun kalau Tuhan menghendaki.


  Maureen nampak bimbang, ucapan Evo benar juga. Dina memberikan pesan pada dirinya dan Evo. Untuk saat ini, hanya Maureen yang masih belum punya pasangan. Lagi pula entah sejak kapan benih – benih cinta sudah ada di hati Maureen untuk Rafael?


     Evo menangkap jelas, kalau Maureen sahabatnya sudah ada rasa empati pada Rafael. Bisa saja rasa empati itu berubah menjadi perasaan cinta. Evo harus membantu mereka berdua.


  Evo memegang tangan Maureen untuk memberikan kekuataan pada sahabatnya itu,”Aku yakin kamu sanggup untuk menjadi ibu sambung untuk anak – anak Dina.”


  Karena Evo merasa bukan Evolah yang pantas untuk Rafael, dia sudah kotor, dan sekarang sedang hamil. Masa depan Evo sekarag masih terombang – ambing, paling tidak saat ini Evo harus membantu Maureen dan Rafael untuk bersatu.


  “Terima kasih, Vo. Aku akan memikirkannya dengan matang. Aku tidak yakin wasiat untuk menikahi Rafael itu untukku, aku merasa itu untukmu.”


  Evo menarik tangannya. Dia merasa ucapan Maureen seperti beban yang berat baginya. Itu tidak mungkin bisa terjadi.


  Tiba – tiba perut Evo dan Maureen berbunyi, itu tanda kalau mereka harus makan siang. Keduanya tertawa karena alarm di perut mereka telah berbunyi.


  “Ayo kita makan siang,” ajak Maureen.


  “Setuju.”


  “Di mana Bastian? Apakah kau tidak mengajaknya?” tanya Maureen.


  “Hari ini dia rapat di hotel. Bastian bilang akan menghubungiku setelah selesai rapat. Kita pergi saja, nanti aku akan mengabari padanya lokasi kita makan,” jelas.


  “Oke.”


*****


Setengah jam kemudian.


  Tibalah mereka di salah satu restoran. Tampak restoran tersebut dipadati oleh pengunjung karena jam makan siang.


  Evo dan Maureen sudah duduk manis, dan menantikan makanan yang telah mereka pesan dari tadi.


  “Bagaimana perkembangan novelmu, Vo?” tanya Maureen.


  “Beberapa hari yang lalu aku sudah mengirimkan naskah ke perusahaan Rafael, tinggal menunggu kabar dari mereka.”


  “Aku yakin pasti mereka akan menyetujuinya.” Kata Maureen.


  “Aku harap begitu. Novel ini paling lama yang pernah aku buat, kalau novel sebelumnya aku cepat mengerjakannya,” terang Evo.


  Ya, novel Evo kali ini adalah novel terlama yang dia tulis. Mengapa? Karena ini kelanjutan dari cerita novel pertama Evo.


  Pelayan restoranpun datang membawa makanan dan minuman pesanan kami.


  “Akhirnya, datang juga makanan kita! Aku sungguh lapar!” ucap Maureen.


  Kami berdua tampak senang, karena sejak tadi kami sudah menahan lapar.


  “Mari makaan!” ujar Evo.


  Lagi – lagi, Evo merasa mual. Dia menahan diri sekuat tenaga untuk tidak muntah di depan Maureen. Evo tidak ingin Maureen tahu bahwa dirinya hamil, tapi apa daya sekuat apapun Evo menahan, akhirnya ia berlari ke toilet restoran untuk muntah.


“Kenapa dengan kamu, Vo?” tanya Maureen tampak khawatir.


  Setelah merasa enakan, barulah Evo dapat menjawab pertanyaan Maureen,”Aku tidak enak badan, Reen.”


  “Apa kamu sudah berobat?”


  Evo menggeleng kepala, dia tidak mau ke dokter, takut semuanya akan terbongkar. Dia tidak mau kalau Maureen tahu semuanya.


  “Tidak perlu. Aku sudah tidak apa – apa. Ayo kita lanjutkan makan,” pinta Evo. Mereka berduapun keluar dari toilet.


Selesai makan, Maureen memberanikan diri bertanya pada Evo, “Apa yang sedang kamu sembunyikan padaku?”


   “A… apa maksudmu?” tanya Evo.


  “Kita sudah berteman lebih dari lima tahun, itu waktu yang tidak lama untuk mengetahui sifat kamu, Vo. Aku merasa kamu sedang berbohong sekarang padaku.”


  Evo memegang tangannya dengan erat. Dia tampak gelisah, apakah dia harus menceritakan semua ini pada Maureen?


  “Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” Maureen mengulang pertanyaannya. Ditatapnya mata sahabatnya itu dengan tajam.


  “A…ku hamil, Reen,” ungkap Evo akhirnya.


  “Apa? Benarkah?” tanya Maureen tidak percaya.


  Evo mengangguk menanggapi pertanyaan Maureen. Senyum Maureen tampak mengukir di bibirnya. Dia senang sekali mendapati Evo hamil.


  “Aku tidak menyangka Bastian bisa sehebat itu padamu. Dia menyolong start, padahal kalian belum menikah. Hebat dia!” ucap Maureen terkagum – kagum.


  “Kamu salah, Reen. Ini anak Bastian,” jujur Evo lagi.


  “Apa? Bagaimana mungkin?”


  Akhirnya Evo menceritakan semuanya pada Maureen. Dari awal hingga akhir hubungan dia dengan Bagas. Maureen menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka kisah cinta Evo dan Bagas benar – benar sangat tragis. Ini semua karena ulah orang tua Bagas.


  “Kamu harus sabar ya. Kamu harus kuat. Ada aku di sini menemanimu,” ucap Maureen menguatkan Evo. Evo pun ikut menangis bersama Maureen.


  Tanpa mereka sadari, obralan mereka didengar oleh seseorang. Seseorang itu adalah Alexandrea, alias Dea.


*****


Rumah keluarga Pratama.


  “Jangan gila kamu, Gas! Mama tidak mengizinkan kalian pergi dari rumah ini!” teriak Bu Lina.


   Charlotte dan Bagas telah mengepak barang mereka di koper. Mereka memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Perbuataan kejam orang tuanya, tidak dapat dimaafkan oleh keduanya.


  “Papa dan Mama sudah sangat keterlaluan! Aku tidak bisa memaafkan kalian!”  tegas Bagas.


  “Biarkan mereka pergi! Pergilah! Tapi jangan bawa harta kami!” ucap Pak Freddy. Dia tahu kalau kedua anaknya tidak punya apa – apa sekarang.


  Bastian dan Charlotte mengeluarkan seluruh kartu, dan semua fasilitas yang diberikan dari orang tuanya. Merekapun pergi meninggalkan Pak Freddy dan Bu Lina sendirian di rumah besar tersebut.


  “Ini semua karena perempuan busuk itu! Aku harus membalasnya! Membalasnya!” sumpah Bu Lina.


  Drt, drt, drt.


  Telepon genggam Bu Lina bergetar. Bu Lina segera menerima telepon tersebut.


  “Tante, ini Dea!”


  “Dea? Sayangku, Dea! Ada apa kamu menelepon Tante?” tanya Bu Lina.


  “Evo, Tan! Evo!”


  “Kenapa dengan wanita busuk itu?” ucap Bu Lina kesal.


  “Dia hamil anak, Bagas, Tan!”


  “Apa?” tanya Bu Lina tidak percaya. “Bagaimana mungkin kamu bisa tahu kalau Evo hamil?”


  Deapun menceritakan semuanya pada Bu Lina.


  “Dea tidak rela kalau Bagas bersatu dengan Evo! Evo harus membayar ini semua!” ucap Dea.


  “A… apa yang kamu mau lakukan?” tanya Bu Lina takut.


  “Dea akan menghancurkan Evo dan anaknya!” sumpah Dea. Diapun menutup teleponnya.


  Bu Lina merasa sedih mendengar kalau anaknya Evo akan dihabisi oleh Dea. Anak Evo adalah cucunya. Secara tidak langsung, darah keluarga Pratama mengalir dalam tubuh anak tersebut.


  “Gawat, Pa! Gawat!” ucap Bu Lina.


  “Apa yang lebih gawat dari kepergian Bagas dan Charlotte?” tanya Bu Lina.


  “Dea akan menghabisi nyawa cucu kita! Evo hamil, Pa! Kita harus menolong cucu kita!” teriak Bu Lina.